“Kau harus menebus kesalahanmu,” bisik Julian, suaranya terdengar ramah di telinga orang lain, namun merupakan perintah mutlak bagi Vanya. “Bagaimana?” tanya Vanya, menatap Julian dengan mata yang kini dipenuhi kecerdasan yang waspada, bukan lagi kepolosan yang naif. "Kau melihat pria dengan dasi kupu-kupu merah, perwakilan faksi Kaelen?” Julian mencondongkan tubuh sedikit. "Dia mencurigai adanya celah di pertahananku. Tugasmu adalah menghapus kecurigaan itu. Kau akan menghampirinya, dan kau akan bersikap hangat, sangat ramah. Bicaralah tentang amal, tentang gaunmu, tentang apa saja yang tidak penting. Buat dia merasa nyaman. Buat dia berpikir kau hanyalah seorang wanita bodoh yang terpesona oleh berlian.” Julian berhenti, matanya menatap Vanya dalam-dalam. “Jika kau berhasil meyakink

