Keesokan paginya aku telah bersiap berangkat ke Jakarta. Kulihat sejak pagi mata ibu tak berhenti mengucurkan air mata. Apakah dia bersedih karena aku akan pergi? Bukankah selama ini ia sama sekali tak peduli denganku?
"Wilda Sayang, jadilah anak yang baik disana, kamu harus rajin dan cekatan agar majikanmu menyayangimu," ujarnya sembari memeluk tubuhku dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
Aku langsung melepaskan pelukannya, karena pelukannya membuatku tak nyaman, hatiku sama sekali tak terasa hangat saat berada dalam dekapannya.
"Ibu tenang saja, aku akan bekerja dengan giat agar bisa mengirim uang untuk Ibu. Aku sudah mengerti kok, Bu, hidupku hanya untuk kebahagiaan Ibu dan adik-adikku. Aku sadar kok, Bu, aku tak memiliki hak untuk bahagia."
Seketika tangisnya pecah, ia berusaha untuk kembali memelukku tapi aku juga berusaha untuk menghindarinya.
"Ibu jangan lagi memelukku. Aku tak nyaman."
"Wilda, kamu jadi ke Jakarta?" tanya nenek dan kakek yang juga datang untuk mengucapkan salam perpisahan.
"Iya, Nek, Kek, aku pamit, ya."
"Padahal kamu ke Arab saja, dua tahun disana nanti pas pulang kamu bisa beli rumah sendiri."
Aku menatap mereka dengan tatapan nanar, mengapa aku terlahir dalam keluarga yang seperti ini? Bukan menyesal karena terlahir dari keluarga tak mampu, tapi aku sangat menyesal karena terlahir dari wanita yang sama sekali tidak memiliki perasaan. Begitu pula dengan nenek dan kakekku, yang ada dalam pikiran mereka hanya uang dan uang.
"Teteh, maafkan aku," ujar Asyla sambil memelukku.
Aku langsung melepaskan pelukannya, tak bisa ku sembunyikan luka di hati ini setiap kali melihat wajah adikku itu, karena dia adalah salah satu penyebab penderitaan dalam hidupku.
"Teteh, Asyla sayang sama Teteh," ucapnya dengan tatapan nanar.
Aku mengalihkan pandanganku, aku malas melihat air matanya juga air mata Ibu. Mereka semua begitu mudah meneteskan air mata, padahal selama ini mereka tak pernah memperdulikan perasaanku.
Tidak berapa lama kemudian datang Bi Tuti, seorang tetangga yang telah lama bekerja sebagai pembantu di Jakarta.
"Tuti, nanti anakku bekerja satu rumah denganmu?" tanya ibu sambil terisak dan mengusap air matanya.
"Tidak, dia nanti bekerja di rumah tetangga majikanku. Orangnya baik dan tidak punya anak, jadi Wilda hanya harus membersihkan rumah saja."
Setelah itu aku langsung masuk mobil yang akan mengantar kami ke Jakarta. Kulihat dari kejauhan Farhan menatap kepergianku. Aku langsung melambaikan tangan padanya, sementara ia hanya berdiri mematung dengan wajah kecewa. Sementara itu kulihat ibu menangis histeris saat aku pergi. Sebenarnya air mataku juga ingin tumpah, tapi aku berusaha menutupinya.
"Wilda, kenapa kamu bersikap dingin pada ibumu?" tanya Bi Tuti saat dalam mobil.
"Dia bukan ibuku, kan? Aku pasti anak pungut di keluarga itu."
"Mengapa kamu bicara seperti itu?"
"Sejak kecil Ibu selalu membedakan aku dengan adik-adik yang lain. Ibu selalu menyiksaku, dia tak pernah memperdulikan perasaanku."
"Wilda, saya juga anak sulung, saya juga merasakan apa yang kamu rasakan. Harus selalu mengalah demi kebahagiaan adik-adik saya yang jumlahnya ada 9 orang. Sejak gadis saya bekerja menjadi pembantu di Jakarta hingga sekarang, semuanya demi orangtua dan adik-adik agar bisa makan."
Aku terhenyak saat mendengar ucapan Bi Tuti, karena ternyata nasib yang kualami bukan hanya terjadi padaku.
"Bukan hanya saya yang mengalami semua itu, tapi juga kebanyakan anak sulung lainnya. Mereka dipaksa untuk selalu mengalah dan mencari nafkah untuk keluarga."
Aku hanya terdiam mendengar penuturan Bi Tuti. Kalau sudah seperti ini siapakah yang harus kusalahkan.
"Ibumu juga mengalami hal yang sama. Sejak lulus SD ia bekerja di kota menjadi pembantu, lalu saat usia 15 tahun ia dikirim ke Arab menjadi TKW untuk bisa membiayai kehidupan nenek dan kakekmu juga adik-adik ibumu."
"Usia 15 tahun bisa ke Arab?"
"Sebenarnya peraturan pemerintah harus dari 18 tahun ke atas, tapi saat itu agen penyalur TKW memalsukan identitas ibumu hingga akhirnya ia bisa bekerja di Arab."
"Berarti ibuku telah banyak hidup menderita?"
"Iya, setelah 4 tahun bekerja di Arab, akhirnya ia bertemu dengan ayahmu yang juga bekerja di Arab sebagai sopir. Setelah menikah, ibu dan ayahmu memutuskan untuk berhenti bekerja, lalu tinggal di Jakarta."
"Lalu, Bi?" Aku sangat tertarik mendengar cerita tentang ayahku, karena selama ini ibu selalu menyiksaku setiap kali aku bertanya tentang ayah kandungku.
"Saat kamu berusia 2 tahun, ayahmu selingkuh dan lebih memilih perempuan itu. Dia dengan tega, mengantarmu dan ibumu pulang ke kampung ini, lalu setelah itu ia tak pernah datang untuk menemuimu."
Air mataku tak berhenti mengalir saat mendengar semua itu, ibu pasti telah mengalami kehidupan yang sangat berat selama ini. Mungkin itu sebabnya dia selalu bersikap kasar padaku, karena ia sama sekali tak memiliki bahu untuk bersandar, sehingga kepadaku ia melampiaskan semuanya. Perbuatan ibu memang tak bisa dibenarkan, tetapi ia juga adalah korban dalam kehidupan ini.
"Sudahlah Wilda, kamu tak perlu bersedih, saya doakan kamu bisa mendapatkan kebahagiaan di suatu hari," ujar Bi Tuti sambil menyandarkan kepalaku di bahunya hingga membuatku merasa mengantuk.
Setelah beberapa jam di perjalanan, akhirnya mobil yang kami tumpangi tiba di depan sebuah rumah besar nan mewah. Bi Tuti langsung mengajakku turun dan membawaku masuk ke rumah itu.
"Jadi ini yang mau kerja?" tanya seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu untuk kami.
"Iya, namanya Wilda," ucap Bi Tuti.
"Wilda, panggil saja saya Bi Fatma. Saya juga bekerja di rumah ini. Selama seminggu saya akan mengajarimu, lalu setelah itu saya akan membiarkanmu mengerjakan semuanya sendiri, karena saya mau pensiun."
"Ngomong-ngomong, kemana Nyonya Susan dan Tuan Carlos?" tanya Bi Tuti.
"Mereka sedang berada di kantor."
"Wilda, saya mau pulang dulu, kalau ada apa-apa, saya tinggal di rumah nomor 15 yang di depannya ada pohon mangga."
Aku mengangguk lalu setelah Bi Tuti pergi, aku langsung mengikuti Bi Fatma untuk mengerjakan semua tugasku. Bi Fatma mengajariku mencuci menggunakan mesin cuci, menyetrika, membersihkan rumah yang begitu luas, juga memasak. Awalnya aku merasa lelah dengan semua pekerjaan ini, tapi lama kelamaan aku mulai membiasakan diri. Setidaknya di rumah ini tidak ada orang yang menyiksaku, bahkan Bi Fatma dan majikanku begitu sopan dalam bertutur kata. Baru kali ini aku diperlakukan dengan sopan sehingga aku merasa dihargai.
Satu Minggu berlalu, sudah waktunya Bi Fatma berhenti bekerja dan membiarkanku sendirian mengerjakan semuanya.
"Wilda, mulai hari ini kamu sendirian di rumah, jaga rumah baik-baik, ya. Jangan ragu untuk memakan makanan yang tersedia, kamu harus banyak makan, kamu juga boleh istirahat jika merasa lelah, anggap saja rumah sendiri," ujar Nyonya Susan.
Wanita yang tampaknya berusia 35 tahun itu sangat baik kepadaku, ia pernah bercerita bahwa dirinya pernah dua kali keguguran, bahkan anak pertamanya juga meninggal, jika ada mungkin sekarang berusia sepuluh tahun. Aku berjanji akan melakukan semua hal yang ia sukai dan tak akan membuatnya kecewa, karena ia sangat baik kepadaku.
Setelah mereka pergi, aku langsung mengerjakan semua tugasku. Hingga setelah beberapa jam kemudian, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Aku langsung berlari menuju pintu, lalu mengintip dari balik gorden sesuai saran Nyonya Susan untuk tidak sembarangan membuka pintu.
Kulihat Tuan Carlos berdiri di depan pintu. Aku langsung membukakan pintu untuknya.
"Tuan sudah pulang?" tanyaku.
"Iya, kepala saya pusing, banyak sekali masalah di tempat kerja," ujarnya sambil membantingkan tubuh di sofa.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku.
"Buatkan saya kopi hitam, gulanya satu sendok teh saja."
Aku mengangguk lalu bergegas ke dapur. Beberapa waktu kemudian aku langsung menghidangkan secangkir kopi untuknya.
"Oh, ya, Wilda, usia kamu berapa?" tanyanya tiba-tiba.
"Jalan 16 tahun," jawabku.
"Sudah punya pacar?"
Aku menggeleng.
"Tapi sudah pernah pacaran?"
Aku kembali menggeleng.
"Jadi, kamu sama sekali belum pernah pacaran?"
"Usia saya terlalu dini untuk pacaran, saya belum memikirkan hal tersebut."
"Jadi pacar saya mau gak? Saya akan memberikan semua yang kamu mau."
Aku langsung terhenyak saat mendengar hal tersebut dengan wajah ketakutan.
Bersambung.