"Kamu bukanlah seorang putri yang harus selalu kuturuti keinginannya, dan aku bukanlah seorang pelayan yang harus menuruti semua keinginanmu."
Akhirnya kukeluarkan semua unek-unek yang selama ini meronta-ronta dalam d**a.
"Aaaaaaaaaak!" Asyla langsung berteriak histeris dan menangis meraung-raung.
"Ada apa ini?" tanya ayah tiri juga Ibu yang baru pulang dari sawah.
"Ayah, Ibu, aku mencintai A Farhan tapi Teh Wilda malah merebut A Farhan dariku."
Seperti biasa Asyla akan playing victim.
"Kalian juga tahu jika aku sudah lama dekat dengan Farhan, kalian pasti akan memaksaku untuk mengalah, kan?"
"Ikhlaskan saja Farhan untuk Asyla, sebagai kakak kamu harus mengalah," ucap ayah tiri lembut, kini ia tak lagi berani berkata kasar padaku setelah aku mengirim uang rutin setiap bulan untuk mereka.
"Wilda sayang, mengalah, ya," bujuk Ibu sambil mengusap rambutku.
Meski sekarang mereka menjadi lemah lembut, itu semua hanya akting belaka. Semua tak bisa mengubah keadaan bahwa mereka memang tak peduli padaku.
"Oke, aku akan memutuskan hubungan dengan Farhan. Tapi aku tak mau lagi bekerja ke Jakarta. Biarkan saja sekolah Asyla putus di tengah jalan."
Akhirnya aku memiliki kekuatan untuk mengancam mereka yang selalu menekanku.
"Ya sudah, kamu lanjutkan saja hubunganmu dengan Farhan, tapi jangan berhenti bekerja, ya," bujuk ayah tiri yang kini mulai lembek.
"Asyla, kamu ngalah, ya, kamu kan baru kelas 1 SMA, jangan dulu pacaran."
Untuk yang pertama kalinya aku mendengar Ibu meminta Asyla untuk mengalah.
Orang-orang mata duitan seperti mereka memang hanya bisa digertak dengan uang. Tentu saja mereka akan merasa rugi jika aku berhenti bekerja.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan A Farhan, aku lebih baik mati!" ancam Asyla.
"Lihatlah hasil didikan kalian. Karena dia selalu diikuti keinginannya, makanya ia tumbuh menjadi pribadi yang egois dan selalu ingin dituruti keinginannya."
Ibu dan ayah tiri hanya bisa terdiam dan tertunduk tanpa berani menjawab ucapanku.
"Asyla, kamu mau mati? Silahkan, aku juga muak memiliki adik sepertimu, egois, manja dan tak memiliki rasa hormat pada kakakmu."
Setelah sekian lama harus selalu mengalah, akhirnya aku menjadi hilang simpatik dan rasa sayang pada adikku itu.
Tangis Asyla tiba-tiba pecah, lalu ia berlari menuju dapur.
"Lebih baik aku mati!" teriaknya sembari mengarahkan pisau ke pergelangan tangannya.
Kami semua langsung terhenyak saat melihat itu, hingga tiba-tiba Ibu dan ayah tiri berlutut di kaki ini seraya memohon agar aku mengalah. Entah sampai kapan aku harus mengalah pada Asyla, apakah aku tidak berhak untuk bahagia hingga harus terus-menerus berkorban.
Kulihat Asyla tanpa ragu menggoreskan pisau di pergelangan tangannya hingga tampak tetesan darah yang membuatnya meringis.
"Hentikan Asyla! Sekarang juga teteh akan memutuskan hubungan dengan Farhan, bahkan jika dia tidak mau teteh akan tetap menjauhinya."
Asyla menghentikan aksinya lalu jatuh pingsan, sementara ibu dan ayah tiri langsung mengobati lukanya lalu bergegas membawanya ke puskesmas.
Aku langsung terduduk lesu menyaksikan semua itu. Aku benar-benar tak menyangka ia akan berbuat senekat itu. Setelah Ayah dan Ibu pergi ke Puskesmas, aku segera bergegas menelpon Farhan dan janjian untuk bertemu dengannya. Kami janjian bertemu di sebuah jembatan pembatas kampung, lalu tidak lama kemudian kulihat Farhan datang dengan wajah berseri-seri.
"Kenapa mengajak bertemu disini? Bagaimana kalau sambil makan bakso atau batagor?"
"Disini saja, Farhan. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."
"Apa? Jangan bilang kalau kamu memintaku untuk melamarmu sekarang, soalnya aku ingin kuliah dulu."
"Farhan, kita putus saja, ya."
"Kamu bercanda, kan?" Ia tampak tersenyum tapi dengan raut cemas.
Aku langsung menggenggam tangannya.
"Farhan, Asyla sangat mencintaimu. Dia sampai mengancam akan bunuh diri jika kita tetap berhubungan."
Tiba-tiba Farhan menatapku dengan tatapan kecewa lalu menghempaskan tanganku dengan kasar.
"Kamu ingin agar aku menjalin hubungan dengan Asyla?"
Aku mengangguk dengan tatapan nanar.
"Naiklah aku akan melakukannya, bahkan aku akan langsung menikahinya," ujarnya dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
Aku hanya bisa meneteskan air mata saat mendengar ucapannya, lalu setelah itu ia langsung pergi meninggalkanku.
Menjelang sore, Asyla pulang dari puskesmas. Untunglah tak terjadi apa-apa padanya, karena ia baru menggores sedikit kulit tangannya hingga berdarah, belum sampai nadinya.
"Kami harap kamu tidak melakukan apa yang akan membuat Asyla celaka," ujar Ibu.
Aku hanya tersenyum getir, apakah jika dulu aku mengancam untuk bunuh diri, Ibu akan menuruti semua keinginanku? Sepertinya tidak, kemungkinan Ibu akan membiarkanku mati daripada harus menuruti kemauanku.
Keesokan harinya tiba-tiba kulihat Farhan datang bersama kedua orangtuanya.
"Maksud kedatangan kami adalah untuk melamar Asyla untuk Farhan," ucap Bu Hajjah Rukayah hingga membuat kami semua terhenyak.
"Tapi Asyla masih sekolah, dia baru kelas 1 SMA."
"Kalau begitu bagaimana dengan Wilda, bukankah dia telah cukup umur untuk menikah, selain itu dia adalah anak sulung," ucap Farhan hingga membuatku terhenyak.
Tiba-tiba aku mengerti bahwa lamaran ini memang ditujukan untukku, Farhan hanya mencari cara agar kedua orangtuaku merestui hubungan kami. Tiba-tiba kulihat raut wajah Asyla berubah, ia tampak geram dengan ucapan Farhan lalu menatapku dengan tatapan kebencian. Selain itu tiba-tiba kulihat Asyla mencengkram erat tangan Ibu, seolah memberi isyarat agar Ibu mencegah Farhan untuk menolakku.
"Wilda tak bisa menerima lamaran ini, karena ia telah memiliki pilihan lain. Wilda telah memiliki kekasih di kota," ucap Ibu hingga membuatku terkejut.
Bisa-bisanya Ibu mengarang cerita bohong untuk memisahkanku dengan Farhan.
"Jadi kalian menolak lamaran kami?" tanya Pak Haji Musthofa.
"Saya mau menikah dengan A Farhan. Saya rela putus sekolah, bukankah seorang istri memang tak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena tugasnya hanya di dapur, di kasur dan di sumur."
Aku hanya mengelus d**a saat mendengar jawaban Asyla, bisa-bisanya ia menyia-nyiakan kesempatan untuk sekolah padahal aku telah banyak berkorban untuknya.
"Bagaimana Farhan?" tanya Pak Haji Musthofa.
Farhan tampak kecewa sambil menatap tajam ke arahku.
"Kamu bersedia menikah denganku bulan ini?" tanya Farhan pada Asyla.
"Bersedia, bahkan hari ini pun aku bersedia." Asyla tampak sangat antusias, sepertinya dia benar-benar sangat ingin menikah dengan Farhan.
"Baiklah, Pak, Bu, tolong atur pernikahan kami secepatnya," ujar Farhan lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kami dengan wajah dipenuhi amarah.
Satu bulan setelah hari itu, pernikahan Farhan dan Asyla berlangsung. Aku masih belum bisa percaya bahwa Asyla memilih untuk putus sekolah lalu akhirnya menikah dengan lelaki yang sangat aku cintai.
Air mataku tak berhenti mengalir saat menyaksikan ijab kabul berlangsung, meski aku berusaha untuk membendungnya, tapi semua ini terasa sulit.
"Kasihan si Wilda sampai dilangkahin segala, katanya kalau anak sulung perempuan yang dilangkahi nikah akan bernasib s**l, susah jodoh bahkan akan terganggu jiwanya," ucap seorang tetangga tanpa memperdulikan perasaanku yang tengah terluka.
Seharusnya disaat seperti ini orang-orang berusaha menguatkan hatiku bukan malah semakin menjatuhkan mentalku.
Bersambung.