Majikan Genit

898 Words
"Tolong jangan macam-macam atau saya laporkan pada Nyonya!" ancamku. "Wilda, saya cuma bercanda, apa di kampung kamu tak pernah bercanda?" Aku menghela napas lega. "Kalau begitu saya permisi dulu." "Tunggu!" Ia menarik tanganku, lalu aku langsung melepaskannya. "Ada apa lagi, Tuan?" "Mau jalan-jalan ke mall, gak? Kamu pasti belum pernah pergi ke mall." "Sa..saya tidak mau." "Kenapa?" "Tolong jangan ganggu saya lagi." Aku langsung berlari menuju kamar setrika. Suami majikanku itu tampak menyeramkan, matanya tampak merah, sepertinya ia berada dalam pengaruh obat terlarang. Sebenarnya aku pernah melihatnya mengonsumsi serbuk berwarna putih, saat itu aku hanya bisa mengabaikannya, aku tak berani melakukan apapun selain pura-pura tak tahu. "Wilda, kenapa kamu terus menghindari saya? Apa menurutmu saya kurang tampan?" "Tolong jangan ganggu saya!" Aku langsung mengacungkan setrika. "Jadi kamu menolak saya? Kenapa? Padahal saya bisa memberi semua yang kamu mau." Ia mencabut kabel setrika lalu mencengkram pundakku. Buugh! Aku langsung melayangkan tendanganku hingga tepat di alat vitalnya. Aaargh! Ia mengerang kesakitan sambil memegangi benda penting dalam hidupnya. Aku langsung berlari menuju pintu, lalu keluar meninggalkan rumah itu menuju rumah Bi Tuti. Setibanya di sebuah rumah yang terletak beberapa meter dari rumah tadi, aku langsung menekan bel. "Cari siapa?" tanya seorang wanita dengan logat Jawa yang sangat medok. Dari wajahnya ia tampak lebih tua 5 tahun dariku. "Bi Tuti ada?" "Oh, Bi Tuti sudah berhenti kerja, saya yang menggantikan dia kerja disini." "Aku Wilda." "Saya Sri, kamu kenapa? Kamu terlihat ketakutan." Aku langsung menceritakan tentang perlakuan suami majikanku. "Kenapa kamu gak menelpon Nyonya Susan?" "Aku gak ingat nomor telponnya, ada di buku telpon, tapi aku lupa nyimpen di HP." Kulihat ia tampak iba, lalu menyuruhku menunggu di kursi teras. Tampaknya ia tengah mengadu pada majikannya, aku bisa mendengar apa yang ia obrolkan meski kurang jelas. "Suruh dia pergi, saya tak mau memiliki masalah dengan Carlos." Terdengar sebuah suara yang tampaknya pemilik dari rumah ini. Tidak berapa lama kemudian Mbak Sri kembali. "Wilda, sebaiknya kamu pulang kampung, ini buat ongkos," ujarnya sembari memberikan dua lembar uang berwarna merah. "Aku gak tahu jalan pulang." "Telpon keluargamu." Aku langsung menelpon Farhan, karena hanya nomornya yang kumiliki. "Iya, Wilda, apa kabar?" tanyanya. "Bisa gak minta tolong hubungkan aku dengan Bi Tuti, aku mau pulang." "Bi Tuti tidak ada di kampung kita, dia tinggal bersama suaminya di Jawa." "Kalau begitu tolong sambungkan dengan ibuku." "Baiklah," ujarnya lalu ia mematikan telpon terlebih dahulu. Beberapa waktu kemudian ponselku kembali berdering. "Iya, Wilda, ada apa?" terdengar suara ibu. "Bu, majikanku hendak melecehkanku, aku kabur." Belum selesai aku bicara, tiba-tiba ponselku habis batrei. "Mbak Sri, boleh aku pinjam charger?" "Sriiii! Suruh dia segera pergi!" Terdengar suara wanita dari dalam. "Wilda, maaf saya tidak bisa menolong kamu, tolong segera pergi." Aku mengangguk, lalu segera meninggalkan rumah itu sambil celingukan, takut jika tiba-tiba Tuan Carlos muncul. Aku benar-benar tak menyangka jika bekas majikan Bi Tuti benar-benar tega padaku, ia sama sekali tak memiliki jiwa kemanusiaan, mungkin karena aku orang kampung yang memiliki kasta sosial yang rendah, makanya ia tak memiliki empatik padaku. Aku berjalan tanpa arah tujuan, aku benar-benar tidak tahu sedang berada di mana dan harus kemana. Aku hanya tahu ini kota Jakarta, tanpa tahu alamat lengkapnya. Karena merasa lelah, aku duduk di pinggir jalan, berharap bertemu seseorang yang bisa memberi tahuku bagaimana caranya pulang ke Bandung. Tiba-tiba sebuah mobil melaju ke arahku, lalu kulihat seorang wanita berambut merah dengan riasan tebal dan pakaian yang sangat terbuka keluar dari mobil lalu mendekatiku. "Hai manis, kenapa kamu melamun saja?" tanyanya. "Aku tersesat," jawabku. "Rumah kamu dimana?" "Di Bandung." "Wah jauh juga." "Kenapa kamu tiba-tiba ada di Jakarta?" Ia tampak sangat lembut dan penyayang. Aku langsung menceritakan semuanya hingga tiba-tiba ia tampak iba. "Ikut tante, yuk, tinggal di rumah tante!"ajaknya lembut. Awalnya aku hendak menuruti ajakannya. Namun, tiba-tiba aku teringat adegan sinetron tentang gadis desa yang ditolong seorang tante-tante berambut merah dengan riasan tebal. Wanita yang ada di hadapanku itu mirip seorang mucikari di sinetron. Aku langsung bergidik saat mengingat hal tersebut lalu berlari pontang-panting meninggalkannya. "Kejar dia!" teriaknya lalu kulihat ia masuk mobil dan mengejarku. Aku langsung berlari dan masuk g**g kecil agar ia tak bisa mengejarku lagi, tetapi naasnya tiba-tiba kulihat dari dalam mobil itu keluar dua lelaki bertubuh tinggi besar dan berkepala botak. "Tolooooooong!" teriakku. Sayangnya jalanan begitu sepi hingga tak ada satu pun yang bisa menolongku. Aku terus berlari sekuat tenaga meski lututku mulai gemetaran karena takut. "Dek! Jangan lari, kami bukan orang jahat!" teriak dua orang lelaki itu. Tubuh kekar dengan kalung rantai juga tato ular kobra di lengan mereka membuatku sangat yakin bahwa mereka adalah preman. Mereka pasti sindikat penjual wanita muda seperti yang sering kulihat di sinetron. Tiiiiit! Sebuah motor melaju kearahku hingga aku langsung berhenti berlari dan berteriak histeris. Untungnya motor tersebut bisa mengerem tepat waktu, hingga aku berhasil selamat. "Kamu gak apa-apa, Dek?" tanya seorang lelaki yang tampak seusia dengan ayah tiriku. "Tolong, saya dikejar preman," ujarku dengan napas ngos-ngosan. "Naik ke motor," sahutnya. Aku mengangguk, lalu naik ke motornya. Setelah itu motor tersebut melaju jauh meninggalkan tempat tadi. Setelah lumayan jauh melaju dan dirasa yakin bahwa preman tadi tak lagi mengejar, ia menghentikan motornya di sebuah jalan yang lumayan ramai. "Sebenarnya kenapa kamu dikejar preman?" tanyanya. Aku langsung menceritakan semuanya, bahkan alasan mengapa aku bekerja di kota ini. "Kasihan sekali nasibmu, ayo kita ke rumah saya, besok saya akan mengantarmu pulang!" ajaknya. Aku mengangguk dan menyetujui sarannya karena ia tampak bukan orang jahat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD