Apa Kamu Masih Ingat Aku?

1356 Words
Diandra membuka matanya dengan rasa pusing yang mendera di kepalanya. Namun seketika bola matanya membulat ketika melihat sosok pria asing di depannya. Seketika otaknya dipaksa mengingat apa yang sudah terjadi kemarin malam antara dirinya dan juga pria asing itu. Dan untuk kedua kalinya, wanita itu kembali terkejut setelah melihat tubuhnya yang polos di balik selimut. “Apa mungkin gue dan dia semalam baru aja melakukan hal it—” Diandra menggelengkan kepala, seakan tidak percaya kalau semalam dengan mudah memberikan kesuciannya kepada pria yang masih tertidur lelap di sebelahnya. Karena merasa takut dan juga bingung, wanita itu memutuskan untuk segera turun dari tempat tidur, memungut pakaiannya yang berserakan di lantai lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum Diandra pergi, ia sempat menyelipkan sebuah pesan yang dituliskan di secarik kertas serta beberapa lembar uang di atas meja. Ia harap kalau pria itu tidak lagi mencarinya atau berpikir kalau dirinya adalah seorang wanita malam. Sekitar pukul 07.15 wib, Diandra baru saja sampai di rumah, jantungnya yang berdetak sangat kencang karena takut jika orang tuanya akan bertanya mengenai dirinya yang semalaman tidak pulang ke rumah. Dan benar saja, ketika baru sampai di ruang tengah ada sudah ada sosok Arini yang sempat melirik ke arah putrinya. “Diandra, kamu ke mana saja? Kenapa baru pulang? Kenapa tidak mengabari kalau tidak pulang?” “A—aku sebenernya semalam nginep di rumah Stevi, Bun,” dusta Diandra sambil menundukkan kepalanya. Wanita itu merasa sangat takut jika dirinya ketahuan berbohong. Memang sih usianya sudah terbilang dewasa, tapi tetap saja jika sampai hal buruk itu diketahui oleh kedua orang tuanya maka mereka akan marah besar pada Diandra. Sampai saat ini saja ia masih merasa was-was bagiamana jika sampai dirinya hamil? Padahal jelas-jelas tadi ia sudah meminta pria itu untuk melupakan apa yang sudah terjadi dengan mereka semalam. “Kamu ini sudah besar loh Diandra, setidaknya jika kamu tidak pulang kabari Ayah karena semalaman dia menunggumu pulang ke rumah.” Mendengar ucapan sang bunda tentu menimbulkan rasa bersalah serta penyesalan yang amat dalam. Padahal ia tahu kalau dirinya sedang lembur bekerja sang ayah akan menunggunya di ruang tengah sampai ketiduran hanya untuk memastikan putrinya pulang dengan selamat. “Maaf Bun, semalam aku lupa memberi kabar,” balas Diandra dengan nada bicaranya yang terdengar sangat menyesal. “Ya sudah sekarang kamu mandi dan langsung sarapan,” titah Arini. “Baik, Bun.” Diandra segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Sebelum berniat membersihkan dirinya, Diandra sempat mengirimkan pesan kepada Stevi, sahabat sekaligus rekan kerjanya di kantor. Hari ini wanita itu berniat tidak ingin masuk kerja dengan alasan tidak enak badan. Padahal alasan sebenarnya Diandra masih merasa syok dengan apa yang baru saja terjadi dengan dirinya. Tapi ketika hendak melangkahkan kembali kakinya menuju kamar mandi, ponsel milik wanita itu sudah berbunyi dan panggilan tersebut dari sosok Stevi. “Ha—” “Diandra, hari ini lo enggak boleh libur ya,” potong Stevi dengan nada bicaranya yang terdengar penuh penekanan. “Tapi Stev, gue lagi enggak enak badan dan sekarang gue masih rebahan di atas tempat tidur,” bohong wanita itu dengan nada bicaranya yang sengaja dibuat-buat lemas agar Stevi percaya dengan alasannya. “Gue enggak mau tahu pokoknya lo harus masuk hari ini karena sebelumnya gue udah bilang ‘kan kalau calon penerus perusahaan Praditama Grup bakalan dateng hari ini untuk perkenalan diri sekaligus sidak karyawan.” Diandra sempat terkejut karena ia ingat jika siapa saja yang berusaha menghindari hari ini dengan meliburkan diri bisa saja mendapatkan sp tiga yang berakhir pemutusan kerja. “Jadi, gue saranin mending lo berangkat sekarang dan lebih baik telat daripada harus dipecat sama CEO baru itu,” lanjut Stevi yang kembali mengingatkan. “Oke gue berangkat sekarang, Stev.” Diandra langsung mengakhiri panggilan teleponnya dan segera bersiap untuk berangkat ke kantor. Rasa malas serta pusingnya seketika sirna digantikan rasa takutnya jika sampai kehilangan pekerjaan. Tahu sendirilah, cari kerja di zaman sekarang itu sangatlah sulit apalagi ia merasa tidak memiliki banyak koneksi yang mungkin bisa membantunya untuk mendapatkan pekerjaan baru. “Astaga Diandra, lo telat lewat beberapa menit dan tadi Pak Dirga sempat nanya ke mana asisten sekretarisnya?” “Terus lo jawab apa, Stev?” Kini wanita itu sudah pasrah karena ia sudah semaksimal mungkin untuk segera sampai di kantor, tapi keadaan ibu kota yang super duper membuatnya semakin lama terjebak di jalan, apalagi ditambah ia belum mempersiapkan diri sebelumnya. “Gue bilang lo kejebak ma— tunggu kenapa lo pake syal?” tanya Stevi ketika mengamati ada yang berbeda dari penampilan wanita yang duduk di sebelahnya. “Tadi ‘kan gue udah bilang kalau gue lagi enggak enak badan dan mau izin enggak masuk karena sakit.” Diandra kembali ingat kalau beberapa menit yang lalu sempat pura-pura sakit sehingga kini harus terus bersandiwara. “Sakit?” Stevi mengerutkan dahinya karena sahabatnya terlihat baik-baik saja malah tampak bugar dengan keringat yang membasahi beberapa area di wajahnya. Ketika Stevi hendak mengecek suhu tubuh sahabatnya dengan punggung tangannya, telepon kantor sudah berbunyi sehingga ia buru-buru menjawab panggilan tersebut. “Halo, Pak Dirga…” “Apakah wanita yang bersamamu itu adalah asisten sekretaris yang kau bilang datang terlambat?” potong Dirga. Stevi melirik ke arah jendela yang ada beberapa meter di hadapannya, tepatnya di ruangan tersebut sudah menampilkan sosok pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan pandangan matanya tertuju ke arah mereka. “Iya Pak, namanya Diandra Alista.” “Kalau begitu, suruh dia menghadap saya di ruangan sekarang juga” titah Dirga yang tanpa disadar oleh wanita itu dengan menanggapinya dengan anggukan kepalanya. Wanita itu meletakkan gagang telepon itu sambil menelan salivanya secara perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Jujur saja saat ini Stevi sangat khawatir dengan nasib sahabatnya. Ditambah dirinya saat ini sedang hamil besar dan beberapa minggu lagi akan mengambil cuti hamil untuk pesiapan melahirkan. Dan jika saja hal buruk sampai terjadi pada Diandra, entahlah akan seperti apa dirinya. “Kenapa Stev? Siapa yang telepon?” tanya Diandra penasaran. “Gawat! Kayaknya lo bakalan bener-bener dipecat deh sama Pak bos, Ra.” “Apa?” Kini bukan hanya Stevi yang terkejut melainkan Diandra juga karena hal itu terkait dengan nasibnya yang mungkin akan kehilangan pekerjaannya. Dengan langkahnya yang sangat berat Diandra tetap berusaha menyiapkan hati serta mencari alasan yang tepat agar sang bos besar tidak memecat dirinya. “Permisi Pak Dirga, tadi saya dengar kalau Bapak memanggil saya ya?” Diandra bertanya dengan sangat hati-hati karena ia tidak ingin membuat pria itu marah kepadanya, apalagi wanita itu belum menjelaskan alasannya datang terlambat walau ia sebenarnya harus berbohong. Dirga yang semula menatap ke luar jendela kini membalik tubuhnya dengan sudut bibirnya yang sudah ditarik sangat lebar. Ternyata tidak sulit untuk menemukan wanita yang sudah menghabiskan malam dengannya. “Ini hari pertama saya bekerja di kantor tapi kamu berani-beraninya datang terlambat dan tidak langsung menghadap saya,” ucap Dirga dengan suaranya yang sengaja dibuat sedikit marah dan penuh penekanan. “Tapi Pak saya bisa jelaskan alasan kenapa saya bisa terlambat,” kata Diandra yang masih menundukkan kepalanya. “Oke, kalau begitu cepat katakana alasanmu.” Dirga merasa sangat senang sekali karena sudah berhasil membuat wanita yang berdiri beberapa meter darinya ketakutan. Ia memang sengaja ingin mempermainkan Diandra sebelum bertanya tentang satu hal. “Jadi sebenarnya saya itu tadi sempat bangun kesiangan karena saya sedang tidak enak badan Pak, terus pas saya paksain berangkat kerja malah kena macet di jalan.” Entah apakah penjelasan Diandra berhasil meluluhkan hati sang bos besar atau tidak? Tapi ia sangat berharap kalau pintu hati pria itu terketuk. “Oh ya? Jadi kamu kesiangan karena tidak enak badan ya?” Diandra menganggukkan kepalanya. “Saya kira kamu kesiangan gara-gara terlalu banyak minum dan berakhir di atas tempat tidur bersama seorang pria.” Wanita itu berusaha mencerna ucapan sang bos tapi setelahnya ia sadar dan juga terkejut dari mana pria itu tahu tentang apa yang dilakukannya kemarin malam? Akhirnya Diandra memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap wajah pria di hadapannya. Otaknya dengan cepat mengingat sosok Dirga hingga kedua bola matanya membulat dengan sempurna sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. “Astaga.” “Apa kamu masih ingat aku?” tanya Dirga sambil tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD