Semakin Penasaran

1137 Words
Keesokan harinya Arimbi memutuskan untuk di hotel saja, sembari menghabiskan waktu dengan menonton drama Korea. Waktu sudah menunjukan pukul 11.00 siang Arimbi yang sedari tadi hanya menghabiskan waktu dengan menonton drama Korea, kemudian Arimbi berjalan ke balkon untuk melihat suasana kota Jogja yang cukup panas. Arimbi membidik satu gambar dari balik pintu balkon, tapi pemandangan sekitar hotel masih cukup terlihat jelas. Kemudian Arimbi mengunggah ke aplikasi i********: nya. "Hari yang cukup panas dan melelahkan di kota ini, membuatku ingin mengabadikannya." Tulisan Arimbi pada status barunya di Instastory miliknya. Setelah cukup lama menghabiskan waktu di balkon Arimbi kembali di sibukkan dengan menonton drama Korea nya sampai pukul 15.00. Dan ada hal yang sedari tadi Arimbi lupakan, yaitu ponsel miliknya. Satria POV. Karena memang cuaca hari ini cukup panas, Satria memutuskan untuk tidak menghadiri acara pertemuan di ballroom hotel itu. Seperti biasa, Satria mengandalkan semuanya pada pengawal setianya Saka. Ketidak hadiran Satria itu murni karena tidak mau ambil resiko menjadi sasaran incaran para istri-istri pengusaha untuk menjodohkan dengan anaknya. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00, setelah makan siang Satria memutuskan untuk kembali ke kamar hotel miliknya. Setelah cukup lelah menaiki tangga darurat karena waktu itu lift tiba-tiba sedang dalam perbaikan, terpaksa Satria menaiki tangga darurat untuk menuju ke kamar hotelnya yang berada di lantai lima. Satria masih berjalan menyusuri lorong hotel yang cukup panjang dengan langkah kaki yang cukup cepat. "Akhirnya sampai juga." Gumam Satria dalam hati, Satria segera masuk dan membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah membersihkan dari Satria meraih benda pipih yang sedari tadi di tinggal di kamar. Seperti biasa Satria langsung membuka aplikasi i********: miliknya, akan tetapi tidak ada status baru dari pemilik akun Sang Penjelajah. Bagi Satria menyimak Pemilik akun tersebut adalah candu baginya. Setelah cukup lama, Satria menggoyangkan jarinya untuk mencoba melihat Instastory milik akun Sang Penjelajah. Dan itu benar cukup membuat Satria terkejut melihat satu bidikan foto yang membuat Satria merasa tidak asing dengan foto itu. Satria masih berfikir, karena belum terlalu fokus. Setelah satu jam lamanya Satria menggoyangkan jari-jarinya di benda pipih itu, kemudian Satria turun dari tempat tidur dan menuju balkon hotel. Satria melihat pemandangan yang ada di depannya dengan cukup lama. Tanpa di sadari Satria, Satria merasa melihat pemandangan di depannya itu ada yang aneh. Tapi Satria belum cukup fokus untuk merasakan itu. Kemudian Satria masuk dan mengambil ponselnya untuk melihat apakah ada status baru lagi dari pemilik akun Sang Penjelajah. Ternyata tidak ada hanya Instastory terakhir pada pukul 11.00. "Fix, ini gambar di ambil dari arah sini." Gumam Satria dalam hati dan berjalan menuju ke balkon lagi. Satria menoleh ke kanan ke kiri ke atas dan ke bawah. "Perasaanku ini tidak akan salah, jika foto itu diambil seperti pemandangan di balkon tadi, itu artinya pemilik akun Sang Penjelajah juga berada di hotel ini." Gumam Satria sendiri dengan berfikir keras seperti detektif Conan. Dengan perasaan yang semakin penasaran membuat Satria tanpa sadar sudah mondar mandir memikirkan itu semua. "Apa perlu aku tanyakan langsung saja lewat DM ya, tapi jika dia kecewa tidak mau mengaku bagaimana?" Satria berbicara sendiri di dalam ruangan itu sambil sesekali menggaruk kepalanya. "Aku coba sajalah, kenapa jadi gampang menyerah seperti ini, sedangkan aku belum mencobanya. Apa salahnya jika aku tanyakan langsung saja lewat DM." "Hai.... Sang Penjelajah. Sepertinya memang benar jika hari ini cukup panas." Satria mengirim DM dengan foto yang di ambil dari balkon milik Satria. Hanya posisi kamar Satria yang berada di ujung hotel jadi fotonya hampir sama, hanya gaya arah pengambilannya saja yang sedikit berbeda. Satria menunggu balasan tapi tak kunjung datang, berulang kali melihat benda pipih itu juga tidak ada jawaban sampai waktu menunjukan pukul 15.00 masih belum ada jawaban. Akhirnya Satria tertidur di sofa karena terlalu capek menunggu balasan dari Sang Penjelajah. Pukul 16.00 Arimbi membuka benda pipih itu dan membuka beberapa notifikasi yang sudah masuk. Dan betapa terkejutnya Arimbi setelah melihat DM dari pemilik akun Pria Tamvan Dan foto yang di ambilnya. "Hay Pria Tamvan, setelah mengamati gambar yang kamu kirim kepadaku, sepertinya kita berada di gedung yang sama." Balas Arimbi dengan perasaan Semakin bertambah penasaran dengan pemilik akun itu. Waktu sudah menunjukan pukul 16.30, tetapi Arimbi melihat benda pipih itu belum ada notifikasi dari pemilik akun Pria Tamvan. Kemudian Arimbi keluar dan menuju balkon lagi, tidak jauh berbeda dengan Satria, Arimbi juga menoleh ke kanan ke kiri ke atas dan ke bawah. Tapi sepertinya usahanya sia-sia. Dari tiga tahun terakhir ini, mereka berdua di sosial media belum pernah mengunggah foto yang menampakan langsung dirinya dari depan untuk di publikasikan. Hanya bidikan-bidikan dari samping, dari belakang. Dan yang lebih dominan yaitu bidikan apa yang ada di depan mata mereka pada waktu itu. "Kenapa Pria Tamvan tidak membalas." Gumam Arimbi yang sedikit frustasi dengan penuh harap. Arimbi berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan badannya di atas tempat tidur. Setelah mata Arimbi hampir terlelap tiba-tiba satu notifikasi masuk ke ponsel Arimbi, Arimbi segera meraih dengan cepat kilat. "Sayang, papa sama Mama pulangnya agak terlambat yaa, karena ada urusan mendadak. Nanti kalo kamu butuh sesuatu telfon aja." satu pesan dari papa Budi. "Yah, ternyata itu pesan dari papa." Omel Arimbi dengan raut muka yaang kecewa. Selang beberapa detik satu notifikasi masuk. "Hey cantik, apa kau menginap di Alana Hotel?" Balasan dari Pria Tamvan itu kembali yang membuat perasaan Arimbi semakin gugup dan suhu tubuhnya mendadak naik. "Iya, saya menginap di Alana Hotel." Jawab Arimbi dengan cepat kilat dan mata yang berbinar-binar. "Apa kau memiliki waktu luang?" Pria Tamvan itu kembali membalas dengan cepat. "Emm.... mungkin ada, tapi tidak banyak." Jawab Arimbi singkat. "Kenapa tidak banyak?" Balas Pria Tamvan itu dengan wajah penuh selidik. "Iya, karena besok siang saya sudah harus kembali ke Jakarta." Balas Arimbi kembali dengan perasaan sedikit kecewa. "Tapi, aku yakin jika Tuhan memang sudah berkehendak untuk mempertemukan kita." Balas Pria Tamvan itu kembali. "Kenapa kau begitu yakin?" jawab Arimbi. "Aku yakin karena keberadaan kita sekarang adalah takdir, bukan faktor kebetulan." Balas Pria Tamvan dengan cepat. "Jika aku memintamu untuk menemuiku besok pagi, apakah kau bersedia?" Balas Pria Tamvan itu lagi. "Bagaimana jika aku tidak mau?" jawab Arimbi. "Aku tidak akan memaksa, dan menunggu dimana takdir akan mempertemukan kita." Jawan Pria Tamvan dengan pasrah. "Jika memang ini takdir, aku akan mencoba untuk mengikuti takdir ini. Besok jam 07.00 temukan aku di bangku dekat Malioboro. Temukan aku disana." jawab Arimbi dengan tegas. "Bagaimana caranya aku bisa menemukanmu?" Jawab Pria Tamvan itu lagi. "Aku mengenakan t-shirt warna putih dan rok selutut warna hitam, rambut di kucir kuda, dan memaksi topi putih." Jawab Arimbi dengan panjang lebar kali tinggi. "Okay, aku tidak keberatan. Tunggu aku di sana, aku akan menemui takdirku." Jawab Pria Tamvan. "Jangan sampai terlambat ya, waktuku tidak banyak." sembur Arimbi lagi. "Aku tidak berjanji cantik, tapi aku akan berusaha." Jawab Pria Tamvan itu lagi. Tanpa di sadari Arimbi bersemu dan pasti merah sekali wajahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD