Kutinggalkan Embun di kamarnya bersama dengan kedua anak kami, tanpa menoleh ke arahnya lagi. Ku harap, setelah apa yang aku katakan padanya, Embun bisa intropeksi diri. Apa kesalahannya selama ini sebagai istri dan ibu? Jujur, aku lelah kalau Embun terus seperti ini. Belum lagi, istriku ini tidak akur dengan ibu mertua dan adik iparnya. Embun tak bisa memposisikan diri dengan baik, bersama dengan ibu dan adikku. Padahal ibu dan Vina selalu memperlakukan Embun dengan baik. Ini sih tinggal Embun saja yang mau berubah.
Tepat saat aku keluar dari kamarku dan Embun, aku melihat adikku sudah berdiri di depan kamar sambil tersenyum. Oh ya, kalau tidak salah dengar, tadi Vina bilang kalau Mawar akan tinggal di rumah ini.
"Mas. Tau nggak? Mbak Mawar mau tinggal di rumah ini loh. Ibu udah ngizinin, Mas juga pasti ngizinin kan?" tanya Vina kepadaku, kulihat kedua mata adikku itu tampak berbinar-binar. Dia senang dengan kehadiran Mawar di rumah ini, ya hubungan mereka memang seperti kakak dan adik.
"Iya, Mas izinin kok. Apalagi kalau ibu sudah memberi izin juga. Tapi, kenapa dia tinggal di sini? Berapa lama dia akan tinggal disini?" tanyaku pada Vina.
"Kan gini ya, Mas. Katanya Mbak Mawar mau ikutan casting film di Jakarta. Nah, selama mbak Mawar di jakarta ... dia akan tinggal di rumah kita. Ibu sih yang nawarin, terus Mbak Mawar setuju. Daripada dia nyari kontrakan, kan? Mending dia disini aja sama kita!" jelas Vina yang membuatku menganggukkan kepala. Ya, aku tidak punya alasan untuk melarang Mawar tinggal di rumah ini. Terlebih lagi, ibu yang menawarkannya untuk tinggal di sini. Toh, selama ini hubungan kami juga baik, Mawar adalah sahabat kecilku.
"Apa kamu nggak akan meminta izinku, Mas?" suara Embun terdengar tepat dibelakangku. Aku pun menoleh ke belakang dan melihat Embun sudah berdiri di sana sambil menggendong Alif.
Melihat penampilannya, aku benar-benar merasa malu. Melihat kedua matanya yang berkaca-kaca, kenapa aku muak? Dia sangat cengeng, padahal dulu Embun tidak seperti itu.
Saat aku akan bicara dan menjelaskannya kepada Embun, Vina mendahuluiku untuk berbicara.
"Kenapa harus minta izin Mbak Embun? Selama ibu udah kasih izin, harusnya mbak juga setuju dong. Mbak Mawar itu kan dekat sama keluarga ini, terutama sama Mas Rudi. Jadi, nggak apa-apa kan kalau Mbak Mawar tinggal di rumah ini?"
Benar, aku tidak menyalahkan penjelasan Vina. Selama ibu setuju, semua yang ada di rumah ini juga harus setuju atas keputusannya. Bukankah ibu yang selama ini bertugas untuk mengurus keuangan rumah juga? Jadi biarlah ibuku yang mengatur semuanya.
"Iya Bun. Mawar sahabat baikku dari kecil. Dia juga gak akan lama tinggal di sini. Aku harap kamu harus jaga sikap sama Mawar," kataku pada Embun menasehati.
Istriku itu langsung menundukkan kepalanya, tidak menjawab perkataanku, entah apa yang ia sembunyikan di wajahnya itu. Sungguh, aku tak mau tahu.
"Terserah kamu saja, Mas. Aku memang nggak penting di sini." Embun menjawab singkat, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya dengan membawa Alif juga. Tepat di depan wajahku, Embun membanting pintu kamar.
Vina dan aku terkejut melihatnya.
"Ya ampun Mas. Kok bisa-bisanya, Mas Rudi nikah sama wanita seperti itu. Nggak sopan banget! Beda sama Mbak Mawar, Vina nggak suka lihatnya, Mas." Vina mengomentari sikap Embun yang tidak sopan. Tapi aku tidak menyalahkan Vina, karena apa yang dia ucapkan memang benar. Embun semakin kurang ajar saja akhir-akhir ini.
Aku menghela napas berat, memikirkan bagaimana cara mendidik istriku agar penurut dan tidak cuek lagi. "Sudahlah Vin, Mas mau berangkat kerja. Udah telat."
***
"Istri gue makin cantik aja nih udah perawatan. Nggak nyesel gue keluar uang buat dia."
Rekan kerjaku si Erwin, terlihat bahagia setelah dia memberikan semua uang gajinya kepada istrinya untuk perawatan wajah dan kulit. Menurutku, itu adalah pemborosan dan dia terlalu memanjakan istrinya.
"Keluar uang buat istri perawatan, apa nggak nyesel, lu?" tanyaku pada Erwin.
"Nyesel apaan? Demi bisa lihat bini cantik, kenapa harus nyesel keluar duit? Kan bini cantik buat kita juga, Rud."
Aku hanya tersenyum getir, merasa miris dengan Erwin yang sangat bucin pada istrinya.
"Oh, apa jangan-jangan lu nggak pernah kasih uang buat bini lu perawatan?" tanya Erwin padaku.
"Enggak lah! Ngapain pemborosan kayak gitu. Lagian, uang gaji gue, gue kasih semuanya buat ibu gue, lebih bermanfaat!" ujarku dengan bangga di depan Erwin.
Kulihat Erwin tampak terkejut dengan apa yang baru saja kuucapkan. Keningnya berkerut, kedua mata Erwin melebar menatapku. "Hah? Dikasih ke ibu lu? Rud, lu gila ya?"
"Gila apanya sih? Gue cuma berbakti sama orang tua dan lagi ... bini gue suka boros dan nggak bisa ngatur keuangan di rumah." Akhirnya ku katakan pada Erwin, bahwa istriku tidak pandai mengatur keuangan.
"Boros gimana sih? Setahu gue, bini lu nggak pernah pake baju yang mewah, pake emas, ataupun jajan di luar kan? Dia fokus ngurus dua anak lu di rumah," tutur Edwin kepadaku dan membuatku bingung.
Bagaimana bisa Edwin bicara seperti ini padahal dia tidak pernah bertemu dengan istriku, sejak istriku lahiran anak kedua kami. Aku pun tidak pernah mengajak Edwin ke rumah lagi. Apa jangan-jangan tanpa sepengetahuanku, Edwin dan Embun bertemu diam-diam?
"Darimana lu tahu istri gue gak pernah pake baju mewah, pake emas atau jajan di luar? Lu jangan sok tahu ya tentang bini gue!" geram ku pada Edwin.
"Gue nggak sok tahu. Gue emang lihat istri lu gak pernah pake baju mewah, emas, atau jajan. Gue lihat sendiri, Rud."
"Lihat dimana emang? Embun, bini gue nggak pernah keluar rumah. Dia sibuk ngurus anak-anak gue!"
Dan lagi pula, mau kemana Embun pergi ke luar rumah. Dia tidak punya alasan kuat, palingan cuma ke warung. Pikirku dalam hati.
"Rud, apa lu nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu hah?"
Aku semakin tidak mengerti apa maksud Edwin berbicara seperti ini. Ku tatap Edwin dengan tajam, mulutku bungkam untuk sesaat.
"Parah lu, Rud. Pantes aja bini lu sampai jualan gorengan ke warung-warung, ternyata lu kasih semua uang lu ke ibu lu. Parah anjir," ucap Edwin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Namun, aku terdiam saat mendengar kalau Embun jualan gorengan ke warung-warung? Tunggu ... aku benar-benar tak tahu hal ini. Kenapa juga Embun harus berjualan gorengan? Apa uang yang diberikan ibu dari uang gajiku tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?
"Berbakti sih berbakti, Rud. Tapi, sekarang lu punya bini dan dua orang anak. Dahulukan dulu istri dan anak-anak lu yang lebih membutuhkan. Anjir lu jadi suami!"
Telingaku gatal mendengar ocehan Edwin padaku, akhirnya aku pun meluapkan amarahku kepadanya.
"Diem lu! Lu nggak tahu apa-apa tentang rumah tangga gue, kehidupan gue!" suaraku meninggi, bersamaan dengan emosiku yang memuncak.
"Sadar Rud, sadar. Sebelum lu kehilangan bini dan anak-anak lu. Kasihan si Embun, punya suami kok gini amat." Edwin terlihat puas setelah mengatakan hal ini padaku, dia tidak merasa bersalah sama sekali.
Sedangkan aku, aku masih diselimuti emosi. Bisa-bisa Embun jualan gorengan sampai diketahui teman sekantorku. Apa jangan-jangan semua orang di kantorku juga sudah tahu kalau Embun, istri dari manager keuangan perusahaan besar, jualan gorengan ke warung-warung.
Mau ditaruh di mana mukaku? Sialan kamu, Embun!
Bersambung...