Makan malam mendadak yang ditawarkan sebagai ajakan kencan oleh Elliot berjalan tidak terlalu lancar, hal itu terjadi karena rasa penasaran Emma terhadap Elliot yang terlalu besar. Setelah selesai dengan hidangan makan malam, Emma kembali meneror lelaki misterius itu dengan berbagai pertanyaan dan yang membuat gadis itu semakin kesal karena Elliot tidak pernah menjawab berbagai pertanyaannya itu dengan sungguh-sungguh, semuanya selalu dijawab dengan datar dan acuh tak acuh."Itu tidak penting, Emma." Suara datar itu terdengar lagi ketika gadis di hadapannya ini masih saja menuntut jawaban darinya.
"Apa salahnya sih dijawab? Lagi pula, kau tidak akan mati hanya karena menjawab pertanyaanku itu, Elliot!" Emma kembali mengerucutkan bibirnya karena cukup sebal dengan lelaki misterius yang terus mengalihakan pembicaraan tentang pertanyaan-pertanyaan Emma. Tentu sang gadis penasaran, terlebih Emma menangkap basah lelaki itu keluar dari pemakaman melompati pagar pembatas.
"Hm, tentu saja berziarah jika pergi ke makam, Emma. Kau kira aku mengamalkan ilmu hitam?" tanya Elliot dengan suara rendah dan di mata Emma malah terkesan agak seram. Membuat sang dara malah lebih percaya kalau Elliot melakukan praktik ilmu hitam di tempat yang cenderung dianggap menakutkan bagi banyak orang, apalagi ini jika sudah malam.
Mengetahui apa yang ada di pemikiran gadis itu, Elliot hanya mendengkus saja.
"Kau mencurigakan, Elliot!" seru Emma dengan mata memicing curiga menatap sang lelaki yang mendapatkan julukan sang Iblis.
Elliot menggerakkan tangannya untuk menjawil hidung Emma dan itu membuat si gadis mengaduh pelan dan kembali menatapnya dengan ekspresi sebal.
"Kalau itu persepsimu, aku bisa apa?" tanya Elliot, bibirnya menyeringai, kemudian ia mengembuskan napas dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
Setelah pembicaraan aneh kedua orang yang sepakat menjadikan makan malam mereka sebagai kencan? Mereka memutuskan untuk keluar dari restoran dan beranjak ke kediaman masing-masing.
Elliot melangkah santai bersama Emma dan lelaki itu berniat mengantarkan si gadis pulang terlebih dahulu. Mereka melangkah bersama, walau di awal Emma agak enggan dan menyuruh orang di sampingnya untuk tidak perlu repot-repot mengantar. Namun, Emma berpikir hari mulai larut dan bisa jadi ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Mengingat kejadian ketika bertemu dengan Elliot saja, sudah membuat raut wajahnya berubah menjadi takut. Ia sempat sangat kaget tadi ketika sendirian dan melihat laki-laki itu seperti berbicara dengan sesuatu yang mengertikan.
"Elliot, kau benar-benar tidak punya kemampuan supernatural yang mengerikan, bukan?" tanya Emma sambil menatap Elliot takut-takut.
Lelaki itu hanya tersenyum bengkok menatap Emma, sepertinya ia tidak berniat menjawab pertanyaan gadis yang berjalan di sampingnya.
"Kau tahu?" tanya Emma, gadis itu mulai berbicara lagi. "Mungkin aku akan berpikir kalau kau adalah vampire atau penyihir? Dan tidak salah orang-orang di kampus memberimu julukan seperti itu." Emma menatap Elliot dengan pandangan mata yang cenderung jahil, senyuman di bibir pun tercipat untuk menggoda sang lelaki.
"Aku lebih tampan dari si vampire itu. Siapa namanya? Everd? Erick? Ederd?"
"Edward, Elliot! Edward!" seru8 Emma memutar matanya. Ia bahkan membatin. Dasar. Lelaki ini.
Elliot hanya mendengkus karena Emma berbicara dengan penekanan kepadanya. Ia memasukkan tangan ke dalam saku celana dan menatap si gadis yang tertawa kecil dengan wajah agak canggung karena sedikit sadar bahwa tadi sangat berlebihan ketika menyebutkan nama dari laki-laki yang menjadi hero di film bergenre fantasi romansa tersebut.
"Jangan kebanyakan berkhayal, Emma." Elliot menyeringai kecil, pandangan mata pun terkesan jahil ketika menatap si gadis. Setelah itu, ia kembali berkata, "Dan, terserah mereka menjulukiku apa karena aku tidak terlalu peduli dengan hal itu."
Untuk beberapa saat mereka terdiam dan hanya angin yang mengembus dan membuat rambut kedua orang itu menari beberapa saat. Lampu jalan terlihat hidup dan mati di blok yang baru saja mereka lewati, membuat suasana terasa agak menyeramkan. Namun, sepertinya sang pemuda sama sekali tidak begitu peduli dengan semua itu. Emma menghembuskan napas, ia mengingat bahkan Elliot mengunjungi makam ketika malam.
Gadis bermata emerald itu kembali merasakan aura mengerikan yang menguar dari sang lelaki. Ia merinding bukan main, sementara Elliot sendiri sedang menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa ia baca.
Lelaki ini terlalu misterius dan agak mengerikan.
"Elliot!"
"Hm?"
"Mungkin, jika kau sedikit saja ramah dan tidak beraura menyeramkan seperti ini, pasti kau akan memiliki banyak teman." Emma menyuarakan apa yang sudah lama ingin ia sampaikan dengan Elliot. Hanya saja, dulu ia masih takut walau sudah saling kenal, tetapi tetap saja tidak cukup seperti dekat sekarang.
Emma sering merasa Elliot terlihat di tempat yang sama saat ia ingin mengunjungi atau sedang berada di tempat itu. Dan setelah penentuan kelompok, akhirnya mereka menjadi cukup akrab seperti sekarang ini, walau Emma agak takut juga jika lelaki itu menatap tajam atau mengeluarkan aura mengerikan.
"Apa kau tidak cemburu, jika banyak gadis yang akan mengajakku untuk berkencan?" tanya Elliot menggerling Emma dan mendengkus, kemudian ia kembali berkata, "Kau sudah tau rumornya, bukan." Elliot menyeringai saat melihat Emma memerah.
Saat sampai di kediaman Emma, sebelum membiarkan gadis itu masuk, Elliot berbicara sebentar kepadanya.
"Emma, aku harap kau memikirkannya dulu. Aku tidak memaksa, tapi aku serius dengan semua ini." Elliot menatap Emma dengan wajah seriusnya.
Gadis itu masih terdiam, jika ia menerima Elliot maka teman-temannya pasti akan menyuruhnya melakukan hal yang tidak-tidak. Mengingat, Karin dan Irene ingin melakukan misi 'menaklukkan sang iblis'. Saat itu ada dirinya di sana dan mereka pasti menganggap Emma juga ikutan di dalam rencana gila ini. Apalagi Emma sangat tidak pernah menyangka bahwa Elliot bisa sampai mengutarakan perasaan demikian? Dan bahkan memberikannya waktu untuk memikirkan dahulu sebelum menjawab.
Emma merasakan jantungnya berdebar-debar, ia juga tidak pernah memandang Elliot sebelah mata atau membenci lelaki itu seperti Karin dan Irene karena mereka tidak berhasil bertepuk sebelah tangan. Namun, ia juga tidak pernah bilang kalau kenyamanannya saat berada di dekat lelaki itu, perasaan puas saat melihat senyum tulusnya dan perasaan sedih saat melihat tatapan sendu sang pria adalah rasa suka atau cinta. Mungkin, ini hanyalah sebatas kekaguman Emma saja kepada seniornya yang memiliki sifat berbeda dan tidak sepertu rumor yang beredar di kampus.
Emma masih terdiam karena bingung.
Elliot itu tampan, pintar, baik, kaya, dan tubuhnya juga bagus. Hanya saja, lelaki itu sulit bergaul dan susah memasang wajah ramah saat di depan orang-orang. Hanya itu kekurangannya. Dan kelihatannya juga, Elliot adalah tipe lelaki yang setia karena sang senior mengaku tidak pernah berpacaran sebelumnya?
Emma menatap Elliot dengan bola mata hijau setelah selesai berpikir cukup lama. Ia menarik napas, kemudian tersenyum kepada Elliot sebelum mengutarakan apa yang ada di benaknya.
"Kau tahu? Aku mengenalmu sudah sejak saat di semester satu. Awalnya memang aku tidak terlalu perduli dengan sosok yang dijuluki sang iblis. Namun, teman-temanku sering membicarakanmu. Sedikit banyak, aku belum tahu bagaimana kau atuapun kehidupanmu, Elliot. Begitu juga denganmu terhadap aku, kan?” tanya gadis itu.
Hela napas kembali terdengar, sekaranga Elliot terlihat tidak terlalu memiliki harapan.
“Jadi, kalau dipikir-pikir, kita menjadi dekat hanya dalam kurun waktu sekitar tiga mingguan dan itu pun karena tugas. Apa kau tidak ragu dengan hatimu dan yang kau rasakan, Elliot?" tanya Emma kembali, mengatakan semua yang ada di dalam benaknya, ia ingin tahu apakah benar lelaki ini tulus ingin menjadikannya kekasih.
Mereka masih saling berhadapan, alis berkerut karena mencerna perkataan tersebut, kemudian memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sang gadis. Embusan napas kembali terdengar, Elliot pun memejamkan mata sejenak dan tersenyum tipis sebelum berbicara.
"Aku sebenarnya tidak suka mengulang kosa kata yang sama, Emma," ujar lelaki yang berdiri di depan Emma dan sekarang menatapnya dengan pandangan yang sulit sang gadis defenisikan, entahlah?
Dingin, datar, dalam? Tatapan itu menyimpan banyak emosi. Lalu, tiba-tiba tatapan itu berubah menjadi lembut, sebelum kembali mengucapkan kata,
"Tapi aku serius, Emma."
"B-bebegitu, ya." Emma menjadi malu mendengarnya belum lagi karena tatapan lembut yang dalam dan itu benar-benar terpancar di mata Elliot.
"Tapi aku tidak memaksamu. Mengenai rumor, itu memang benar adanya. Gadis-gadis itu memang selalu menangis sebelum sampai di depanku ketika ingin mengatakan pernyataan cinta." Elliot memejamkan mata, tangannya yang ada di saku bertengger santai.
"Mungkin, kita... bisa mencoba dan menjalaninya, Elliot." Emma menjerit di dalam hati karena ucapannya yang mendadak gagap. Sialll!
"Ah, terima kasih." Elliot tersenyum di depan wajah Emma, walau terlihat sangat tipis, tetapi ia tahu kalau Elliot sedang tersenyum tulus.
"Jadi, kita sepasang kekasih?" tanya Emma meremas tangannya agak gugup dan malu hingga menundukkan kepala untuk menghindari tatapan mata sang lelakil.
"Tentu saja, Emma."
Elliot cukup terkejut karena Emma memeluknya dengan sekali lompatan, kemudian ia hanya terkekeh kecil dan membelai kepala sang gadis sambil mengembuskan napas dan tersenyum sekali lagi.
Menurunkan tubuh, si gadis terlihat tertawa kecil dan mengusam ceruk lehernya, kemudian menjelaskan sesuatu kepada Elliot tentang hubungan ini.
"Elliot, mungkin perasaanku ini belum menjadi cinta, tapi aku akan sesegera mungkin mencintaimu. Entah kenapa aku tidak ragu?”
Anggukkan terlihat, sepertinya Emma merasa perasaannya jauh lebih baik sekarang. Mungkin karena Elliot menuruti perkataannya, tentang jangan terlalu kaku dan harus lebih banyak tersenyum.
"Iya. Emma. Eh, ada sesuatu di rambut dekat dahimu." Emma dan Elliot sekarang berdiri berhadapan menatap gadis itu karena ada sesuatu seperti yang ia jelaskan tadi.
Oleh karena itu, Emma menyentuhkan jarinya ke arah rambut yang ada di dekat dahinya, tetapi ia tidak menemukan apa pun.
"Di sebelah mana, Elliot?" tanya Emma terlihat agak bingung.
"Biar aku saja." Lelaki itu mengeluarkan tangan yang satunya yang semenjak tadi ada di saku. Lengan pun bergerak ke arah kepala Emma, kemudian genggaman tangan itu terbuka.
Emma menatap tangan Elliot yang ada di atas kepalanya dengan kalung berliontinkan bunga cosmos yang memiliki arti semesta, dan tengah digenggam jemari besar itu. Menatapnya, Emma lantas membulatkan mata karena terkesima melihat keindahan bunga yang memiliki warna merah muda. Sungguh indah, apalagi berbentuk permata.
"Ini?" tanya gadis itu.
"Hm, sebuah kalung. Biar kupakaikan." Elliot tersenyum tipis.
Emma menatap sebuah kalung yang sekarang melingkar di lehernya. Ia sangat menyukai permata cantik yang menjadi penghias liontin itu. Tanpa sadar, senyuman lembut pun tercetak di bibir sang gadis.
"Thanks, Elliot. Ini terlalu indah dan cepat untuk memberiku hadiah." Emma masih menyentuhkan jarinya ke arah kalung pemberian Elliot.
"Syukurlah, kalau kau suka."
Walau memang terlalu cepat, tidak ada salahnya memberikan sebuah hadiah di hari jadian mereka. Lagi pula, Elliot memang telah sejak lama mempersiapkan hal ini. Dan tanpa ia duga, kencan mereka terjadi lebih cepat dari pada yang ia rencanakan. Tidak mengapa, lagi pula kota kalung keukuran genggaman tangan itu selalu ia bawa-bawa untuk kesempatan tidak terduga seperti ini.
Ia tersenyum lembut, mengusap kepala Emma dan sekali lagi membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Lain kali, ia ingin membawa sang gadis untuk makan malam mewah sebagai peresmian kencan mereka, sekaligus membuat momen romantis bersama.
.
.
.
Bersambung