Mau Saya Cium?

1324 Words
“Diandra,” panggil Dirga yang berhasil membuat langkah kaki wanita itu terhenti lalu melirik ke arahnya sebelum kembali menunduk. “Iya Pak, ada apa?” “Lima menit lagi saya tunggu kamu di lobi,” titah Dirga. “Tapi kita….” Belum sempat Diandra menyelesaikan kalimatnya pria itu sudah lebih dulu meninggalkannya dan menghilang masuk ke dalam lift. Ia sempat mengerutkan dahi, bingung dengan perintah Dirga yang mengajaknya pergi. Padahal sampai detik ini saja baik Diandra maupun Stevi belum mengatur ulang jadwal pria itu karena yang mereka tahu semua dalam keadaan berduka serta belum ada keputusan resmi kalau Dirga akan menggantikan sosok Tama. Tapi sebagai karyawan biasa jadi wanita itu hanya bisa menuruti perintah bosnya itu, apalagi yang Diandra tahu kalau Dirga adalah cucu kesayangan mendiang bosnya terdahulu. “Diandra, lo mau ke mana?” Stevi tampak bingung dengan sikap sahabatnya yang tampak terburu-buru setelah kembali dari toilet. “Gue mau kencan sama Pak bos, makanya lo diem dulu gue mau dandan sebentar,” jawab Diandra asal sekenanya. “Apa?” Wanita itu menoleh ke arah Stevi sambil tersenyum, ia sangat senang melihat ekspresi sahabatnya yang tampak kebingungan sekaligus terkejut itu. Tapi memang Diandra sengaja mengerjai Stevi. Setelah menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya, wanita itu bangkit seraya meraih tas dan juga ponselnya. “Udah ya gue jalan sekarang, daa Stevi,” pamit Diandra sambil melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. “Diandra tunggu, lo lagi bercanda, ‘kan?” Tapi Sayang pertanyaan Stevi sama sekali tidak digubris oleh wanita itu karena Diandra sudah lebih dulu berlari agar tidak kena omel sang bos yang sudah menunggunya di lobi. “Ada yang ketinggalan enggak sih?” gumam Diandra sambil menatap pantulan dirinya melalui ponselnya ketika sedang menunggu lift sampai di lantai paling teratas di gedung tersebut. Entah kenapa rasanya wanita itu merasa gugup akan pergi bersama Dirga setelah kejadian kemarin malam tapi bagaimanapun Diandra harus tetap bersikap professional, apalagi dirinya masih membutuhkan banyak uang untuk biaya masuk kuliah adiknya tahun depan. “Tenanglah Diandra, bersikap sewajarnya saja sebagai seorang asisten sekretaris,” lirih Diandra yang berusaha menyemangati dirinya sambil mengatur napasnya. Sesampainya di lobi, ia berusaha mencari sosok Dirga namun sosok pria itu tidak terlihat hingga akhirnya Diandra meminta nomor ponsel sang bos kepada Stevi tapi nyatanya sahabatnya juga belum memilikinya. “Ke mana sih tuh orang katanya janjian di lobi ta—” Tangan wanita itu terkepal dengan wajahnya memerah tanda kesal ketika melihat mobil yang biasa dipakai CEO terdahulunya ada di depan sana. “Kenapa sih hal sekecil ini aja harus bohong? Seharusnya ‘kan dia bilang kalau saya tunggu kamu di mobil ya.” “Permi—” “Kamu kenapa sih lama banget? Saya dari tadi udah nunggu loh,” potong Dirga yang terlihat sangat kesal karena menunggu wanita itu. Andai saja pria itu tidak berubah pikiran mungkin Dirga sudah ada di setengah jalan menuju makam kakeknya. Tapi entah kenapa rasanya ia ingin sekali mengajak Diandra dan menghiburnya. Sementara Diandra sempat terkejut dengan sikap menyebalkan pria itu tapi untuk kesekian kalinya ia tidak bisa marah karena Diandra tahu di mana posisinya. “Maafkan saya, Pak,” ucap Diandra tanpa ingin menjelaskan alasannya terlambat menemui pria itu. “Baiklah, sekarang cepatlah masuk.” Dirga merasa tidak enak sekaligus merasa bersalah karena ia sempat kelepasan memarahi wanita itu, padahal ia tahu kalau hal ini sepenuhnya bukan salah Diandra. Setelah duduk tepat di sebelah sang bos, Diandra sempat dibuat terkejut karena pria itu menyodorkan segelas minuman berisi es coklat dengan krim kocok di atasnya. “Ini buat kamu tadi saya sengaja beli dan enggak tahu apa yang kamu dan Pak Dirman suka jadi saya harap kalian suka.” Diandra sempat menatap wajah pria itu tapi Dirga sudah lebih dulu mengalihkan pandangannya. “Terima kasih, Pak.” “Sama-sama.” Dirga menyadarkan tubuhnya sambil menatap keluar jendela. “Ayo kita jalan sekarang, Pak,” titahnya. Pria itu sempat melirik dan juga tersenyum ketika melihat Diandra menikmati minuman yang ia belikan untuknya. Hatinya merasa sedikit tenang walau perasaan tidak enak masih tetap ada. Sekitar kurang lebih satu jam akhirnya mereka sampai di depan toko bunga yang letaknya tidak jauh dari area pemakaman. Dirga sengaja ingin membeli buket bunga kesukaan mendiang kakek dan neneknya. “Oh jadi dia mau ke makam mendiang Pak Tama ya, tapi kenapa dia malah ngajak gue? Tunggu, jangan bilang dia mau ngelamar gue di depan kakeknya lagi.” Bisa-bisanya Diandra memikirkan tentang hal itu padahal jelas-jelas kabar yang beredar kalau pria itu baru saja pulang dari Argentina, tapi entah kenapa wanita itu bisa berpikir sampai sejauh itu. Namun ketika wanita itu sibuk dengan pikirannya sendiri, sebuah pesan dari Stevi baru saja masuk ke dalam ponselnya. Ternyata sampai detik ini sang sahabat masih saja penasaran ke mana Diandra pergi. “Gue baru aja sampai di toko bunga,” jawab Diandra singkat karena sang bos memintanya untuk membawa satu buket bunga yang dibelinya. Wanita itu sempat bingung kenapa Dirga membeli dua buket bunga hingga pikirannya kembali meliar tentang apa yang dilakukan pria itu nanti di dalam sana. Mungkinkah Diandra berharap kalau dirinya akan diberikan bunga oleh pria itu mengingat tadi wanita itu sempat diberikan segelas es coklat? “Diandra, ayo cepet saya udah capek berdiri nih,” kata Dirga yang membuyarkan lamunan tentang Dirga. “Maaf, Pak.” Wanita itu tersenyum merasa malu karena sudah berani mengkhayal tentang perlakuan Dirga, padahal sebelumnya wanita itu hendak menolak ajakan gila dari bosnya tersebut. Tepat beberapa meter dari makam mendiang kakek dan neneknya, Dirga meminta wanita itu untuk menunggu sebentar di sana. Pasalnya ada hal pribadi yang hendak ia bicarakan nantinya. “Kakek, maaf ya aku baru datang karena perjalanan dari Argentina ke Indonesia memakan banyak waktu, dan aku juga minta maaf…” Dirga mengingat kembali tentang pertengkarannya bersama sang kakek beberapa tahun yang lalu hanya karena tidak ingin menjadi ahli waris dari Praditama Grup. Saat itu Dirga merasa tidak enak dengan Kevin yang merasa selalu diabaikan oleh kakek mereka hingga akhirnya pria itu memilih pergi sejauh mungkin dari Indonesia. “Tapi nyatanya keputusanku salah ya Kek, Kevin malah membuat keadaan perusahaan berada di ambang kehancuran, padahal tadinya aku pikir dia akan menunjukkan kalau memang ia layak memimpin perusahaan.” Pria itu menggenggam tangan merah yang masih tampak segar tersebut untuk menahan amarahnya. “Aku janji Kek, kali ini aku akan berusaha untuk membantu perusahaan untuk melewati titik terendahnya.” Dirga menatap nisan bertuliskan nama Tama di sana. Setelah itu, ia bangkit dan beralih pada makam yang ada di sebelahnya, di mana bertuliskan nama Maria, nenek Dirga. Beliau sudah meninggal sejak sembilan tahun yang lalu. “Halo Nek, apa kabar? Maaf ya Dirga baru bisa datang lagi ke sini karena aku baru saja selesai menjelajahi dunia…” Pria itu mulai menceritakan semua hal yang dilakukannya sebelumnya akhirnya menetap di Argentina dan memulai usahanya di sana. “Dia lama banget sih,” keluh Diandra yang mulai tidak tahan dengan gigitan nyamuk di kaki dan tangannya. Rasanya ingin sekali wanita itu meninggalkan sang bos untuk kembali ke mobil. Toh juga tidak akan ada yang dilakukannya di sini, ‘kan? Namun di menit sebelumnya Dirga sudah kembali menghampiri Diandra. “Kamu kenapa?” “Emang Bapak enggak diliat kalau saya lagi nepokin nyamuk,” jawab Diandra yang bermaksud menyindir pria itu. Dirga terkekeh dan hal itu berhasil membuat Diandra semakin kesal dan melemparkan tatapan sinis kepadanya. “Makanya kamu jangan manis-manis jadi cewek, nyamuk malah jadi suka ‘kan sama kamu.” Mendengar hal itu membuat Diandra membuka mulutnya hingga membentuk huruf ‘O’ dengan dahinya yang berkerut. Dan Dirga yang melihatnya malah semakin gemas serta ingin mengulangi ciuman kemarin malam. “Saya ingatkan sama kamu…” Pria itu mencodongkan tubuhnya tepat di depan Diandra. “Lebih baik kamu tutup mulut kamu sekarang atau nanti mau saya cium?” lanjutnya dengan jari telunjuk yang sudah menempel bibir wanita itu. Diandra yang sadar langsung segera menutup mulutnya dan perlahan menelan salivanya. Ia pun menjauhkan diri dari Dirga yang sedang tersenyum ke arahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD