9. Hati (Bagian Tiga)

1961 Words
Gadis itu langsung tersadar ketika menatap jendela dan merasakan terik matahari yang sudah menyengat, bertanda hari sudah mulai siang. Emma yang sedang ada di perpustakaan kampus dan membolos jam pertama mata kuliahnya itu pun sesegera mungkin keluar dari ruangan sejuta buku untuk menghubungi kekasihnya. Ingin bertanya tentang makan siang bersama di sebuah restoran jepang yang mereka janjikan. Tuuut... tuuut. "Halo, Elliot! Aku sudah selesai, kita berjupa di tempat biasa, ya?" tanya Emma, ia tersenyum karena akhirnya Elliot mengangkat panggilan. "Ok." Emma mengerucutkan bibirnya karena mendapatkan tanggapan dingin dari kekasihnya. Apa-apaan itu? Menyebalkan sekali nada datarnya. Ia hanya bisa mengira-ngira dalam hati tentang apa yang terjadi dengan kekasihnya karena kelihatannya sang lelaki sedang dalam mood yang buruk. Langkah demi langkah ia tapaki dan ketika sudah hampir sampai ke tempat yang sudah dijanjikan mereka untuk bertemu di kampus, Emma pun segera berlari kecil untuk menghampiri kekasihnya. Angin yang bertiup menggodanya membuat rambut miliknya bergoyang karena belaian angin. "Sudah lama, Elliot?" Emma mendekat dan langsung mendudukkan dirinya di samping sang kekasih. Elliot menatap permata emerald Emma dengan datar, lalu membelai wajah sang kekasih perlahan. Perlakuan lelaki yang berstatus pacar itu membuat si dara langsung memerah karena malu, ia hanya terbata dalam menyuarakan nama sang kekasih. "Kita berangkat." Hanya itu yang diucapkan Elliot setelah membelai pipi Emma yang masih memerah karena perlakuannya. Emma pun hanya mengangguk dan menampakkan gigi putihnya sebagai tanggapan dari Elliot. Mereka berjalan menuju tempat parkiran mobil dan langsung melesat ke arah jalan raya untuk menuju restoran tempat mereka akan makan kali ini. Elliot menyetir dengan wajah datarnya, sedangkan Emma sedari tadi hanya memperhatikan lelaki yang kelihatannya menjadi lebih pendiam. Ia mengerutkan alis, kemudian mengisi kekosongan dengan berbicara kepada sang kekasih. "Hei, Elliot! Apa kau sedang tidak sehat?" tanya Emma akhirnya karena menyerah dengan kondisi canggung mereka yang terasa baginya di dalam mobil ini. Masih menatap lelaki itu, ia menunggu jawaban, tetapi tidak ada kata yang terdengar dari bibir kekasihnya. Yang dilihat Emma hanyalah lirikan mata hitam sang pria, sebelum lelaki itu kembali fokus untuk mengemudi mobil yang mereka naiki. "Soalnya, kau jadi terlihat sangat dingin dan agak mengerikan sih," lanjut Emma dengan nada yang semakin mengecil, khususnya saat mengucapkan kata 'mengerikan'. Emma tidak berbohong dengan keadaan yang selain canggung dan juga membuat bulu kuduknya meremang. Ia merasa takut dan agak tertekan dengan tampang datar Elliot, lirikan sinis lelaki itu dan juga auranya yang seakan menjerat ia yang duduk di samping. Mobil Elliot kini telah berhenti di parkiran tempat yang mereka tuju. Elliot hanya menghela napas, lalu menatap ke arah Emma setelah mereka turun dari mobil dan saling berhadapan. Mata kelam Elliot memandangi sang gadis, lalu bibir tipis lelaki itu membentuk bengkokan kecil. "Aku baik-baik saja." Hanya itu yang diucapkan Elliot sambil menyeringai menatap Emma. Pandangan mata sehitam arang itu sedari tadi terus terarah ke manik emerald kekasihnya yang juga sama menatap sama intens. Mengembuskan napas karena telah melihat senyuman kekasihnya kembali, Emma kemudian membelai wajah Elliot dengan lembut. Mereka melangkah berdampingan, tidak ada yang berbicara setelahnya dan membuat Emma semakin yakin ada yang aneh dengan lelaki itu meski Elliot telah tersenyum. Kembali menatap sang kekasih sebentar, gadis itu kemudian menggerakkan tangannya dan mengaitkan dengan tangan Elliot yang ada di samping tubuh. Jemari lentik tersebut lalu meremas jemari kokoh Elliot, membuat sang Adam langsung mengarahkan wajah ke samping untuk menatap tindakan Emma. Elliot, ia merasakan hal aneh yang menghujani hatinya. Malah terasa hangat dan menenangkan. Membuat dirinya membalas genggaman tangan dari Emma dengan sama erat, kemudian tersenyum kecil karena melihat gadis itu semringah dan menggunakan tangan yang lain untuk semakin mengeratkan rengkuhan. Ketika sampai mereka disambut dan dipesilakan masuk. Pelayan mengarahkan mereka ke sebuah meja yang ada di dekat jendela, tersenyum ramah dan bertanya tentang pesanan mereka. "Selamat datang Nona Emma, ah, kamu membawa teman, ya?” tanya lelaki itu, sepertinya sudah mengenal Emma karena cukup sering datang ke tempat ini. "Hai, Tuan Haruka. Oh, ini adalah Elli—" perkataan Emma terhenti, ketika ia mendengar suara lain menyerukan namanya. "Wah, Emma? Kau makan di sini juga ternyata!" seru seorang pemuda berambut pirang yang dikenal Emma dan Elliot bernama Steve. kemudian lelaki pirang itu melihat seorang pria yang bergandengan tangan dengan Emma dan matanya langsung terbelalak kaget. "Steve ternyata! Oh ya, Tuan Haruka! Perkenalkan, ini adalah kekasihku; Elliot." Emma menjelaskan kembali setelah menyapa Steve. "Baiklah, silahkan duduk! Kalian ingin memesan apa?" tanya Tuan Haruka, memberikan buku menu, sementara dirinya sendiri memegang buku catatan dan pena untuk mencatat pesanan mereka. Elliot pun duduk di hadapan sang gadis. “Oh, ya, Steve. Apa kau tidak mau bergabung di sini?” tanya Emma, gadis itu tersenyum karena melihat Steve datang seorang diri. Mungkin lebih asik jika bersama-sama ketika makan. “Apa tidak apa?” Tentu Emma mengerti, apalagi ketika ia melihat raut takut sang senior yang menatap ke arah kekasihnya, kemudian Emma bertanya kepada Elliot dan lelaki itu hanya menghela napas dan menganggukkan kepala. “Ah, terima kasih. Maaf kalau merepotkan.” Dengan agak canggung, Steve duduk dan menelan salivanya sendiri dan mengembuskan napas untuk menenangkan diri. Lelaki pirang yang ada di sebelah Elliot pun kontan tersedak air liur sendiri karena menyadari lelaki paling ditakuti di kampusnya sekarang sedang duduk bersebelahan dengan dirinya dan menatap dengan jarak teramat dekat. Lelaki yang dikenali sebagai sang iblis itu hanya menatap sekilas pria kuning yang masih terbatuk-batuk dan kemudian tidak mengacuhkannya. "Steve, kau baik-baik saja kah? Elliot, ayo usap-usap punggungnya. Lihatlah! Air matanya sampai keluar begitu." Memejamkan mata sejenak, Elliot langsung mendengkus malas mendengar usulan Emma, tetapi lelaki itu kemudian melakukan juga karena Emma akan bergerak untuk mendekati Steve dan berkeinginan untuk mengusap punggung lelaki itu. Setelah bisa mengendalikan diri, Steve dan sepasang kekasih itu memesan makanan, menu berupa ramen, sushi, tempura dan beberapa makanan jepang lainnya. Untuk minuman, Emma ingin jus ceri sedangkan Elliot ocha hangat, berbeda dengan Steve yang ingin soda. Beberapa saat kemudian, pramusaji datang dan memberikan pesanan mereka. Satu demi satu diletakkan di atas meja, lelaki itu tersenyum ketika mendapatkan ujaran terima kasih dari gadis dan lelaki berambut pirang. “Selamat menikmati hidangan, Nona Emma, Tuan Steve dan Tuan Elliot." Tuan Haruka tersenyum dan membungkukkan tubuh, kemudian membiarkan mereka menikmati sajian khas negara matahari terbit itu. "Terima kasih, Paman." Emma langsung mengambil sumpit untuknya dan juga untuk sang kekasih. Steve menatap kedua orang yang memiliki hubungan sebagai kekasih itu, pun dibuat keheranan. Ia sama sekali belum pernah berinteraksi dengan Elliot karena lelaki itu memang memiliki tampang yang selalu tidak bersahabat dan kelewat datar, ditambah lagi dengan aura mencekik dan dijuluki sang iblis dan membuat siapa saja yang ingin berhadapan dengannya akan sesak napas atau berkeringat dingin karena merasakan aura gelap sang lelaki. Namun, sekarang Steve malah dibuat terheran-heran bahkan terkesima karena interaksi datar Elliot dapat mengundang tawa dan senyum dari gadis yang duduk di hadapan mereka berdua. Mereka kelihatan sangat nyaman satu sama lain dan kelihatan bahagia, terlepas dari Elliot yang sepertinya biasa saja karena Emma memang terkadang menarik pipi lelaki itu atau menertawakan ekspresi wajah sang lelaki. Mahasiswa paling ditaku di kampus mereka itu hanya membalas dengan senyum dan sentilan di dahi kekasihnya sebagai tanggapan. Megnembuskan napas, Steve pun terdiam dan merasa malu dengan pemikirannya selama ini tentang Elliot karena ikut menganggap lelaki itu sebagai perusak suasana, menyeramkan dan julukan-julukan lain yang tidak enak didengar. "Elliot, ayolah sekali saja buka mulutnya... aku ingin menyuapimu. Kalau tidak aku akan menyuapi Steve, loh." Ancaman Emma kelihatannya berpengaruh bagi Elliot dan setelahnya lelaki berwajah kesal itu membuka mulutnya dengan terpaksa. Emma pun menyuapi kekasihnya dan membuat gadis itu tertawa karena melihat wajah sebal Elliot. “Ahahah, kau menggemaskan sekali, ya.” Emma memandang, menutup mulut karena takut terbahak karena melihat ekspresi kekasihnya. "Sangat romantis, membuatku iri saja." Setelah menelan tempura yang disuapkan oleh Emma, Elliot mendengkus karena mendengar suara Noah, tentu hanya ia yang bisa mendengarkan suara kakaknya. Menatap tajam jiwa lelaki yang berwujud mengerikan itu, Noah hanya tersenyum dengan pandangan menggoda dirinya. Perubahan Noah menjadi iblis belum sempurna, membuat kakak lelaki Elliot itu menjadi seperti sosok hantu yang begitu terlihat menyeramkan. "Hei, Emma. J-jangan bawa-bawa namaku, dong. Aku tidak mau mati tegang karena dicekik orang ini." Steve berbicara sambil mengelap keringatnya karena berdekatan dengan sang lelaki. Membuatnya menjadi sesak napas saja dan bahkan tidak bisa makan dengan tenang. Sial, aura lelaki ini mengerikan, tetapi Emma kelihatan biasa saja? Aku baru sekali ini langsung berhadapan dengannya dan duduk dalam jarak sedekat ini. "Steve, kau berlebihan. Tidak mungkin Elliot melakukan hal itu. Ya kan, Elliot?" tanya Emma dengan tangan yang dikibas-kibaskan ke kanan dan ke kiri. "Hm." Namun, hanya gumaman tersebut yang terdengar dari mulut sang kekasih. "Padahal Elliot dan Steve di dalam kelas yang sama, kan? Kenapa kalian kelihatan sangat tidak akrab? Banyak teman itu menguntungkan, loh." Emma mengamati Steve dan kekasihnya secara bergantian, melihat Steve yang wajahnya memucat saat ditatap oleh Elliot, lalu melihat wajah Elliot yang berubah menjadi sangat datar dan mengintimidasi karena meliahat Steve. "Ahahaha... Emma, itu... aku harus pergi karena masih ada jam kuliah yang mau aku ambil, kalau begitu sampai jumpa," ucapnya menatap Emma dan tersenyum lebar, kemudian berlalu cepat-cepat sambil melambaikan tangan. "Ah, baiklah, Steve." Emma menggerakkan tangannya untuk melambai kepada si rambut kuning yang semakin menjauh karena berpamit diri secara tiba-tiba. Terlihat mengembuskan napas, Elliot hanya memperhatikan kekasihnya yang masih menatap rekan sekelasnya itu, kemudiana mengalihkan atensi kepada dirinya dan tersenyum kembali. "Apa kau benar-benar tidak memiliki teman di kelas?" tanya Emma menatap Elliot yang masih tenang menyantap ramennya. Lelaki itu hanya bergumam sambil mengangkat kedua bahu, bertanda ia tidak peduli dengan pertemanan yang ditanyakan kekasihnya itu. Emma yang melihatnya hanya bisa menghela napas dan kemudian melanjutkan makan mereka. Sebenarnya ia cukup sedih dengan sang kekasih yang terlihat sangat anti sosial, tetapi itu mungkin cara Elliot untuk tidak memedulikan orang-orang yang terus membicarakan tentang dia dari belakang. Mungkin kalau Emma berada di posisi sang lelaki, ia pun akan melakukan hal yang sama, seperti menarik diri dari mereka. Beberapa saat terdiam, Emma menolehkan kepala karena mendengar sang lelaki menyuarakan pikirannya. "Dia memanggil nama depanmu dengan sangat akrab?" tanya Elliot ketika beberapa saat setelah Steve pergi dari restoran ini. Sekarang yang terlihat dari sorot mata sang lelaki adalah sorot datar. Emma yang mendengarkan pertanyaan dari kekasihnya pun menolehkan kepala ke arah samping dan menatap wajah Elliot dengan mulut masih penuh dengan ramen. Setelah mengunyah dan menelannya, gadis itu menghela napas dan akhirnya berbicara. "Hmm... dia sangat ingin aku akrab denganku, mungkin? Entahlah? Tapi tidak masalah kan kalau punya banyak teman.” Tertawa kecil, Emma kembali menyeruput kuah cokelat nan gurih, kemudian mengambil tempura dan menggigitnya sepotong. Elliot hanya menatap Emma yang kembali mengalihkan perhatiannya untuk ramen yang tengah mereka santap. Tidak bertanya lagi, Elliot kembali menatap santapan dan hanya mengaduk-aduk makanan yang sudah tidak membuatnya berselera lagi. Itu semua karena ia masih memikirkan kedekatan Emma dengan seorang lelaki berambut pirang. Terlalu ketara di mata Elliot kalau lelaki berambut itu tertarik dengan kekasihnya ini, bahkan mungkin Steve sudah memiliki perasaan kepada Emma semenjak sang gadis baru bergabung di kelas Filsafat semester empat. Emma, miliku. Tanpa sadar, di dalam batin Elliot menggumamkan kalimat itu. "Nanti malam, datanglah ke rumahku." Suara datar Elliot membuat Emma yang sudah selesai memakan ramen-nya kini langsung menolehkan wajah untuk menghadap ke samping di mana sang kekasih tengah duduk. Emma dibuat keheranan karena Elliot berbicara tanpa menatap matanya. Dan lelaki itu terlihat sangat dingin sedari tadi. "Apa?" Emma menaikkan sebelah alis, ia agak kesal dan bingung karena sang kekasih berbicara tetapi seperti tidak mau melihat wajahnya. "Nanti malam, datanglah ke rumahku." Datar dan tanpa menatap sang gadis, Elliot masih setia menatap mangkuk ramen-nya yang masih setengah utuh dan hanya diaduk-aduknya dengan sumpit yang ada di tangan kirinya. Kembali Emma mengerutkan alis karena mendengar suara datar dan tingkah agak menyebalkan kekasihnya itu. "Kalau bicara bisa gak sih liat orangnya. Elliot, lihat sini dong!" Emma kesal sendiri jadinya, mengembuskan napas dengan menggembungkan pipi beberapa saat, ia melanjutkan ucapan, "Apa kita akan makan malam di rumahmu, tapi aku kan gak tau di mana Elliot tinggal?" "Baiklah, akan kujemput." Hanya itu dan tetap tanpa menatap Emma. Melihat mood Elliot yang memang kelihatan sangat buruk itu, membuat Emma hanya bisa mendesah pasrah. Mood-nya kelihatan buruk sekali. Ia mengambil beberapa camilan yang tersisa dan menyantapnya sambil membatin tentang sang kekasih. . . . Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD