Opsi Lain

1395 Words
“Bapak apaan sih pake acara mau cium-cium segala? Ini kuburan tahu,” omel Diandra dengan sorot matanya menatap ke arah lain. Wanita itu terlalu gugup untuk melakukan kontak mata dengan Dirga. Pria itu terkekeh hingga mendapatkan tatapan sinis dari Diandra, tapi bukannya takut atau tersinggung, Dirga malah merasa senang karena berhasil menggodanya. “Ya sudah kalau gitu kita pindah ke hotel saja,” ajak Dirga sambil menarik tangan wanita itu untuk mengikutinya. “Pak…” Diandra berteriak seraya menyamakan langkahnya dengan pria yang ada di depannya agar tidak tersandung. Tapi pria itu seolah menulikan pendengarannya hingga mereka berakhir di depan mobil. Dirga melepaskan tangan wanita itu dan tersenyum menatap wajah cemberut itu. “Sebelum kita kembali ke kantor, kita akan makan siang dulu jadi tolong carikan aku restoran dengan makanan yang enak.” ucapnya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Diandra sempat melirik ke arah jam di tangannya yang menunjukkan pukul sebelas, tapi ia pikir pria itu memang sudah lapar sehingga minta dicarikan restoran untuk makan siang. Tangannya pun langsung mencari kontak restoran favorit yang biasa dikunjungi oleh mendiang Tama yang mungkin saja cocok di lidah Dirga, karena beberapa kali juga Diandra sering diajak makan bersama di sana. “Haruskah aku meminta Diandra untuk menjadi istriku saja agar aku bisa menjalankan perusahaan Praditama Grup? Tapi bagaimana caranya? Dia saja sepertinya tidak tertarik denganku.” Dirga terlihat kebingungan dengan kepalanya yang bertumpu dengan tangannya yang sudah ada di atas pahanya, sambil melihat keluar jendela selama perjalanan menuju restoran. “Aku akan berusaha membuatnya jatuh cinta kepadaku bagaimana caranya, tapi jika memang dalam waktu kurun dari dua minggu dia tidak mau menerimaku, maka aku akan memaksanya untuk melakukan pernikahan kontrak.” “Toh, aku yakin Diandra pasti setuju apalagi ini demi kepentingan perusahaan dan mungkin aku akan memberikan bayar besar setelah aku berhasil menyelamatkan perusahaan.” Pria itu tersenyum karena berhasil menemukan solusi untuk permasalahannya. Ia sempat melirik ke arah Diandra di pantulan cermin. Memang terdengar gila sih, padahal mereka baru bertemu beberapa kali tapi siapa sangka Dirga sudah jatuh hati dari awal mereka bertemu. *** Pukul satu Diandra sudah kembali ke kantor dengan membawa kantung berisi kue yang sempat dibelikan Dirga untuknya sebagai camilan sekaligus rasa terima kasihnya karena sudah menemaninya ke makam sang kakek. Menurutnya, Dirga tidak harus melakukan hal itu karena apa yang dilakukannya saat ini adalah bagian dari tugasnya. Bahkan, pria itu sempat memesankannya taksi untuk Diandra karena Dirga harus pergi ke suatu tempat. “Loh Ra, Pak Dirga ke mana?” Stevi mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok sang bos yang tidak terlihat bersama sahabatnya. Diandra menggelengkan kepalanya karena tidak tahu ke mana pria itu pergi. Karena sebelumnya ia sudah lebih dulu disuruh pulang. “Ra, lo beneran habis kencan sama Pak bos?” tanya Stevi yang benar-benar dibuat penasaran apalagi wanita itu sempat mengatakan kalau mereka sedang berada di toko bunga. “Enggaklah, gue cuma bercanda kok tapi nih gue ada kue kita makan bareng yuk,” ajak Diandra sambil tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mengerjai sahabatnya tersebut. “Wah parah sih lo, gue di sini sampai mules gara-gara penasaran,” omel Stevi yang sempat ingin mencubit sahabatnya tapi ia mengurungkan niatnya karena ditawari. “Iya maaf habisnya aku iseng.” Diandra terkekeh dan berlalu menuju pantry untuk mengambil sendok dan mengisi tumbler-nya dengan air putih dingin. Ketika sudah kembali ke meja, ia melihat Stevi sedang menatap makanan manis tersebut. “Lo beli di mana kuenya, Ra?” “Di Merah putih resto, tempat restoran favorit mendiang Pak Tama.” “Owalah pantes tapi kenapa lo tadi ada di toko bunga?” “Ya buat beli bungalah masa beli sekrup,” canda Diandra yang refleks membuat Stevi melayangkan tangan ke lengannya. “Nenek-nenek juga tahu kok kalau ke toko bunga buat beli bunga,” protes Stevi. “Yang gue maksud tuh buat apa Pak Dirga beli bunga? Apa buat pacarnya?” “Bukan tapi tadi buat mendiang Pak Tama dan satu lagi kayaknya istrinya Pak Tama deh.” “Oh jadi kalian habis nge-date ke makam tadi,” ledek Stevi yang sengaja menyindir sahabatnya sebagai balas dendam karena sudah berhasil membuat perutnya sakit sejak tadi. Diandra memanyunkan bibirnya ketika wanita itu terkekeh tepat di hadapannya. “Seneng banget ngeledek gue deh lo.” “Oh ya tadi Bara ke sini nyariin lo tuh buat ngajak makan siang bareng dan udah sempet chat lo tapi enggak lo bales katanya, kalian lagi berantem ya?” selidik Stevi. Diandra sempat diam sebentar dan mengingat dengan jelas kalau dirinya memang belum sempat membalas pesan dari Bara, lebih tepatnya mungkin masih malas. “Enggak kok, gue cuman belom sempet bales aja.” Wanita itu tersenyum kikuk berusaha menyembunyikan rasa bimbang yang ada di hatinya. Sementara Stevi merasa yakin kalau sebenarnya sang sahabat sedang tidak baik-baik saja. “Ya udah yuk kita makan kuenya sekarang sebelum Pak Dirga dateng.” Stevi memegang tangan Diandra hingga wanita yang sempat melamun itu akhirnya tersadar dan keduanya pun menikmati kue tersebut. “Apapun yang terjadi antara lo dan Bara semoga cepet selesai ya, gue yakin banget kalau hubungan kalian enggak baik-baik aja.” Stevi tak ragu untuk tetap mendoakan yang terbaik untuk pasangan kekasih itu. *** “Ga, sorry ya gue baru dateng soalnya gue baru bangun nih,” kata Niko yang baru sampai di sebuah kafe yang sudah disepakati oleh mereka sebelumnya. “It’s okay, tuh kopi yang lo pesan tadi.” Tunjuk Dirga yang direspons oleh pria itu dengan anggukkan kepala dan langsung dinikmati oleh Niko. “So, ada apa lo minta ketemu sama gue? Siang-siang lagi, gue kira lo lagi sibuk di kantor.” Niko tidak percaya kalau sahabatnya memaksa bertemu di jam kerjanya, padahal yang ia tahu kalau Dirga sedang memperbaiki keadaan di perusahaannya. “Gue cuma mau tanya apa lo punya kenalan orang buat ngawasin orang secara diam-diam ya semacam spy?” Niko berusaha mengingat kenalan yang mungkin berada di bidang tersebut tapi kepalanya terlalu pening saat ini karena semalam ia terpaksa minum banyak bersama salah satu tamu vip di bar miliknya. “Seinget gue kayak ada deh tapi emang lo butuh untuk apa dan kapan?” “Gue butuh secepatnya kalau bisa karena gue mau nyelidikin sih Kevin buat nyari bukti tentang penggelapan dana perusahaan.” Dirga sengaja memelankan suaranya sambil mencodongkan tubuhnya ke arah Niko. Matanya juga tidak luput untuk memperhatikan sekeliling mereka karena ia sangat takut jika ada yang mengenal sosok Kevin dan dirinya. “Ooo… I see, tapi nanti ya coba gue inget-inget lagi soalnya kepala gue masih pusing karena semalem banyak minum,” jawab Niko dengan senyumnya yang terlihat kikuk. “Oke enggak apa-apa tapi kalau udah inget secepetnya lo kabarin gue ya soalnya penting banget nih.” Niko menganggukkan kepala. “Gue cuma takut kalau Kevin menghilangkan bukti itu.” “Gue usahain Ga, nanti kalau udah inget gue langsung hubungin dia dan juga lo biar enggak makan waktu banyak.” “Makasih ya, Nik. Gue enggak tahu kalau enggak ada lo harus sama siapa gue minta bantuan.” “Yaelah Ga santai aja kayak sama siapa aja lo, tapi gue liat lo emang lo tertekan banget ya sama hal ini?” “Sebenarnya bukan hanya hal ini aja sih tapi ada syarat buat gue biar bisa mimpin perusahaan,” jawab Dirga yang terlihat lesu. “Apa itu? Apa gue bisa bantu juga?” Dahi Niko berkerut. “Jadi gue harus nikah dulu sebelum sepenuhnya resmi menyandang sebagai ahli waris dan bisa memimpin perusahaan, gue juga cuma dikasih waktu satu bulan,” jelas Dirga. Niko sempat terkekeh ketika mendengar jawab sahabatnya tapi seharusnya hal itu tidak menjadi masalah utama untuk Dirga. “Tapi lo udah punya calonnya, ‘kan?” Dirga menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang datar dan hal itu membuat Niko terkejut hingga membuka mulutnya. “Ayolah, lo enggak usah terkejut kayak gitu karena selama ini gue cuma fokus bangun karir gue,” ucap Dirga yang merasa kalau dirinya sedang diremehkan terkait statusnya yang melajang. “Astaga Dirga, kenapa sih lo hidup hanya di satu tujuan? Padahal lo bisa dibilang sempurna.” “Entahlah tapi gue masih punya opsi lain untuk masalah ini dan semoga aja berhasil.” “Opsi lain?” Dirga pun menceritakan apa yang telah terjadi dengannya dan juga Diandra setelah pulang dari bar. Dan lagi-lagi Niko dibuat terkejut setelah mendengarkannya. “Lo bener-bener beruntung, Ga,” kata Niko sambil tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD