Terusik

1318 Words
“Hah? Sakit hati? Sama siapa? Bara atau Pak Dirga?” Stevi yang terkejut memburui wanita itu dengan beberapa pertanyaan sekaligus tapi ketika menyebutkan nama Dirga volume suaranya sengaja dikecilkan. Ia takut jika hari pertama sang bos masuk kantor dirinya malah mendapat masalah. Sementara Diandra yang salah langsung melirik ke arah wanita itu sambil tersenyum kikuk. “Bukan sama siapa-siapa kok, udah ayo kerja nanti malah diomelin sama Pak bos kalau kita ngobrol terus,” katanya untuk mengalihkan topik. Ngomong-ngomong soal Bara, pria itu saja sepertinya tidak menghubungi Diandra sejak kemarin, dan hal itu terlihat dari ponsel Diandra yang sepi tanpa panggilan atau— panjang umur sebuah pesan baru saja masuk. “Sayang, maafkan aku karena baru mengabarimu. Oh ya, siang ini kita makan siang bersama ya karena ada hal yang ingin aku bicarakan.” Diandra merasa sangat malas sekali jika harus kembali berhadapan langsung dengan pria menjijikan itu, apalagi mengingat tingkahnya kemarin yang mendesah dengan wanita lain di kantor. “Cie… yang mau makan siang bareng,” goda Stevi yang sejak tadi melirik ponsel milik sahabatnya tersebut. Diandra memutar bola matanya malas lalu melirik ke arah wanita itu dengan tatapan tajam sambil meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan dari pria itu. “Apaan sih lo, Stev? Privasi nih,” omelnya. “Iya maaf ya Ra, habis gue cuman penasaran aja tadi lo bilang lagi sakit hati.” Diandra membuang napas. “Soal itu enggak usah dibahas lagi ya karena gue enggak mau kena tegur lagi gara-gara kita kebanyakan ngobrol.” Stevi tidak marah sama sekali karena ia mengerti dengan alasan Diandra hanya saja, hati kecilnya mengatakan kalau ada yang sedang wanita itu sembunyikan darinya. Tapi setelah melihat reaksi sahabatnya, Stevi enggan memaksa dan akan menunggu sampai Diandra menceritakannya. “Oh ya, gue ma uke toilet sebentar ya,” pamit Diandra yang ditanggapi dengan anggukan kepala. Sesampainya di toilet wanita itu langsung membasuh wajahnya dengan air dan menatap pantulan dirinya di cermin. Diandra sendiri bingung dengan hati dan pikirannya, kalau dipikirkan kembali sebenarnya apa yang sudah ia lakukan kemarin malam dengan Dirga tidak beda jauh dengan Bara dan wanita itu. Namun, entah mengapa ia enggan jika harus tetap mempertahankan hubungan mereka. Hatinya masih terasa sakit setiap kali mengingat kejadian kemarin sore, tapi yang mengganjal pikirannya adalah bagaimana jika Bara tahu yang sebenarnya tentang dirinya dan juga Dirga? Apakah dia juga tidak akan merasa jijik dengannya? Selain itu, kemarin Diandra juga lupa merekam apa yang sedang pria itu lakukan sehingga tidak ada bukti sebagai alasannya untuk mengakhiri hubungan mereka. “Apa sebaiknya aku berusaha memaafkannya saja? Toh, aku juga salah karena sudah mengabiskan malam dengan Pak Dirga.” Memaafkan? Satu hal yang mungkin dirasa cukup sulit untuk saat ini bukan? Tapi apakah wanita itu sanggup melakukannya? *** Sementara itu, di sisi lain Dirga sedang sibuk dengan pikirannya sendiri terkait wanita yang hendak akan dijodohkannya, dan yang membuatnya penasaran kenapa Pak Heru sampai mengatakan hal tersebut. “Kalau memang ada yang tidak beres dengan wanita itu kenapa Pak Heru tidak mengatakannya langsung kepada Mama atau Papa?” gumam Dirga. Namun di tengah riuh isi kepalanya, seseorang langsung membuka pintu ruangannya tanpa permisi apalagi mengetuknya terlebih dahulu, dan orang yang berani melakukan itu adalah Kevin. “Halo Dirga, apa kabar?” sapa Kevin dengan senyumnya yang lebar. Dirga yang mendengar suara itu langsung menoleh ke arah pria menyebalkan yang tanpa malu berani menampakkan wujudnya di hadapannya. Ia berusaha tetap tenang sambil menunjukkan senyumnya. “Seperti yang kamu lihat aku tampak baik dan malah sangat baik dari yang kamu kira, ‘kan?.” Pertanyaan Dirga di akhir kalimat seolah tampak sedang menyindir sang sepupu yang memang berharap kalau dirinya akan jauh lebih buruk dari yang ia kira. “Tentu, tapi sepertinya kamu sudah mulai nyaman duduk di sana ya.” Entah mengapa obrolan keduanya terdengar santai sekaligus saling serang dengan topeng keduanya yang tampak apik. “Ya, kau benar tapi bukannya aku memang harus terbiasa nyaman untuk duduk di sana karena sebentar lagi kursi ini akan menjadi milikku seutuhnya.” Kali ini Kevin terlihat kaget melihat sikap sepupunya yang tampak percaya diri dan hal itu tentu membuatnya sangat kesal. “Oh, ya? Tapi bukankah tadi pengacara sudah datang dan memberitahumu syarat untuk tetap ada di sana? Aku rasa kamu harus perlu memikirkannya karena bisa saja malah aku yang ada di sana,” kata Kevin dengan senyumnya yang terlihat mengejek. Dirga memang sempat terkejut dengan pernyataan menohok tersebut tapi senyuman di wajahnya seolah enggan pergi dari sana. Pria itu segera bangkit dan berjalan mendekat ke arah Kevin. “Jika kamu mau ambillah,” kata Dirga sambil menunjuk ke arah kursi dan hal itu membuat Kevin mengerutkan dahinya dengan seribu tanya di pikirannya. “Tapi aku tidak yakin kalau kamu akan tahan duduk di sana.” “Apa maksudmu, Dirga?” Kali ini seolah sudah terpancing Kevin menunjukkan seringainya dengan wajahnya yang terlihat sudah merah padam dengan tangannya yang terkepal. “Maksudku adalah selama lima tahun belakangan ini kau berusaha merebut posisi itu dari Kakek tapi nyatanya tidak bisa, kan?” Dirga menggelengkan kepalanya dengan senyumnya yang seolah sedang meremehkan lawan bicaranya. Tapi yang terjadi justru Kevin malah terkekeh kecil. “Astaga Dirga, mana mungkin aku berusaha merebut posisi itu dari Kakek? Bahkan, daripada merebut posisi itu, aku malah lebih senang berada di tempatku saat ini.” Kini giliran Dirga yang terlihat terpancing oleh kata-kata sepupunya karena ia sudah tahu betul kebusukan Kevin yang memang memanfaatkan jabatan serta posisinya sebagai cucu dari kakek Tama untuk menguras harta beliau secara diam-diam. “Ah sudahlah, aku akan pergi sekarang,” pamit Kevin yang merasa sudah menang ketika melihat lawannya bergeming. “Tapi saranku minta tukang untuk memperbaiki ac di ruangan ini karena rasanya sangat panas.” Pria itu mengibas-ngibaskan tangannya tepat seakan ruangan itu memang panas. Padahal yang Kevin lakukan saat ini sedang mengolok-olok Dirga wajahnya kini memerah bak kepiting rebus. “Pergilah tapi aku ingatkan setiap kali kamu menginjakkan kakimu ke ruangan ini ada baiknya minta izin terlebih dahulu, walau kamu sepupuku setidaknya jangan bersikap seolah kamu adalah maling, Kevin.” Kevin menghentikan langkahnya tepat di depan pintu dan hendak memutar gagang pintu. Telinganya terasa panas ketika mendengar Dirga menyamakan dirinya dengan maling. “Apakah mungkin Dirga sudah tahu apa yang aku lakukan selama ini?” Alih-alih tersindir, pria itu membalik tubuhnya dengan memasang sebuah senyuman semanis mungkin. “Soal itu, akan aku pastikan tidak akan mengulanginya lagi tapi semangatlah untuk mencari calon istri dan juga menyelamatkan perusahaan ini.” Dirga hampir kehilangan kesabarannya jika saja sepupunya tidak langsung keluar dari ruangan tersebut. Tentu pria itu sangat marah karena apa yang dilakukan oleh Kevin sungguh merugikan banyak orang yang bekerja di perusahaan mendiang kakeknya. Tapi yang paling menyebalkan adalah Dirga harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukan sang sepupu, sebenarnya ia bisa saja mundur dan membiarkan perusahaan ini jatuh di tangan Kevin tapi bagaimana dengan nasib para karyawan yang menggantungkan hidupnya di sini? Ingin sekali Dirga menyerah sebelum memulainya tapi hati kecilya selalu merasa tidak tega. Lagi pula kalau perusahaan ini sampai tinggal nama apakah mungkin kakeknya akan merasa tenang di sana? “Astaga, aku bahkan lupa untuk mengunjungi makam Kakek,” monolognya yang teringat kalau dirinya belum menyampaikan salam terakhirnya kepada sang kakek. Dirga berbalik ke meja untuk mengambil ponsel serta jas miliknya, lalu melangkahkan kakinya keluar. “Stevi, tolong minta supir untuk seger siapkan mobil sekarang di lobi karena saya harus pergi.” “Baik, Pak.” Pria itu pun melangkahkan kakinya menuju lift, Dirga sempat mengerutkan dahinya melihat wajah satu Diandra dengan matanya yang sembab ketika tidak sengaja berpapasan tadi. “Ada apa dengannya? Apakah mungkin sesuatu yang buruk terjadi dengannya?” Ingin sekali Dirga langsung bertanya kepada wanita itu tapi ada hal yang lebih penting untuk saat ini. Toh, jika diingat kembali mereka sedang berada di ruang terbuka dan mungkin saja beberapa mata akan mempertanyakan tentang kedekatan mereka yang mungkin akan membuat Diandra terusik. Dan, ia tidak mau sampai hal itu terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD