14. Koma (Bagian Dua)

1324 Words
Cuaca yang cerah pagi ini belum tentu membuat suasana hati Emma membaik. Gadis itu bertampang sangat kusut dengan kantung mata hitam yang melekat pada wajah cantiknya. Ia menghela napas saat menatap pantulan tubuh di cermin. Pakaiannya cukup nyaman dan indah, ia sudah siap untuk pergi ke kampus, tetapi ada beberapa hal yang membuatnya khawatir. Ia masih mau menghindari sang kekasih, Elliot. Sang iblis. Bagai si bungkuk yang merindukan rembulan. Mungkin itu istilah yang cocok untuk Emma. Keinginannya untuk menjauhi kekasih hati benar-banar tidak dapat terkabulkan oleh Yang Mahakuasa. Sosok lelaki tegap yang berdiri di depan pintu pagar rumahnya pun langsung menoleh menatap Emma yang tengah keluar dari pintu rumah. Lelaki itu menatapnya dengan sangat dalam. Emma bahkan tak yakin kalau Elliot sudah berapa lama berdiri di depan pagar untuk menunggu. Ia mengunakan motor yang sangat sport sebagai kendaraannya. Gadis itu terdiam sejenak di depan pintu, lalu mulai berjalan menuju pagar rumah. Elliot dan Emma sekarang hanya dipisahkan oleh pagar rumah sang gadis. Lelak itu masih dengan intens menatap kekasihnya, ia meneliti apa yang telah terjadi kepada Emma sampai tidak mengacuhkan ia sama sekali seperti ini. Bukankah beberapa hari yang lalu hubungan mereka sudah membaik? Lantas apa yang terjadi, apa yang menyebabkan gadis itu tidak memedulikan pesan dan panggilan ponsel darinya? "Emma!" panggil Elliot. Gadis bermata emerald itu dapat mendengar suara dalam Elliot yang penuh kekhawatiran terhadap dirinya. Ia hanya memalingkan wajah menghindari tatapan lelaki yang masih memandang dengan sorot mata meminta penjelasan. Lelaki yang memakai jaket kulit hitam itu menggerakkan tangan dan mencoba membelai wajah sang gadis seperti yang sering dilakukannya. Namun, gadis bermata indah itu menghindari sentuhan dan mundur beberapa langkah darinya. Menyaksikan keengganan sang kekasih, membuat Elliot tanpa sadar terhenyak dan mengeraskan rahangnya. "Emma, kenapa? Kau... menghindariku?" tebak sang lelaki yang tepat sasaran. Wajah gadisnya langsung terangkat karena mendengar suaranya. Ia mendengar kalau Emma hanya menghela napas. Gadis itu lalu dengan cepat kembali mendekati pagar dan membukanya. Tidak ada yang bisa Emma lakukan lagi, ia sudah sangat terlambat dan hari ini ada ujian lisan dari mata kuliah Filsafat Yunani. Jika ia tidak hadir, maka nilainya bisa bermasalah. Elliot langsung menghalangi jalan si gdis, lelaki itu kemudian menggenggam erat pergelanan tangan Emma dan menyuruhnya untuk menaiki motor bersama. "Kita harus bicara," ucap lelaki itu sambil memberikan helm untuk kekasihnya. "Tidak bisa, aku sedang ada ujian lisan." Mencoba melepaskan genggaman tangan kuat itu dari tubuhnya, untuk pertama kali Emma dan Elliot bertatapan mata. Mereka hanya saling tatap selama beberapa saat, kemudian Emma menundukkan wajahnya untuk menghentikan kontak mata itu. Ia... entah kenapa merasa melihat kekecewaan di dalam mata sehitam malam itu. Kenapa? Lelaki ini terlihat sangat terlukan? Apakah ini memang salah Emma karena tidak mengacuhkan sang kekasih seperti demikian? "Nanti saja, setelah pulang kuliah," ujar Emma cepat saat memikirkan dirinya akan terlambat untuk ujian, setidaknya mereka memang harus berbicara empat mata. Elliot lalu menganggukkan kepala dan hanya berdehem untuk merespon dari perkataan Emma. Gadis itu awalnya mengira kalau Elliot akan melepaskan genggaman tangan mereka, ettapi entah bagaiman bisa ia merasa tubuhnya tertarik dan sekarang wajahnya dan tubuhnya berada di dalam rengkuhan pria itu. Elliot Valley tengah memeluk Emma dengan sangat erat hingga membuat sang gadis terperanjat. "Aku mencintaimu, Emma." Bisik lelaki itu pelan dan mencium leher kekasihnya. Emma merasa hati bergetar karena mendengar pernyataan cinta lelaki dingin dan kaku itu untuk kesekian kali. Ia benar-benar lemah untuk situasi seperti ini. Ia kemudian merasakan dahinya disentuh oleh sesuatu yang lembut dan basah. Elliot, ia mencium dahi Emma. Saat ia merasaka lelaki itu mencoba mencium bibir, Emma menahan dadanya dan menghentikan apa yang ingin dilakukan sang lelaki. Elliot hanya terdiam dan kemudian melepaskan pelukannya dari gadis yang begitu disayangi. Mereka kemudian tanpa berbicara pergi ke kampus dengan motor milik Elliot. Sesampainya di kampus, Elliot yang ingin mengantarkan Emma seperti biasa pun hanya bisa menelan kembali kekecewaan karena Emma tidak ingin diantar, gadis itu bilang dia akan berlari karena sudah sangat telat. Elliot pun memegang kedua bahu Emma, lalu ia mantap wajah gadisnya. "Aku akan menunggu di tempat biasa setelah jam kuliahmu selesai. Datanglah, Emma. Kumohon." Emma hanya mengangguk dan kemudian berlari meninggalkan Elliot yang menatapnya dengat nanar hingga punggung gadis itu menghilang karena melangkah ke dalam kelas. *** Mengusap wajah, Elliot mendesah karena tidak bisa bertanya apa yang menjadi penyebab diamnya sang gadis, tetapi setidaknya Emma mau datang ke tempat kesayangan mereka nanti setelah kelas selesai. Menunggu setelah jam kuliah selesai, Elliot datang terlebih dahulu ke tempat perjanjian. Menatap sekeliling, lewat dari lima belas menit, gadis itu tidak juga terlihat juga. Ia mengembuskan napas, memejamkan mata sejenak dan menikmati belaian angin yang menenangkan di tempat ini. Apalagi suasana cenderung sepi. Tidak peduli dengan hari yang mulai gelap, ia tetap menunggu Emma yang tidak kunjung datang. Lelaki itu sesekali melirik jam tangannya dan menatap layar ponsel, berharap Emma membaca pesan darinya atau kembali menghubungi jika memang membatalkan janji. Jam sembilan malam. Walaupun suasa kampus masih ramai karena perpustakaan kampus baru tutup jam sepuluh, apalagi anak-anak organisasi berkeliaran, tetapi situasi di tempat Elliot mendudukkan dirinya dan menunggu Emma sangat sepi. Lelaki itu hanya ditemani oleh nyanyian hewan malam dan sinar rembulan. Ia pasti akan datang. Hanya kalimat itu yang ada di pikirannya sekarang. Di tempat yang berbeda, Emma kembali menatap layar ponselnya ketika pesan kembali masuk. Sekitar tiga jam lalu lelaki itu terus mengirimi pesan dan menghubunginya. Dan setelah tiga jam berlalu, lelaki itu kembali mengiriminya pesan singkat lagi. Mungkin ia hanya ingin bilang kalau dirinya sudah lama tidak menunggu lagi. Tap. Emma memencet layar ponselnya dan mulai membaca pesan masuk. Manik indahnya langsung terbelalak dan air mata menggenang saat membayangkan lelaki itu masih menunggunya sedari tadi siang. "Aku akan menunggu samapi kau datang, karena itu adalah janjiku, Emma." Emma cepat-cepat menyambar jaket dan langsung berlari keluar rumah. Ia kemudian menghentikan taksi dan menyuruh sang sopir untuk berkendara dengan cepat menuju kampusnya. Ketika sudah sampai di kampus, ia langsung berlari dan menuju tempat yang sudah dijanjikan. Tempat itu tidak terlalu gelap karena ada beberapa lampu taman, Emma lantas mengarahkan matanya dan menatap sesorang yang duduk di bawah pohon, tempat biasa mereka untuk bersantai. Ia langsung berlari dan menghampiri lelaki itu. Dengan terengah ia lalu berjongkok untuk menyamakan wajahnya dengan wajah Elliot. Membelainya sang lelaki perlahan, dengan menahan isak tangis. Ketika mata mereka bertemu, Emma terkejut melihat bola mata oniks itu menjadi semerah darah. Tangan yang tadi membelai sang kekasih pun terlepas begitu saja dari wajah lelaki itu. Terkejut karena menatap pancaran merah dari bola mata yang bersinar terang. "Kau takut?" tanya suara itu dengan intonasi rendah. Elliot kembali membawa sebelah tangan Emma ke dalam genggaman tangannya, lalu menggerakkan agar tangan gadis itu kembali membelai wajahnya seperti tadi. Ia cium ruas-ruas dan buku-buku dari jemari gadis beraroma ceri di depannya. Senyuman tipis terlihat, mata yang bersinar masih menyoroti wajah sang gadis yang menatap dengan raut campur aduk antara khawatir dan terkaku karena mendapati hal demikian tersaji di depan mata. Pelukan langsung diberikan Elliot untuk gadisnya. Dan ia memberikan ciuman yang perlahan dan memabukkan, kemudia berubah lebih dalam. Ciuman mendominasi Elliot membuat sang gadis sulit bernapas. Emma merasa berdebar-debar karena rengkuhan erat mereka, apalagi ketika mereka saling memandang dan kembali mendekatkan diri dengan sesapan di bibir. Elliot melepaskan ciumannya karena melihat Emma yang kekurangn oksigen. Lelaki itu lalu membelai wajah gadisnya dan memeluk sekali lagi. "Elliot, aku ingin bicara!" "Aku juga." "Dari dulu, aku sudah menanyakannya kepadamu, kau itu sebenarnya apa? Kau benar-benar tidak normal, dan terlalu misterius. Aku mohon, di antara kita jangan ada rahasia." Elliot hanya terdiam karena mendengar pertanyaan yang terus beruntuutan dari gadisnya, ia tidak yakin kalau Emma akan menerima kenyataan bahwa Elliot sebenarnya adalah setengah iblis. "Elliot?" Kelopak mata berkedip karena Elliot yang sempat melamun memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika ia jujur. Namun, ia merasakan kembali tangan nan lembut membelai wajahnya. "Emma, ini sudah sangat malam. Sebaiknya kita sudahi dulu. Besok, kita bicarakan lagi disini, bagaimana?" Hanya itu yang dijelaskan sang lelaki, kali ini Emma sadar bahwa Elliot seperti meminta waktu sebelum menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Lagi pula, benar apa yang dikatakan pria itu, mereka masih ada di kampus dan harus segera kembali. Ia menggunggkan kepala, mencoba bersabar dan memberikan waktu kepada kekasihnya. Setidaknya, besok ia akan diberitahu siapa sebenarnya Elliot Valley.  . . . Bersambung      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD