Malam kian larut, gemintang dan bulan semakin menajamkan sinarnya. Angin semakin membelai indah rambut dari sang gadis yang bersandar di jendela kamar. Salah satu dari lengan menyanggah dagu, dan emerald itu bersembunyi dari balik kelopak mata pemiliknya. Telinga Emma menajam karena lagi-lagi dering ponsel terdengar di sekitar kamar, ia hanya mendesah dan menatap sebentar ke layar ponsel dan menemukan nama sang kekasih yang langsung masuk ke penglihatannya.
Gadis itu kembali termenung saat ponselnya tidak mengeluarkan nada panggilan lagi. Ia hanya menerawang tentang apa yang telah teman-temannya bicarakan kepadannya.
Siang tadi, ketika kelas telah bubar dan hanya mereka bertiga yang masih tinggal di dalam sana. Emma, Irene dan Karin.
Anak-anak yang lain satu demi satu keluar dari pintu utama, setelah ia selesai memasukkan buku ke dalam tasnya, ia pun memberi pesan singkat untuk kekasihnya.
"Aku masih memiliki jam kuliah tambahan. Pulanglah dan hati-hati."
Ketika tengah asik membayangkan wajah sang kekasih, kedua rekan kelas yang ia jadikan sahabat lantas datang mendekat. Tidak disangka, mereka ingin mengatakan sesuatu walau telah tidak ia acuhnya.
Teman-temannya yang bernama Irene dan Karin pun meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan kepadanya. Emma dapat melihat kalau kedua sahabatnya itu sungguh-sungguh meminta maaf dan dengan tulus. Setelah dirinya memaafkan kedua orang itu, Irene dan Karin pun langsung memeluk tubuh Emma. Mereka lalu tersernyum dan tertawa bersama.
"Emma, ada yang ingin kami bicarakan lagi," ujar sang gadis, Emma lalu mengernyitkan alisnya. Jadi, masih ada hal lain yang ingin mereka sampaikan. Karin lalu menatap Emma ragu-ragu sebelum melanjutkan ucapannya, "Ini tentang Elliot."
Di sinilah ketiga gadis itu sekarang, di sebuah kafe langganan mereka. Karin, Irene dan Emma duduk di sudut tempat itu, yang berada tepat di samping jendela. Menyajikan pemandangan luar kafe yang cukup sepi dari lalu-lalang orang-orang. Karin dan Irene masih saling menatap, mereka masih ragu dengan apa yang ingin disampaikan kepada gadis itu. Jujur saja, Karin dan Irene tidak ingin membuat kesalahan yang mengakibatkan keretakan persahabatan mereka. Mereka sudah menyesal dengan apa yang mereka lakukan kepada Emma. Tidak seharusnya mereka memaksakan kehendak gadis itu. Namun, hal ini memang perlu diberitahukan oleh teman mereka ini. Emma, ia harus menjauhi dan putus dari sang iblis.
"Emm... b-baiklah! Jadi, aku ingin membicarakan hal ini karena ini demi kebaikanmu, Emma." Karin berucap sambil membenarkan posisi kacamatanya. Itu bertanda gadis bermbut kemerahan tengah serius dengan apa yang ingin disampaikannya kepada Emma.
"Apa itu? Ada apa dengan kekasihku."
"Emma," ujar Irene langsung menggenggam telapak tangan Emma yang ada di atas meja. Wajah gadis itu terlihat cemas, mengembuskan napas, ia kembali berucap, "Elliot, dia itu sangat aneh dan misterius." Ia melanjutkan.
Emma menaikkan sebelah alis, ia sama sekali tidak mengerti maksud mereka berdua. Ia bahkan sudah sangat tahu kalau kekasihnya itu memang misterius, bahkan penjuru kampus pun tahu kalau Valley Elliot itu adalah lelaki yang paling misterius di kampus mereka. Apa masalahnya? Yang penting kan dia bukan penjahat atau mafia.
"Seluruh kampus juga tahu, Irene."
"Ck, iya, ini tidak sesederhana itu, Emma." Karin mulai berbicara.
"Lalu?"
Karin mulai menarik napasnya lagi, ia kelihatan agak sulit untuk memberitahu masalah ini kepada Emma.
"Emma, aku tahu kalau Elliot itu adalah kekasihmu, tapi aku ingin kau berpikir dengan akal sehatmu. Aku tanya kau, apa selama bersamanya kau menarasakan hal yang janggal?" tanya Karin, tatapan mata mereka saling mengunci, pembicara serius ini terus berlanjut.
Gadis bermata kehijauan itu pun mengedipkan manik indahnya, ia mencerna baik-baik pertanyaan dari gadis rambut merah yang ada di hadapan tersebut.
Emma pun mengerutkan alis. Jika ia pikir-pikir memang banyak hal aneh semenjak ia dekat dengan Elliot. Mulai dari lelaki itu yang muncul tiba-tiba tak jauh darinya. Sosok misterius bak hantu, Elliot yang selalu tau di mana dirinya, sampai rumah yang bentuknya sangat tidak wajar. Orang waras mana yang mau tinggal di tempat mengerikan itu dan jangan lupakan ratusan burung gagak yang ada di dalam rumah Elliot.
Gadis itu pun kembali menatap kedua temannya dan ia menghela napas.
"Ya, memang beberapa ada, lalu apa yang ingin kalian ceritakan tentang Elliot kepadaku?"
"Kau tahu kan kalau kami sering pulang larut karena pergi ke club atau makan di restoran?" tanya Irene mulai berbicara lagi.
Emma hanya menganggukkan kepala untuk merespon pertanyaan gadis berkuncir satu itu, sementara pikirannya terus bekerja dan memperkirakan hal apa yang ingin kedua sahabatnya ini sampaikan.
"Aku sudah beberapa kali melihatnya keluar masuk tempat pemakaman umum pada dini hari." Karin lalu berkata dan Irene juga menganggukkan kepala atas apa yang telah didengarnya dari si gadis berambut merah karena ia melihat hal yang sama.
"Mungkin karena ia tiba-tiba merasa rindu dengan keluarganya yang telah meninggal, Karin. Aku juga pernah melihatnya." Emma menghela napasnya kembali, sesekali gadis itu meminum jusnya untuk menenangkan diri dan detak jantungnya yang berdebar-debar mengerikan. Ia bingung kenapa dirinyab karena bisa segugup dan setegang ini hanya karena ingin mendengarkan apa yang akan disampaikan kedua sahabatnya tentang sang kekasih.
"Kau juga pernah melihatnya?" tanya Irene sedikit berteriak dan Emma mengangguk.
"Sudahlah, dia itu lelaki yang baik! Kalian harus percaya kepadaku."
"Emma, ini bukan hanya tentang kami yang melihatnya keluar pemakaman umum. Jangan-jangan kau tidak tau tentang Elliot yang marah dan memadamkan seluruh penerangan di lorong kampus seminggu yang lalu?" tebak Karin, terlihat kembali mendesak Emma.
Ia hanya menatap bingung ke arah kedua sahabatnya.
Elliot marah dan membuat seluruh lampu yang ada di koridor kampus mati? Batin Emma gusar.
"Mungkin... mungkin itu karena ada kesalahan pada listriknya? Bisa saja, kan." Entah karena hari yang panas, Emma mulai merasakan keringat mengalir di dahi dan membuat ia semakin berdebar-debar.
"Ck, Emma! Elliot waktu itu marah dan mengancam seluruh penghuni lorong kelas Filasafat. Dan tiba-tiba angin kencang datang dan lampu menjadi berkedip-kedip dan mati beberapa saat. Lalu, saat Elliot sudah keluar dari lorong itu, semuanya menjadi normal." Irene mulai mengatakannya dengan nada agak ditekankan karena melihat Emma yang selalu membela kekasihnya. Mereka mengerti kalau Emma sangat mencintai Elliot. Namun, mereka tidak akan membiarkan Emma menjadi milik lelaki iblis itu.
Emma masih kebingungan dan terdiam karena hal yang mereka bicarakan.
"Tidak mungkin." Gadis itu kembali berkata, tatapan mata terlhat tidak percaya kepada dua sahabatnya.
"Banyak hal janggal lainnya yang terjadi karena Elliot. Kau tahu kan, si model mencoba bunuh diri karena kalian berpacaran. Dan berita itu telah menyebar dan membuat fans gadis model itu marah kepada kekasihmu. Pacarku bilang teman-temannya yang ingin mengeroyok kekasihmu langsung kelihangan kesadaran saat melihat makhluk mengerikan dengan bola mata semerah darah." Karin lalu mengatakan apa yang ia tahu dari kekasihnya.
"Makhluk mengerikan?" tanya Emma berbisik, tetapi kedua temannya itu masih bisa mendengar suaranya.
Ia langsung merinding dan gemetar karena mengingat sesuatu tentang makhluk mengerikan yang waktu itu berbicara dengan Elliot. Emma sangat jelas mengingat bentuk tubuh makhluk mengerikan itu, dan bola mata semerah darah itu juga lah yang membuat dirinya kehilangan kesadaran. Namun, Elliot bilang dirinya hanya merasa paranoid karena melewati jalan gelap sendirian. Walaupun ia menampik hal yang dikatakan Elliot karena ia benar-benar jelas merasakan sensasi mengerihkan tersebut, ditambah lagi rasa pusing saat melihat mata semerah darah. Ini tidak mungkin?
"Iya. Emma, bukan hanya kami yang menghawatirkan keadaanmu, bahkan beberapa teman pun menyuruhmu untuk segera putus dengan Elliot. Dia itu terlalu misterius dan banyak hal ganjil yang terjadi disekitarnya. Kau tahu, kan? Pacarku itu tidak pernah salah saat menganalisis sesuatu." Irene sekarang mulai meremas tangan Emma lagi. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca, "Kami tidak ingin kau kenapa-napa, Emma. Kami sangat menyayangimu." Irene sekarang meneteskan air matanya.
Emma yang melihat kedua sahabatnya meneteskan air mata, membuat ia terdiam sejenak. Ia harus bagaimana? Ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi jika hal-hal yang mereka ceritakan benar, maka ia harus bertindak bagaimana? Apakah putus dengan lelaki itu akan membuat segalanya menjadi baik-baik saja, atau akan memperparah semuanya.
"Kau harus segera memutuskannya, Emma! Aku memiliki firasat kalau ada hal mengerikan yang disembunyikannya. Dia mengancam keselamatan dirimu." Karin berucap dengan tatapan mata tegas dan serius.
***
Koma, Emma merasa dirinya seperti orang yang sedang koma dan tidak bisa melakukan apa pun. Ia hanya termenung di jendela kamar. Menatapi bintang dan bulan yang kelihatan mengejeknya dengan kerlapan cahaya itu, ia hanya menutup mata. Berpikir, apakah ia harus segera memutuskan lelaki yang sangat dicintainya itu atau tetap mempertahankan hubungan percintaan dan tidak mengacuhkan ucapan kedua sahabatnya?
Elliot, sebenarnya apa yang salah terhadap dirimu dan hubungan kita? Batin Emma dengan raut sedih. Mengembuskan napas, ia menengadahkan kepala dan kembali menatap langit malam.
Ia tahu, kalau Elliot pasti menyembunyikan sesuatu. Apa jangan-jangan Elliot adalah seorang pengidap psychopat? Tidak, tidak. Emma yakin Elliot bukan seseorang yang memiliki kencederungan itu atau mengidap gangguan seperti demikian. Lelaki itu bahkan menolong sekuntum bunga dan menyelamatkan seorang nenek yang sedang terluka. Ia juga tidak pernah memperdulikan orang-orang yang selalu menganggu hubungan kami. Dan dia tidak pernah terlalu berlebihan kepada Emma, dia juga masih mengizinkan Emma berteman dengan Steve dan makan ramen bersamanya.
"Haah? Benar juga, jangan-jangan Elliot itu melakukan peraktek ilmu hitam atau sihir?" tanya Emma kepada dirinya sendiri, seperti kembali menyelidiki lelaki yang telah menjadi kekasihnya.
Namun, apa di zaman sekarang ini, masih ada yang namanya ilmu hitam atau sihir? Itu benar-benar aneh. Lelaki itu, apa yang sebenarnya ada pada dirinya.
***
Sosok lelaki yang sedang terbaring di ranjangnya menggeram frustrasi. Ia benar-benar kesal karena sedari tadi siang sang kekasih ketika tidak kunjung menjawab panggilan ponselnya. Entah sudah berapa kali ia mengirimi pesan dan mencoba menghubungi, tetapi gadis itu sama sekali tidak mengacuhkan sedari tadi.
Ia hanya menjambak pelan rambut untuk menghilangkan rasa resah di d**a.
"Ada apa denganmu, Emma?"
Saat mata hitam itu perlahan menutup, Elliot merasakan sensasi yang sudah sangat dikenalinya itu.
"Apa?" tanya Elliot dengan intonasi ketus saat mengetahui sosok sang kakak yang menampakkan diri tidak jauh dari hadapan sang lelaki.
"Elliot, tinggal tiga hari lagi. Dan kau masih membutuhkan satu jiwa lagi untuk bisa melakukan ritual melepaskanku menuju alam kematian."Noah menyoroti sang adik dengan bola mata merah darah dan tatapan serius.
Mengembuskan napas, Elliot hanya melirik sebagai tanda bahwa ia mendengar apa yang tengah dibicarakan kakaknya, ia juga sedang memikirkan hal itu dan sudah berusaha mencari seseorang yang sama tanggal lahir dan golongan darahnya dengan Noah. Hal itu bukanlah perkara yang gampang karena sangat sulit mencarinya secara manual.
"Hm, aku masih belum menemukan yang cocok, Nii-san." Lelaki itu kemudian mendudukkan dirinya dan kembali menatap tubuh sang kakak yang bentuknya sudah menyerupai iblis.
Noah tidak lagi berbentuk seperti zombie yang penuh luka sobekan atau retakan di wajah. Namun, lelaki itu sudah berwujud seperti sedia kala seperti masih hidup dahulu, hanya yang membedakan adalah lelaki itu tidak bisa mengubah warna matanya lagi menjadi hitam, dan juga bibir dan kukunya menghitam. Kulitnya memucat dan lelaki itu sama sekali tidak bisa mati. Noah juga akan menyantap jiwa manusia yang masih hidup jika ia menjadi iblis. Itu adalah hal yang paling dibencinya jika menjadi iblis. Ia tidak mau membunuh atau menyakiti seseorang. Dan Noah takut ketika tidak bisa menguasai dirinya lagi saat menjadi iblis, ia akan mejadi liar seperti iblis yang kelaparan dan ingin terus memakan jiwa manusia. Noah benar-benar takut kalau adiknya tidak bisa menemukan orang yang cocok untuk melakukan ritual.
"Aku mohon agar kau mendapatkannya, Elliot."
"Noah, jika aku tidak bisa mendapatkannya bagaimana?" tanya sang lelaki, Elliot yang mengatakan hal demikian, lalu menundukkan kepala karena kebingungan dan tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi. Sebab waktunya sudah semakin mendesak.
Untuk beberapa saat, mereka berdua terus berdiam diri. Tidak ada satu pun yang mau membuka suaranya terlebih dahulu.
Saat mengangkat kepala setelah mengembuskan napas, Elliot tidak menemukan lagi keberadaan kakaknya itu. Mungkin Noah memutuskan untuk pergi sejenak karena ingin memikirkan sesuatu.
Kembali menjatuhkan diri di atas kasur, Elliot mengusap wajah dan menatap langit-langit kamar. Ia begitu terbebani dengan banyak hal, dan yang paling membuatnya khawatir adalah masalah tentang kakaknya dan juga sang kekasih. Memikirkan gadis yang membuat ia jatuh cinta, Elliot pun kembali bergerak mengambil ponsel dan melihat nama Emma yang ada di kontak seluler.
"Emma." Desahnya sambil mencoba menghubungi gadis itu lagi.
Apakah gadis itu sedang ada masalah? Kenapa tidak juga mengangkat panggilan yang ia lakukan sejak tadi? Mencoba sekali lagi, tetapi Elliot sama sekali tidak mendapatkan hasil. Ia mengembuskan napas dan berpikir, mungkin saja gadis itu tengah pergi ke suatu tempat bersama teman-temannya dan lupa membawa ponsel. Ya, mungkin saja seperti itu.
.
.
.
Bersambung