Ibu Meminta Seluruh Gajiku

1469 Words
Tepat pukul lima sore, saat aku tengah menyapu dedaunan kering di halaman rumah, Bi Romlah pamit pulang, karena katanya rumah Bi Romlah tidak jauh dari sini, maka ia bisa pulang pergi setiap hari, lalu keesokannya akan datang kembali setiap pukul 06 pagi. Setelah selesai menyapu, tiba-tiba kulihat sebuah mobil masuk gerbang, kulihat satpam membukakan pintu untuknya. "Kamu pasti ART baru disini?" tanyanya. "Iya, Pak, saya Wilda." "Rajin amat jam segini masih nyapu." Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya. "Ayo segara selesaikan, lalu segera masuk," lanjutnya lalu bergegas masuk meninggalkanku. Aku segera menyelesaikan menyapu dedaunan kering, lalu bergegas masuk setelah selesai. Setelah itu aku langsung memanaskan lauk lalu mencuci piring. "Wilda, tolong panaskan lauk, lalu taruh di meja makan." "Sudah saya panaskan, Bu." "Pintar banget sih kamu, tolong bawa ke meja makan, ya." Aku mengangguk lalu segera melakukan apa yang diminta Bu Khadijah. "Silahkan, Bu," ucapku setelah menghidangkan nasi beserta lauk juga menaruh air putih dan buah-buahan. "Ayo makan bareng, Wilda!" ajak Bu Khadijah. "Saya sudah makan, Bu." "Oh, ya sudah kalau begitu." Setelah itu aku bergegas masuk ke dapur, karena tadi aku menaruh buku di meja dapur. "Si Wilda itu pintar, loh, Mam. Masa dia kayak seneng gitu baca-baca buku Kimia dan fisika punyaku." Terdengar suara Rafi yang membicarakanku. Setelah itu aku tak bisa lagi mendengar obrolan mereka, karena aku telah berada di dapur. Aku kembali melanjutkan membaca buku pelajaran milik Rafi. Rasanya menyenangkan bisa membaca dan mempelajari pelajaran anak SMA, andai saja aku bisa bersekolah seperti mereka pasti sangat menyenangkan. "Kamu membaca pelajaran kimia seperti membaca novel." Aku langsung terhenyak saat Bu Khadijah tiba-tiba muncul. "Su..sudah selesai makannya, Bu? Saya akan segera membereskan semuanya," ujarku sambil buru-buru menaruh buku kimia milik Rafi. "Iya, silahkan," ujarnya lembut. Aku langsung membereskan meja makan lalu segera mencuci piring. Tiba-tiba kulihat Bu Khadijah kembali mengikutiku ke dapur. "Kamu suka pelajaran kimia?" tanyanya tiba-tiba. "Sebenarnya saya paling suka pelajaran bahasa Indonesia, apalagi mengarang cerita." "Lalu ngapain kamu membaca pelajaran kimia dan fisika?" "Meski gak terlalu suka pelajaran tersebut, tapi saya tertarik untuk membaca dan mempelajarinya." "Kamu memiliki potensi untuk menjadi siswa yang berprestasi, kenapa gak melanjutkan sekolah?" Aku langsung terdiam saat mendengar pertanyaannya. Bisa melanjutkan sekolah adalah impianku, tetapi aku memiliki orangtua yang berbeda dari orang lain. "Orangtua saya tidak memiliki biaya." "Sepertinya kamu rajin dan berprestasi, kamu bisa mendapatkan beasiswa." "Tapi orangtua saya tidak mendukung." Tanpa terasa bulir bening berjatuhan hingga membasahi pipi saat aku mengatakan hal tersebut. "Sabar ya, Wilda, semoga Allah mengangkat derajatmu dengan cara yang Dia kehendaki." Aku tersenyum dan termotivasi saat mendengar ucapannya, baru kali ini aku merasakan perasaan tenang dan nyaman saat berbicara dengan seseorang. "Wilda, ayo masuk kamarku, kita belajar bareng!" ajak Rafi sambil menarik tanganku setelah aku selesai mencuci piring. "Sebentar lagi magrib, kita harus sholat berjamaah dulu." Bu Khadijah menyahut. "Rafi, Wilda itu bukan mahram kamu, jadi kalian gak boleh berada di kamar berduaan," ujar suami Bu Khadijah. "Apaan sih, Pah, kami cuma belajar gak ngapa-ngapain. Lagian Wilda mengingatkanku pada Rahma." "Tetap saja gak boleh, kalau mau belajar di ruang keluarga aja." "Oke, deh." "Ayo semuanya siap-siap ke mushola!" "Wilda mau sholat sendiri atau berjamaah bersama kami?" tanya Bu Khadijah. "Berjamaah saja," sahutku lalu setelah itu aku segera mengambil mukena dan shalat berjamaah di mushola yang terletak di dalam rumah. Ada rasa tenang saat berada dalam keluarga ini, selain baik, mereka juga sangat rajin beribadah, mereka membawa energi positif untukku. Setelah selesai shalat, kami berdzikir juga mengaji bersama. "Wilda, ayo kita ngaji bareng!" ujar Raffi yang tiba-tiba mendekatiku sembari memegangi pergelangan tanganku hingga aku langsung terhenyak karena otomatis itu membatalkan wudhu kami. "Raffi! Sekali lagi papa peringatkan Wilda itu bukan mahram, jadi jika melihat dia sedang mengaji jangan sembarangan menyentuh tangannya!" bentak Pak Zakaria. "Maaf, Pah, Rafi lupa. Raffi menganggap Wilda sama dengan Rahma." Meski awalnya kesal, tapi aku merasa lucu pada Raffi, ia tampak masih sangat polos meski seusia denganku. Setelah selesai mengaji Raffi mengajakku menemaninya belajar, kedua orangtuanya mengizinkan dengan syarat tidak boleh di kamar. "Sebenarnya kamu membawa dampak positif untuk Raffi," ujar Bu Khadijah sambil mengelus rambutku. "Sebenarnya Wilda membuat Raffi termotivasi untuk belajar," sahut Raffi hingga membuatku tersenyum. "Tapi mereka harus tetap diawasi, takutnya melakukan hal yang dilarang agama," ujar Pak Zakaria. "Tenang saja, mereka tampak masih polos," ujar Bu Khadijah, lalu meraih laptopnya dan duduk tidak jauh dari kami. Setelah selesai shalat isya, aku kembali mengecek dapur, siapa tahu masih ada piring yang kotor, lalu setelah semuanya bersih dan rapi, aku segera bergegas menuju kamar. "Wilda, kamu suka baca novel?" tanya Bu Khadijah sembari memberikan sebuah novel islami bergenre romantis. "Masya Allah, ini novel karya Ibu?" tanyaku setelah melihat namanya tercantum dalam cover novel. Ia mengangguk dan tersenyum. "Sebenarnya saya bercita-cita ingin jadi pengarang novel," ucapku. "Banyak baca novel dan pelajari tanda bacanya, insya Allah cita-citamu akan terwujud," ujarnya lalu membiarkan aku membaca novel karyanya. Entah mengapa setiap kali mendengar ucapan Bu Khadijah, perasaanku sangat tenang, andai saja dia adalah ibu kandungku, aku pasti merasa paling beruntung. Sejak saat itu, aku bekerja sambil belajar di rumah itu. Aku belajar pelajaran yang dipelajari Raffi di sekolah, juga belajar membuat novel pada Bu Khadijah. Aku juga bisa membagi waktu antara bekerja dan belajar, bahkan aku masih diizinkan untuk jalan-jalan ke mall atau ke taman bersama Raffi, sehingga kehidupanku terasa sangat menyenangkan. Rafi sangat baik kepadaku, ia memperlakukanku seperti sahabat sekaligus saudara. Ketika genap sebulan, tiba-tiba Ibu dari kampung menelpon dan memberitahukan bahwa ia telah membuat rekening, jadi aku bisa mengirimkan gajiku untuknya. "Kirimkan semua gajimu pada ibu, biar ibu yang menyimpannya," ujarnya di telpon. Aku hanya mengiyakan, padahal aku hanya mengirimkan 70% gajiku, lalu sisanya aku simpan untuk kebutuhan pribadiku. "Aku kagum, loh, sama kamu. Di usiamu yang masih belasan sudah bisa berbakti kepada kedua orangtuamu," ujarnya hingga membuatku tersenyum. Dikala aku sering merasa iri dan selalu bermimpi ingin memiliki kehidupan seperti dirinya, ia masih sempat menyanjungku hingga membuatku semakin bersemangat dalam menjalani hidup. Bulan terus berganti, setiap bulan aku menyetor 70% uang gajiku pada kedua orangtuaku, sementara aku semakin betah bekerja di rumah itu dan tak pernah meminta untuk pulang selain hari lebaran. Saat hari lebaran tiba, Raffi tampak bersedih dan tak mengizinkanku untuk pulang, karena ia telah menganggapku sebagai saudaranya. "Wilda juga punya keluarga, dia harus pulang untuk berkumpul bersama keluarganya," ujar Bu Khadijah. Mereka sangat baik kepadaku, bahkan aku diantarkan sampai rumah oleh sopir pribadi Pak Zakaria. Andai boleh memilih, aku lebih memilih berlebaran bersama majikanku dibandingkan keluargaku sendiri. Setibanya di rumah, mereka langsung menyambutku dengan baik, terlebih karena aku membawa oleh-oleh yang banyak untuk mereka. Sikap semua orang jadi berubah, semuanya jadi lemah lembut kepadaku, termasuk Asyla dan Anita yang tiba-tiba bersikap hormat kepadaku juga ayah tiri dan Ibu yang kini memperlakukanku dengan baik. Tak hanya mereka, kakek dan nenek langsung menyambut kedatanganku, sikap mereka sangat baik terlebih saat aku memberikan oleh-oleh yang sengaja dibelikan oleh Bu Khadijah dan Pak Zakaria. Sebenarnya aku sempat mengadu pada Bu Khadijah tentang rasa kecewa yang aku rasakan pada semua anggota keluargaku. Namun, ia berpesan agar aku melupakan semua rasa sakitku lalu membalas semua orang dengan kebaikan. Aku menuruti semua sarannya dan alhamdulilah pengaruhnya sungguh sangat besar. Perasaanku menjadi lebih tenang dan nyaman saat aku melupakan semua luka yang pernah mereka torehkan. Meski sebenarnya ada rasa khawatir, jika suatu saat nanti aku berhenti bekerja, lalu sikap mereka akan kembali seperti dulu. Namun, aku kembali teringat pesan Bu Khadijah untuk memasrahkan semuanya kepada Allah dan membersihkan diri dari buruk sangka. Setelah shalat Iedul Fitri dan sungkem pada keluarga, Farhan mengajakku jalan-jalan ke Bendungan yang merupakan tempat wisata paling dekat di desaku. Sebenarnya masih banyak tempat wisata lain, ada wisata air terjun yang terdapat bekas kaki Sangkuriang, ada gua Sanghyang Tikoro, ada danau purba yang indah konon tempat tersebut merupakan tempat mandi para Bidadari. Namun, karena semuanya terletak di dalam hutan, maka kami lebih memilih bendungan yang akses jalan untuk menuju kesana lebih mudah karena terletak di pinggir jalan raya. "Farhan, setelah satu tahun tidak bertemu, apakah kamu tidak memiliki hubungan dengan wanita lain?" tanyaku sambil duduk di sebuah taman yang jika menoleh ke bawah akan tampak pemandangan langsung ke bendungan yang digunakan untuk kepentingan PLTA. "Bukankah kamu bilang kalau kamu ingin agar aku menjadi imammu? Maka aku rajin belajar dan mengaji sambil menunggu waktu agar kita bisa hidup bersama." "Usia kita baru 17 tahun, kamu saja baru kelas 2 SMA, sudah berpikir sejauh itu," ujarku sambil tertawa. "Setelah lulus SMA aku akan membuka usaha, lalu setelah itu aku akan melamarmu," ujarnya sambil menggenggam erat tanganku. Sebenarnya sudah lama aku menyukai Farhan, hanya saja ada rasa khawatir jika keluarganya tidak merestui hubungan kami, karena keluarga Farhan merupakan orang terkaya di desa kami. Sawah dan ladangnya paling luas juga memiliki peternakan kambing yang banyak. Namun, daripada memikirkan semua itu, aku lebih memilih untuk menikmati kebersamaan kami dan memasrahkan kepada Allah perihal siapa jodohku nanti. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD