Ayah Kandung

1238 Words
Lelaki itu membawaku ke sebuah g**g kecil, lalu setelah itu tibalah kami di sebuah rumah kecil yang sederhana. "Bapak bawa siapa?" tanya seorang wanita yang tampak seusia dengan ibuku. "Namanya Wilda, kasihan sekali nasibnya." Lelaki yang menolongku itu menceritakan apa yang terjadi padaku terhadap istrinya. Rumah mereka tampak sangat kecil, sementara kulihat mereka memiliki tiga orang anak yang usianya sekitar 13, 10 dan 7 tahun. "Ngapain dibawa kesini?" tanya wanita itu yang tampak kurang ramah. "Izinkan dia menginap malam ini di rumah kita, besok bapak akan antar dia pulang." "Terus tadi Bapak dapat uang gak dari Pak Sugih? Kan tadi Bapak niatnya mau nagih uang." "Ada," ujar lelaki itu sembari memberikan beberapa lembar uang. "Kok cuma segini?" "Bapak ambil sebagian untuk ongkos besok." Wanita itu langsung mendelik ke arahku. "Saya punya uang, kok, untuk ongkos." Aku menyahut karena wanita itu tampak terus menatap tajam ke arahku. "Oh, ya, Wilda, silahkan duduk," ujar lelaki berambut keriting itu ramah. Aku mengangguk lalu segera duduk, sementara kulihat tiga orang anak mereka terus mengintipku dari pintu kamar. "Kampung kamu dimana? Saya lupa nanya," tanya lelaki itu. "Dari Bandung, kecamatan *******." Lelaki itu tampak terhenyak saat aku mengatakan kecamatan tersebut, begitu pula dengan istrinya. Wajahnya langsung berkeringat. "Bu, jangan berdiri saja, bawakan bapak minum," ujarnya sembari mengelap keringat. Istrinya mengangguk lalu segera mengambil air minum, lalu tidak lama kemudian menaruh satu teko air putih dan dua buah gelas. "Saya boleh minum dulu?" tanyaku. "Silahkan." Aku langsung meraih segelas air minum lalu meneguknya, sementara wanita itu terus menatapku dari kepala hingga kaki. "Nama Ibu dan ayahmu?" tanya lelaki itu sembari menuang air putih ke gelas. "Ibu bernama Diah Pitaloka, kalau ayah kandungku aku tak tahu namanya, karena dia meninggalkanku saat aku berusia 2 tahun." Tiba-tiba kulihat sepasang suami istri itu sangat terhenyak, bahkan gelas yang dipegang lelaki itu sampai terjatuh dan pecah. "I..ibu kamu bernama Diah Pitaloka?" tanya lelaki itu dengan tubuh yang bergetar hebat dan keringat yang semakin bercucuran. "Iya, Bapak mengenal ibu saya?" tanyaku sambil meraih dompet lalu memberikan foto Ibu saat menggendongku yang masih bayi. Wanita itu mendekatiku lalu melirik foto yang kutunjukan, tiba-tiba ia terduduk di lantai dengan wajah terpukul, begitu pula suaminya yang tampak tertunduk lesu sambil berlinang air mata. "Kalian kenapa?" "Apa namamu Wilda Maharani?" tanya lelaki itu sembari berlinang air mata. "Dari mana Bapak tahu?" "Aku Bapakmu, Nak, aku adalah lelaki b******k yang meninggalkanmu saat masih kecil." Tangisnya pecah sambil memelukku dengan erat. Sementara aku hanya terdiam mematung, aku benar-benar bingung harus senang atau sedih. "Maafkan bapak, Nak." Lelaki itu berlutut di hadapanku. "Bapak bangun, mengapa selama ini Bapak tidak pernah mendatangiku? Apa Bapak mau melupakan aku sebagai anakmu." Dia hanya menangis tanpa menjawab pertanyaanku, lalu melirik ke arah istrinya. "Bapakmu hanya Tukang bangunan yang penghasilannya kadang ada kadang tidak, sementara kami memiliki tiga orang anak yang membutuhkan banyak biaya. Tak hanya itu, Bapakmu ini tukang kawin, selain saya, masih ada tiga anak dari istrinya yang lain. Meski dua selingkuhannya itu telah diceraikan, tapi anak-anaknya masih sering kesini untuk minta biaya." Lelaki yang mengaku sebagai bapakku itu hanya diam saat istrinya menceritakan tentang kejelekannya. Sementara aku benar-benar tak menyangka jika aku memiliki sosok ayah seperti itu. Sebenarnya apa salahku hingga aku terlahir dalam keluarga yang benar-benar membuatku miris. Aku benar-benar malu memiliki ayah seperti dia. "Cepat masak, anakku pasti lapar!" bentak Bapak sambil melirik ke arah istrinya. Wanita itu segera bergegas ke dapur, sementara Bapak memanggil ketiga anaknya untuk bersalaman denganku. "Wilda, kenalkan dia Hasan, Husain dan Maira." Ketiga anak itu langsung mencium punggung tanganku. Aku tak menyangka rupanya aku memiliki banyak adik dari pihak Bapak. "Apa ibumu sudah menikah lagi?" tanyanya. Aku mengangguk. "Mengapa kamu dibiarkan bekerja ke kota, seharusnya di usiamu yang sekarang kamu masih harus sekolah SMA?" "Ayah tiriku hanyalah seorang buruh tani, sementara aku memiliki dua orang adik. Dia malah berniat menikahkanku dengan seorang lelaki tua." "Tinggalah di rumah ini, bapak akan menyekolahkanmu." Braaaak! Terdengar suara benda yang dibanting dari arah dapur, kulihat Bapak segera berlari ke dapur untuk melihat apa yang terjadi. "Silahkan saja jika kamu mau menyuruh dia tinggal di rumah ini, tapi jika untuk menyekolahkan, harusnya kamu pikir dua kali, hidup kita ini pas-pasan!" Terdengar suara teriakan ibu tiri yang memprotes rencana Bapak. "Dia juga anak kandungku! Aku memiliki kewajiban untuk membiayai hidupnya." Seketika air mataku berjatuhan, hatiku benar-benar hancur saat mendengar semua itu, karena dimanapun aku berada, aku tak pernah diinginkan. Keberadaanku di dunia ini hanya menjadi beban untuk Ibu ataupun ayahku. "Kakak jangan nangis, Bapak dan Ibu memang selalu bertengkar, tapi Kakak jangan sedih, ya," ucap dua anak lelaki itu. Mereka tampak sangat manis, sangat berbeda dengan anak-anak Ibu yang manja dan kolokan. Aku mengangguk, lalu bergegas menuju dapur, menghampiri sepasang suami istri yang masih beradu mulut itu. "Kalian jangan khawatir, aku tidak ingin melanjutkan sekolah. Bantu saja aku mencari pekerjaan, agar tidak merepotkan kalian." Mendengar ucapanku, ibu tiri tak lagi bersuara, ia langsung diam lalu kembali melanjutkan memasak. "Wilda, sekarang kamu istirahat dulu sebelum makanan yang Ibu masak matang," ucap Bapak sembari mengajakku ke sebuah kamar yang begitu sempit lalu mempersilahkanku untuk istirahat. Beberapa waktu kemudian, aku kembali dipanggil untuk makan. "Silahkan, makan yang banyak," ujar Bapak sembari memberikan piring. Tampak nasi putih yang masih mengepul beserta tahu dan ayam goreng juga tumis kangkung. "Kenapa ayam gorengnya cuma ada lima potong, kan orangnya ada enam?" protes Bapak sambil menghitung jumlah ayam goreng tersebut. "Di warung Bu Tejo cuma sisa setengah kilo, ya kalau dipotong-potong cuma jadi lima potong, gak bisa jadi enam," sahutnya dengan wajah ketus. "Gak apa-apa, Wilda bisa makan sama tumis kangkung dan tahu goreng, ini juga sudah alhamdulilah," sahutku sambil melahap makanan yang tersedia. Sejak kecil, aku sudah terbiasa mengalah, aku terbiasa makan nasi dan tumis kangkung ketika adikku makan telur dadar atau ikan goreng. Jadi, jika hari ini aku hanya makan nasi dan tumis kangkung juga tahu goreng, semua itu sama sekali tak menyakitiku. "Ini buat Kakak saja, aku tidak suka ayam goreng," ujar Hasan sembari memberikan jatah ayam gorengnya hingga membuatku terkejut. "Punyaku juga, aku gak suka ayam goreng, aku sukanya tahu goreng," ujar Husen. Aku tersenyum melihat kebaikan mereka, karena mereka menghormatiku sebagai kakak. "Ayam ini terlalu banyak untukku, Husen makan, ya." "Gak apa-apa, Kak, ayo makan!" ujarnya sembari melahap tahu goreng. Kulihat Bapak hanya tersenyum, sementara ibu tiri hanya menekuk wajahnya tanpa berkomentar apapun. Untuk yang pertama kalinya kulihat seorang adik mengalah pada kakaknya, karena selama ini yang kutahu adalah seorang kakak selalu salah dan harus selalu mengalah. Saat malam tiba, aku sangat bingung mau tidur di mana, karena rumah ini hanya memiliki dua buah kamar. Satu kamar ditempati Bapak dan Ibu juga Maira, sementara satu kamar lagi ditempati Hasan dan Husen. "Wilda, kamu tidur di sofa saja, rumah ini hanya memiliki dua kamar," ujar ibu tiri. "Iya, Bu, gak apa-apa," sahutku. "Kakak Wilda tidur di kamar aja, biar kami tidur di sofa," ujar Hasan dan Husen serentak. "Terserah!" Ibu tiri menyahut lalu membanting pintu. Setelah itu kedua adik lelakiku itu mempersilahkanku masuk kamar, lalu mereka mengambil bantal dan selimut untuk tidur di sofa. Meski tidak dilahirkan dari rahim yang sama, tetapi mereka begitu menghormatiku sebagai kakaknya. "Dek, punya charger?" "Ada," ujar Hasan sembari memberikan chargernya. Aku langsung mengecas HP, lalu tidak berapa lama kemudian berdatangan pesan dari Farhan saat ponselku kembali hidup. "Wilda kamu dimana? Bagaimana keadaanmu sekarang?" Dari pesan yang ia kirim, tampaknya Farhan sangat cemas padaku. "Sekarang aku ada di rumah ayah kandungku, aku baik-baik saja." Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD