Emma dan Elliot sedang makan dengan tenang di kamar lelaki bermarga Valley itu. Dari seluruh rumah yang mengerikan dan kotor, hanya kamar lelaki itu yang kelihatan sangat bersih dan rapi. Bahkan tempat yang mereka pakai untuk menyantap hidangan lebih rapi dari kamar Emma, hal ini benar-benar berbanding terbalik dengan seluruh penjuru rumah.
Di dalam kamar, ada sebuah meja rendah yang di atasnya terisi hidangan makan malam lengkap. Lelaki itu mengatakan tadi, bahwa ia telah memesan makanan spesial dari restoran langganannya.
Emma merasa malu terhadap pemikirannya beberapa saat lalu, ternyata sang kekasih tidak mengerjai atau membohonginya. Rumah ini memang miliknya, tetapi ia sama sekali tidak tahu kenapa Elliot membiarkan tempat yang seharusnya indah, terlihat sangat tidak terawat dan terkesan angker.
"Elliot!"
Elliot hanya melirik Emma yang tengah mendudukkan diri di sofa sehabis makan. Lelaki itu hanya memperhatikan dan menggumam sebagai jawaban atas panggilan Emma.
"Kenapa... emm... kau, kau kenapa membiarkan kondisi rumah ini... kotor?"
"Kau yakin ingin mendengarnya?" tanya sang lelaki, kalimat itu keluar dari bibir Elliot.
Emma yang mendengar pertanyaan ambigu itu hanya bisa semakin penasaran karena ucapan kekasihnya.
"Ke-kenapa?" tanya Emma dengan terbata karena takut hal-hal mengerikan terjadi di rumah ini.
Elliot menyeringai saat melihat Emma yang sekarang terbawa suasana karena penasaran dan juga takut. Ya, kalau ia ingat lagi, gadis ini memang sangat takut hantu.
"Karena rumah ini—"
"—berhantu." Sambung Emma, ia mengucapkan kata itu bahkan dengan pekikan ketakutan yang mengundang tawa kecil Elliot, kemudian ia kembali berbicara, "K-kau bercanda kan, Elliot?"
Melotot kepada sang lelaki, Emma sekarang mendudukkan dirinya di dekat Elliot, kemudian memeluk lengan kekasihnya erat.
"Tidak." Katanya kalem.
"Pasti bohong, kalau berhantu pasti kau takut dan—"
"Kau kira aku takut hantu, begitu?" lelaki itu berkata dengan nada angkuh, dan membuat Emma terbelalak karena omongannya.
"Kau tidak takut." Pernyataan itu keluar dari bibir Emma.
Elliot hanya tertawa angkuh sekali lagi.
Emma yang kesal karena keangkuhan Elliot tanpa sadar berbicara ketus kepada kekasihnya.
"Tentu saja, kau kan sang iblis. Hantu mana yang berani dengan tampang seram ini. Hmmm." Emma tergelak dan menarik pipi Elliot. Tidak peduli dengan wajah sang lelaki yang menatapanya dengan alis mata berkerut karena dikerjai.
"Hmm. Saat kakak lelakiku masih hidup, banyak pelayan yang mengurus rumah ini, tapi setelah kematiannya sekitar tiga tahun lalu, para pelayan perlahan pergi dan di rumah hanya tinggal aku sendiri." Emma menatap kekasihnya yang sekarang mengembuskan napas.
Lelaki itu kemudian melanjutkan ucapannya.
"Saat itu aku hanya membersihkan kamarku saja dan setelah tiga tahun, rumah ini benar-benar menjadi tidak terurus."
"Kenapa tidak dijual dan membeli apartemen baru saja?"
"Aku tidak bisa menjualnya sesuka hati." Ia hanya menghela napas kembali dan menatap gadisnya.
"Aku akan membantu membersihkanya kalau begitu, tapi bagaimana mengusir gagak-gagak itu?" tanya Emma, yang tadinya tersenyum, kemudian berwajah kebingungan. Ia hanya menekuk alis bertanda kalau ia sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Jika sudah waktunya, mereka akan pergi sendiri." Elliot tersenyum misterius kepada Emma, kemudian ia lanjut berbicara, "Satu orang lagi." Gumamnya tanpa sadar saat memikirkan gagak-gagak itu.
"Eh?" Emma yang mendengar gumaman kekasihnya pun langsung menolehkan kepala untuk menatap Elliot.
"Hm, tidak. Ini sudah hampir jam sepuluh malam, sebaiknya kuantar kau pulang."
Mereka lalu bersiap dan Elliot pun mengajak Emma untuk keluar dari kamar dan menuju ke area di mana ia memarkirkan mobil.
Emma yang sekarang sedang keluar dari kamar langsung menggenggam lengan Elliot karena takut melihat situasi yang seram. Bagaiman pun, ia belum terbiasa dengan keadaan rumah ini, ditambah lagi dengan situasi yang gelap membuatnya kian merasa resah saja.
***
Keesokan hari, sang gadis bermata hijau yang sekarang sedang berjalan bersama kekasihnya di area kampus, kembali dihadiahi tatapan tajam dari kedua sahabatnya. Ya, Karin dan Irene hanya diam saat melihat Emma berjalan bersama Elliot, tetapi kedua gadis berlainan warna rambut itu melirik sinis kepada sang iblis.
Emma yang menyadari hal itu, hanya bisa menghela napas dan tatapan matanya langsung mengarah kembali ke depan. Sementara itu, Elliot yang menyadari keresahan kekasihnya pun mengenggam semakin erat tangan Emma, dan saat gadis itu menatap sang lelaki karena merasakan genggaman hangat yang semakin menguat, lelaki bermanik sehitam malam itu pun menyimpulkan senyum tipis sambil melirik gadisnya.
Dan mereka berdua kembali berjalan dan kelihatan mesra di mata para penghuni kampus.
Setelah diantar Elliot sampai ke depan pintu, gadis itu pun menguatkan mentalnya untuk sejenak dan menghirup pelan oksigen. Cukup gundah karena ia tak ingin menjadi bahan omongan orang atau bahkan mendapatkan lirikan sinis. Apalagi, dengan keberadaan kedua sahabatnya yang sekarang menjadi cukup menyebalkan bagi Emma.
Ketika pintu terbuka, entah berapa pasang mata yang menatap diri Emma. Canggung. Tentu saja perasaan itu sekarang memenuhi relungnya. Menelan saliva, ia mencoba memasang wajah datar ala sang kekasih.
Kali ini, ia masih bersyukur karena Irene dan Karin tidak menyerbu Emma seperti kemarin. Mereka berdua hanya menatap dan diam, dan di sini, Emma mencoba untuk tidak mengacuhkan kedua gadis yang telah dijadikan sahabat dan teman-teman sekelasnya.
Setelah mata kuliah usai, Emma memutuskan untuk keluar dan ingin pulang bersama Elliot. Ia lalu mengirim pesan dan menanyakan apakah jam kuliah lelaki itu telah selesai. Menungu beberapa saat, akhirnya pesan itu dibalas oleh kekasihnya.
Aku masih memiliki jam kuliah tambahan. Pulanglah dan hati-hati.
Emma bahkan tersenyum sumringah karena ia seperti bisa menebak bagaimana mimik wajah dan intonasi lelaki itu saat mengatakan kalimat yang merupakan isi dari pesan yang telah dikirim kepada Emma. Pasti wajahnya datar dan ia entah menatap ke arah mana saat bilang kata 'hati-hati'. Emma pun kembali terkikik geli karena hanyalannya, tanpa tahu kelas sudah mulai menyepi.
"Emma!" Gadis yang namanya telah dipanggil itu menegang beberapa saat.
Ia hafal suara yang menyerukan namanya dan pemiliknya adalah Karin, sahabatnya. Masih tetap engan menjawab panggilan tersebut, ia hanya membereskan buku dan memasukkannya ke dalam tas. Tanpa mencoba acuh terhadap panggilan kedua orang berbeda warna rambut yang duduk di belakang.
Setelah ia merasakan lengan seseorang menyentuh pundaknya, barulah ia mengacuhkan kedua orang itu, meski dengan sifat datar khas Elliot.
"Hm." Acuhnya dengan gumaman saja.
"Emma, kami ingin bicara serius!" Karin masih ingin mencuri perhatian Emma dengan melangkah ke hadapan gadis itu.
Hanya lirikan saja yang dapat ditelan Karin sebagai jawaban Emma. Gadis berambut merah itu menghela napas keras, kemudian kembali berbicara.
"Ayolah, Emma! Ini hal yang penting."
Irene pun kemudian berjalan dan berdiri di hadapannya. Namun, Emma hanya diam dan membiarkan kedua orang itu berbicara.
"Aku mohon, dengarlah sekali ini saja." Irene dan Karin memelas. Mereka kelihatan benar-benar ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan dirinya dan membuat Emma kembali mendesah pelan dan menganggukkan kepala bertanda setuju.
"Te-terima kasih." Karin berucap dengan sedikit memperbaiki kacamatanya, dan Emma tahu kalau sahabatnya itu mengucapkan perkataan tersebut dengan tulus.
Mereka kemudian duduk di kelas yang telah kosong ini, sementara itu Emma dapat menangkap memang ada sesuatu yang penting dan ingin disampaikan oleh kedua gadis di depannya.
"Oke, aku tahu aku salah mengenai taruhan itu. Seharusnya, kita tidak membuat hal bodoh seperti itu dan menganggapnya tidak terjadi." Irene mulai berbicara lebih dulu dan Emma melihat Karin menganggukkan kepalanya karena mendengar ucapan si boneka barbie, "Aku juga minta maaf karena tingkahku yang kelewatan kepadamu, Emma." Mengembuskan napas dengan raut merasa bersalah, Irene menyambung ucapannya.
"Aku juga minta maaf, Emma." Kali ini Karin pun ikut menimpali setelah beberapa saat kelihatan diam dan termenung.
Memejamkan mata sejenak, kemudian membuka kelopak, Emma kembali menatap kedua gadis tersebut dengan pandangan sulit diartikan. Ia lalu mengangguk bertanda sudah memaafkan kesalahan temannya itu, bagaimanapun ia bukanlah seorang pendendam dan suka menyimpan dan memperbesar kesalahan seseorang. Walau yang dilakukan kedua sahabatnya memanglah sesuatu yang cukup keterlaluan.
"Hm, baiklah! Aku memaafkan kalian," ucapnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Karin dan Irene lalu mendesah lega dan memeluk gadis itu dengan sangat erat. Mereka sangat bersyukur memiliki sahabat yang dewasa dan sangat pemaaf seperti Emma.
"Emma, ada yang ingin kami bicarakan lagi," ujar Karin, hingga Emma mengernyitkan alisnya. Jadi, masih ada hal lain yang ingin mereka sampaikan. Karin lalu menatap Emma ragu-ragu sebelum melanjutkan ucapannya, "Ini tentang Elliot." Gadis itu berujar pelan.
"Emma, kami minta maaf sebelumnya tentang ini tapi kami benar-benar ingin menyampaikan sesuatu tentang Elliot." Irene langsung meyakinkan Emma ketika melihat wajah Emma yang langsung menjadi masam dan enggan lagi.
"Kumohon." Karin bahkan menundukkan kepalanya kepada Emma.
Untuk beberap asat gadis itu tediam, kemudian Emma pun mengangguk setuju. Mengingat sahabat berambut kemerahan ini adalah tipe orang yang sangat tidak suka berprilaku menjatuhkan harga diri sendiri, jadi Emma berpikir kalau ini memanglah sesuatu yang sangat serius. Ia berpikir, sebenarnya apa yang ingin mereka bicarakan tengtang sang kekasih? Kalau sampai menyuruh Emma untuk putus lagi dengan Elliot maka ia akan benar-benar tidak memaafkan mereka.
Melihat diamnya Emma dan helaan napas gadis itu, Karin dan Irene pun menganggap bahwa Emma telah mempersilakan mereka untuk berbicara.
***
Heri berganti begitu cepat, membuat mentari tenggelam di ufuk barat sedang langit mulai menyeret bintang dan bulan untuk kembali mendiami singgasananya. Memberikan tempat setelah sepanjang hari beristirahat dan terasingkan oleh sang raja cahaya.
Di balik jendela yang masih terbuka dan menampakkan kain gorden hijau yang tenggah dibelai angin, seseorang gadis menegadahkan kepala dan memberikan fokus sepenuhnya kepada keindahan langit malam. Mata itu menatap setiap kerlapan bintang dan terang cahaya bulan, napasnya teratur dan terkadang desahan kecil muncul dari bibir tipis yang membentuk celah. Gadis itu, beberapa kali memejamkan mata dan menyembunyikan emerald dari balik kelopak yang tertutup.
Ia bernama Emma. Gadis itu sejak sepulang dari kampus hanya berdiam diri saja, memikirkan seseorang yang sekarang terus menghubungi ponselnya dan berkali-kali mengirimi pesan singkat. Namun, kali ini ia merasa enggan untuk membalas ataupun mengacuhkan deringan ponsel yang terus menerus mengaum seperti serigala lapar. Ia merasa harus menghindar dari pria yang telah memiliki hatinya itu, Elliot Valley, lelaki yang dijuluki sebagai sang iblis.
Ingatan Emma masih terus mengarah ke percakapannya dengan kedua sahabat. Pembicaraan mereka mengenai kekasihnya; Elliot.
Dan karena hal itu, ia merasa harus menjauhi lelaki itu. Elliot, lelaki itu harus segera ia putuskan dan tidak menjadikannya lagi sebagai belahan jiwa. Walaupun hati kecil Emma mengatakan sebaliknya, ia sangat mencintai lelaki itu dan menginginkan sosok tersebut untuk selalu menjadi pemilik hatinya.
.
.
.
Bersambung