CEO's Heart 14

2080 Words
"aku tidak mau" tolak ametta untuk kesekian kalinya. "ayolah ini hanya sebuah jarum suntik tidak akan menyakitmu"bujuk james membuat ametta mendelik menatap kearahnya. "bagiku itu bukan hanya sekedar jarum suntik james" ucap ametta. Entah sudah berapa lama mereka berdebat tentang masalah ini dan entah sudah berapa lama juga si petugas dan beberapa orang dibelakang mereka memperhatikan perdebatan kecil ini. "kau bisa menutup matamu" "tidak, aku tidak mau" tolak ametta kembali "apa tidak ada hal gila lain yang ada di fikiranmu selain mengambil darahku untuk sebuah cincin"kesal ametta tidak habis fikir dengan ide yang james punya, Seperti rencana sebelumnya mereka sekarang sedang membuat cincin pernikahan mereka, ametta dan james datang kesalah satu tempat perhiasan terkenal di los angeles, ametta berfikir ini akan selesai hanya dalam waktu lima menit saja, gampang sekali bukan dia hanya tinggal memilih cinin yang dia suka setelah itu selesai. Tapi diluar dugaan ternyata billioner muda itu mempunyai ide gila yang bahkan tidak terfikirkan oleh ametta sebelumnya. James memilih untuk mencampurkan kedua darah mereka dalam cincin pernikahannya,yang menurut ametta itu ide yang sangat sangat gila pasalnya seorang ametta sander sangat amat membenci dengan yang namanya jarum suntik.apapun jenisnya.trauma masa kecil mungkin bisa jadi ametta sendiri tidak ingat bagai mana awalnya dirinya sangat takut jarum. "kau tau" ucap james sambil mendekat kearah ametta. "bagiku, semua yang ada di sekitarku haruslah sempurna dan istimewa, aku tidak ingin memilih apapun asal asalan metta, contohnya menikah denganmu"ucap james yang kini sudah mengulurkan tangannya dan mengambil anak rambut ametta untuk ditarik kebelang telinganya, james menatap intens mata bening ametta begitupun sebliknya, ametta seakan tersihir oleh mata biru tajam di depannya yang kini sedang menatapnya. "apa kau fikir aku menerima pernikahan ini hanya karena paksaan grandpa" lanjut james dan kini tangannya mengusap lembut pipi ametta yang mulai bersemu merah. Ametta masih terdiam dan mendengarkan setiap perkataan yang james ucapkan "jika kau berfikir seperti itu kau salah, aku memilihmu karena aku______" james menjeda ucapannya dan mendekatkan wajahnya pada ametta. Entah kenapa tubuh ametta mendadak kaku dan tidak bisa di gerakan sama sekali, bahkan saat ini hembusan hangat dari nafas james bisa ametta rasakan, ametta meremas jemarinya yang sudah berkeringat Apa akan terjadi lagi batin ametta, james semakin mendekatkan wajah mereka dan mengikis jarak, hidung mereka bahkan nyaris bersentuhan, ametta memejamkan matanya saat sepersekian senti lagi bibir mereka akan menyatu "Finish.,!!!" bisik james membuat ametta kembali membuka lebar matanya, jarak antara mereka masih sangat dekat seperti sebelumnya yang membedakan adalah senyum yang james tampilkan. "sudah aku bilang bukan bahwa rasanya tidak akan sakit" ucap james setelah itu menjauhkan wajahnya dan memberikan jarak antara mereka kembali sedangkan ametta mengernyit tidak mengerti. James berjalan medekat ke arah petugas dan mengambil plester kecil yang tersedia disana..setelah itu menarik lengan ametta. Dengan santai james memakaikan plester tersebut pada bekas suntikan yang berada di lengan ametta dan itu membuat mata ametta membulat sempurna.. "apa ini.?" tanya ametta memastikan "bekas suntikannya harus segera ditutupi"ucap james membuat ametta langsung menarik tangannya "kau menipuku.?" seru ametta membuat james menaikkan sebelah halisnya. "menipumu dalam hal apa.?" "kau bicara omong kosong agar bisa mengelabuiku, kau memaksaku untuk memberikan darahku" kesal ametta membuat james mengangkat bahunya acuh. "dasar licik" umpat ametta kemudian berjalan keluar toko, Dirinya benar benar kesal dan juga marah pada dirinya sendiri, bisa bisanya dia tertipu, bahkan tadi dirinya menutup mata, "Arghhh sialan!!" rutuk ametta menyadari kebodohan dirinya sendiri. Ametta terus berjalan mengitari pusat perbelanjaan yang mereka datangi, ah rasanya sudah lama sekali ametta tidak pergi menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri.selama ini dia sibuk dengan jadwal padatnya atau menghabiskan waktu dengan____sean. Ametta segera menggelengkan kepalanya saat sean kembali terlintas di fikirannya. "baiklah ametta ini waktunya kau bersenang senang, hiburlah dirimu sendiri" gumam ametta, "baiklah apa yang akan kita lakukan pertama, sepertinya memakan makanan manis ide bagus, akan memperbaiki mood ku bukan, jadi apa aku harus memakan cake atau ice cream" gumam ametta sambil terus berjalan dan menyusun rencana untuk kebebasan dirinya sendiri dan memperbaiki moodnya, Dua makanan manis tadi adalah makanan yang selalu dihindari para model seperti ametta agar tubuh mereka tetap terlihat sempurna, tapi kali ini ametta tidak peduli,toh tidak ada alicia atau andara yang akan mengomelinya asisten dan managernya itu yang selalu mengomel jika ametta melanggar peraturan yang dia buat sendiri. Ametta kemudian melangkah memasuki sebuah restoran yang khusus menyiapkan dessert dessert enak yang tentunya tinggi kalori dan juga lemak. Mata ametta berbinar saat berbagai macam dessert tersusun rapi di depannya, "tunggu kalian semua," gumam ametta dengan senyum devilnya. Hanya butuh Beberapa menit kini didepan ameta sudah tersedia berbagai menu dessert, tidak tanggung tanggung sedikitnya lebih dari lima menu ametta pilih. "hei wahai perut, kali ini aku akan membiarkan kalian bekerja sedikit keras untuk mencerna semua lemak ini" gumam ameta kemudian mencoba satu persatu dessert didepannya. "ah aku bahkan lupa kapan terakhir kali memakan kalian, aku bahkan lupa jika kalian bisa seenak ini" gumam ametta dengan mulut yang penuh, ametta bisa membayangkan bagaimana marahnya alicia saat mengetahui jika modelnya memakan semua ini, dengan senyum jahilnya ametta merogoh ponsel dari dalam tasnya dan merekam semua menu yang setengahnya sudah dia coba, dan tidak lupa Juga saat dirinya makan mencicipi satu persatu dessert itu, setelahnya ametta mengirimkannya pada alicia. Ametta terkekeh saat bayangan alicia yang murka terlintas di otaknya "hadiah untukmu karena kau selalu menuruti lelaki sialan itu" gumam ametta "wow apa benar yang dihadapanku ini adalah ametta sanders seorang model papan atas" ucap seseorang membuat gerakan ametta terhenti, ametta mendongak dan melihat seseorang yang tengah menatapnya tidak percaya dan juga senyum mengejeknya itu membuat ameta berdecak kesal. Ametta mengabaikan senyum mengejeknya dan melanjutkan kembali acara makannya "apa kau akan berhenti menjadi model.?"tanya nya sambil menarik kursi di hadapan ametta dan ikut  duduk bersamanya. "tidak"jawab singkat ametta "lalu semua ini.?" "memangnya kenapa.? Apa kau tidak pernah melihat seorang model makan makanan seperti ini.?" tanya ametta ketus "tidak, hanya kau yang seperti ini" jawabnya sambil terus menampilkan senyum mengejek. "felix berhenti mengganggu acara makanku" ucap ametta pada sang kakak, dirinya berniat untuk memperbaiki mood tapi gangguan satu ini malah datang dan membuatnya harus kembali menahan diri atas semua ledekan kakaknya itu. "apa kau sudah tidak laku lagi menjadi seorang model, jika iya  perusahaan kita sedang membutuhkan seorang sekertaris, bagaimama apa kau berminat.?" tanya felix membuat ametta murka dan langsung mengambil garpu yang berada di depannya "jangan sampai garpu ini melayang di wajahmu felix" ancam ametta membuat tawa felix akhirnya pecah, felix tertawa sambil mengacak rambut adiknya dengan sayang "hah menyenangkan sekali mempunyai adik yang gampang emosi seperti dirimu" ucap felix masih dengan menyisakan tawa di bibirnya sedangkan ametta terus menghabiskan sisa dessert di piringnya. "kau sendiri datang kesini,? Dimana managermu.?"tanya felix sambil malarikan pandangannya kesekitar. "aku tidak berasama alicia" jawab ametta "lalu.?" "bersama james" "wah berita bagus, jadi kalian sudah berdamai dan memilih untuk menikah secara baik baik.?" tanya felix mencoba kembali menggoda adiknya "hentikan omong kosongmu, jika aku berdamai tidak mungkin aku makan semua dessert ini seorang diri" jawab ametta "kau sendiri sedang apa berada di tempat seperti ini .?" tanya ametta penuh curiga, pasalnya felix paling anti pergi ke Mall atau pusat perbelanjaan lain lebih tepatnya dia anti tempat tempat ramai kecuali club tentunya. "aku sedang melihat seseorang" jawab felix membuat ametta menurunkan kembali sendok yang berisikan dessert dan menatap felix dengan tatapan tanya "siapa.? Jangan bilang kau di suruh kakek untuk memata matai ku.?" tuduh ametta dan langsung mendapatkan cubitan dihidungnya oleh felix. "untuk apa aku melakukan hal tidak berguna seperti itu, kakek punya banyak anak buah hanya untuk memata mataimu untuk apa dia menyuruh pewarisnya yang turun tangan langsung" ucap felix membuat ametta berdecak "lalu siapa yang kau lihat.?" tanya ametta penasaran "kau ingin tahu.?" tanya felix dengan mata berbinar "tidak, lupakan saja, toh bukan hal penting untuk diriku" jawab ametta membuat senyum felix sirna, namun setelahnya felix menarik tangan ametta untuk ikut bersamanya. "hei hei pa yang kau lakukan, dessert ku, aku belum menghabiskan semuanya." ucap ametta sambil sesekli melihat ke arah meja yang terdapat beberapa dessert yang bahkan belum dia sentuh sama sekali. "aku akan membelikannya lagi nanti untukmu, sekarang aku ingin menunjukan sesuatu padamu" ucap felix sambil terus menyeret ametta untuk mengikuti langkahnya. "hei perlahan, kau tidak lihat aku menggunakan hells berapa cm.?" ucap ametta mencoba melepaskan tarikan tangan felix namun gagal "ck bukankah kau sudah biasa memakai sepatu seperti itu" ucap felix "aku memakainya sambil berjalan bukan diseret seperti ini, kau tahu bukan kaki indah ku ini aset berhargaku" kesal ametta yang akhirnya berhasil menyentakkan tangan felix, Mereka akhirnya berhenti sejenak, ametta memegang pergelangan kakinya yang sedikit sakit "kau menyebalkan sekali, memangnya apa yang ingin kau perlihatkan.?" kesal ametta "sesuatu yang indah" ucap felix membuat ametta memutar bola matanya malas. ."awas saja jika hal yang tidak penting yang ingin kau tunjukkan aku akan membuat hari hari mu menderita" ancam ametta yang di tanggapi acuh oleh felix. Felix malah menarik bahu ametta dan kembali membawanya berjalan. "sejak kapan kau mempunyai hobi menguntit.?" tanya ametta "emmss entahlah, aku juga tidak tau dan baru sadar jika aku selama ini sepert seorang stalker "ucap felix membuat ametta menatapnya dengan serius "kau benar benar menguntit seseorang.?" tanya ametta tidak percaya "aku hanya senang melihatnya" jawab felix "siapa yang kau ikuti.?" tanya ametta penasaran "sebentar lagi kau akan tahu" ucap felix kemudian semakin menarik bahu ametta untuk mempercepat langkahnya. Langkah mereka terhenti saat melihat kerumunan orang. Felix mengerutkan keningnya dan segera melepaskan pelukannya pada bahu ametta dan menerobos kerumunan tersebut. Begitupun dengan ametta yang mengikuti felix, ametta sempat bingung apa yang sebenarnya terjadi setelah melihat pemandangan didepannya membuatnya semakin banyak bertanya. Ametta melihat james dan carlos tengah mengumpulkan mawar mawar merah yang beserakan di lantai "biar saya ambil alih tuan" ucap carlos kepada james kemudian james berjalan ke arah seorang perempuan yang terduduk di lantai marmer dingin dengan kepala tertunduk. James menekuk lututnya di hadap wanita itu kemudian mengulurkan tangannya dan menyelipkanny diantara lututnya, james menggendong wanita tersebut dan mendekapnya. Setelah itu james berjalan ke arah sekelompok wanita yang diam mematung "apa menurut kalian, kalian terlihat cantik dan berkelas.?" tanya james membuat ketiga wanita yang james tegur saling menyikut "tapi di mataku kalian seperti sekelompok lalat yang terbang mngitari sampah busuk" ucap james setelah itu berbalik. "james" seru ametta membuat langkah james terhenti.sedangkan carlos membubarkan kerumunan yang terjadi. Ametta berjalan mendekat begitu juga dengan felix. Ametta mencoba melihat wajah wanita yang berada dalam gendongan james tapi sia sia, karena james menutup sebagian wajah wanita itu dengan jas nya dan membawanya kedalam dekapannya "apa yang trjadi.?" tanya ametta basa basi yang sebenarnya dia ingin menanyakan siapa wanita itu, "james menatap ametta sesaat kemudian berganti pada wanita di pelukannya. "metta kau bisa pulang bersama felix bukan, aku ada urusan lain" alih alih menjawab pertanyaan ametta james malah menyuruhnya pulang bersama felix. "Tapi james___" "aku sedang terburu buru" potong james setelah itu berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya, carlos mendekat sambil mendorong kursi roda kosong dan membungkuk pada ametta sesaat sebelum mengikuti langkah james. Ametta dan felix terdiam melihat kepergian mereka "siapa dia.?" gumam ametta "apa yang barusan trjadi.?" gumam felix Untuk sesaat mereka sama sama terdiam memikirkan hal apa yang sebenarnya terjadi sebelum mereka datang. "kau mengenal wanita yang bersma james.?" tanya felix "tidak, entahlah ak btidak bisa melihat wajahnya"jawab ametta membuat felix kembali terdiam. "lupakan saja, sebaiknya kau mengantarkanku pulang" ucap ametta namun tidak di tanggapi fekix, ametta mendongak dan melihat fekix masih diam dan menatap lurus ke arah dimana james tadi pergi "felix kau mendengarkanku.?" tanya ametta "ya" jawab felix singat "lalu apa yang kau lihat cepat" seru ametta sambil menarik tagan felix. Namun baru beberapa langkah ametta kembali menghentikan langkahnya "bukankah kau ingin menunjukan sesuatu kepadaku.?" tanya ametta "lain kali saja." jawab felix "kenapa.?" "dia sudah pergi" jawab felix membuat ametta mengangkat bahunya dan bersikap tidak peduli. Sedangkan di tempat lain james memasuki mobil dengan hati hati. "aurell kau baik baik saja.?" tanya james sambil mendudukan auelk dengn perlahan "maafkan aku james" ucal aurell sambil menangis tersedu "hei kenapa kau yang harus minta maaf, ini bukan salahmu" ucap james sambil mengelus pipi aurell lembut "aku selalu membuatmu repot dan____" "aku  sudah berjanji akan ada selalu untukmu, apa kau senang jika aku mengingkari janjiku.?" tanya james membuat aurell menggeleng "kalau begitu tolong bergantunglah padaku jika kau tidak ingin membuat aku terlihat seperti tadi lagi" ucap james sambil menarik dagu aurell agar menatap kearahnya "kau mengerti.?" tanya james "iya aku mngerti" jawab aurell kemudian james menghapus sisa air mata di pipi aurell "carlos kita ke vincentius" ucap james "baik tuan" Setelah itu mobil melaju, james terus mendekap aurel selama perjalanan dan membuatnya tenang
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD