Bab 13

1314 Words
Setelah bergelut di pagi hari, dan juga selesai mandi ritual secara bersamaan, Alena duduk di meja riasnya. Mengeringkan rambutnya dengan Hair Drayer. Semerbak wangian di hasilkan dari sabun yang di pakai Alena, memenuhi kamar mereka. "Pada sakit semua badanku. Emang aku akui, dia sungguh bisa membuatku puas." Alena bermonolog dengan dirinya sendiri. Sambil memegangi tengkuk, lalu kepala yang ia gerakan memutar. Agar sedikit mengurangi sakit, penat pada lehernya. Sedangkan Reynard sudah berada di ruang kerjanya. Dengan pakaian celana pendek hitam, serta kaos putih berlengan pendek juga. Ia memeriksa Email yang masuk hari ini. Setelah mendapatkan pesan dari sekretarisnya bahwa ia mengirim laporan ke Email Reynard. Alena keluar menuruni tangga. Setelah selesai mempercantik diri. Tubuhnya terasa remuk. Reynard benar-benar memakannya dengan lahap. Alena mengerti akan hal itu. Mungkin Reynard berkata jujur padanya. Cara ia bermain di ranjang, sudah di pastikan dia tidak bermain di belakang Alena. Tentu saja wanita itu merasa senang. Tapi, perutnya harus di isi oleh makanan, untuk mengisi tenaganya kembali. Saat kaki Alena menyentuh tangga terakhir, lalu menuju ke meja makan. Di sana hanya ada s**u putih dan roti serta selai cokelat. Dengan raut wajah bersungut, Alena menuju dapur. Di sana ada beberapa pelayan seketika menunduk saat keberadaan Alena di tengah-tengah mereka. Satu persatu raut wajah pelayan tegang seketika. Itu menjadi hal yang menakutkan kalau wanita itu dirumah. Dengan gayanya yang angkuh, Alena melipat tangan ke atas perut."Siapkan sarapan untukku. Jangan lupa selai kacang. Segera bawa ke kamar. Ingat! aku tidak ingin menunggu lama. Kalian mengerti?" "Mengerti Nyonya," sahut pelayan. Saat Alena hendak meninggalkan pelayan yang akan menyiapkan sarapan untuknya. Ia melihat segelas kopi yang berada di dekat Hayati. Sepertinya kopi itu memang di siapkan yang mungkin untuk Reynard. "Kopi itu--" "Ah, ini kopi untuk Tuan Reynard Nyonya," kata kepala pelayan. Memberanikan diri untuk mengangkat pandangan. "Sini, saya bawakan," Alena mengambil segelas kopi itu pada suami yang sedang berada di ruang kerja. Satu persatu kaki Alena melangkah dengan sangat hati-hati. Sesampainya di ruang Rey, tanpa mengetuk pintu Alena membuka pintu. "Sayang, ini aku bawakan untukmu," Alena menaruh kopi itu di atas meja kerja Reynard. Membuat Reynard angkat pandangan dari pekerjaannya. Seutas senyum terbit di raut wajah nan pesona itu."Terima kasih, sayang." Alena mengangguk pelan. Lalu menduduki lengan kursi, serta tangan yang merangkul tepat di bahu Reynard. "Aku dengar di sosial media, kau memenangkan tender ya, sayang?" Pandangan yang tengah fokus pada layar komputer. Namun, telinga yang masih menangkap baik tanpa menoleh, Reynard bersuara."Iya, sayang. Ternyata kau tahu juga soal itu. Kenapa, hem ...?" "Humm ... aku kebagian enggak sayang? Aku mau mobil keluaran terbaru saat ini. Boleh, ya?" pinta Alena. Dengan suara manja yang begitu khasnya. Sudah lama sebelum kepulangannya, Alena telah bertekad untuk mendapatkan mobil itu. Apa lagi ia melihat celah yang baik dari suami. Mobil Mercy keluaran baru dengan desain super mewah menjadi incaran Alena. Mobil itu menjadi tujuan utamanya pulang saat ini. Reynard mengalihkan tatapannya pada sang istri. Reynard diam sejenak."Apa sih yang enggak buat kamu, sayang? apapun yang kau minta, aku pasti berikan untukmu." Alena yang sempat berpikir Reynard tidak menuruti permintaannya, betapa senangnya dia mendengar ternyata lelaki itu mengabulkan permintaan yang cukup bernilai fantastis tersebut. "Tapi, Rey, aku maunya mobil itu atas namaku?" Ya, begitulah Alena. Barang yang di belikan oleh Reynard akan di minta atas nama dia. "Iya, jangan khawatir itu memang untukmu sayang," tidak ada pernah Reynard merasa keberatan atas permintaan Alena. Semua baginya tidak berarti apa-apa, asalkan istrinya senang dan bahagia hidup dengannya. "Ya sudah, kalau begitu aku mau keluar sebentar. Sudah lama aku tidak berkumpul dengan temanku ya, sayang," tutur Sella. "Apa tidak sebaiknya di antar sama sopir dan pengawal? kau akan aman di jaga oleh mereka," Pernikahan mereka yang tidak terekspose oleh media, membuat Reynard tidak bisa menemani sang istri secara langsung. "Sayang, aku ini bukan anak kecil. Kau tenang saja, aku akan baik-baik saja," sanggah Alena. Ia mengangkat tangan yang di lingkari jam mewah dengan rantai besi."Aku tidak punya waktu lagi sayang, aku berangkat ya." Alena mencium pipi Reynard yang di tumbuhi rambut-rambut halus di rahang yang tegak itu. Ia melangkah keluar dari ruang kerja Reynard. Lelaki itu hanya bisa melihat kepergian sang istri. Tampak senyuman yang ia paksakan dari bibir yang melengkung membentuk senyuman. Saat Alena melempar senyum padanya. Kemudian tersamarkan ketika sosok Alena hilang di balik pintu yang tertutup. Reynard terdiam. Pandangannya menunduk lesu. Betapa inginnya dia menghabiskan waktu bersama istri, menemaninya kemana pun. Seperti halnya yang di lakukan keluarga pada umumnya. Ada rasa jengah atas hidup rumah tangga yang Reynard bina. Harus terus mengendap-ngendap dari awak media. "Kapan kau akan berubah, sayang? kau tahu bukan, aku paling enggak bisa menolak keinginanmu. Tapi, bolehkah aku meminta, satu kali saja permintaanku di turuti. Menjadi istri yang menunggu aku pulang." Ucap Reynard pelan. Sesaat Reynard tersandar di badan kursi. Tangannya bergerak memijit pelipis yang berkerut itu. Benda pipih yang ada di depannya, membuat Reynard meraih benda tersebut. Menekan salah satu nomer yanng ada di ponselnya. Terdengar berdering, lalu menempelkan pada daun telinganya. Namun, tidak ada jawaban. "Kemana dia?" Reynard menaruh benda itu kembali dengan raut wajah bersungut kesal. *** Di ruang Direktur utama tampak seseorang sedang saling berjabat tangan. Setelah mengadakan pertemuan dengan klien yang akan meminta perusahaannya untuk mengiklankan pruduk milik kliennya tersebut. Ponsel yang sedari tadi di silent, terasa bergetar di balik jasnya berwarna hitam legam. Setelah kepergian klien, Niko segera memperiksa benda pipih yang terdapat beberapa panggilan dari nomer yang sangat ia kenal. Bahkan menampakan namanya di layar ponsel milik Niko. "Ada apa dia menghubungiku?" Niko bermonolog dengan dirinya sendiri. Kemudian memasukan gawai itu kembali di dalam jasnya. Mengabaikan panggilan dari sahabatnya yng tak lain Reynard-lelaki yang mengejeknya terus menerus perihal menikah. *** Di lain tempat. Seorang gadis tampak panik dengan keadaan sang Mama yang sedang di periksa oleh Dokter. Mama Ajeng juga telah di pasangkan infus serta alat oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya. Asam lambung kronis atau di sebut dengan gastroesophageal reflux disease (Gerad) membuat asam lambung naik ke kerongkongan dan masuk keparu-paru. Menyebabkan sesak napas yang dirasakan oleh Mama Ajeng. Gadis itu yang tak lain ialah Yuna. Yuna memutuskan membawa Mama Ajeng ke rumah sakit terdekat. Setelah keadaan sang Mama semakin drop. Mama Ajeng sempat menolak ajakan Yuna untuk di bawa kerumah sakit agar mendapatkan pengobatan terbaik. Tetapi Yuna terus membujuk Mama Ajeng. Hingga ia tidak tega melihat sang Putri terus berlinang air mata yang telah menganak sungai di balik kelopak matanya. Setelah selesai dengan alat stateskop, Dokter Sella menurunkan alat tersebut dari telinganya. Ia melangkah ke meja kerjanya. Di sana sudah duduk Yuna dengan raut wajah tegang. "Bagaimana keadaan Mama saya, Dokter?" tanya Yuna dengan penuh kecemasan. Guratan kesedihan berhamburan di raut wajahnya. "Nona Yuna, kalau boleh saya sarankan lebih baik lakukan tindakan yang tepat secepat mungkin-operasi Gerd. Kondisi beliau semakin memburuk," titah Dokter Sella setelah mengeluarkan lembaran hasil rontgen dan hasil USG. "Kalau Anda menyetujui kami untuk melakukan operasi pada Mama Ajeng, Anda harus mendatangani kertas ini terlebih dulu. Sebelum kami melakukan tindakan." Sambungnya. Dokter Sella mengulurkan lembaran kertas bertulis informed consent yang akan di tanda tangani oleh Yuna atas persetujuan dari pihak Mama Ajeng. Di dalam kertas itu Dokter Sella menjelaskan manfaat dan resiko dari pengoperasian yang akan di lakukan. Termasuk tingkat keberhasilannya. Yuna membaca sejenak tulisan yang ada di kertas itu. Namun matanya terbelalak ketika melihat sejumlah uang tunai yang begitu besar. Dengan nominal seratus juta rupiah. "Biayanya seratus juta, Dokter?" "Iya, Yuna." Dokter Sella mengangguk. "Apa tidak bisa di lakukan operasi dulu saja, Dok? saya janji, pasti akan saya lunasi biayanya." Pinta Yuna. Berharap ada keringanan dari rumah sakit untuk pengoperasian sang Mama. "Itu telah menjadi kebijakan pihak rumah sakit. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Yuna," Dokter Sella tahu bagaimana perasaan Yuna saat ini. Mata bening Yuna mulai berkaca-kaca. Ia terpaksa mengalihkan tatapannya kesembarangan arah. "Ya Tuhan, dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?" gumam Yuna. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD