Sebelum berangkat ke kantor Dirga menyempatkan diri untuk menemui orang tuanya di rumah. Walau terkesan bolak-balik tapi pria itu tidak ingin dicap sebagai anak durhaka karena tidak ingat dengan orang tuanya, apalagi selama lima tahun mereka tidak bertemu.
Tapi sepanjang perjalanan menuju rumah, Dirga tidak berhenti tersenyum mengingat pesan singkat dari wanita misterius itu. Entah kenapa wanita itu memang memiliki daya tarik tersendiri yang mampu memikat Dirga dari awal pertemuan mereka.
“Maaf jika semalam aku sudah mengacau tapi aku mohon lupakan saja kejadian semalam karena aku sedang mabuk berat sehingga tidak sadar atas apa yang sudah aku perbuat. Dan terimalah sedikit uang dariku.”
Seharusnya wanita itu tidak perlu meminta maaf karena apa yang terjadi bisa dibilang mungkin sama-sama menguntungkan atau merugikan untuk dirinya sendiri.
Selain itu, yang membuat Dirga tertawa adalah wanita itu baru saja memberikan beberapa lembar uang padanya, dan hal itu seolah menegaskan kalau dirinya sudah disamakan dengan pria bayaran.
Marah? Tentu saja ia sama sekali tidak marah apalagi wanita itu karena mungkin menurut beberapa orang itu sama saja melukai harga diri mereka. Malah Dirga sangat berharap agar mereka dapat bertemu kembali walau dengan sebuah kebetulan sekalipun.
“Mama, Papa, anakmu yang tampan ini sudah pulang,” ucap Dirga dengan nada sedikit meninggi kalau memasuk pintu utama.
Dirga, pria yang penuh dengan ambisi dan juga memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Tapi pria itu juga terkesan humoris walau terkadang suka sedikit garing.
“Dirga,” lirih Vera yang tidak percaya kalau putra mereka benar-benar sudah menginjakkan kakinya di negara kelahirannya.
Dengan setengah berlari Dirga segera menghampiri sang mama yang sudah berdiri untuk menyambutnya dengan kedua tangan yang sudah direntangkan selebar mungkin.
Vera memeluk erat tubuh putranya yang memang jauh lebih tinggi sedikit darinya. Ia menumpahkan rasa rindunya tersebut dengan bulir air mata yang berhasil lolos.
“Mama sangat merindukamu, Nak.”
Bertahun-tahun wanita paruh baya itu memohon kepada sang putra untuk kembali ke tanah air tapi Dirga selalu menjawab sedang sibuk dengan usaha yang dibangun olehnya dan akan kembali jika usahanya di sana sudah membuahkan hasil.
Akhirnya Vera terpaksa mengalah demi putranya yang ingin membangun mimpi terbesarnya walau harus terpisah jarak puluh ribu kilometer.
“Aku juga kangen banget sama Mama, maafin aku ya Ma, aku baru kembali. Bahkan aku enggak bisa lihat Kakek untuk yang terakhir kalinya.”
Dirga menumpahkan rasa rindunya sekaligus rasa bersalahnya karena tidak bisa pulang lebih cepat walau untuk sekedar menyampaikan salam perpisahan kepada mendiang kakeknya.
“Sudahlah tidak apa-apa Dirga tapi yang terpenting sekarang kamu sudah kembali ke sini dan Mama mohon jangan lagi pergi ya, Nak,” pinta Vera yang sangat berharap kalau putranya mau mengemban tugas dan tanggung jawabnya di sini.
“Iya Ma, akan aku usahakan untuk tetap ada di sini.”
Sementara Tony yang sejak tadi memberi ruang untuk keduanya akhirnya berdehem seraya bangkit dari tempat duduknya. Hal itu tentu membuat keduanya langsung menoleh ke arah sosok yang hampir saja terlupakan oleh mereka.
“Papa,” kata Dirga yang beralih memeluk sang papa.
“Bagaimana kabarmu, Nak?”
“Kabarku baik Pa, Papa sendiri bagaimana?”
“Seperti yang kamu lihat Papa baik-baik saja ya walau kadang masih sering masuk angina,” jawab Tony sambil terkekeh.
“Ya sudah kita lanjutkan saja ngobrolnya nanti, sekarang kita sarapan dulu ya,” ajak Vera yang ditanggapi kompak oleh keduanya dengan anggukan kepala.
***
Pukul delapan Dirga sudah berada di kantor, bahkan kedatangannya pagi ini disambut langsung oleh semua kepala divisi yang ada di perusahaan tersebut. Tapi sayang, ia tidak mendapati sosok sepupunya di sana.
Namun yang menyayat hati pria itu adalah ketika beberapa orang menyampaikan harapan mereka tentang sosok Dirga yang mampu menyelamatkan perusahaan Praditama Grup dan kembali berjaya seperti dulu.
Tentu beban itu sangatlah besar menurutnya, apalagi banyak karyawan yang bahkan di level terkecil juga bergantung padanya saat ini.
“Apakah mungkin aku bisa melakukannya? Tapi dari mana aku memulainya?”
Di tengah kebingungan tersebut Dirga malah melihat sosok wanita misterius itu lagi di meja sekretarisnya, mungkinkah ini kebetulan untuk kesekian kalinya atau takdir yang telah kembali mempertemukan mereka?
“Aku sedang tidak bermimpi, ‘kan?” gumam Dirga sambil mengucek matanya hanya untuk memastikan kalau ia tidak sedang berhalusinasi.
“Tunggu…. Jadi dia itu adalah asisten sekretaris di kantor ini ya?”
Untuk memastikan pria itu langsung melakukan panggilan telepon yang langsung tersambung kepada sekretarisnya. Dirga langsung meminta sang asisten sekretaris untuk menemuinya setelah ia sudah memastikan sendiri kalau sosok yang dilihatnya memang karyawannya.
“Aku harus memberikan kejutan apalagi dia sudah seenaknya datang terlambat di kantorku,” monolognya sambil terkekeh dan juga membalik tubuhnya ke arah jendela.
Tidak hanya di situ saja, Dirga bahkan repot-repot meraihkan kembali penampilannya agar wanita itu terkesan serta terpesona olehnya. Ia juga sempat memasang wajah datar dan dingin agar terlihat lebih wibawa.
Setelah Diandra masuk, pria itu berbicara layaknya seorang bos yang sedang marah karena asisten sekretarisnya tersebut terlambat. Tapi pria itu sempat tertawa di dalam hatinya ketika Diandra berusah membohonginya.
“ Dasar Pembohong! Sudah jelas kamu itu mabuk dan berakhir tidur di atas tempat tidurku semalam.”
Dirga sempat melirik ke arah jendela ketika di luar sana Stevi berusaha mengamati obrolan di antara mereka sehingga ia segera menutup tirai dengan remote. Walau ini kantor milik keluarganya tapi pria itu merasa harus menjaga diri agar tidak diremehkan.
Tapi kalau sama Diandra beda cerita karena sebelum bertemu di kantor mereka sudah lebih dulu bertemu di luar sehingga Dirga tidak ragu untuk menunjukkan sifat konyol bin nyeleneh.
“Astaga.”
“Apa kamu masih ingat aku?” tanya Dirga sambil tersenyum.
Diandra masih mematung di tempatnya dengan wajah yang sudah memerah. Bagaimana bisa mereka bertemu kembali di kantor? Apalagi pria di hadapannya adalah bos besarnya sendiri.
“Maaf Pak sebelumnya memang kita pernah bertemu di mana ya?”
Wanita itu bersikap seolah pura-pura lupa dengan sosok yang sudah tidur di atas tempat tidur yang sama. Tentu dengan alasan agar keduanya tidak terlihat canggung.
Tapi tidak dengan Dirga yang sangat yakin kalau wanita yang berdiri di hadapannya adalah wanita yang sama seperti wanita yang ia temui semalam.
“Oh ya?” Diandra menganggukan kepalanya pelan. “Padahal semalam itu adalah malam yang indah bagi saya dan saya juga merasa sangat beruntung karena medapatkan wanita mabuk yang ingin menghabiskan ma—”
“Maaf Pak tapi sepertinya Bapak salah orang,” potong Diandra karena kupingnya sudah terasa panas dan memerah akibat menahan rasa malu.
“Tapi saya merasa yakin kalau kamu adalah wanita yang semalam saya temui.”
“Pak saya berani sumpah kalau semalam memang saya tidak ada ada di bar ataupun sedang dalam keadaan mabuk.” Sebisa mugkin Diandra berusaha meyakinkan sang bos kalau wanita yang ditemui itu bukan dirinya.
“Lalu, kenapa kamu pakai syal padahal cuaca sedang sangat panas? Apa kamu mau fashion show di kantor?”
“Kan tadi saya sudah bilang sama Bapak kalau saya sedang tidak enak badan,” bantah wanita itu sekali lagi.
Jujur rasanya ingin sekali Diandra menangis atau mungkin memukul pria yang ada di hadapannya karena kesal selalu membahas hal tersebut sejak tadi.
“Benarkah itu?”
Dirga melangkahkan kakinya agar lebih dekat dengan wanita itu, tapi yang dilakukan Diandra malah sebaliknya, ia melangkah mundur secara perlahan.
“Bapak mau apa?”
“Saya cuma mau periksa aja kamu beneran sakit atau enggak? Kalau memang iya ‘kan saya bisa antar kamu langsung ke dokter kandungan mungkin.”
Untuk kesekian kalinya Dirga kembali menggoda Diandra yang tampak semakin ketakutan kepadanya karena memang rasanya sangatlah seru dan lucu. Andai saja wanita itu langsung mengaku mungkin hal ini tak akan terjadi.
“Pak saya mohon jangan seperti ini kita sedang ada di kantor,” kata Diandra dengan suaranya yang terdengar lantang serta matanya yang terpejam karena takut.
Dirga menghentikan langkahnya sambil terkekeh. “Kamu ini benar-benar lucu ya padahal saya cuma mau ngecek suhu tubuh kamu loh enggak lebih,” ungkapnya.