Setelah lebih dari dua tahun aku bekerja di rumah keluarga Bu Khadijah.
"Wilda, kamu mau gak ikut ujian persamaan biar kamu dapat ijazah SMA?" tanya Bu Khadijah.
"Mau banget, Bu." Aku sangat antusias mendengar penawaran tersebut.
"Saya akan mendaftarkan kamu, yang penting kamu giat belajar saja."
"Terima kasih banyak, Bu." Aku langsung menciumi tangannya.
"Kamu kan selama ini selalu giat mempelajari semua pelajaran sekolah Rafi dari kelas satu hingga sekarang kelas tiga. Sekarang kamu harus lebih giat lagi, kalau perlu minta antar Rafi ke toko buku untuk membeli buku-buku yang diperlukan."
"Siap, Mam, Rafi akan mengantar Wilda, bahkan mendukungnya secara penuh agar dia mendapatkan ijazah SMA."
Aku hanya tersenyum melihat ketulusan Ibu dan anak itu, keluarga ini memang dipenuhi dengan orang-orang baik.
"Tapi selesaikan dulu pekerjaan kamu, setelah selesai kamu baru boleh pergi," ujar Bu Khadijah.
"Siap, Bu."
"Ngapain kamu ikut-ikutan gaya bicara aku?" celetuk Rafi hingga membuat kami semua tertawa.
Aku langsung mengangkat jemuran lalu segera menyetrika, agar bisa segera ke toko buku. Saat sore tiba, aku telah selesai menyetrika lalu segera mandi dan berganti pakaian.
"Ayo!" ujar Rafi yang tengah memanaskan motor sport berwarna merahnya.
Tiba-tiba aku teringat Farhan yang juga memiliki motor sport yang sama persis dengan milik Rafi. Motor sport tersebut masih sangat jarang ada yang punya di desaku, setiap kali Farhan mengajakku jalan-jalan dengan motor tersebut jika aku pulang kampung, semua mata para gadis akan menatapku dengan tatapan iri.
"Hei! Kenapa melamun? Nih pake helmnya."
Lamunanku langsung buyar, lalu aku bergegas duduk di belakangnya.
"Pegangan biar gak jatuh."
"Ingat ucapan papamu, kita bukan muhrim."
"Ya elah, aku menganggapmu sebagai saudara," ujarnya sambil tancap gas secara tiba-tiba hingga membuatku memeluknya secara spontan.
Saat di perjalanan, tiba-tiba dua orang pengendara motor sport yang sama dengan milik Rafi menghadang perjalanan kami. Tiba-tiba salah satu dari mereka melepas helmnya dan menghampiri kami.
"Raf, kemana aja, lu, jarang nongkrong sama kita?" tanyanya yang tampak sangat akrab dengan Rafi.
"Sorry gue buru-buru."
"Siapa itu, Raf? Lo selingkuh ya dari si Chika?" Lelaki itu terus menghalangi kami.
"Dia sepupu gue."
"Boleh, dong, kenalan?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Beberapa teman lainnya mendatangi kami, lalu Rafi menyuruhku turun dan membuka helm.
"Hai, gue Erick."
"Gue Gerald."
"Gue Gio."
Mereka semua berebut untuk berkenalan denganku.
"Aku Wilda," sahutku sambil menjabat tangan mereka satu persatu.
"Manis amat pakai aku kamu."
"Dia dari Bandung, makanya ngomongnya aku kamu," ujar Rafi.
"Bukannya kalau orang Bandung itu ngomongnya urang maneh, ya?" tanya mereka.
Aku hanya tertawa mendengar ucapan mereka.
"Udah, ah, ayo Wil, buruan naik!"
"Nanti malam gue main ke rumah lu," ujar Gerald.
"Ngapain?"
"Ya mau main sama Wilda, lah."
"Wilda udah tunangan, lagian nanti sore dia akan balik ke Bandung," ucap Rafi sambil tancap gas.
Kulihat wajah mereka tampak masam saat mendengar jawaban Rafi.
Beberapa waktu kemudian kami tiba di toko buku.
"Kamu gak marah, kan, karena aku tadi berbohong pada teman-temanku?"
"Gak apa-apa, malah aku harus berterima kasih. Aku cukup sadar diri, karena aku berbeda level dengan mereka."
"Enggak bukan seperti itu. Aku hanya takut fokus belajarmu terganggu."
"Iya, Raf, aku ngerti, kok."
Setelah itu kami langsung memilih beberapa buku yang dibutuhkan, lalu setelah itu Rafi berniat membayar semuanya.
"Pakai uangku aja, Raf." Aku mengeluarkan dompet.
"Gak apa-apa, ini uang dari Mama untuk membeli semua buku ini," ujarnya sambil memberikan beberapa lembar uang setelah kasir menyebutkan harga buku-buku tersebut.
"Gimana kalau kita makan dulu?" tanyanya setelah kami keluar dari toko buku.
"Ibu gak akan marah?"
"Sebentar aja, mau makan dimana?"
"Gimana kalau makan bakso disana!" Aku menunjuk warung bakso pinggir jalan.
"Jangan, kita ke kafe aja," ujarnya sambil menyuruhku naik motornya, lalu ia segera tancap gas.
Setibanya di kafe, seorang waiter menghampiri kami dan memberikan menu.
"Mas, pesan spagheti bolognese carbonara dan manggo jelly milk," ucap Rafi.
"Oke, kalau Mbak?"
"Samain aja," sahutku.
Waiter itu mengangguk lalu segera menyiapkan pesanan kami.
"Ngapain ngikut-ngikut terus?"
"Aku belum pernah makan di kafe, makanya aku belum familiar dengan menu makanan yang disediakan."
Rafi hanya tertawa mendengar jawabanku, lalu tidak berapa lama kemudian pesanan kami datang.
"Oh, jadi lo selalu ngehindarin gue gara-gara cewek Kamseupay ini?" tanya beberapa gadis yang tiba-tiba menghampiri kami dengan wajah judes.
Rafi tampak terhenyak saat melihat kedatangan mereka.
"Kam.. kamseupay itu apa?" tanyaku sambil bangkit dari tempat duduk.
"Kampungan sekali, udik dan payah!"
Aku hanya terdiam mendengar penghinaan mereka, karena pada kenyataannya aku hanyalah orang kampung juga pembantu di rumah Rafi.
"Apaan sih, lo, Chik? Kita sudah putus," ujar Rafi yang tampak tak menyukai keberadaan Chika.
"Semua ini gara-gara lo!" bentak gadis itu sambil meraih minuman dan hendak menyiramkan padaku. Namun, dengan sigap aku langsung meraihnya lalu menyiramkan padanya.
"Hahahha good Wilda!" Rafi tampak tertawa karena aku bisa melawan gadis itu.
"Aaaaaaak!" Gadis itu langsung histeris dan membulatkan mata padaku, sementara teman-temannya langsung berusaha membersihkan bajunya yang terkena jus mangga.
"Jangan cemburu padaku, aku sepupu Rafi."
"Jadi lo bukan cewek Rafi?"
Aku menggeleng.
"Aku sepupunya."
Mendengar itu ia tampak sangat menyesal.
"Ayo Wil, kita pulang!" Rafi langsung menarik tanganku untuk segera pergi.
Sementara para gadis itu masih berdiri mematung menatap kepergian kami.
"Padahal tadi kamu gak perlu bilang kalau kita sepupu. Bilang aja kalau kita pacaran," ujar Rafi setelah kami keluar dari kafe.
"Ngapain? Kasihan tau cewek tadi, dia terlihat sangat mencintaimu."
"Dia gadis yang sangat menyebalkan. Dikit-dikit nanya udah makan apa belum, dikit-dikit nanya lagi sama siapa, bosan."
Aku langsung tertawa saat mendengarnya, tiba-tiba aku teringat ucapan Farhan yang mengatakan bahwa dirinya juga tidak menyukai gadis yang dikit-dikit SMS, dikit-dikit nelpon.
"Ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba.
"Sebenarnya ada seseorang yang sedang dekat denganku, tapi jika dikatakan pacaran aku juga gak tahu apakah kami pacaran atau tidak, karena kamu tahu sendiri setiap hari aku ada di rumahmu."
"Siapa?"
"Teman masa kecilku di kampung."
"Gantengan siapa aku dengan dia?"
"Kamu kenapa sih? Katanya menganggapku saudara, tapi kok ingin dibanding-bandingkan dengan seseorang yang sedang dekat denganku?"
Ia hanya tersenyum lalu mengusap-usap tengkuk lehernya, lalu setelah itu memakai helm dan menyalakan motornya.
Sejak itu aku semakin rajin belajar dan mengisi latihan soal ujian yang kubeli dari toko buku. Jika ada yang tidak kumengerti, aku langsung bertanya pada Bu Khadijah. Aku sangat senang karena mereka sangat mendukungku untuk belajar, selain itu pekerjaan rumah yang harus kukerjakan juga tidak bisa dengan cepat kuselesaikan, meski kini aku bekerja seorang diri tanpa bantuan Bi Romlah.
Aku menghilangkan semua hal-hal yang kurang penting dalam ingatan dan lebih fokus belajar, bahkan saat menyikat kamar mandi, menyapu dan mengepel bahkan menyetrika, aku terus memikirkan materi yang dipelajari.
Beberapa bulan kemudian hari dimana aku melakukan ujian persamaan telah tiba. Alhamdulillah, berkat kemudahan dari Allah juga karena aku rajin belajar, aku bisa mengerjakan semua soal tanpa kesulitan.
Semua jerih payahku akhirnya berbuah manis, karena aku bisa lulus dengan hasil yang memuaskan. Aku benar-benar tak menyangka akhirnya aku memiliki ijazah SMA.
"Wilda, sekarang kamu sudah memiliki ijazah SMA, kamu boleh melamar ke PT atau menjadi office girl di sebuah perusahaan jika kamu mau," ujar Bu Khadijah.
Aku sangat terharu karena ada orang sebaik dan setulus dia. Menjadi karyawan pabrik adalah keinginanku.
"Jujur saja saya sudah merasa nyaman dengan pekerjaan di rumah ini, apalagi bisa tinggal bersama Bu Khadijah, Pak Zakaria juga Rafi, adalah sebuah keberuntungan karena saya merasa menemukan keluarga baru."
"Jadi, kamu masih mau bertahan di rumah ini?"
Aku mengangguk.
Bu Khadijah langsung memelukku dengan erat dan sangat berterimakasih. Ia bilang bahwa dirinya telah merasa cocok padaku dan memuji kinerjaku.
Beberapa bulan setelah itu, Rafi telah menjadi seorang mahasiswa. Rasa iri kembali menghampiri, ada rasa ingin untuk bisa kuliah sepertinya. Namun, aku harus mengubur dalam-dalam keinginanku, karena setiap bulan gajiku selalu diminta Ibu untuk menyekolahkan Asyla juga Anita.
Sebenarnya ada luka yang menganga di hati ini saat Asyla bisa masuk SMA berkat hasil kerja kerasku. Ibu begitu mendukungnya untuk masuk SMA. Padahal dulu, aku bisa bersekolah secara gratis dengan menggunakan beasiswa, hanya saja Ibu sama sekali tidak mendukungku.
Suatu hari Bu Khadijah, Pak Zakaria juga Rafi hendak berangkat umrah, jadi aku dibolehkan untuk pulang kampung. Aku sangat senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Farhan. Entah mengapa semakin lama aku semakin memikirkannya, meski hanya bisa bertemu setahun dua kali saat hari lebaran.
Setibanya di kampung, aku sangat terkejut karena melihat Farhan membonceng Asyla yang baru pulang sekolah.
"Hai Wil, kapan pulang?" tanyanya.
"Baru saja tiba."
"Kamu gak cemburu kan jika aku mengantar pulang Asyla, kebetulan SMA asyla dekat dengan kampusku, selain itu aku hanya menganggapnya adik," ucap Farhan.
"Iya, malah aku berterimakasih karena kamu sudah menjaga adikku."
Mendengar ucapan Farhan, tiba-tiba wajah Asyla berubah menjadi masam.
"Kenapa Teh Wilda harus cemburu? Memangnya kalian sudah resmi pacaran?" tanyanya tiba-tiba dengan wajah ditekuk.
"Iya, meski LDR, tapi kami saling mencintai," ujar Farhan.
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Farhan, karena sepertinya aku baru menyadari bahwa aku juga sangat mencintainya.
Setelah itu Farhan pamit, sementara wajah Asyla tampak semakin masam.
"Pokoknya Teteh harus memutuskan hubungan dengan Farhan!" bentaknya sambil bertolak pinggang.
"Memangnya kenapa?"
"Aku sangat mencintai A Farhan, pokoknya Teteh harus ngalah!"
Bersambung.