Mengapa Aku Harus Selalu Mengalah
Bab 8
Penulis : Widya Yasmin
"Wilda, perkenalkan saya Khadijah," ucapnya setelah kami didalam mobil.
Aku langsung mencium punggung tangannya, tampaknya ia orang baik, semoga saja aku bisa betah bekerja dengannya.
"Jadi kedua orangtuamu sudah meninggal?" Ia kembali bertanya.
"Sebenarnya kedua orang tua saya masih ada, lalu wanita tadi adalah ibu tiri saya."
"Astaghfirullah, maafkan saya, Wilda."
"Iya, Bu, gak apa-apa."
Setelah itu ia mengenakan seatbelt untukku lalu setelah itu ia melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, ia terus melirik ke arahku dengan tatapan nanar, tampaknya ia merasa iba padaku. Aku langsung menarik napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Kehidupanku memang terasa pahit sejak aku masih kecil, tapi aku harus kuat dan berharap bisa menemukan kehidupan yang indah saat aku dewasa kelak.
Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang lumayan besar. Aku langsung menganga saat melihat ukuran rumah tersebut, karena pasti aku akan kerepotan saat membersihkannya.
"Wilda, kamu tenang saja, kamu tidak bekerja sendirian di rumah ini," ujar Bu Khadijah tiba-tiba seolah ia bisa membaca pikiranku.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, lalu mengikutinya masuk. Tiba-tiba tampak seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuk kami.
"Bi Romlah, perkenalkan ini Wilda, mulai hari ini dia akan bekerja bersama Bi Romlah."
Wanita paruh baya itu tersenyum lalu mengajakku berjabat tangan.
"Ayo Wilda, saya tunjukkan kamar agar kamu bisa beristirahat sejenak," ujarnya ramah.
"Wilda, ngomong-ngomong kamu tidak membawa pakaian?"
"Sebenarnya semua pakaian saya tertinggal di rumah majikan saya yang lama, karena saya kabur dari rumah itu."
"Loh, kenapa kamu kabur?" tanya Bu Khadijah dan Bi Romlah yang tampak penasaran.
"Saya nyaris dilecehkan oleh majikan saya."
"Kasihan sekali kamu Wilda, kamu pasti ketakutan saat mengingatnya. Tapi kamu tenang saja, di rumah ini kamu aman," ujar Bu Khadijah sembari mengusap pubdakku dengan lembut.
"Soal pakaian, kamu bisa menggunakan pakaian bekas anak saya yang sudah meninggal, kebetulan usianya sama denganmu," ujarnya dengan tatapan nanar.
"Jadi anak Ibu seusia dengan saya?"
"Iya, saya punya anak kembar, lelaki dan perempuan. Namun, anak perempuan saya lebih dulu dipanggil oleh Allah."
"Maaf jika saya mengingatkan pada hal yang membuat Ibu sedih."
"Gak apa-apa Wilda, nanti kamu tidur di kamar almarhumah Rahma saja, ayo saya tunjukkan!"
Aku mengangguk lalu mengikutinya.
Rasanya sangat hangat setiap kali dekat dengan majikanku itu, perasaan ini tak pernah kudapatkan saat bersama ibu kandungku sendiri.
"Silahkan pakai pakaian mana saja yang kamu suka," ujarnya sambil membuka lemari, lalu setelah itu ia meninggalkanku sendiri.
Aku langsung mengambil salah satu pakaian, lalu bergegas menemui Bi Romlah.
"Mau makan dulu sebelum bekerja?" tanyanya.
"Boleh, Bi."
Setelah itu ia mengajakku ke dapur, lalu menyendokan nasi beserta opor ayam.
"Silahkan makan yang banyak, nanti kita bagi tugas saja, ya, kalau ada yang belum ngerti langsung tanyakan saja."
"Iya, Bi, jangan sungkan-sungkan untuk menyuruh saya mengerjakan apapun, saya pasti sangat membutuhkan bimbingan Bibi."
"Kamu manis sekali. Saya jadi teringat anak saya yang usianya sama denganmu," ujarnya sambil mencubit pipiku pelan.
Aku hanya tersenyum dan bersyukur karena semua orang di rumah ini sangat baik. Beberapa waktu kemudian setelah selesai makan, aku langsung mencuci beberapa piring kotor.
"Apa lagi yang harus aku kerjakan, Bi?" tanyaku setelah selesai makan dan mencuci piring.
"Angkat semua pakaian lalu setrika," ujarnya sambil menunjukkan keranjang di ruang setrika.
Aku langsung mengangguk lalu segera melaksanakan apa yang ia suruh. Tiba-tiba terdengar suara adzan dzuhur.
"Bi, aku boleh sholat dzuhur dulu, nanti setelah selesai sholat baru menyetrika?"
"Tentu saja boleh, silahkan shalat di kamar Almarhumah Non Rahma, disana ada mukena di dalam lemari.
Aku mengangguk lalu bergegas masuk kamar tersebut. Beberapa manit kemudian setelah selesai shalat, tiba-tiba terdengar suara derap langkah, lalu tampak seseorang membuka pintu kamar.
"Aaaaaaaaaak hantuuuuuuu!" Tampak seorang lelaki yang sepertinya seusia denganku, ia langsung berteriak histeris saat melihatku mengenakan mukena.
Aku mengernyitkan dahi lalu berjalan ke arahnya tanpa melepas mukena.
"Rahma, aku mohon jangan menampakkan diri padaku, aku takut," ujarnya dengan tubuh gemetaran.
"Hai, perkenalkan aku Wilda." Aku langsung melepaskan mukena.
Ia membuka matanya lalu menatapku lekat-lekat.
"Kamu siapa, kenapa kamu ada di kamar Rahma?"
"Aku Wilda, aku bekerja di rumah ini membantu Bi Romlah."
"Oh, aku Raffi." Ia mengulurkan tangannya.
Aku langsung menjabat tangannya, lalu ia tersenyum ramah padaku.
"Aku pamit dulu mau menyetrika."
"Oh, oke."
Aku langsung bergegas menuju ruang setrika sambil tersenyum mengingat kekonyolannya tadi. Saat mulai menyetrika, tiba-tiba anak lelaki tadi kembali menghampiriku.
"Sepertinya kita seusia, kok kamu sudah bekerja?"
"Sebenarnya aku ingin sekolah sepertimu, tapi keadaan yang memaksaku untuk mencari uang."
"Asal kamu tahu, sekolah itu membosankan," ujarnya sambil mencebik.
"Nanti boleh gak aku baca-baca buku pelajaranmu setelah aku menyelesaikan semua pekerjaanku?"
"Boleh, sekalian kerjakan PRku."
"Hahaha, boleh saja kalau aku bisa."
Kami langsung tertawa, aku tak menyangka dia akan sangat ramah dan mudah akrab denganku. Setelah itu ia menceritakan banyak hal tentang kehidupan di sekolah, sementara aku mendengarkannya sambil menyetrika. Obrolan kami terus mengalir begitu saja, banyak hal yang kami obrolkan, meski obrolan sederhana tetapi terasa sangat menyenangkan.
"Raffi, sudah shalat dzuhur?" tanya Bu Khadijah yang tiba-tiba muncul hingga membuat kami terhenyak.
"Eh, iya, Mom, aku lupa," ujarnya sambil bergegas pergi menuju kamarnya.
"Wilda, kamu sudah makan?"
"Sudah, Bu."
"Kalau shalat?"
"Sudah juga, Bu."
"Alhamdulillah, silahkan lanjutkan pekerjaanmu," ujarnya lalu bergegas pergi.
Aku hanya tersenyum dan lanjut menyetrika, rasanya menyenangkan bisa berada di lingkungan orang-orang baik.
Beberapa waktu kemudian aku telah selesai menyetrika. Lalu aku bergegas menuju kamar Bu Khadijah dan kamar Rafi.
"Wilda, nanti setelah menaruh pakaian-pakaian itu kamu istirahat aja," ujar Bi Romlah.
"Iya, Bi," sahutku lalu bergegas menuju kamar Bu Khadijah.
Aku langsung mengetuk pintu kamar yang ditunjukkan Bi Romlah, lalu terdengar suara majikanku mempersilahkanku untuk masuk. Aku langsung membuka pintu perlahan lalu masuk sambil membawa keranjang berisi pakaian yang telah disetrika. Tampak Bu Khadijah tengah fokus di depan layar komputer.
"Langsung taruh pakaian-pakaian itu di lemari, yang berwarna coklat muda itu lemari saya, kalau yang berwarna coklat tua punya Bapak."
"Baik, Bu."
Aku segera menata pakaian tersebut lalu pamit dan bergegas menuju kamar Rafi. Setibanya di depan sebuah kamar yang pintunya terdapat gambar Spiderman, aku langsung mengetuknya.
"Masuk aja." Terdengar suara dari dalam.
Aku langsung membuka pintu, lalu kulihat Raffi tengah fokus dengan buku-bukunya.
"Permisi, aku mau menaruh pakaian ini."
"Iya, cepetan, lalu segera kesini buat bantuin aku mengerjakan PR," sahutnya.
Aku mengangguk lalu bergegas menyelesaikan pekerjaanku, setelah itu menghampirinya.
"Aku diberi tugas membuat cerita legenda."
"Loh, cerita legenda kan banyak. Ada legenda Malin Kundang, Tangkuban perahu, Lutung Kasarung, Danau Toba dan banyak lagi."
"Bisa gak kamu tuliskan salah satu dari cerita tersebut, nanti aku akan salin."
"Boleh," sahutku sambil meraih buku yang ia berikan.
Aku langsung menuliskan cerita legenda Gunung Tangkuban Perahu, menurutku menulis adalah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi cerita tersebut adalah favoritku, jadi alur ceritanya sudah ada di kepala dari awal sampai akhir.
"Tulisan kamu rapi banget," ujarnya.
"Masa?" Aku terus menulis tanpa menoleh ke arahnya.
"Hahahhaha alur ceritanya kocak banget, masa ada Raja yang buang air kecil di dedaunan yang gugur, lalu air seninya diminum oleh seekor babi, setelah itu babi tersebut mengandung dan melahirkan seorang putri, hahahhahaha konyol."
Raffi tampak tertawa terpingkal-pingkal saat membaca cerita legenda yang kutuliskan.
"Namanya juga legenda, sudah pasti itu fiksi."
"Emang gak ada cerita legenda yang masuk akal gitu?"
"Banyak, tapi aku terlanjur menuliskan legenda yang terkenal di daerah Jawa Barat."
"Oh, oke deh, lanjutkan," ujarnya.
Beberapa waktu kemudian, aku telah selesai menuliskan cerita legenda yang berjudul Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu.
"Kamu hebat banget, Wilda, bisa hafal cerita sebanyak ini." Ia tampak kagum setelah aku menuliskan dua lembar penuh berisi tulisan legenda tersebut.
"Kalau begitu aku pamit."
"Wil, apa yang bisa aku berikan sebagai ungkapan terimakasih?" tanyanya.
"Aku mau meminjam buku-buku ini, boleh?"
"Silahkan ambil saja semua yang kamu mau, kalau perlu besok aku akan mengajakmu ke toko buku, biar kamu bisa membeli semua buku yang kamu sukai."
Aku hanya tertawa saat mendengar ucapannya, lalu meminjam beberapa buku pelajaran yang akan k****a sebelum aku tidur.
Bersambung.