Bab 14

1350 Words
Waktu terus berputar, tidak terasa sudah satu minggu. Semenjak kepulangan Alena. Bukan Nyonya Delusa-Mertuanya tidak tahu kalau istri model putranya itu telah berada di sisinya. Hanya saja, Nyonya Delusa masih di sibukkan dengan induk perusahaan. Dan ia baru saja pulang dari perjalanan bisnis dari luar negri. Kabar yang di bawakan Erik beberapa waktu lalu, membuat dia tidak sabar untuk segera mendatangi kediaman Reynard. Seolah mendapatkan sebongkah berlian, sesuai harapannya Erik begitu cepat mencari informasi tentang Yuna. Setelah malam itu Reynard di antar oleh Pak Seno pulang, dan Erik tinggal di kediaman Nyonya Delusa. Dengan alasan, Nyonya Delusa membutuhkan Erik dalam memantau perusahaan selama ia tinggalkan. Dan Reynard menuruti perkataan sang Mama. Tanpa menaruh curiga apa pun. Begitulah Reynard, kepribadiannya yang mudah percaya, membuat Nyonya Delusa tidak habis pikir. Malam hari, tepat pukul 19.00. Di depan cermin, dengan kaca yang lumayan besar. Serta berbagai jenis make up, hal-hal berbaur kecantikan tertata rapi di lemari rias itu. Mematri dirinya sejenak, kemudian Nyonya Delusa beranjak dari kursi rias itu. Lalu meraih tas yang telah ia letakan di meja rias tadi. Dengan anggun, Nyonya Delusa keluar dari kamar. Mengayunkan langkah menuruni tangga. High heels yang ia kenakan saling berbenturan di lantai marmer. Pada hal, ada yang lebih praktis dalam rumah itu untuk Nyonya Delusa segera sampai di bawah. Namun, hatinya tengah dalam keadaan yang cukup baik. Sehingga ia rasa kakinya lebih kuat untuk menapaki tangga. Sesampainya di pintu luar, Reynard telah bersiap-siap di dekat mobil. Mata kucing Erik melihat kedatangan Nyonya Delusa. Ia pun segera membuka pintu mobil, dan mempersilahkan Nyonya Delusa masuk di kursi penumpang belakang. Setelah di pastikan wanita paruh baya itu masuk dengan baik, Erik mengitari mobilnya. Mengemudikan mobil menjadi tujuan Erik saat ini. Mengantarkan sang majikan pada tujuannya. Mobil yang di kendari Erik perlahan meninggalkan kediaman Nyonya Delusa. Membelah jalanan beraspal. Bergabung dengan hiruk pikuk kendaraan. "Erik, kau tetap mengerjakan apa yng telah menjadi tugasmu bukan?" tanya nyonya Delusa. Tak sedikitpun matanya melirik kearah Erik. Ada banyak hal dalam pikirannya yang lebih menarik, yang ia rasa. "Aku tidak pernah lupa dalam hal itu Nyonya. Sebab, aku sendiri juga tidak menyukainya. Maksudku, jika aku di posisikan seperti Tuan, mungkin aku akan membuat ultimatum setegas mungkin. Bukankah, lebih banyak wanita hidup di dunia ini selainnya?" Erik melirik Nyonya Delusa lewat kaca spion depan. "Itu karena kau belum pernah di b***k oleh cinta. Bahkan aku juga belum pernah melihatmu mengencani seorang wanita. Jangan sampai kau itu seorang Gay," kelakar Nyonya Delusa tanpa merasa salah dengan ucapannya. Erik bergidik. Bola matanya berputar penuh."Aku masih normal Nyonya." 'Cih, buat apa aku di lahirkan oleh Ibu, kalau hanya menjadi Gay. Lebih baik aku mati saja dari pada memalukan orang tuaku. Aku juga ingin punya istri dan anak." Batin Erik gerutu. Nyonya Delusa menahan senyum di balik muka dinginnya. Melihat wajah Erik memerah. Tidak lama kemudian mobil yang di kendari oleh Erik kini telah sampai dikediaman Reynard. Berhenti di halaman luas depan rumahnya. Nyonya Delusa keluar dari mobil nan mewah itu. Setelah pintu mobil di buka oleh Erik. Melenggang masuk kerumah Reynard. Pintu di buka oleh pengawal yang berjaga di luar. Mendengar suara pintu di buka, Reynard dan Alena seketika menghentikan gelak tawa mereka. Nyonya Delusa dan sepasang suami istri itu saling bersilang pandangan. Mendapati sang Nyonya Delusa di hadapan mereka. "Mama," seru Reynard. Berdiri dari duduknya. Mencium punggung tangan Nyonya Delusa."Mama kapan pulang? Kenapa mama enggak kasih kabar, Rey? kalau tau gini, Rey pasti jemput Mama ke bandara." Nyonya Delusa mengembangkan senyuman diraut wajahnya."Tidak perlu khawatir, Rey. Buktinya Mama baik-baik saja." Lalu beralih pandangan pada Alena yang masih berdiam diri dari duduknya. Reynard menyadari akan hal itu, ia memberi isyarat lewat sedikit gerakan kepalanya serta alisnya. Alena langsung berdiri dari duduk. Ia tahu, perintah Reynard untuk memberi salam pada Nyonya besar. 'Si tua ini, ngapain juga dia datang.' Batin Alena. Mendengus dongkol. Entah bagaimana ia menaruh kekesalan pada Ibu dari suaminya itu. Yang telah melahirkan dan membesarkan sang suami. Bukankah lelaki kewajibannya terhadap orang tua, khususnya Ibu akan terus berlanjut walau dia telah memiliki istri? Namun sayang, bagi Alena itu tidak berlaku. Alena meraih tangan Nyonya Delusa. Mencium punggung tangan sang mertua dengan rasa terpaksa. "Alena, Bagaimana kabarmu, kau sehat nak?" Nyonya Delusa menyapa Alena. Mata yang bersitatap hingga senyuman sang mertua tegak di manik matanya, Alena berucap."Sehat, Ma." Sahutnya singkat. Biar bagaimana pun ia harus menutupi sikap buruknya di depan Reynard ketidak sukaannya atas kehadiran Nyonya Delusa. "Silahkan duduk, Ma," ucap Reynard sambil mengiringi Nyonya Delusa duduk di salah satu kursi ruang tamu. Nyonya Delusa mendarat duduk. Diiringi dengan Reynard dan juga Alena. "Bagaimana dengan perusahaan, Ma? semuanya baik-baik saja 'kan?" Reynard ingin mendengar kabar dari perusahaan yang masih diambil andil oleh Nyonya Delusa. "Kau tak perlu mencemaskan itu, Rey. Semuanya masih baik-baik saja. Kau tenang saja, sayang," Nyonya Delusa mencoba menimang-nimang kata yang hendak ia sampaikan itu. Walau sebenarnya sudah sangat siap dari jauh-jauh hari. Tetapi, ia yakin bahwa tidak semudah itu bagi Reynard menerimanya nanti. Alena hanya bisa mendengar pembicaraan anak dan Ibu itu. Walau dia juga tidak tahu, maksud dan tujuan kedatangan Nyonya Delusa-sang mertua. Yang pasti, Alena telah mendapat firasat pada hati yang mulai tidak nyaman. "Rey, Alena, maksud kedatangan Mama kemari bukan hanya memperlihatkan diri Mama yang sudah pulang dari luar Negri. Mungkin itu hal yang utama. Namun, ada hal yang harus Mama sampaikan pada kalian berdua." Diam dua detik. Nyonya Delusa melirik anak dan mantunya yang mulai tertarik dengan ucapannya. Dari raut wajah sepasang pasutri itu, mereka sungguh penasaran dengan kelanjutan dari ucapan yang akan dilontarkan oleh Nyonya Delusa. Terlihat dari dahi yang di kerutkan itu."Mungkin apa yang mama katakan nantinya, terkesan memaksa. Namun, ini juga demi kebaikan kalian nanti." Alena yang mendengar dengan seksama. Dari setiap bibir yang bergerak milik Nyonya Delusa. Malah semakin membuat dia tidak sabar mendengar kelanjutan dari sang Mertua. 'Sebenarnya apa sih yang ingin dia katakan?" batin Alena. Tetapi berbeda dengan Reynard yang menyadari bahwa sang Mama akan menyampaikan maksud yang pernah ia minta kepadanya. Sayangnya, Reynard lupa menyampaikan kembali kepada sang Mama. Bahwa Alena tidak sejalan dengan tujuannya. Reynard menyilang pandang pada Nyonya Delusa. Agar sang Mama mengurungkan niatnya untuk membahas soal anak. Reynard menggeleng samar di saat Alena tidak memperhatikan isyarat itu. "Katakan, Ma, apa maksud Mama ini?" Alena mengambil alih suara kali ini. Ia terlanjur tertarik dari pembicaraan mereka. Pandangan Nyonya Delusa teralihkan dari Reynard. Memberikan senyuman manisnya untuk sang Menantu. "Begini Alena, bagaimana kalian pergi liburan? kemana gitu. Kalian tenang saja, Mama yang akan menanggung semua biayanya. Mana tahu, kali ini Tuhan menitipkan anugerahnya ditengah keluarga kecil kalian ... malaikat kecil yang lucu." Mungkin kata itu lebih tepat menurut Nyonya Delusa untuk memulai pembicaraan ini. Alena yang senang awalnya mendengar ucapan Nyonya Delusa, seketika harus menelan kecewa. Saat mendengar malaikat kecil. Tentu saja, itu menuju soal anak. Alena melirik Reynard yang hanya bergeming. Belum sempat Alena dan Reynard menjawab, Nyonya Delusa bersuara lagi."Bagaiamana Alena, Rey? kalian setuju bukan?" Tidak lagi ingin diam dari pembicaraan mereka, dan d**a yang mulai membusung menahan kekesalan itu, Alena angkat suara."Maaf, Ma, mungkin mama mengerti posisiku. Apa lagi karirku sedang naik daun, Ma. Semua orang berlomba-lomba memintaku untuk dikontrak oleh perusahaan mereka. Kalau aku hamil saat ini, apa kata orang juga tentangku? yang tidak mengetahui pernikahan ini." Sanggahnya yang tidak bisa menerima semua ini. Alena membelalakkan matanya pada Reynard Nyonya Delusa terdiam melihat Alena yang masih memegang teguh kepercayaan atas karirnya itu. "Sebenarnya mudah saja, Alena. Aku bisa melakukan konferensi pers. Mungkin hal ini juga sudah di sebutkan oleh Rey padamu." Nyonya Delusa mencoba meyakinkan Alena. "Rey!" Dalam gigi yang bertaut menahan geram, Alena memanggil nama Reynard yang hampir tak terdengar suaranya itu. "Kau tidak perlu meminta Reynard untuk membelamu, Alena." Seolah terbaca oleh Nyonya Delusa pikiran Alena, membuat Alena bergidik."Mama tidak akan memaksamu, sayang. Ya ... itu hanya angan-angan belaka. Jika kau setuju, maka Mama akan mempersiapkan semuanya untukmu." "Ma, biarkan Alena dengan karirnya dulu Ma. Semua tidak harus di paksakan." Reynard angkat bicara. Ia tidak ingin melihat istrinya menjadi tidak nyaman dengan permintaan sang Mama. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD