“Ya ta—tapi enggak usah sampai begitu, Pak.”
Diandra terlihat salah tingkah karena ia pikir pria itu ingin menarik syal dan melihat tato laknat sialan itu. Tapi entahlah apa yang dikatakan pria itu benar atau tidak.
“Ya sudah kalau kamu enggak mau saya periksa dan antar ke dokter tapi saya cuma mau kasih tahu kalau semalam saya itu memasukkan sesuatu ke tubuh kamu.”
Dirga sengaja tidak mengatakannya dengan jelas karena ingin membiarkan wanita itu asyik dengan pikirannya sendiri. Ia juga sempat menduga kalau sampai saat ini Diandra belum benar-benar menyadari apa yang sudah dilakukannya semalam.
“Apa yang dia bilang barusan? Apa ada hubungan sama apa yang dilakukannya semalam yang mungkin aja bikin gue ha—hamil?”
Sontak dalam diam Diandra terkejut dengan pandangannya tertuju pada sosok menyebalkan di hadapannya yang sedang tersenyum tanpa bersalah. Selain itu, ada rasa takut yang sangat besar jika saja dirinya memang benar-benar hamil.
“Tenanglah Diandra, jangan terburu-buru mengambil keputusan karena bisa saja dia hanya berusaha memacing agar kamu mengakui apa yang sudah terjadi semalam.”
“Apalagi sampai detik ini kepingan ingatan tentang semalam belum terkumpul semuanya.”
Wanita itu bersikeras tetap pada pendiriannya dan enggan mengakui kalau dirinya memang wanita yang ditemui oleh Dirga semalam. Ia sungguh-sungguh ingin bertobat dan tidak ingin melakukan kesalahan itu lagi.
“Pak, saya tidak ingin lagi mendengar urusan pribadi Bapak dengan wanita itu jadi…”
Belum sempat Diandra menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan pria itu sudah diketuk lebih dulu oleh Stevi yang memberitahukan kalau asisten pribadi mendiang kakeknya dan seorang pengcara sudah datang.
“Sayang sekali mereka sudah datang sehingga kita harus menghentikan obrolan ini tapi satu hal yang ingin kamu tahu kalau apapun yang terjadi nanti terutama kalau kamu hamil…”
Dirga menempelkan jari telunjuknya di bibir ketika wanita itu hendak membuka mulut serta mengeluarkan suaranya. “Saya tetap akan bertanggung jawab dengan menikahi kamu nantinya, jadi pikirkan saja tentang hal itu. Sekarang kamu boleh keluar,” lanjut Dirga yang terlihat serius saat mengatakannya.
Sementara Diandra membungkukkan sedikit badannya dan berjalan keluar dari ruangan pria itu. Satu hal yang ia dapatkan sebelum keluar tadi bahwa Dirga adalah pria yang bertanggung jawab.
“Selamat pagi Pak Dirga,” sapa Heru sambil tersenyum.
“Selamat pagi juga Pak Heru dan Pak Jonathan,” balas Dirga yang tak mau kalah menampilkan sebuah senyuman serta menjawab tangan mereka satu per satu.
Belum sempat mereka membuka obrolan Diandra kembali masuk sambil membawakan tiga cangkir teh karena sebelumnya Stevi sudah membuatkannya tapi wanita itu terpaksa harus pergi ke toilet.
Walau jantung Dirga sedang berdetak cukup kencang, bahkan matanya enggak beralih dari wanita itu tapi tetap saja pria itu berusaha untuk tetap bersikap professional jika sedang di depan umum.
“Saya minta maaf ya Pak Dirga karena kemarin tidak bisa ikut menjemput,” kata Heru yang merasa tidak enak karena hal ini sudah menjadi tanggung jawabnya.
Apalagi dirinya sudah mengabdi lama dengan keluarga Tama yang tidak lain adalah mendiang kakek Dirga.
“Tidak masalah Pak tapi apa yang saya minta kemarin sudah dikumpulkan semua?”
“Sebagian sudah saya kumpulkan tapi sebagian lagi entah kenapa tiba-tiba saja hilang, Pak,” jelas Heru.
“Apa? Hilang?”
Pria paruh baya tersebut menganggukkan kepalanya dengan raut wajahnya yang terlihat sangat bersalah. Padahal Heru sudah mengerjakan secara sembunyi-sembunyi agar Kevin -sepupu Dirga- tidak mengetahuinya.
“Apa mungkin Kevin mengetahui pergerakan kita sehingga ia berusaha melenyapkan bukti-bukti yang ada?” lanjut Dirga yang menaruh curiga kepada sepupunya tersebut.
“Mungkin saja begitu Pak tapi ada satu hal yang harus Pak Dirga ketahui tentang wasiat terakhir mendiang Pak Tama.”
Dirga mengerutkan dahinya hingga rasa penasaran tersebutdijawab oleh Jonathan yang kembali membacakan isi surat wasiat perihal Dirga yang harus segera menikah dalah waktu satu bulan setelah wafatnya Tama.
Hal itu dilakukan agar Dirga bisa mewarisi 95% harta milik mendiang kakeknya. Namun jika dalam waktu satu bulan pria itu tidak menikah makan 50% harta tersebut akan jatuh ke tangan Kevin dan sisanya akan disumbangkan ke panti asuhan.
“Jadi aku harus menikah baru bisa jalani wasiat Kakek? Tapi sama siapa? Pacar aja aku enggak punya karena selama lima tahun belakangan fokus kerja.”
“Saya minta maaf ya Pak Dirga karena di telepon kemarin saya tidak mengatakan hal ini karena Ibu Vera yang memintanya,” ucap Heru ketika Dirga masuk sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Tidak apa Pak, lalu selain itu apakah ada wasiat Kakek lainnya? Dan apakah seluruh keluarga Praditama sudah mengetahuinya?”
“Sudah Pak, kebetulan memang saat itu hanya Pak Dirga yang belum mengetahuinya dan saya tidak merubah isinya sampai Pak Dirga datang, namun jika Pak Dirga ragu bisa tanyakan langsung ke Pak Heru yang menjadi saksinya hari itu.”
“Tidak usah, saya percaya sepenuhnya isi wasiat tersebut memang sesuai permintaan dari Kakek.”
“Oh ya sama satu lagi, Kakek Tama sempat menitipkan ini khusus untuk Pak Dirga.”
Jonathan memberikan amplop putih kecil yang terlihat using kepada Dirga. Entah apa isinya tapi ia tidak berani membukannya.
“Kalau begitu apa saya boleh pamit sekarang karena saya masih ada urusan lainya,” pamit Jonathan yang dijawab dengan anggukan kepala.
Setelah pria itu pergi dan saat Dirga ingin membuka amplop tersebut, Heru sudah lebih dulu membuka mulutnya, “Pak Dirga maaf ada hal lain yang ingin saya sampaikan.”
“Apa itu, Pak?” tanya Dirga dengan matanya yang sudah beralih menatap wajah renta tersebut.
“Saya dengar Bapak akan dijodohkan dengan seorang wanita yang bernama Juwita.”
Lagi untuk kesekian kalinya di kepulangannya saat ini Dirga mendapatkan banyak kejutan dari keluarganya. Ia sendiri bahkan tidak tahu tentang perjodohan tersebut.
“Dijodohkan?”
“Apakah Ibu Vera belum mengatakan hal ini?” tanya Heru yang terkejut dengan respons pria muda itu.
Dirga menggelengkan kepalanya pelan. “Semalam saya tidak langsung pulang ke rumah dan pagi ini saya cuma mampir sebentar ke rumah.”
“Maaf Pak, saya benar-benar tidak tahu soal ini tapi saya hanya ingin menyampaikan kalau sebaiknya Pak Dirga benar-benar cari tahu dulu siapa latar belakangan wanita ini.”
Heru mengatakan hal ini agar cucu dari mediang bos yang sudah dianggapnya seperti saudara tersebut bisa lebih berhati-hati.
“Memangnya ada apa, Pak?”
“Saya tidak bisa mengatakannya lebih jauh lagi Pak tapi saya hanya ingin Pak Dirga lebih was-was dan tidak mudah mempercayai orang lain.”
Dirga membuang napas berat karena harus mencari tahu sendiri sosok wanita yang memang belum ia temui sampai hari ini. Tapi satu hal yang pasti di dalam bisnis tidak ada siapapun yang bisa ia percaya kecuali Dirga memang sudah mengenal orang itu lebih dekat.
“Baiklah Pak terima kasih untuk pesannya.”
“Selain itu, saya ingin memberitahukan kalau mulai besok sudah ada asisten pribadi untuk Pak Dirga.”
“Oke.”
***
Sementara itu Diandra lebih sering melamun hingga membuat Stevi penasaran. Pasalnya wanita itu sedang menimbang kembali keputusannya, apakah mungkin ia mengaku saja kepada Dirga kalau dirinya adalah wanita mabuk yang ditemuinya semalam.
Jujur saja sampai detik ini Diandra sangat takut kalau dirinya sampai hamil di luar nikah, dan tentu saja itu akan menjadi aib untuk dirinya dan keluarga.
“Diandra, lo kenapa sih? Gue perhatian sejak keluar dari ruangan Pak Dirga jadi suka melamun begini? Lo enggak dipecat, ‘kan?”
Stevi memburui wanita itu dengan segala macam pertanyaan yang memang sejak tadi memenuhi kepalanya. Apalagi Diandra malah lebih sering melamun daripada bercerita.
Namun bukannya menjawab wanita itu menatap sahabatnya dari atas hingga bawah terutama perut Stevi yang sudah membesar karena memang sudah 29 minggu, dan sebentar lagi wanita itu akan mengambil jatah cuti hamilnya.
“Lo enak ya hamil tapi udah ada lakinya,” lirih Diandra.
“Hah? Lo tadi ngomong apa?” tanya Stevi yang tidak mendengar jelas apa yang diucapkan oleh wanita itu.
Diandra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Tangannya bergerak untuk mengusap perut buncit sang sahabat. “Sehat-sehat ya Dek sampai launching nanti.”
“Diandra, lo enggak lagi sakit, ‘kan?” tanya Stevi sambil memeriksa suhu tubuh sang sahabat yang tampak normal.
Entah kenapa feeling Stevi mengatakan kalau tidak ada yang beres dengan sahabatnya yang jarak bahkan tidak pernah mengelus perut buncitnya.
“Iya gue emang lagi sakit tapi sakit hati!”