Raffi Menyatakan Cinta

1296 Words
Setelah acara pernikahan selesai, Farhan dan Asyla langsung masuk kamar. Aku berharap mereka segera meninggalkan rumah ini, agar luka dihatiku tak semakin menganga. Nyatanya Farhan tak juga membawa Asyla pergi, ia malah tampak sengaja membuatku cemburu. Apalagi Ibu dan Ayah tiri memperlakukan Farhan layaknya seorang Raja. Mereka menghidangkan semua makanan yang disukai Farhan dan berkata sangat sopan seperti seorang bawahan pada majikannya. Saat malam tiba, terdengar suara tawa Asyla dari kamarnya. Malam ini adalah malam pertama mereka, membayangkannya pun membuat air mataku berjatuhan. Malam semakin larut, suasana tiba-tiba hening, tampaknya semua orang telah terlelap. Tiba-tiba terdengar suara jeritan Asyla dari kamarnya hingga membuatku terkejut, lalu tidak lama kemudian jeritan tersebut berubah menjadi suara rintihan. Saat aku mulai khawatir dengan apa yang terjadi pada adikku itu, tiba-tiba terdengar suara tawa Asyla yang membuatku menghentikan langkah. Tiba-tiba aku mulai mengerti apa yang sedang terjadi di kamar itu. Bisa-bisanya Farhan langsung melakukan malam pertama bersama adikku di rumah ini, tanpa memperdulikan perasaanku. Keesokan paginya kulihat wajah Asyla pucat pasi, bahkan cara berjalannya pun terlihat berbeda. Ia berjalan sambil sesekali meringis, tetapi tiba-tiba ia tersenyum saat melihat Farhan. "Asyla sayang, kamu istirahat saja, kamu pasti kelelahan semalam," ujar Farhan sambil melirik ke arahku. "Iya, Sayang, kamu istirahat saja, gak usah banyak bergerak dulu," ujar Ibu. Kulihat Asyla tampak mengangguk lalu bergegas menuju kamar. Aku benar-benar tak tahan lagi, lalu bergegas membereskan pakaian dan berniat segera kembali ke Jakarta. "Mau kemana, Teh?" tanya Ibu saat melihatku membawa koper. "Aku harus segera ke Jakarta." "Biar aku antar ke terminal," ujar Farhan. "Gak perlu!" "Gak apa-apa, biar Farhan saja yang antar. Sekarang sudah jarang tukang ojek di kampung kita, karena orang-orang yang biasa ngojek pergi merantau ke luar pulau untuk bekerja proyek." Akhirnya aku mengalah, lalu naik ke motor Farhan. Sepanjang perjalanan kami hanya diam dan tak saling bicara. "Kenapa buru-buru pergi? Padahal rencananya aku masih mau mengadakan syukuran pernikahan sampai tiga hari tiga malam, sebagai kakak sulung harusnya kamu hadir di acara bahagia kami." Seketika air mataku berjatuhan saat mendengar ucapan Farhan, aku tak mampu lagi menanggapinya selain diam dan menahan perih. "Kamu nangis?" tanyanya saat mendengar suara isakanku. Aku tak menjawab, sebenarnya aku ingin berhenti menangis, tapi perasaanku terlalu sakit untuk kutahan. Tiba-tiba Farhan melajukan motornya ke bendungan, padahal seharusnya dia mengambil arah yang berlawanan dengan bendungan. "Kamu mau bawa aku kemana?" "Kita harus bicara." "Gak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Farhan tak memperdulikan ucapanku, ia malah terus membawaku ke bendungan. Setibanya di sebuah taman yang biasa kami datangi, Farhan menghentikan motornya. "Jangan nangis, senyum dong, bukankah ini yang kamu inginkan?" tanyanya dengan bibir yang tersenyum tapi kulihat matanya berkaca-kaca. "Tolong segera antarkan aku ke terminal." "Kenapa? Kamu sudah tak mau lagi melihatku?" "Farhan, aku benar-benar menyesal telah mencintaimu. Andai saja aku tak pernah memiliki perasaan ini, mungkin aku tidak akan terluka seperti ini." "Disini bukan hanya kamu yang menjadi korban, akulah korban utamanya, karena aku harus menikah dengan gadis yang tidak aku cintai." "Tidak cinta katamu? Tapi malam pertama saja kamu langsung membuat Asyla bangun tidur dengan pucat pasi." "Aku hanya melakukan apa yang kamu inginkan." "Sudahlah, Farhan, aku tak mau lagi berdebat denganmu." "Izinkan aku memelukmu sebagai perpisahan," ujarnya sambil memelukku dengan erat. Aku langsung melepaskan diri lalu menamparnya dengan keras. "Hentikan semua ini Farhan, sekarang kamu sudah menjadi suami adikku. Aku mohon lupakan aku." Ia hanya terdiam sambil menatapku dengan tatapan nanar. Mungkin bukan hanya aku yang terluka, mungkin saja benar apa yang ia ucapkan, bahwa dia juga terluka dengan semua ini. Namun, mengapa dia harus menikahi Asyla? Aku hanya memintanya untuk memutuskan hubungan tanpa menyuruhnya menikahi adikku. Dia bisa saja memperjuangkanku dan menunggu suatu waktu ketika Asyla menerima semuanya. Ah, sudahlah, semuanya sudah terlanjur terjadi. "Ayo naik, aku akan mengantarmu ke terminal," ujarnya tiba-tiba. Aku terpaksa mengikuti ucapannya, lalu duduk di belakangnya. Setelah itu ia tak lagi mengucapkan apapun, bahkan setibanya di terminal, ia tak lagi mengajakku untuk bicara. Setelah mengantarku masuk ke dalam bis, ia langsung bergegas pergi meninggalkalku. Air mata ini kembali berjatuhan. Takdir yang kuterima begitu berat, sementara aku harus menanggung semua ini seorang diri. Beberapa jam kemudian, aku telah tiba di Jakarta. Aku langsung naik taksi, lalu meminta sopir untuk mengantarku ke alamat rumah Bu Khadijah. "Loh, Wilda, kok sudah kembali? Bukankah kamu masih sibuk dengan pernikahan adikmu?" tanya Bu Khadijah. "Semuanya sudah selesai, kok, Bu." "Ayo silahkan masuk, saya punya oleh-oleh buat kamu dari tanah suci." Aku mengangguk lalu segera masuk. Setidaknya di rumah ini perasaanku lebih tenang karena berada dalam lingkungan orang-orang baik. "Wajah kamu pucat sekali, kamu istirahat saja dulu, besok pagi mulai kerja," ucap Bu Khadijah. Aku mengangguk, lalu segera masuk kamar. Air mataku kembali berjatuhan saat mengingat pernikahan lelaki yang kucintai bersama adikku. Meski aku sudah berusaha melupakan, tapi aku masih saja mengingatnya. "Hai Wilda, aku kangen banget sama kamu," ujar Raffi sambil membuka pintu kamar. Aku langsung mengusap air mata, lalu berusaha tersenyum padanya. "Kamu nangis, kenapa?" tanyanya lalu duduk di sebelahku. "Raff, lelaki yang aku cintai menikah dengan adikku sendiri." Air mataku kembali mengalir saat mengatakannya. "Oh, jadi kemarin itu adik kamu menikah dengan cowokmu?" Aku mengangguk. Raffi langsung mengusap air mataku dengan tangannya lalu menyandarkan kepalaku di bahunya. "Sudah, jangan sedih lagi, di dunia ini masih banyak cowok yang jauh lebih ganteng, baik dan lebih segalanya dibanding dia," ucapnya sambil mengusap rambutku. "Memang, tapi tidak ada yang menyukaiku." "Apa kamu tidak menyadari bahwa pemuda tampan, baik dan cerdas ini menyukaimu?" Seketika aku langsung tergelak mendengar ucapannya. "Kamu lucu sekali, kamu paling bisa membuatku tertawa." "Tapi aku serius." Tiba-tiba ia menggenggam tanganku sembari menatap kedua bola mataku. "Iya, aku tahu, kamu memang tampan, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung." Aku tertawa menggodanya, karena kata-kata tersebut sering ia katakan sebagai candaan. "Wilda, aku serius. Aku suka dan cinta sama kamu." Seketika aku langsung terhenyak mendengar ucapannya, terlebih raut wajahnya begitu meyakinkan. "It's praaaaaaank!" ucapku sambil tertawa, tetapi kulihat mimik wajahnya tak juga berubah, masih tetap datar sembari menatapku dengan tajam. "Wilda, aku serius." "Maksud kamu?" "Iya, aku sudah menyukaimu sejak kamu datang ke rumah ini." "Tapi bukankah selama ini kamu sering bilang jika kamu menganggapku sebagai saudara?" "Itu aku lakukan agar kita semakin dekat dan tak ada rasa canggung diantara kita." Seketika aku langsung terdiam, aku sangat bingung untuk menanggapinya. "Aku...." "Kamu gak perlu jawab sekarang, yang aku mau cuma kamu harus tahu bahwa kamu itu penting buat aku. Jadi, kamu tak perlu bersedih dan memikirkan seseorang yang telah meninggalkanmu." "Raffi!" Seketika kami langsung terhenyak saat melihat Pak Zakaria yang masuk kamar secara tiba-tiba. "Sudah berapa kali papa bilang, kalian bukan muhrim, jangan berduaan di dalam kamar seperti ini!" "Maaf, Pah, tapi demi Allah Rafi dan Wilda tidak melakukan apapun. Kami Hanya mengobrol saja." "Papa hanya ingin memberi tahu besok kita akan datang ke rumah Ustadz Fahad. Kamu akan melakukan ta'aruf dengan putri semata wayangnya." Degh! Aku langsung terhenyak saat mendengar ucapan Pak Zakaria. "Maksud Papa apa? Raffi ini terlalu muda untuk dijodohkan!" "Kalian hanya akan dikenalkan terlebih dahulu, nanti setelah kamu wisuda, baru kalian akan menikah." Raffi langsung bergegas pergi meninggalkan kami dengan wajah emosi. "Wilda." "Iya, Pak." "Tadi saya sempat mendengar ucapan Rafi padamu. Saya harap kamu melupakan semuanya. Selain itu saya harap kamu fokus bekerja dan menjaga jarak dengan Raffi." "Saya mengerti dan cukup sadar diri, kok, Pak." "Tidak, bukan seperti itu maksud saya. Jujur saja saya dan istri saya sangat menyukaimu dan telah menganggapmu keluarga. Hanya saja kami telah lama memiliki kesepakatan dengan sahabat saya untuk menjodohkan anak kami." "Pak Zakaria tak perlu khawatir, saya berjanji akan menjaga jarak dengan Raffi." "Terimakasih jika kamu bisa mengerti." Saat malam semakin larut, disaat semua orang tengah terlelap. Aku langsung memasukkan pakaian ke dalam koper, lalu diam-diam meninggalkan rumah. Aku harus meninggalkan Raffi, aku tak mau membuatnya bingung antara memilihku atau perjodohan orangtuanya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD