"Wilda, mengapa kamu bisa berada bersama ayahmu?" tanya Ibu saat menelpon menggunakan ponsel Farhan.
Aku langsung menceritakan semuanya termasuk perlakuan majikan yang hendak melecehkanku hingga akhirnya aku bertemu ayah kandung yang menolongku.
"Sini biar bapak bicara dengan ibumu." Bapak langsung merebut ponsel dari tanganku.
"Hei Diah! Apa kamu tidak punya hati sampai membiarkan anak seusia Wilda untuk bekerja menjadi pembantu?"
Aku benar-benar terhenyak saat mendengar ucapannya, bisa-bisanya dia menyalahkan Ibu, padahal dia sama sekali tidak berperan menjadi Bapak untukku. Dia sama sekali tidak bertanggung jawab atas hidupku, bahkan sekarang dia pun tidak bisa melakukan apapun ketika istrinya tidak menyukai keberadaanku.
Aku langsung merebut ponselku, karena ucapan Bapak pasti sangat menyakiti Ibu. Sejahat apapun Ibu, menurutku Bapak jauh lebih jahat karena telah menelantarkanku sejak kecil dan tak bisa menebus kesalahannya sampai sekarang. Selain itu ia tak pernah merasa bersalah dan malah melemparkan kesalahannya pada Ibu.
"Kenapa Bapak malah melemparkan kesalahan pada Ibu?"
"Bapak cuma kesel sama ibumu. Dia menolak poligami lalu menikah dengan lelaki yang tidak bertanggung jawab pada anak sambungnya."
"Bukankah kewajiban memberi nafkah pada seorang anak adalah kewajiban ayah kandungnya, bukan ayah tiri?" tanyaku.
"Kamu tahu gak si Rudi, anaknya Uwa Marlina. Sejak kecil dia ditanggung jawab oleh ayah tirinya bahkan sampai dikuliahkan."
"Jadi Bapak mau lari dari tanggung jawab? Apa yang terjadi pada Rudi, tidak bisa mengubah keadaan bahwa ayah kandung memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan anaknya, meski telah cerai dengan ibu si anak."
"Sudah cukup! Pagi-pagi gini berisik banget!" teriak ibu tiri sembari melempar panci hingga kami langsung terhenyak.
"Antar aku pulang, Pak." Aku memelas tanpa memperdulikan ibu tiri.
"Tinggalah disini untuk sementara waktu, doakan bapak dapat banyak rejeki biar bisa menyekolahkan kamu."
"Sudahlah cepat makan, jangan banyak mengkhayal, kerja bangunan punya anak lima, sok-sokan mau nyekolahin sampai SMA," ucap ibu tiri dengan wajah sinis.
Aku dan Bapak langsung makan nasi goreng yang ia buatkan untuk kami tanpa memperdulikan ucapannya. Beberapa waktu kemudian Bapak berangkat kerja bersama tiga adikku. Sementara aku di rumah bersama ibu tiri. Ia tampak terus menatapku dengan tatapan sinis, seolah berharap agar aku segera pulang.
Aku tak menghiraukan sikap masamnya, lalu segera mencuci piring bahkan mencuci semua pakaian adik-adikku. Selain itu aku juga membereskan rumah, sementara ibu tiri hanya menonton televisi dengan wajah masam.
Beberapa waktu kemudian semua pekerjaan telah selesai, tiba-tiba ibu tiri langsung menyuruhku untuk duduk bersamanya.
"Tolong jangan salah paham dengan sikap judes saya, karena sebenarnya saya tidak membencimu," ujarnya lembut sambil mengusap pundakku.
Aku mengernyitkan dahi melihat sikapnya yang langsung berubah setelah melihatku mengerjakan semua pekerjaannya.
"Sebenarnya saya tertekan dengan kehidupan ini," ujarnya dengan tatapan nanar.
"Kenapa? Ibu menyesal karena memiliki suami yang hanya bekerja sebagai tukang bangunan?"
Tiba-tiba aku teringat ucapan nenekku yang pernah bercerita bahwa Bapak dulu seorang kontraktor yang selalu banyak uang, tapi karena merasa banyak uang itulah ia gemar berselingkuh dan memiliki banyak istri. Mungkinkah kini ia bangkrut dan hanya menjadi seorang tukang bangunan gara-gara kelakuannya yang gemar berselingkuh?
"Bapakmu bukan hanya kere, tapi dia tukang kawin," ujarnya tiba-tiba hingga membuyarkan lamunanku.
"Tapi Bapak menikahi Ibu kan saat Bapak telah beristri dan memiliki anak yaitu aku."
"Iya, itulah kesalahan saya, tergoda karena dia tampan dan royal, hingga akhirnya saya menderita seperti sekarang."
"Yang menderita itu aku dan ibuku."
"Asal kamu tahu, waktu saya hamil Hasan, Bapakmu selingkuh bahkan diam-diam menikahi perempuan lain hingga hamil. Sekarang anak itu usianya hanya beda satu tahun dengan Hasan."
Entah harus iba atau senang, karena saat itu ibuku pasti sangat tersakiti saat Bapak berselingkuh dengan dia. Semua yang dia rasakan sangat setimpal dengan apa yang ia lakukan.
"Kamu pasti ingin tertawa dengan karma yang saya dapat, iya, kan? Asal kamu tahu, saya merebut suami orang hanya satu kali, tapi saya diselingkuhi sampai tiga kali, itu semua terjadi setiap kali saya hamil," ujarnya sambil menitikkan air mata.
"Ibu jangan sedih, setidaknya Ibu adalah pemenangnya, karena pada akhirnya Bapak menceraikan semua istrinya dan lebih memilih Ibu."
"Asal kamu tahu, semuanya seperti simalakama. Bertahan menyakitkan, berhenti terasa sulit."
"Lalu mau Ibu apa sekarang?"
"Saya harap kamu bisa mengerti dengan kesulitan kami dan tidak menambah beban bapakmu."
"Aku cukup mengerti, kok, Bu. Bahkan aku sudah ingin meninggalkan rumah ini."
"Bagaimana kalau saya carikan pekerjaan. Saya bisa mengerti bagaimana posisimu saat tinggal bersama ayah tirimu, hidupmu pasti tak akan aman jika kamu tidak membawa uang."
Aku menghela napas, ucapannya tidak salah, karena memang ayah tiriku adalah seorang yang materialistis dan perhitungan. Aku pasti akan menjadi bulan-bulanannya jika kembali menjadi beban hidupnya. Namun, aku masih trauma untuk bekerja menjadi pembantu rumah tangga, aku sangat takut bertemu dengan majikan yang seperti Carlos.
Beberapa waktu kemudian tiba-tiba ponselku berdering, aku langsung pamit untuk keluar rumah dan agar bisa lebih tenang mengobrol lewat telpon.
"Hallo Wilda, kamu sedang apa?" tanya Farhan.
"Farhan, apa kamu tidak sekolah? Bukankah jam segini harusnya kamu belajar?"
"Aku bolos sekolah. Aku tak bisa fokus belajar karena terus memikirkanmu."
"Hei, harusnya kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan, andai aku jadi kamu aku pasti akan giat belajar."
"Wilda, mulai besok aku akan kembali giat belajar. Tapi sebelum itu aku ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku."
"Farhan, sekolahlah yang benar, jangan lupa mengaji dan menjadi pribadi yang lebih baik, karena aku berharap kelak kamu menjadi imamku."
"Apa kamu bilang? Tolong bilang satu kali lagi!"
"Aku berharap kelak kamu menjadi imamku."
Tiba-tiba aku mendengar suaraku memantul, tampaknya Farhan menekan loud speaker.
"Horee! Yes! Yes!" Terdengar suara Farhan bersorak kegirangan hingga membuatku tersipu malu.
Karena merasa salah tingkah, aku langsung mematikan telpon.
"Wilda, kamu tunggu sebentar, saya mau keluar dulu," ucap ibu tiri saat aku tersenyum sendiri dengan wajah kemerahan saat memikirkan Farhan.
Aku mengangguk, lalu setelah itu ia langsung bergegas pergi. Sementara aku langsung masuk rumah lalu duduk di depan televisi.
Tidak berapa lama kemudian ponselku kembali berdering.
"Iya, Farhan, ada apa lagi?"
"Wilda, ini Ibu pinjam HP Farhan."
"Iya, Bu, ada apa?"
"Kamu sekarang masih berada di rumah ayahmu?" tanyanya.
"Iya, Bu, rencananya besok aku pulang."
"Lebih baik kamu cari pekerjaan saja disana, mumpung masih ada di Jakarta. Ibu butuh uang untuk biaya sekolah Asyla dan Anita."
Aku langsung terduduk lesu, bisa-bisanya yang ibu pikirkan hanya Asyla dan Anita, padahal aku nyaris dimangsa predator.
"I..iya, Bu, Wilda janji akan mencari uang untuk kalian."
Tak ada pilihan lain selain menuruti semua ucapan Ibu, sebagai anak aku memang memiliki kewajiban untuk berbakti pada orang yang telah melahirkanku itu.
Tidak berapa lama kemudian ibu tiri kembali.
"Wilda, ada lowongan pekerjaan jadi pembantu rumah tangga di Jakarta Selatan, kamu bersedia?"
"Sebenarnya aku masih trauma dan takut hal buruk terjadi padaku."
"Kamu tenang saja, majikan kamu Ustadz dan Ustadzah."
"Tapi apakah kita tidak menunggu Bapak terlebih dahulu?"
"Gak perlu," ujarnya sambil buru-buru mengajakku pergi.
Aku tak memiliki pilihan lain selain menurut, karena ibu kandungku pun hanya menginginkan aku untuk mencari uang untuk mereka.
Ibu tiri membawaku ke sebuah taman, lalu tampak seorang wanita berjilbab lebar duduk di salah satu bangku taman.
"Jadi kamu yang bernama Wilda?" tanyanya lembut.
"Iya, Bu."
"Bu Markonah, anak Ibu tampaknya masih belasan tahun, kenapa tidak sekolah?"
"Dia bukan anak saya, dia anak tetangga, kasihan dia yatim piatu," ujar ibu tiri sambil mencubit tanganku sebagai kode agar aku mengiyakan ucapannya.
Ibu tiri benar-benar tega mengatakan bahwa aku yatim piatu, padahal dialah yang menghancurkan kehidupanku.
"Usia saya 16 tahun, Bu, insya Allah saya akan bekerja dengan baik," ujarku.
Ia langsung tersenyum hangat dan mengelus pundakku.
"Bu Markonah, ini untuk jajan anak Ibu," ujarnya sambil memberikan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.
Setelah itu aku dipersilahkan masuk mobil.
Bersambung.