Penyelidikan Yang Gagal

1048 Words
Arimbi berjalan menuju parkiran hotel untuk pergi secepat kilat meninggalkan pria terkutuk itu. Tetapi Arimbi tidak menemukan sopirnya di parkiran. Arimbi mondar-mandir dengan berusaha untuk menghubungi sopirnya. Tapi apalah daya hasilnya nihil dan membuat Arimbi semakin gerah hatinya. Arimbi memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dengan memesan taksi online. "The Alana Hotel Pak." Arimbi berkata kepada sopir taksi. Di dalam taksi Arimbi diam dan memandang keluar kaca mobil. Tak lama Arimbi mengambil benda pipih dari dalam ranselnya untuk membuka aplikasi i********: dan mengambil satu capsture gambar dari belakang pak sopir. "Hari yang sungguh melelahkan, mengajarkanku untuk lebih sabar." Arimbi mengirim gambar itu dengan kata-kata tersebut. Tak perlu menunggu lama satu notifikasi masuk, kemudian Arimbi langsung membukanya. "Bukankah kehidupan selalu mengajarkan kita untuk lebih bersabar?" satu komentar masuk dari pemilik akun Pria Tamvan. "Kesabaran harus selalu ada dimana kita berada." Balas Arimbi dengan tersenyum manis yang memperlihatkan lesung pipit khasnya dengan pandangan keluar kaca mobil. "Aku berharap kepada Tuhan akan segera bertemu dengan wanita sabarku." Balas pemilik akun Pria Tamvan itu dengan emoticon hati. "Manusia boleh berharap, Tuhan yang menentukan segalanya." Balas Arimbi kembali dengan emoticon tangan menadah ke atas. Menggambarkan seseorang yang sedang berdoa kepada Tuhan. "Kita sudah sampai nona." Suara dari arah luar memecah lamunan Arimbi. "Oh,oh iya terima kasih banyak pak, ini pak kembaliannya untuk bapak saja." Jawab Arimbi dengan memberikan enam lembar uang seratus ribuan dan bergegas turun untuk masuk ke kamar hotel. "Ta tapi nona ini terlalu banyak, ongkosnya cuma habis tiga ratus ribu." Jawab sopir taksi itu dengan sedikit canggung. "Tidak apa-apa pak, anggap saja itu rejeki lebih dari Allah Pak, kalau bapak keberatan berikan saja ke orang lain tidak apa-apa." Jawab Arimbi dengan wajah penuh senyum dan berseri-seri dan tatapan penuh yakin. Satria POV. "Siapa sebenarnya orang ini, kenapa setiap kata yang keluar dari wanita ini membuatku nyaman dan semakin ingin memiliki, akankah Tuhan mempertemukan ku dengan ya?" Gumam Satria dalam hati dengan wajah senyum dan memandang ke arah langit, setelah selesai membalas pemilik akun Sang Penjelajah. "Sudah tiga tahun sejak berteman dengan akun Sang Penjelajah, tapi kenapa saya tidak berinisiatif bertemu dengannya ya. Tapi jika ingin bertemu bagaimana caranya. Itu pun kalau ini benar-benar wanita baik." Gumam Satria kembali dalam lamunannya. "Tuan. Tuan Satria." Suara yang tiba-tiba datang dari kejauhan itu memecah lamunan Satria yang tadi masih senyum-senyum sendiri. Dengan cepat Satria menarik ekor matanya untuk melihat apa yang akan di sampaikan oleh pengawalnya itu. "Maaf tuan, tadi saya bersama anak buah saya sudah mengikuti wanita itu. Tapi tiba-tiba wanita itu menghilang entah kemana dan laporan terakhir tidak ada mobil yang keluar dari parkiran itu." Saka yang memberikan laporan kepada Satria dengan penuh yakin dan kepala yang menunduk. Satria berdiri dan berjalan maju dengan mengelus-elus dagunya yang sedikit kasar akibat pertumbuhan bulu-bulu tipisnya. "Saka, meski hari ini saya baru mengalami hal yang sangat memalukan dalam hidupku untuk pertama kali dan membuat suasana hati saya tidak cukup baik. Tapi saya masih bisa menerima alasanmu hari ini dengan laporan kegagalan itu." Ucap Satria dengan nada yang cukup rendah dan enak untuk di dengar. Kemudian Satria berbalik arah dan menatap manik mata Saka. "Tapi jangan harap aku tidak memecatmu dalam waktu satu Minggu, jika kamu tidak menemukan identitas wanita itu dengan segera. Dan saya tidak mau tahu dengan cara apapun itu." Ucap Satria dengan nada yang sangat mengerikan dan pedas itu. "Ba baik tuan." Jawab Saka terbata dengan wajah yang masih menunduk dan tangan bertumpu di depan. Suasana malam hari di hotel Alana terlihat sepasang suami-istri berjalan menuju kamar hotel yang Arimbi tempati. "Sayang, kenapa tadi kamu meninggalkan papa sama Mama?" Tanya mama Selva kepada Arimbi sambil sibuk meletakkan tas dan berbagai aksesoris yang di kenakan tadi. "Tidak apa-apa ma, tadi ada sedikit masalah dengan pria yang sangat tidak sopan di taman. Makanya Arimbi lebih baik kembali ke hotel saja." Jawab Arimbi dengan berjalan menuju ke balkon untuk melihat pemandangan hiruk kota Jogja. "Pria tidak sopan bagaiman maksud kamu?, disana itu tempatnya sudah di sterilisasi tidak ada yang boleh masuk selain tamu-tamu undangan selama satu Minggu ini." Sahut papa Budi dengan berjalan menuju Arimbi berada dan menatap manja wajah putrinya. Arimbi memeluk papa Budi dengan manja. "Tapi Arimbi bosen pa, kalau harus menunggu Papa sama Mama acara terus di dalam. Mending Arimbi jalan-jalan kemana gitu, mumpung masih di Jogja." Sembur Arimbi sambi menatap manja wajah papanya diantara pelukannya. "No..no.. no, kamu tidak boleh keluyuran sendirian, itu berbahaya." Sahut mama Selva dari kejauhan. "Tuh, papa belum jawab apapun mama sudah memberi jawaban." Jawab papa Budi sambil mengelus punggung Arimbi yang masih berada di pelukan papanya itu. "Tapi pa." Gumam Arimbi dengan tatapan penuh harap. "Sssttt..... kita bicarakan ini berdua nanti kalau pas mamamu di kamar mandi." Jawab papa Budi sambil melepas pelukan putrinya itu. "Okay deech pa, Arimbi nurut saja dengan apapun nanti keputusan papa." Gumam Arimbi sambil mengambil camera SLR nya untuk mengambil gambar dari jarak jauh. Tiba-tiba Arimbi sangat terkejut dengan pemandangan yang dia bidik. Sesekali Arimbi memperbesar layar tangkapannya, dan benar juga Arimbi melihat sosok seorang pria turun dari mobil pribadinya. Pria itu adalah orang terkutuk yang tadi sempat adu mulut dan Arimbi tampar. "Sedang apa orang terkutuk itu disini." Gumam Arimbi di dalam hati. Arimbi masih melanjutkan aksinya untuk membidik orang tersebut dengan kameranya, dan betul juga orang itu arahnya menuju ke hotel yang Arimbi tempati. "Itu artinya orang terkutuk itu juga menginap disini." Gumam Arimbi Kembali dalam hati. "Berarti saya harus hati-hati disini, tapi kenapa harus takut dengan manusia sombong itu." Arimbi berucap lirih. "Sayang. Katanya tadi mau berbicara sama papa, sini mumpung mamamu masih di kamar mandi." Teriakan itu membuyarkan lamunan Arimbi seketika. "Iya iya pa." Jawab Arimbi terbata. "Kenapa, tadi kamu melamun ya?" Tanya papa Budi dengan wajah penuh tanda tanya. "Katanya tadi kamu pengen jalan-jalan, kalau menurut papa sih tidak ada salahnya kamu jalan-jalan tapi dengan pak sopir yang bisa mengantarkanmu kemana saja atau sama pengawal papa juga boleh." Ucap papa dengan menarik badanya untuk duduk di sofa dan fokus dengan poselnya. "Enggak lah pa, mending Arimbi menunggu papa sama Mama ada waktu saja. Besok Arimbi mau di hotel saja ada tugas penting yang perlu Arimbi selesaikan mendadak." Jawab Arimbi dengan penuh yakin kemudian masuk ke kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD