15. Jangan Menangis

1663 Words
Malam yang dingin tidak membuat sang gadis gentar untuk menemui kekasihnya yang berada di taman belakang kampus mereka, gadis itu mengutuk diri karena telah mengingkari janji untuk datang sepulang dari kelas dan menemui sang pujaan. Melihat pesan yang dikirim Elliot untuknya, ia pun menjadi membenci diri sendiri karena ragu dengan hubungan mereka. Gadis itu kemudian mendatangi tempat pertemuan mereka, meski hari sudah sangat gelap, semua itu ia lakukan karena ia tidak ingin melihat kekasihnya terus menunggu karena dirinya yang tidak kunjung datang.Merasa sangat lega ketika permata hijau itu menemukan sang pujaan, ia menghela napas bahagia dan berlari dengan cepat ke arah Elliot. Setelah sampai, ia dikejutkan dengan bola mata semerah darah itu. Belaian tangannya di wajah lelaki itu pun terlepas seketika. *** Sekarang adalah hari perjanjian mereka, hari di mana ia akan mengetahui kebenaran tentang kekasihnya yang misterius itu. Ia lega, akhirnya Elliot mau berbicara terbuka dengannya, tanpa sadar bibir Emma membentuk bengkokan kecil. Walaupun begitu, ia tidak menampik kalau ada perasaan resah dan takut yang bersarang di hati yang paling terdalam. Sejujurnya, ia takut tidak siap jika sang kekasih memang memiliki sesuatu yang mengerikan. Napasnya ia embuskan perlahan, ia ingin berpikir positif tehadap sang kekasih. Ya, seharusnya ia berpikir kalau semua ini akan berjalan dengan baik. Tak terasa, matahari sudah mengeluarkan sinar jingga. Awan-awan pun terkena imbas dari riak cahaya sang raja. Kakinya langsung melangkah ke arah taman belakang dan di sana ia sudah mendapati Elliot yang menatap dari kejauhan, lelaki itu memakai kacamata dan mengalihkan perhatiannya dari buku yang tengah digenggam. Emma pun mempercepat langkahnya dengan berlari kecil dan tersenyum kepada sang kekasih. Awalnya, Emma merasa canggung ingin bertanya dan memulai semua pembicaraan ini dari yang mana. Jujur saja, ia sedikit khawatir dengan jawaban Elliot. Lelaki itu telah membuka kacamata sekarang dan menatapnya dengan senyuman tipis di bibir. Buku di tangan pun telah ia tutup dan di letakkan kembali di dalam tas yang dibawanya. Lelaki itu sekarang terfokus kepada gadis yang berada di samping ini. Ia kemudian berdehem pelan sebelum berbicara. "Apa yang ingin kau tahu dariku, Emma?" tanya lelaki itu setelah menyuruh Emma duduk di sampingnya, mengambil tangan gadis itu dan memberikan kecupan di sana. Hening sebentar, Emma masih mengumpulkan kesiapan mental untuk beberapa saat. Dengan helaan napas yang kuat dan tentu saja terdengar oleh lelaki di sampingnya itu, ia pun memulai pertanyaan yang sejak berhari-hari lalu memenuhi kepalanya. "Sebenarnya, banyak yang ingin kutahu darimu, Elliot." Ia menatap sang lelaki yang memiliki mata tepat di bagian mata, kemudian kembali berbicara, "Misalnya, lagu kesukaanmu, makanan kegemaran, tempat wisata? Bahkan, hal-hal sepele seperti itu saja aku tidak tahu. Aku ini sepertinya adalah kekasih yang buruk, bukan begitu." Emma sekarang malah bersedih karena menyadari banyak sekali hal yang tidak diketahuinya dari sang kekasih. Elliot tersenyum kecil saat melihat wajah Emma yang murung dan mengerucutkan bibir. Ia pun berinisiatif mencubit kecil hidung kemerahan itu da tertawa ketika melihat sang gadis terkejut. "Kenapa kau memikirkan hal itu? Baiklah, aku menyukai lagu-lagu yang enak di dengar, apa pun itu. Makanan kegemaranku adalah buah sepageti dengan saus tomat dan buah tomat. Tempat yang selalu kusuka adalah pegunungan. Ada lagi?" tanya sang lelaki, sejak tadi ia menjelaskan semua itu sambil tersenyum-senyum kecil dan memainkan rambut Emma yang tidak dikucir. Emma pun membulatkan bibirnya, ia sempat tertawa saat Elliot mengatakan kalau lelaki itu suka buah tomat. Apa tidak ada makanan lebih spesial selain? "Hmm... lalu, ceritakan aku tentang keluargamu. Dan aku ingin ke rumahmu lagi, kita akan membersihkan rumah hantu itu bersama-sama. Sebaiknya kau memakai jasa pelayan rumah tangga, Elliot!" Emma bertanya banyak hal dengan sekali tarikan napas. Gadis itu bahkan sekarang mengembuskan napas dan menariknya berulang-ulang. "Ah, ayahku adalah Jhonnatan dan ibuku adalah Merisha, aku punya kakak lelaki dan namanya adalah Noah. Kami hidup bahagia sampai setelah usiaku sekitar sembilan tahun, kedua orang tuaku meninggal. Lalu, tiga tahun lalu kakakku Noah juga meninggal. Mereka berdua sama-sama tiada karena kecelakaan. Kedua orang tuaku kecelakaan pesawat dan kakakku ditabrak lari." Elliot menutup matanya saat menceritakan semua hal menyakitkan itu. Emma yang melihat sang lelaki seperti memendam emosinya pun bergerak dan mengelus lengan kekasihnya dengan lembut. Ia merasa ikut bersedih karena mendengar kejadian itu dari Elliot. Belaian-belaian tangan di lengan disambut oleh tangan besar Elliot. Ia pun menatap tepat di manik emerald Emma. Mereka dalam beberapa saat hanya melakukan kontak mata tanpa pembicaraan yang terdengar. Seperti saling mengerti dengan hanya menyalurkan isi hati lewat saling menatap, kemudian ia memberikan ciuman di tangan sang gadis. "Jika kau sedih, sebaiknya keluarkan saja emosimu, Elliot. Itu akan membuatmu lega di sini." Sambil berbicara, Emma menunjuk hati lelaki yang masih memandanginya. Di bawah pohon saat senja tengah menjadi latar mereka, gadis yang bernama Emma itu pun menggerakkan tangannya untuk membawa kepala Elliot ke dalam rengkuhan dirinya. Memberikan elusan penuh kasih, dengan ciuman di kepala sang lelaki. Beberapa kali terdengar ucapan menenangkan yang terucap untuk pria yang menyamankan diri. “Terima kasih, Emma," bisik Elliot pelan dan terus menikmati belaian Emma pada kepala dan punggungnya. Sepasang muda-mudi yang sedang memadu kasih itu pun menghentikan aktivitas mereka, ketika sang gadis menyadari adanya panggilan yang masuk di ponsel. Begitu pun dengan Elliot, lelaki itu mendengar dengan jelas ponsel kekasihnya yang terus berbunyi. "Angkatlah, Emma!" Anggukan kepala itu pun terlihat, Elliot bersegera untuk keluar dari dekapan hangat dan menenangkan dari sang gadis. "Halo." Suara gadis itu pun akhirnya terdengar. Emma selama beberapa saat masih mendengarkan suara di seberang sana, wajah gadis itu kelihatan serius. Mungkin ia tengah mendapat telepon dari keluarga atau salah satu dari dosennya, pikir Elliot. "Ba-baiklah, aku akan segera ke sana." Hanya itu kalimat yang terdengar sebelum sang gadis menutup panggilan itu dengan sepihak, manik itu lalu menatap kekasihnya dengan pandangan serius. Dan Elliot pun menyadari ada sesuatu yang berubah dari raut wajah Emma. "Ada apa?" tanya Elliot langsung bertanya saat menatap mata gadis itu yang berkaca-kaca dan bibirnya yang gemetar. "Elli! Irene dan K-karin, kecelakaan." Suara itu terdengar tersendat karena menahan tangis. "Keadaan mereka?" Emma hanya menggelengkan kepala sambil berucap tidak tahu, lalu gadis itu pun memutuskan untuk melihat kondisi kedua sahabatnya yang saat ini sedang berada di rumah sakit tidak jauh dari sini. Bunyi hentakan sepatu menandakan bahwa ia sedang berlari secepat mungkin untuk melihat keadaan kedua sahabatnya itu, saat maniknya menangkap beberapa orang yang dikenalinya, hentakan sepatu itu pun sudah tak terdengar lagi. "Bagaimana keadaan mereka?" Tanpa ba-bi-bu, Emma langsung menghampiri pacar Irene dan menanyakan keadaan kedua orang yang masih di tangani dokter. Wajah lusuh kedua pacar sahabatnya itu masih menjadi pemandangan bagi Emma dan Elliot, ia hanya menghela napas saat gelengan kepala terlihat olehnya. "Entahlah, dokter belum keluar sedari tadi." Salah satuny berbicara karena pacar Irene sama sekali tidak membuka bibir dan terlihat masih syok. "Selamatkanlah mereka, Tuhan.” Emma hanya bisa berdoa agar Tuhan menyelamatkan sahabatnya. Elliot yang melihat hal itu pun langsung mengusap pelan punggung kekasihnya, dirinya sedang menenangkan perasaan sang gadis yang sedang kalut saat ini. Entah sudah berapa lama mereka menunggu kabar dari dokter yang menangani Irene dan Karin. Emma sekarang sedang duduk di kursi dan bersandar di bahu Elliot. Sementara kedua lelaki lainnya yang masing-masing merupakan pacar dari sahabat Emma hanya berdiam diri sambil bersandar di dinding. Pacar dari Irene yang biasanya selalu berwajah bosan dan sering mengantuk atau tertidur pun sekarang sama sekali tidak memperlihatkan wajah mengantuk, lelaki itu malah berjalan-jalan mondar-mandir di depan pintu ruangan yang di dalamnya sedang menangani Karin dan Irene. Semua mata langsung memandang ke arah pintu saat dokter yang menangani pun keluar, wajah dokter itu terlalu jelas dilihat gurat kelelahannya. "Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi Yang Mahakuasa berkehendak lain." Salah satu dokter pun berucap dan membuat semua orang terkejut karena mendengar kabar duka itu. *** Sebuah mobil hitam berhenti di rumah yang kelihatan sangat menyeramkan, orang mana pun pasti tidak akan percaya bahwa di rumah yang mirip tempat hantu itu ditinggali oleh seorang pria tampan. Setelah keluar dari mobilnya, Elliot berjalan untuk membuka pintu di jok penumpang yang di sana sedang ada seorang gadis yang tidak sadarkan diri. Ya, Emma pingsan karena mendengar kabar duka cita bahwa kedua sahabat sang gadis tidak bisa bertahan dan sekarang telah tiada. Mengangkat tubuh ramping kekasihnya, ia pun membawa masuk dan menuju ke kamar tidur. Ia rebahkan sang pujaan, lalu ia selimuti tubuh tak berdaya itu. Elliot menghela napas saat melihat jejak air mata masih ada di pipi kekasihnya. Ia dengan perlahan merapikan rambut Emma yang berada di sekitar mata satu demi satu karena takut sang gadis akan terganggu dalam tidurnya. Biarlah dulu selama beberapa saat Emma tertidur dan melupakan kejadian tidak mengenakkan itu. Selama menunggu gadis itu sadar, Elliot pun bergerak membuatkan teh hangat untuk kekasihnya. Ia tidak perlu keluar kamar, karena di dalam ruangan ini tersedia seluruh kebutuhannya dengan sangat lengkap. Suara gumaman pelan menandakan kalau Emma sudah mulai siuman dari pingsannya. Ia hanya menatap gadis itu sambil menunggu sang kekasih membuka manik emerald yang masih tertutup dan terlihat bergerak-gerak berusaha mengedipkan kelopak. Saat mata Emma terbuka, hal yang pertama kali dilihatnya adalah situasi yang berbeda dan wajah Elliot yang berada di atas Emma. Alis gadis itu pun berkerut dan dengan pelan ia mencoba mendudukkan dirinya, ia masih heran mengapa bisa berada di tempat yang berbeda seperti saat ini. Elliot yang sudah melihat kondisi Emma lebih baik, lalu membantu gadis itu duduk dan memberikan teh hangat kepada sang kekasih. Saat situasi lebih tenang, Emma pun mulai mengingat apa yang baru saja terjadi kepada kedua sahabatnya. Mengenai telepon mendadak di taman belakang kampus dan keadaan Irene dan Karin yang sekarang sudah meninggal dunia. Tiba-tiba Emma merasakan matanya memanas dan tubuhnya gemetar karena mengingat kejadian di rumah sakit tadi. Ia hanya bisa menangis dengan isakan yang sangat terdengar di telinga Elliot. "Elliot... hikss. Irene dan... dan Karin... ke-kecelakaan... Oh, Tuhan," ujar Emma dengan suara mirip bisikan dan serak, kemudian ia memeluk dirinya karena merasakan kesedihan yang mendalam, bibirnya kembali berucap, "Mereka sudah tiada." "Sttt... tenangkan dirimu dulu, Emma." Elliot berkata dengan lembut, kemudian memeluk Emma dan membiarkannya menangis di sisi pria itu. Mencoba menenangkan sang kekasih dengan belaian sayang dan hangatnya rengkuhan yang ia berikan kepada gadis rapuh ini. "Mereka meninggalkanku selamanya... Elli... hiks." Suara serak masih terdengar ketika Emma membenamkan wajah ke d**a sang lelaki. Yang bisa dilakukan Elliot, memberikan ketegaran untuk kekasihnya dan terus memeluk dan mengecup di kepala. Ia mengembuskan napas, dan mengeratkan rengkuhan. . . . Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD