Pantang bagiku untuk mengemis pada Embun hanya demi dibuatkan kopi dan makanan. Tapi, kewajiban sebagai suami yang membuatku harus menegur Embun dan sudah kewajiban Embun untuk mematuhi perintahku, suaminya.
"Bun, bangun!" ujarku pada Embun yang masih setia dengan posisinya berbaring di atas ranjang. Bahkan sekarang Embun sudah memejamkan matanya.
Kesal dengan sikap Embun, ku tarik selimut yang semula menutupi setengah tubuhnya itu. Selimut tersebut melorot ke lantai, lalu Embun mulai melihat ke arahku dengan tatapan tajam. Apa-apaan si Embun? Dia menantangku?
"Bun, apa kamu tidak menghormati suamimu lagi?" ucapku yang masih berusaha menahan amarahku. Jangan sampai aku marah di sini, saat anak-anakku sedang tidur.
Embun beranjak duduk dan bisa kulihat wajahnya tampak kesal.
"Aku akan menghormati Mas, kalau Mas juga menghargai aku sebagai seorang istri. Tapi ... saat ini rasa hormatku sudah berkurang pada Mas."
Mendengar perkataan Embun yang tajam padaku, membuatku bingung. Tak paham dengan apa yang dibicarakan Embun. "Kenapa Bun? Apa ini masalah uang gaji yang ku berikan pada ibu dan Vina? Cuma karena itu?" tanyaku pada Embun, aku menebak kalau istriku marah gara-gara uang gaji yang ku serahkan pada ibu dan adik perempuanku.
Masalah yang menurutku sangat sepele!
"Ya, karena itu Mas." Kulihat Embun menganggukkan kepalanya.
Aku tertawa sumbang mendengar jawaban Embun. Rupanya dugaanku tidak salah, karena ini Embun marah. "Memangnya kenapa kalau aku kasih semua uangnya sama ibu? Dia lebih bisa mengatur keuangan dari pada kamu, Bun. Harusnya kita bersyukur karena ibu tinggal di sini dan berterimakasih pada ibu. Karena ibu pandai mengelola keuangan dan rumah ini," ucapku menjelaskan pada Embun, agar istriku ini mengerti kalau ibuku pandai mengelola keuangan dan rumah ini. Tak sepantasnya, Embun protes tentang keputusan yang kuambil.
"Pandai mengelola keuangan dan rumah ini?"
Perkataan Embun terdengar sinis, bahkan bisa kulihat senyuman Embun yang getir. Aku bertanya-tanya, kenapa dia seperti ini? Aneh! Dia seperti tidak suka aku memberikan uang gaji pada ibuku, padahal ini demi kebaikan bersama.
"Kamu nggak suka, aku kasih uang gaji sama ibu? Maunya dipegang sama kamu semua, gitu?" cecarku pada Embun yang seketika membuatnya tercekat dan menatapku semakin tajam.
Embun tersenyum tipis. "Enggak Mas, silahkan saja uang gajimu dipegang ibu dan Vina semuanya."
"Bun, aku nggak paham apa yang buat kamu begini. Kamu buat aku bingung! Mau kamu apa sih?" tanyaku yang mulai kesal, karena Embun berbicara terlalu berbelit. Inginku, Embun langsung bicara to the poin, tapi dia malah membuatku makin pusing.
"Aku cuma mau kamu peka, Mas."
"Peka apa sih?"
"Peka kalau tidak semua berjalan baik di rumah ini."
"Maksud kamu, ibu nggak bisa mengelola keuangan di rumah ini?" tanyaku lagi dan tidak mendapatkan respon dari Embun. Istriku itu malah kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dan membuatku kesal.
"Bilang saja, kalau kamu tidak mau melayani suami. Gak usah menyinggung soal ibu dan uang gajiku!" ucapku jengkel, sebelum aku pergi meninggalkan kamar itu dengan perasaan dongkol. Entah, Embun mendengar perkataanku atau tidak, kalau pun dia mendengarnya, ya bagus. Tak habis pikir aku dengannya, bisa-bisanya dia menyinggung soal ibuku, ibu mertuanya sendiri. Bagaimana kalau ibu mendengarnya?
***
Rasa lapar dan haus yang tidak bisa dibendung, membuatku terpaksa harus pergi ke dapur. Bermaksud untuk memasak, atau menghangatkan makanan yang ada dan membuat kopi sendiri. Mau bagaimana lagi? Aku kesal pada Embun, aku tak mau mengemis padanya.
Begitu ku lihat kulkas dan lemari dapur yang biasanya berjejer bumbu-bumbu, kenapa kosong melompong? Hanya ada air putih dingin di kulkas, wortel dan es batu saja. Sedangkan di tempat bumbu-bumbu dapur, hanya ada micin dan bawang putih saja.
"Gimana sih si Embun. Makanan sampe nggak ada kayak gini. Telur juga yang biasanya selalu ada di kulkas, sekarang kosong banget," gerutuku kesal. Embun memang tidak becus dalam segala hal.
"Rud? Kamu lagi apa di dapur malam-malam begini?"
Kulihat ibu yang memakai daster dan ciput di kepalanya, sedang menghampiriku. "Ibu?"
"Lagi apa di dapur, Rud?" tanya ibu kepadaku dengan lembut seperti biasanya.
Bagaimana aku tidak bisa baik pada ibuku?
Sejak usiaku 15 tahun, ibu sudah jadi janda, karena ayahku meninggal dunia. Dia mengurusku dan Vina seorang diri, menafkahi kami dan membesarkan kami dengan susah payah. Ibuku adalah dunia kami dan aku berjanji untuk mengutamakan ibu dibandingkan segala yang ada di dalam hidupku. Aku harus berbakti padanya, meskipun aku sudah memiliki keluarga.
"Ini Bu, aku mau makan sama minum kopi. Tapi gak ada makanan atau kopi di dapur. Apa ibu nggak lupa kasih Embun uang buat belanja keperluan dapur, Bu?" Aku bertanya dengan hati-hati pada ibuku, takutnya pertanyaanku ini akan menyinggung perasaannya.
Kulihat ibu terganggu dengan pertanyaanku. Kedua matanya membola dan berkaca-kaca. Apa mungkin pertanyaanku sudah menyinggungnya? Oh tidak, aku tidak tahan melihat 'surgaku' menangis.
"Bu ....,"
"Rud, apa kamu nggak percaya sama ibu? Kalau gitu, uang gajimu ... kamu kasih aja sama istrimu semua. Jangan dititip di ibu."
Aku tergelak mendengar perkataan ibu yang lirih. Seketika rasa bersalah memenuhi hatiku, aku jadi menyesal sudah membicarakan ini kepada ibu. "Loh? Kok Ibu ngomongnya kayak gini? Siapa yang bilang aku nggak percaya sama ibu?"
"Habisnya kamu tiba-tiba tanya gini, Rud. Padahal ibu suka kasih uang belanja sama Embun, buat keperluan anak-anak kalian juga. Ibu nggak tahu kemana uangnya dipakai istrimu. Dia tidak membelanjakan uangnya untuk keperluan dapur," ucap ibuku yang membuatku kaget.
Rupanya ibu sudah menyerahkan uang untuk belanja keperluan dapur dan anak-anak kepada Embun. Lantas kenapa tadi sikap Embun menunjukkan kalau seolah-olah dia tidak pernah menerima uang dari ibu. Keterlaluan sekali Embun! Dia membuatku bertanya seperti ini kepada ibuku.
"Nanti biar aku yang bicara sama Embun. Dia emang nggak bisa ngatur keuangan, malah sok marah-marah sama aku!" gerutuku dengan kesal, menyayangkan sikap Embun.
"Memangnya dia marah sama kamu, bagaimana Rud? Apa dia membicarakan ibu?"
Pertanyaan ibu tak langsung ku jawab, karena Embun memang sedikit menyinggung tentang ibu. Tapi, mana mungkin aku bicara jujur soal ini.
"Enggak kok Bu. Embun marah sama Rudi, dia tidak ada menyinggung ibu."
"Syukurlah kalau begitu. Ibu ngerasa gak enak, kalau Embun keberatan kalau uang gajinya ibu ambil semua. Ibu ngambil uang gaji kamu, itu semua demi kebaikan rumah ini. Kamu tahu kan, istri kamu nggak pandai ngatur keuangan."
Ya, seperti yang kutahu, Embun Istriku memang boros. Maka dari itu, kuserahkan semua uang gajiku kepada ibuku, karena kurasa ibuku lebih pandai mengatur keuangan dibandingkan Embun.
"Enggak Bu, Embun sama sekali nggak menyinggung ibu. Uang gajiku, ibu aja yang pegang. Aku percaya, Ibu lebih bisa mengatur keuangan dibandingkan istriku."
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, terdengar suara ibu yang ribut-ribut dari luar. Aku yang saat itu akan berangkat bekerja, melihat ibu sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita cantik dan ibuku terlihat akrab dengan wanita itu.
"Rud! Ini kamu?" suara wanita itu, adalah suara yang kurindukan.
Aku terperangah, kedua mataku tak berkedip saat menatapnya, wanita yang saat ini berada di hadapanku terlihat semakin cantik setelah 10 tahun tak bertemu.
Bersambung...