Jangan Salahkan Aku

1319 Words
Pukul delapan malam Dirga baru saja sampai di Indonesia, setelah selama kurang lebih 31 jam lamanya ia melakukan penerbangan dari Argentina. Niat awalnya sih ingin langsung pulang ke rumah tapi kabar kepulangannya ternyata sudah sampai di telinga sahabatnya sehingga Dirga terpaksa menemuinya sebentar di sebuah bar. “Sorry gue baru dateng, Nik,” kata Dirga berusaha menyapa Niko yang sejak tadi sudah menunggunya. “Santai Bro, tapi gue turut berduka ya atas meninggalkan Kakek Tama.” Niko memang tahu musibah yang sedang menimpa sahabatnya, bahkan tiga hari yang lalu pria itu datang ke pemakaman kakek dari sahabatnya karena memang mereka sudah sedekat itu. “Iya, thank’s Bro.” “Ya udah lo mau minum apa? Malam ini biar gue yang terakhir deh,” kata Niko sambil tersenyum. Dirga sempat ingin menolak tapi ia merasa tidak enak untuk melakukannya. Apalagi mereka baru saja bertemu dan ini pertama kalinya pria itu mampir ke bar milik sang sahabat. “Apa saja boleh, Nik.” Akhirnya Niko memesankan satu gelas minuman special yang ada di barnya tersebut kepada sang bartender. Bagaimanapun ia ingin menjamu sahabatnya dengan sangat baik, ya hitung-hitung sekaligus promosi agar Dirga mau kembali lagi ke bar miliknya. Atau mungkin bisa saja Dirga terkesan dengan minuman yang ia berikan hingga secara tidak langsung mau mempromosikan bar milik Niko kepada teman atau rekan bisnisnya. “Jadi, setelah ini apa lo fix bakalan gantiin posisi mendiang Kakek lo buat jalanin perusahaan Praditama Grup?” “Ya, seperti yang lo tahu kali ini mau atau enggak, gue harus ada di posisi itu karena perusahaan saat ini sedang berada di ujung tanduk,” jawab Dirga yang terlihat santai dengan tangannya terkepal menahan amarahnya. Niko memang tidak tahu banyak apa yang sudah terjadi di perusahaan tersebut. Tapi memang selama Dirga memutuskan pergi dari negara kelahirannya, keadaan perusahaan tersebut tidak luput dari berita miring. “Minum dulu, Ga,” ucap Niko yang berharap kalau sahabat bisa jauh lebih tenang setelah meminumnya. “Terima kasih.” Pria itu menenggak sedikit minuman miliknya yang baru saja diberikan oleh sang bartender serta sudah dipersilahkan oleh Niko. “Tapi gue yakin lo pantes ada di posisi itu dan juga mampu kok buat perusahaan Praditama Group kembali berjaya lagi, Ga.” Dirga tersenyum kecut. “Entahlah, gue sendiri enggak yakin karena selama di Argentina gue berada di bidang yang sedikit berbeda.” Niko sempat terkejut mendengarnya karena sudah selama lima tahun belakangan ia tidak mendengar kabar mengenai sang sahabat. Berita tentang kepulangan Dirga saja baru saja ia ketahui beberapa waktu lalu dari sekelebat obrolan sepupu Dirga yang mampir ke bar miliknya dan itu pun tak sengaja didengar olehnya. “Oh, ya? Memang apa aja yang lo lakuin di sana?” Dirga mulai menceritakan semua hal yang dilakukannya selama lima tahun di sana, dengan sorot matanya yang terlihat berbinar. Pengalaman berharga yang tidak akan pernah didapatkan mungkin seumur hidupnya. Apalagi di sana semua pria itu mulai dari titik terendah dan tanpa koneksi siapapun. Sehingga tidak ada beban di pundaknya ketika memulai semuanya. Dirga juga tidak harus khawatir jika nama baik keluarganya tercoreng karena memang di sana tidak ada yang mengenalnya. “Di sana gue bisa jadi diri gue sendiri Nik, memang sih awalnya banyak banget yang gue pertaruhin, apalagi gue memulainya tanpa nama besar mendiang Kakek atau keluarga gue, tapi gue seneng aja dan merasa bebas.” “Gue seneng Ga dengernya, ya secara dari kecil ‘kan yang gue tahu hidup lo selalu diatur buat jadi penerus di perusahaan Praditama Grup.” Niko tersenyum seolah merasakan apa yang dirasakan sahabatnya ketika mendengar ceritanya. “Tapi gue juga yakin kalau ada alasan kenapa mendiang Kakek Tama mau lo yang jadi pewaris harta kekayaannya.” Soal itu Dirga pun seolah sangat yakin apalagi bisa dilihat selama lima tahun belakangan ketika perusahaan berusaha diambil alih oleh sepupunya kini nasibnya malah sedang dipertaruhkan. Pria itu memang sempat menyesal kenapa tidak sejak dulu saja mengurusnya, mungkin hal itu bisa membuat sang kakek bangga serta bisa hidup lebih lama. “Nik, kayaknya gue harus pamit sekarang deh karena badan gue masih ngerasa pegal-pegel, apalagi besok gue harus berangkat ke kantor untuk cek keadaan di sana,” pamit Dirga ketika sudah satu jam lamanya mereka mengobrol. “Okay, kapan-kapan mampir saja ke sini biar gue temani minum sambil ngobrol,” kata Niko sambil tersenyum. “Santai soal itu, gue masih bisa mampir lain hari kok.” “Gue tunggu loh.” “Iya bawel deh lo, dah gue balik sekarang,” balas Dirga untuk terakhir kalinya sambil menepuk bahu sahabatnya. Namun ketika sampai di lantai bawah dan hampir saja sampai di depan pintu masuk, tubuhnya ditabrak oleh seorang wanita yang kelihatan sudah mabuk berat dan hal itu terlihat dari caranya menatap dirinya. “Hei, kau baik-baik saja?” tanya Dirga. “Maukah kamu menghabiskan malam denganku?” Balasan wanita itu yang membuat dahi Dirga berkerut. Tapi setelahnya, tubuh wanita asing itu ambruk dan hampir saja menyentuh lantai jika Dirga tidak dengan sigap menangkap tubuhnya. “Hei, sadarlah!” Pria itu terlihat panik karena beberapa kali ia berusaha menyadarkan wanita itu dengan mengguncangkan tubuhnya, serta menepuk pipinya berulang kali tapi tidak membuahkan hasil apapun. “Apa yang harus gue lakukan sekarang? Mengantarkannya pulang ke rumah? Bagaimana jika keluarganya bertanya tentang wanita ini? Apa yang harus aku jelaskan?” Dirga tahu dirinya tanpa sengaja sudah mendapat masalah besar karena bertabrakan wanita itu. Kalau ia tinggalkan juga pasti sudah banyak pria yang akan mengincarnya dan dijadikan santapan oleh salah satu p****************g di bar tersebut. Akhirnya Dirga menggendong tubuh wanita itu ala bridal. Ia berniat meninggalkan wanita itu di apartemennya, sementara dirinya akan pulang ke rumah. Pria itu merasa beruntung karena sebelumnya ia sudah meminta supir yang menjemputnya di bandara untuk pulang lebih dulu, jadi setidaknya untuk saat ini tidak ada yang tahu soal apa yang sedang Dirga lakukan termasuk membawa seorang wanita ke apartemennya. Sepanjang perjalanan pulang, wanita itu sempat membuka matanya dan kembali meracau seolah sedang mengungkapkan isi hatinya terkait masalah yang sedang menimpanya. Tapi bukannya merasa iba, Dirga malah terpesona dengan wajah cantik wanita itu hingga beberapa kali ia berusaha mencuri pandangan ke arah wanita misterius tersebut. “Malam ini tidurlah di sini dan besok kamu harus segera pulang dari apartemenku,” ucap Dirga ketika ia baru saja merebahkan tubuh wanita itu di atas tempat tidurnya. Namun ketika pria itu hendak pergi, wanita asing itu menarik tangannya secara tiba-tiba hingga Dirga limbung dan terjatuh di atas tubuh wanita itu. “Astaga, kenapa kau menarik tanganku?” Kedua mata wanita itu sempat terbuka dan mereka sempat bertatapan selama beberapa detik. Bahkan, jantung Dirga hampir dibuat meledak dengan wajah cantik nan mempesona itu. “Tidurlah, aku akan pulang ke rumahku jadi kau akan aman di sini,” ucap Dirga yang tidak ingin jika wanita itu salah paham nantinya. Tapi yang terjadi selanjutnya, wanita itu menarik tengkuknya dan mencium bibirnya hingga kedua manik mata Dirga membulat dengan sempurna. Entah tidak ingin kecewa atau ada alasan lainnya tapi Dirga malah membalas ciuman dari bibir manis wanita itu. Rasanya sungguh memabukkan sampai-sampai keduanya sempat kehabisan napas. Namun, bukannya berhenti keduanya kembali menikmati cumbuan tersebut yang terasa semakin dalam dan juga menuntut. “Astaga, kenapa aku rasanya seolah sedang terhiponis oleh wanita ini?” Sempat ada pergulatan batin karena Dirga tidak ingin melakukan hal yang lebih dari ini, atau sekedar di cap sebagai pria yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan, akhirnya ia sempat menghentikan aksinya ketika baru saja membuka beberapa kancing teratas pakaian wanita itu. “Kenapa berhenti?” “Sebaiknya memang kita berhenti sebelum semuanya semakin jauh.” “Tapi aku menginginkannya,” rengek wanita itu. “Tapi nanti kau akan menyesal setelah besok pagi kau sudah sadarkan diri jadi….” Seolah tidak ingin ada penolakan wanita itu kembali meraih tengkuk Dirga dan kembali mencium bibirnya hingga akhirnya pria itu kembali terbuai. “Jangan salahkan aku ya karena kau yang memaksaku,” ucap Dirga di sela ciuman mereka yang semakin berhasrat dan menggelora.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD