Noda merah di leher Vanya

1366 Words
"Bersiaplah. Pertunjukan dimulai sekarang.” Julian membuka pintu kamar mandi, meninggalkan Vanya dengan bayangan Elias Thorne dan tantangan baru untuk menghadapi serigala yang telah mencium bau darah, dan membuktikan bahwa dia tidak hanya sekadar mangsa, tetapi juga penguasa sangkar emas itu. Kini, mereka berada di kamar ganti utama di lantai atas kediaman Alistair adalah sebuah galeri yang dipenuhi kain sutra dan kulit eksotis, namun bagi Janella Vanya, itu hanyalah ruang arsenal. Ia berdiri di depan cermin besar berbingkai perak, mengenakan gaun sutra berwarna gading yang jatuh seperti air di tubuhnya. Itu adalah kesempurnaan yang menipu, pakaian yang dirancang untuk memancarkan keanggunan seorang Ratu yang baru dinobatkan, bukan seorang tawanan. Vanya memegang kuas perona pipi. Tangannya stabil, meskipun jantungnya berdebar kencang di bawah lapisan kain mahal. Julian memintanya untuk menjadi sempurna. Bersih, tanpa cela, Nyonya Alistair yang dicintai dan naif. Ia harus membangun topeng, menyembunyikan ketakutan yang menggerogoti jiwanya dan ingatan tentang darah di tangan suaminya. Kepolosan adalah senjata yang harus ia asah. 'Demi apa aku bisa berada di kandang singa seperti ini? Demi kepentingan apa?' batinnya. Ia menyapukan lipstik merah muda lembut, kontras dengan gaunnya yang pucat. Matanya, yang semalam dipenuhi air mata dan teror, kini dilukis dengan ketegasan. Vanya menarik napas dalam. Jika Julian ingin dia menjadi tamengnya, dia akan menjadi tameng yang terbuat dari baja yang disepuh emas. Pintu yang menghubungkan ruang ganti dan ruang kerja pribadi Julian terbuka tanpa suara. Vanya tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma maskulin dari setelan jas mahalnya, perpaduan tembakau, kulit, dan ozon dingin, mendahului kehadirannya. Julian berdiri diam di belakangnya. Ia mengenakan setelan tiga potong yang dibuat khusus, berwarna arang gelap, yang membuat siluetnya tampak lebih tinggi dan lebih mengancam. Ia tidak bergerak, hanya mengamati pantulan Vanya di cermin, seperti seorang kolektor yang menilai mahakarya barunya. Keheningan itu lebih mencekam daripada teriakan. Vanya merasakan tatapan dingin Julian menelusuri dirinya dari ujung kaki hingga ujung rambut—rambutnya yang disanggul rapi, garis leher gaunnya yang elegan, hingga sepatu hak tingginya yang berkilauan. “Putih gading. Pilihan yang cerdas,” Julian akhirnya angkat bicara, suaranya rendah dan merdu, seperti biola cello. “Melambangkan kepolosan. Mereka akan melihatmu dan berpikir, ‘Wanita ini tidak tahu apa-apa tentang kekejaman di dunia ini.’” Vanya menoleh, memaksakan senyum yang ia harap terlihat meyakinkan. “Bukankah itu peran yang kau tugaskan padaku, Julian?” “Ya,” Julian melangkah maju, perlahan. “Tapi peran yang bagus membutuhkan penghayatan yang total.” Ia mencapai bahu Vanya, jari-jarinya yang kuat melingkari tulang selangkanya. “Kau masih terlalu tegang. Kau harus percaya bahwa kau bahagia, Vanya." “Bagaimana aku bisa terlihat bahagia ketika aku tahu konsekuensinya?” Vanya balas berbisik, nadanya hampir teredam, takut suaranya terlalu keras dan pecah. Julian memajukan tubuhnya hingga mereka berdiri bahu-membahu di depan cermin. Ia membungkuk, bibirnya mendekati telinga Vanya. “Konsekuensinya adalah kebebasan. Kebebasan di dalam sangkar emas ini. Kau aman, selama kau milikku.” Julian kemudian menarik napas, matanya bertemu dengan mata Vanya di cermin, sebiru lautan badai. Ia memiringkan kepalanya, dan Vanya merasakan Julian mendekati lehernya, tepat di bawah telinga. Sentuhannya dingin, lalu tiba-tiba berubah panas. Julian mengecup kulit Vanya, sebuah ciuman yang lambat, menuntut, dan penuh kepemilikan. Ia menekan bibirnya cukup keras hingga Vanya yakin ciuman itu meninggalkan bekas samar di sana, tanda yang tersembunyi namun terlihat jika dicari. Vanya hanya bisa diam. Keintiman ini, yang dipenuhi ancaman dan kuasa, melumpuhkannya. Dia tidak berani melawan, karena dia tahu perlawanan kecil pun akan dibalas dengan kekejaman yang tak terbayangkan. Julian menjauh, tersenyum puas. Senyum itu akhirnya mencapai matanya, namun hanya sesaat. “Sempurna,” katanya, suaranya bernada kemenangan. “Sekarang, kita pergi menemui serigala-serigala itu. Ingat, Ratu-ku. Tunjukkan pada mereka bahwa kau bukan hanya aset. Kau adalah perhiasan yang sangat berharga dan dijaga ketat.” ***** Mereka meninggalkan kediaman pribadi itu dan memasuki mobil limosin lapis baja. Perjalanan menuju markas utama Alistair Group terasa sunyi, namun dipenuhi oleh ketegangan yang menyesakkan. Julian memegang tangan Vanya sepanjang perjalanan, bukan sebagai tanda kasih sayang, melainkan sebagai penahan yang kuat. “Dewan direksi ini adalah yang terburuk. Mereka terdiri dari para pengkhianat dan para penjilat,” Julian menjelaskan, matanya terpaku pada pemandangan kota yang bergerak cepat. “ "Mereka hanya peduli pada uang, dan mereka akan mencium setiap celah yang ada dalam kekuasaan. Jika mereka meragukan komitmenmu, mereka akan meragukan komitmenku.” “Dan Elias Thorne?” Vanya bertanya, mencoba membuat suaranya terdengar netral. Nama itu terasa berat di lidahnya. “Elias adalah bayanganku. Ia memegang kendali operasional yang tidak aku sentuh,” Julian menjawab, menggesekkan ibu jarinya di punggung tangan Vanya. “Dia adalah penguji terbesarmu. Dia tidak percaya pada kelembutan, dan dia akan melihatmu sebagai titik lemah. Dia ingin tahu apakah aku masih Pemimpin yang sama, atau apakah aku telah dilemahkan oleh pernikahan ini.” Limosin berhenti di lobi menara Alistair Group yang menjulang tinggi, sebuah monolit dari kaca dan baja di pusat kota. Keamanan di sana setara dengan kompleks militer. Saat pintu mobil terbuka, Vanya harus menahan diri untuk tidak tersentak oleh kilatan kamera tersembunyi dan tatapan tajam para penjaga. Julian dan Vanya berjalan berdampingan menuju ruang rapat di lantai teratas. Di sana, di balik pintu kayu mahoni besar, menanti tujuh pria dan wanita paruh baya, masing-masing memegang kekuasaan yang tak terhitung di bawah payung 'The Crimson Hand'. Saat mereka masuk, Vanya mengaktifkan topengnya. Ia tersenyum lembut, dan dipenuhi kekaguman pada suaminya. Ia memegang lengan Julian dengan kelembutan yang menyiratkan cinta yang dalam, seolah-olah pria yang berdiri di sampingnya adalah kekasihnya yang setia, bukan Pimpinan sindikat yang kejam. 'Aku mulai melakukan peranku di sini,' batin Vanya. Di ujung meja panjang, duduklah Elias Thorne. Usianya sekitar tiga puluh akhir, dengan rambut gelap yang disisir rapi dan mata abu-abu tajam yang tampak tidak pernah berkedip. Ia mengenakan setelan yang sama mahalnya dengan Julian, tetapi sikapnya lebih kaku, lebih militeristik. Tatapannya tertuju pada Vanya, menguliti lapisan kepolosan yang ia kenakan. Julian menghentikan langkah mereka di hadapan meja. “Selamat pagi,” Julian menyapa, suaranya memancarkan otoritas mutlak. “Izinkan saya memperkenalkan, Nyonya Janella Vanya Alistair.” Semua orang berdiri, memberikan hormat yang diwajibkan, tetapi mata mereka tertuju pada Vanya. Mereka mencari celah, keraguan, atau tanda ketidakbahagiaan. Elias adalah yang terakhir bergerak. Ia maju beberapa langkah, posturnya tinggi dan mengancam, menawarkan tangan kepada Vanya. Jabat tangan itu kuat, terlalu lama, dan terlalu dingin. “Nyonya Alistair,” sapa Elias, senyumnya tidak tulus. “Senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan Ratu. Kami sering mendengar tentang Anda. Sebuah kejutan yang menyenangkan, melihat tuan Julian akhirnya menemukan seseorang yang bisa ia percaya di sisinya.” Vanya merasakan desakan adrenalin. Ini adalah ujiannya. Ia harus mengingat tujuannya. Menjadi pedang dan tameng. Ia tidak boleh menunjukkan rasa takut. Ia harus membalas tatapan Elias dengan kehangatan yang memuakkan. “Tuan Thorne,” Vanya menjawab, suaranya manis dan terkontrol. Ia membiarkan tatapannya berlama-lama pada bekas luka samar yang Julian tinggalkan di lehernya, sebuah pernyataan tanpa kata. “Kepercayaan Julian adalah segalanya bagi saya. Saya berharap dapat membuktikan bahwa saya pantas mendapatkan kehormatan menjadi pendampingnya.” Elias mengangguk, namun matanya tetap waspada, mengamati keharmonisan yang dipaksakan antara suami istri itu. “Kehormatan adalah mata uang yang langka di bisnis kita, Nyonya. Dan seringkali, orang yang paling tidak bersalahlah yang membayar harga termahal.” “Elias,” potong Julian, suaranya tajam, menandakan batas kesabaran. “Vanya adalah istriku, bukan subjek untuk diwawancarai.” “Tentu saja, Tuan Julian,” Elias mundur selangkah, tetapi senyumnya semakin melebar, penuh perhitungan. “Hanya saja, saya selalu penasaran. Beberapa hari setelah pernikahan Anda, terjadi insiden kecil di kawasan pelabuhan. Hilangnya sebuah aset. Itu adalah kekacauan yang tidak terduga. Saya hanya berharap, Tuan Julian, bahwa fokus Anda tetap tertuju pada tugas, dan bahwa kebahagiaan rumah tangga ini tidak akan menyebabkan kita kehilangan kendali atas aset-aset kita yang lebih... rapuh.” Napas Vanya tercekat. Elias tidak hanya menguji Julian, dia secara terbuka menyinggung pembunuhan Nightingale di hadapannya, menantang Julian untuk melihat apakah istrinya akan pecah. Vanya merasakan tangan Julian mengepal erat di lengannya, sebuah peringatan yang jelas. Jangan bereaksi. Tunjukkan kesempurnaan. Mata Vanya bertemu dengan Elias, dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan sedikit kekejaman yang baru ia pelajari memancar dari tatapannya yang indah. Dia harus membuktikan bahwa dia tahu aturan permainannya, bahkan jika dia tidak tahu detailnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD