Aku Mau Kita Putus

1378 Words
Digra tersenyum. “Itu bukan beruntung tapi emang gue sama dia udah di takdirkan untuk bertemu.” “Jadi dia itu opsi yang lo maksud tadi?” Dirga menganggukkan kepalanya pelan dengan rona merah di pipinya. Tapi saat itu Niko bisa melihat ada binar di mata sang sahabat ketika sedang menceritakan tentang sosok wanita yang dicintainya. “Sebenernya sih, niat gue enggak memang dari awal mau jadiin dia istri gue dan bukan hanya sekedar opsi karena udah jatuh cinta sama dia pada pandangan pertama.” “Ya, gue udah bisa nebak sih,” balas Niko sambil tersenyum dan berhasil membuat Dirga bingung. “Nebak tentang apa?” “Ya nebak aja kalau ini cewek pasti istimewa banget buat lo.” Dirga benar-benar merasa malu hingga tidak berani melakukan kontak fisik dengan sahabatnya. Dalam hati ia bertanya apakah mungkin sejelas itu tergambar jelas di wajahnya tentang dirinya yang memang sudah jatuh cinta dengan Diandra? “Tapi gue penasaran secantik apa sih cewek itu sampai lo bisa jatuh cinta sama dia? Ada fotonya enggak?” tambah Niko. “Gue belom ada fotonya tapi gue baru tahu kalau cewek itu kerja di perusahaan Kakek jadi asisten sekretaris dan otomatis gue sama dia jadi sering ketemu.” “Wah… Lo emang bener-bener beruntung sih, terus kapan lo bakal ajak dia nikah?” “Boro-boro nikah Nik, gue aja enggak yakin kalau bisa buat dia jatuh cinta sama gue, malah yang ada kayaknya dia sebel sama gue karena dia pikir gue udah nidurin dia.” “Loh, emang lo belom sampai….” Niko ragu mengatakannya. “Soal itu sih hampir aja tapi enggak jadi kok soalnya gue enggak mau ah dijadiin pelampiasan sakit hatinya plus manfaatin situasi,” jelas Dirga sambil mengingat kembali kejadian malam itu. saat itu keduanya sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang yang melekat di tubuh, bahkan beberapa tanda kepemilikan sudah terukir di tubuh Diandra yang mungkin besok akan berubah menjadi kebiruan. Dan ketika Dirga hendak melakukan penyatuan, wanita itu sempat berbisik tepat di telinganya. “Aku mohon lakukan perlahan ya karena ini pertama kalinya untukku.” “Benarkah itu?” Diandra menganggukkan kepalanya dengan wajahnya yang terlihat sayu. “Lalu, kenapa kau ingin melakukannya denganku?” Walau sedang terdorong oleh hasrat tapi ada hal yang memang ingin sekali Dirga pastikan sebelum melakukan hal tersebut. Apalagi setelah mendengar pengakuan dari wanita itu kalau ini pertama kalinya. “Aku hanya ingin menunjukkannya kepada sih b******k itu kalau aku bisa melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan!” Walau keadaan sedang mabuk tapi kebenciannya terhadap pengkhiatan yang dilakukan Bara membuat Diandra bisa merasakah rasa sakitnya dengan sangat jelas. Bahkan, air mata wanita itu kembali lolos dari pelupuk matanya. Sementara Dirga yang mendengar jawaban wanita itu berubah pikiran untuk tidak bertindak lebih jauh. Sebenarnya bisa saja sih Dirga tetap melanjutkannya atas dasar rasa sama-sama mau tapi rasa sayangnya jauh lebih besar walau ia tahu mereka sudah sampai di tahap yang bisa dibilang kepalang tanggung. Ia yang semula mengungkung tubuh Diandra memutuskan untuk segera bangkit dan menutup tubuh polos nan menggoda tersebut. “Istirahatlah, aku harus pergi sebentar.” Diandra hanya menganggukkan kepala dan kembali memejamkan matanya. Sementara pria itu memilih untuk menuntaskan hasratnya sendiri di kamar mandi. *** Diandra yang baru saja sampai di lobi, tangannya langsung tarik oleh seseorang hingga wanita itu menoleh ke arah pria yang tidak lain adalah kekasihnya. “Sayang, aku mau kita bicara sebentar,” kata Bara dengan raut wajahnya yang serius. Diandra sempat melirik ke arah Stevi sebelum akhirnya harus melepaskan tangan pria itu. “Stev, lo pulang duluan gih.” Wanita itu sempat menganggukkan kepala sambil tersenyum sebelum akhirnya berpamitan meninggalkan keduanya. “Terus kamu mau ngomong apa?” “Kita ngomong di mobil aja ya. Sayang,” ajak Bara. Jujur Diandra sangat geli mendengar panggilan sayang yang dikumandangkan oleh pria itu hingga ketika Bara hendak meraih tangannya, ia sempat menepisnya sehingga pria itu menatapnya dengan penuh keheranan. “Kamu kenapa sih sayang? Kenapa kamu bersikap seolah menghindar dari aku?” Beberapa pertanyaan yang sejak tadi ditahan oleh pria itu akhirnya keluar juga dari mulutnya. Sejak mengirimkan pesan beberapa kali hingga akhirnya bertemu sikap Bara sudah merasakan sikap dingin kekasihnya tersebut. Sementara Diandra yang awalnya ingin mempertahankan hubungan mereka karena berpikir sama-sama salah, akhirnya sudah mantap untuk menguatkan hatinya dan berpisah dengan pria di hadapannya. “Aku mau kita putus, Bar,” ucap Diandra sambil mengepalkan tangannya, ia berusaha untuk tetap tenang agar emosinya tidak kian meledak apalagi ketika bayangan perselingkuhan mereka masih saja terus berputar. Seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh kekasihnya reaksi yang Bara tunjukkan adalah sebuah kekehan. “Ayolah Sayang, kenapa kamu masih suka bercanda sih soal hal ini? Tunggu apa kamu lagi nge-prank aku ya?” Pria itu berusaha mengingat hari spesial apa yang mungkin terlewat olehnya. Tapi Bara rasa tidak ada yang terlewatkan olehnya. “Aku lagi enggak bercanda ataupun mau nge-prank kamu tapi aku serius, aku mau kita putus, Bar.” “Tapi kenapa tiba-tiba kamu mau mutusin aku?” Pria itu mengerutkan dahinya bingung. “Padahal hari ini niatnya aku mau melamar kamu, Ra,” lanjutnya sambil mengeluarkan sebuah kotak merah beludru yang berisi cincin. Diandra sempat terkejut melihat hal yang seharusnya menjadi momen manis yang paling bahagia dan sudah lama ditunggu olehnya, tapi nyata terasa begitu pahit dan menyakitkan bagi wanita itu. “Diandra jawab aku, apa kamu enggak mau nikah sama aku?” desak Bara. “A–aku….” Ketika Diandra hendak menyampaikan penolakannya terhadap ajakan menikah dari Bara, sebuah tangan dari arah lain sudah lebih dulu merangkul pundaknya hingga wanita itu menoleh. “Gimana? Urusan kamu udah selesai?” Diandra sempat mengerutkan dahinya dengan matanya yang memang sejak tadi sudah berkaca-kaca. Sementara Bara masih diam membeku di sana, bingung dengan pemandangan yang ada di hadapannya. “Bukankah itu Pak Dirga yang digadang-gadang akan menggantikan posisi mendiang Pak Tama?” Bara benar-benar heran dengan sosok Dirga dan juga kapan serta di mana kedua bisa saling bertemu? Padahal yang ia tahu menurut gosip Dirga baru saja sampai di Indonesia kemarin dan hal itu membuatnya berpikir kalah selama ini mungkin saja keduanya sudah menjalin kasih di belakangnya melalui jarak jauh. “Sayang, kalau memang urusan kamu udah selesai sama dia, kita pergi sekarang ya karena Mama sudah nunggu kita di rumah,” lanjut Dirga yang semakin membuat Diandra terkejut hingga bola matanya membulat dengan sempurna. “Tunggu… Kenapa Pak Dirga bersikap seperti ini? Bukankah nanti Bara kira kalah aku dan dia punya hubungan spesial jauh dari dia yang sudah lebih dulu berselingkuh di belakangku?” Ketika Diandra sepenuhnya sadar dan berniat ingin menyingkirkan tangan Dirga, Bara sudah lebih dulu membuka mulutnya. “Oh jadi alasan kamu mau putus dari aku karena kamu udah pacaran sama pria lain?” Dan benar saja, apa yang sempat dikhawatirkan oleh Diandra pun terjadi hingga timbul kesalahpahaman di antara mereka. “Aku…” “Saya dan Diandra belum berpacaran tapi kami berniat hendak menikah,” potong Dirga yang untuk kesekian kalinya membuat wanita itu terkejut. “Pak Dirga,” panggil Diandra yang suaranya terdengar lirih serta cengkraman tangannya yang kuat. Dirga sendiri hanya bisa tersenyum, ia tahu kalau tatapan mata Diandra penuh dengan tanda tanya besar tentang apa yang sudah dilakukannya tadi. Apalagi sebelumnya tidak rencana di antara Dirga dan juga Diandra untuk melakukan hal tersebut, bahkan pria itu hanya sekedar lewat serta memperhatikan keduanya, lalu baru timbul niat untuk ikut campur ke dalamnya. “Sayang, aku tahu kamu masih malu dan tidak ingin diketahui oleh orang banyak tapi aku cemburu kalau nanti mantan kekasihmu ini terus saja mengganggumu,” jelas Dirga yang sempat melirik ke arah Bara yang masih bergeming. Bisa dibilang beberapa kata yang diucapkan oleh Dirga termasuk pengakuannya kalau ia cemburu itu adalah fakta. “Aku enggak percaya kalau kamu bakalan khianati aku kayak gini, Ra.” Akhirnya Bara membuka suaranya hingga keduanya kompak menoleh ke arah pria itu dengan dahi yang sama-sama sudah berkerut. Baik Dirga ataupun Diandra sudah tahu kalau faktanya adalah Bara yang lebih dulu melakukan perselingkuhan di belakang Diandra. Namun apa yang terjadi saat ini dari sudut pandang Bara atau orang lain yang mungkin menyaksikannya, tentu berbanding terbalik. Tapi Dirga benar-benar tidak peduli jika dirinya dianggap pelakor sekalipun karena yang terpenting saat ini tidak ada hal yang bisa menghalangi dirinya untuk memiliki Diandra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD