Bab 3. Istriku Menyebalkan

1182 Words
Tanpa kuduga, wanita yang dulu pernah menjadi sahabat dekatku dan 10 tahun lamanya kami tak bertemu, sekarang tuhan mempertemukan kami. Dia adalah Mawar dan sekarang dia terlihat semakin cantik saja. Pagiku yang semula mendung, karena istriku yang cemberut terus, kini menjadi cerah karena kehadiran Mawar di rumahku. Aku merindukannya, sampai rasa rindu itu membuatku refleks memeluk Mawar. Mawar juga tidak menolak pelukanku, malahan dia membalas pelukannya. Kurasa dia juga merasakan hal yang sama denganku. "Rud, gimana kabar kamu? Wow ... kamu keren banget sih pake jas sama kemeja kantoran. Emangnya kamu udah kerja kantoran, ya?" tanya Mawar kepadaku sambil melihat penampilanku dari atas sampai ke bawah. Kulihat ada kekaguman di mata Mawar kepadaku. Ya, aku memang hebat. Dari seorang cleaning service, aku diangkat menjadi manager keuangan. Bahkan aku dikuliahkan oleh bosku, sehingga bisa menduduki posisi ini. Aku memang beruntung, itulah kata orang-orang tentangku. "Iya dong, anak Tante sekarang udah jadi manager keuangan!" kata ibu yang membanggakanku pada Mawar dan aku senang karena sudah menjadi kebanggaan semua orang terdekatku. "Keren banget Rud!"Mawar memujiku sambil tersenyum dan mengacungkan dua jari jempolnya. Ah ... Aku senang sekali mendengar pujian dari wanita cantik seperti Mawar. "Ya, gitu deh," sahutku sambil tersenyum malu-malu. Entah kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku di depan Mawar, sahabat masa kecilku saat di kampung dulu. Ku ajak ibu dan Mawar untuk masuk ke dalam rumah. Kulihat Vina yang sedang berjalan ke ruang tamu, langsung menghampiri Mawar begitu melihatnya. Vina kemudian memeluk Mawar, karena sebelumnya mereka pun sangat dekat sebelum aku, ibu dan Vina pindah ke ibu kota untuk merantau bersama. "Bun, tolong siapin minuman ya!" Terdengar suara lantang ibuku yang meminta Embun untuk menyiapkan minuman untuk tamu kami. Kulihat Embun sedang menggendong anak bungsu kami dan menggandeng tangan putri sulung kami. Embun tampak tak terawat, rambutnya gimbal berantakan, memakai daster lusuh bermotif bunga. Istriku terlihat sangat tua, jauh berbeda dengan Mawar sahabatku. Kulitnya terawat, wajahnya dipoles make up, pakaian yang dikenakannya pun terlihat elegan. Rambut Mawar yang panjang juga terlihat rapi. Dari dulu Mawar memang sudah cantik, bahkan dinobatkan menjadi bunga desa. Sekarang Mawar semakin cantik. Ah ... kenapa aku jadi membandingkan Mawar dan Embun? "Iya Ma, tunggu sebentar," sahut Embun pada ibuku, dari jarak yang cukup jauh dari sana. Kemudian Embun berjalan menjauh dari sana bersama kedua anakku. Sedangkan aku, di sini menemani ibu, adikku dan Mawar. Sudah lama aku tidak berbincang dengan Mawar. Tak lama kemudian, ketika kami sedang berbincang mengenai masa lalu saat aku masih tinggal di kampung. Embun yang rambutnya sudah agak rapi itu, berjalan menghampiri kami sambil membawa nampan yang diatasnya ada 4 gelas minuman tidak berwarna. Embun meletakkan satu persatu gelas itu ke atas meja, ku bantu Embun dengan mengambilkan satu gelas untuk Mawar. Ku serahkan minuman itu langsung dari tanganku, untuk Mawar. "Maaf, cuma ada air putih, Mawar." Kataku pada Mawar dengan lembut. Namun, saat aku sedang berbicara dengan Mawar, aku merasakan ada tatapan tajam yang mengarah padaku dari arah depan. Kulihat siapa yang menatapku begitu tajam, rupanya istriku. Apa-apaan sih Embun, menatapku begitu di depan tamu yang datang? Sopan kah dia begitu? Sungguh, aku ingin mengomeli Embun dan memberikannya nasehat untuk belajar attitude di depan tamu. Tapi, aku tidak mungkin mengatakannya di sini dan Embun juga langsung bergegas pergi dari sana, mungkin karena terdengar tangisan putra bungsuku dari dapur. Ya sudah, nanti saja aku menasehatinya. "Nggak apa-apa Rud, ini udah cukup kok. Tapi ... kenapa pembantu kamu melihat aku seperti itu Rud? Sepertinya dia nggak suka sama aku?" Pertanyaan Mawar, sontak saja membuatku , ibu dan Vina terkejut. Ya, aku terkejut karena Mawar mengira kalau Embun adalah pembantu di rumah kami. Tapi memang, dari penampilan Embun, dia terlihat seperti pembantu. Sial! Aku malu sekali, bagaimana aku akan memperkenalkan Mawar pada Embun? Aku terlalu malu untuk melakukannya. "Nggak apa-apa kok Mbak Mawar. Dia memang selalu begitu, kelihatan judes sama orang. Wajahnya emang judes, hehe." Vina menjelaskannya sambil terkekeh dan aku terkejut, karena Vina tidak mengakui Embun sebagai kakak iparnya. "Oh gitu. Aku kira dia nggak suka sama aku," jawab Mawar dengan senyuman manis terlihat dibibirnya. Tanpa sadar, aku pun ikut tersenyum melihat Mawar tersenyum. Cantik sekali. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.40 pagi, setelah sarapan pagi, aku bergegas pergi ke kamar untuk mengambil tas kerjaku yang seingatku masih ada di sana. Biasanya Embun yang selalu mengambil tas kerjaku, tapi sekarang dia salah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri untuk melayani suami. Sudahlah, aku tidak mau ambil pusing, lebih baik aku segera pergi ke kantor dan mencari nafkah. Saat ku ambil tas kerjaku yang berada di atas sofa kamar, kulihat Embun sedang menyusui Alif, satu tangannya yang lain sibuk menepuk-nepuk punggung putri sulungku. Aku melihat Aisha dari dekat, matanya sedikit sembab. "Aisha kenapa, Bun?" tanyaku seraya melihat ke arah Embun dengan tajam. "Tadi Aisha jatuh, Mas." Seketika rahangku mengeras saat Embun menjawabnya dengan santai. Anak kami jatuh, dia menangis, tapi bisa-bisanya Embun sangat santai begini. "Kamu tuh gimana sih Bun? Kenapa Aisha bisa sampai jatuh?" tanyaku kesal. "Tadi aku lagi nyuci Mas, jadi Aisha aku tinggalin main dulu. Terus dia nangis dan aku—" Aku mendengus kesal mendengar penjelasan dari Embun. Bagiku, semua penjelasan dari Embun hanyalah alasan agar dia tidak disalahkan. Bagaimana pun juga, bukankah sudah tugas seorang ibu untuk mengasuh anaknya dengan baik? Tapi Embun ... dia tidak becus mengurus apapun. "Udah ya! Aku nggak mau denger alasan kamu lagi Bun. Kamu tuh bener-bener istri dan ibu yang nggak berguna, Bun. Ngurus diri kamu sendiri, kamu nggak bisa. Apa lagi urus anak, suami sama rumah. Kamu tuh nggak becus jadi istri dan ibu! Kamu bisanya apa sih, Bun?" Akhirnya aku pun meluapkan semua kemarahanku kepada istriku, berharap bahwa dia dapat mengerti kata-kataku ini. Kenapa aku marah dan dia harus intropeksi diri. "Ya Mas, seperti apa yang Mas katakan. Aku memang istri dan ibu yang tidak becus. Tapi, apa kamu pernah sekali mengerti posisi aku Mas? Di sini, bukan cuma kamu aja yang lelah. Aku juga lelah, Mas. Aku lelah dengan ketidakpekaan kamu." Mendengar perkataan Embun yang tidak mau disalahkan, darah di dalam diriku bergemuruh. Memangnya dia lelah apa disini? Tinggal di rumah, mengurus anak, mempercantik diri, menunggu suami pulang. Apa susahnya? "Memangnya kamu lelah kenapa? Cuma ngurus anak dan melayani suami saat pulang kerja. Apa sesusah itu buat kamu, Bun?" cecarku yang semakin emosi, ku tatap Embun dengan tajam. Kulihat mata Embun berkaca-kaca, tapi bibirnya masih cemberut. Menyebalkan, istriku yang dulu selalu tersenyum, kini banyak diam dan cemberut. Bahkan dia selalu terlihat tertekan. "Percuma aku bilang apapun sama kamu, Mas. Sekarang aku cuma bisa bilang sama kamu, nanti juga kamu akan merasakan apa yang aku rasakan Mas. Saat kesabaranku sudah hilang," ucap Embun dengan tegas kepadaku. Kemudian dia memalingkan wajahnya dariku. "Kamu—" "Mas Rudi! Katanya Mbak Mawar mau tinggal di rumah kita loh!" Kudengar teriakan Vina dari luar kamar kami yang memberitahukan bahwa Mawar akan tinggal di rumah ini. Kenapa? Kulihat Embun menatapku dengan sepasang matanya yang memerah, dia seperti akan menangis. Dia cengeng sekali, pikirku. "Kalau kamu nggak bisa ngurus diri, atau ngurus rumah, setidaknya ... kamu bisa jaga anak-anak kita baik-baik," ucapku pada Embun, sebelum pergi meninggalkan kamar itu. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD