CEO's Heart 08

2080 Words
Felix menatap sesesorang dari balik kaca hitam mobilnya, entah sudah berapa lama dia duduk dan betah menatap kearah seorang wanita yang tengah membagi bagikan mawar pada pejalan kaki. Senyumnya masih terus menghiasi wajahnya meskipun beberapa orang terang terangan menatap nya dengan rasa tidak suka bahkan beberapa dengan wajah mencemooh namun dia kembali tersenyum seakan menguatkan dirinya sendiri. "the rose miss" ucapnya sambil mengulurkan satu tangkai bungan mawar merah pada pejalan kaki, setangkai mawar merah yang di ikat dengan pita kuning cantik bertuliska 'rose for angel' beberapa pejalan kaki wanita dengan senyum ramah mengambil bunga mawar yang dia berikan, dan itu menjadi salah satu kekuatan untuknya terus bertahan di cuaca dingin di kota Los angeles. "rose sir" ucapnya lagi saat terlihat seorang lelaki berjalan mendekat dan sedikit tergesa gesa namun bukannya mengambil mawar itu lelaki yang terlihat sedang sibuk dengan telpon genggam di telinganya malah menabrak tangan si wanita sehingga mawar yang dia ulurkan terjatuh "Kau menghalangi jalanku, aku sedang teburu buru" sentaknya sambil menatap marah kepada si wanita. Kejadian seperti ini bukan hanya sekali atau dua kali saja dia alami, mungkin sudah beratus ratus kali dan itu membuatnya semakin tegar, si wanita masih menatap punggung lelaki itu yang sudah berjalan menjauh kemudian perhatiannya tertuju pada mawar yang tergeletak di trotoar, sebelum mengambilnya si wanita terlebih dahulu menghembuskan nafas panjangnya, seketika kumpulan asap hangat keluar dari mulutnya menandakan seberapa dingin cuaca saat ini di kota los angeles. Wanita itu mencoba membenarkan letak kotak yang berisikan setumpuk bunga mawar yang berada di pangkuannya sebelum dirinya hendak membungkuk dan mengambil bunga mawar yang terjatuh tadi, tangannya terulur dan sedikit kesulitan dengan keadaannya yang terbatas, dirinya hanya mampu membungkukkan punggungnya yang bersandar pada satu satunya alat yang bisa membuatnya bisa berjalan kemanapun, dan memegang erat pinggiran kursi roda, sedikit lagi tangannya akan menyentuh bunga itu namun tangan lain medahuluinya dan mengambilnya, sontak si wanita kembali menegapkan tubuhnya dan mendongakkan wajahnya pada seseorang yang kini tengah berdiri di hadapannya. Lelaki bertubuh tegak dengan jaket tebal membungkus tubuhnya, dia mengulurkan bunga tersebut dan meletakkannya kembali di dalam kotak tempat di mana bunga lainnya tersimpan. "Thanks" ucap si wanita yang terdengat seperti berbisik, tatapannya masih terpaku pada mata coklat terang yang tengah menatap ke arahnya "youre welcome" jawab si pria dengan senyum.tipis menghiasi bibirnya membuat si wanita sedikit terpaku hanya untuk beberapa detik kemudian tersadar kembali saat lelaki itu sudah pergi dari hadapannya, si wanita masih tetap menatap punggung lelaki yang kini tengah menyebrang jalan di depannya dan kembali masuk kedalam sebuah mobil yang terparkir tepat di sebrang jalan. Si wanita masih terus menatap mobil hitam mewah yang mulai bergerak dan perlahan melaju kembali sampai seseorang memanggilnya dan menyadarkannya "Aurell.!!!"teriak seseorang. ____________________ ______ "apa mau mu sebenarnya, apa kau sedang mempermainkanku, kau fikir aku wanita yang mudah kau permainkan.!"sentak Ametta pada seseorang yang tengah duduk santai di kursi kebesarannya dan menatapnya datar. "lebih baik kau duduk terlebih dahulu Miss.Sanders"ucapnya dingin "jangan basa basi"jawab Ametta yang sudah muak dengan tingkah arogan lelaki di hadapannya, setelah kemarin dirinya mempermalukan seorang Ametta tepat di hadapan keluarganya. James berdiri dari duduk nyamannya dan perlahan berjalan memutari meja kerjanya yang cukup besar kemudian berdiri tidak jauh dari hadapan Ametta yang kini sudah mengepalkan tangannya. "aku tidak mempermainkanmu" jawab James sejenak melihat kepalan tangan ametta yang menguat dan beralih pada wajah cantiknya. "bukankah kau menolak pernikahan ini, lalu apa maksud semua perkataanmu pada kakek" "setelah kupikir pikir pernikahan yang grandpa buat tidak begitu buruk"jawab james tanpa eksfresi "aku hanya tidak setuju dengan persyaratan yang akan kau ajukan" lanjutnya membuat ametta menaikkan sebelah halisnya dan mentap tajam kearah james. "aku bahkan belum mengatakan apa yang aku inginkan" kesal ametta "aku sudah bisa menebak seputar apa persyaratan yang ingin kau ajukan miss.sanders"tebak james yng kini sudah mengubah posisi berdirinya, james bersandar pada sisi meja dengan tangan yang terlipat, membuat jas yang dia kenakan sedikit mengetat dan memeperlihatkan otot tangannya yang membesar. "lalu apa yang kau inginkan.,?" geram Ametta "kita menikah tanpa syarat, perjanjian atau aturan apapun, kau tahu miss.Sanders kadang semua itu di buat untuk di langgar kemudian harinya" "dan kau fikir aku akan setuju" "itu terserah kau saja, aku hanya memberikan jalan termudah untuk kita," "jalan termudah katamu"ledek Ametta sambil tersenyum mengejek "ya setidaknya dengan kau menikah denganku kau akan terbebas dari teror kakekmu" ucap james membuat Ametta terdiam, kata katanya memang benar, hanya dengan menuruti perkataan kakek tua itu dirinya akan bebas, "dan satu hal lagi, jika kau menginginkan sesuatu apapun setelah kita menikah kau bisa mengatakannya langsung padaku tanpa harus membuat perjanjian konyolmu itu"lanjut james membuat ametta kembali berfikir, Benar juga apa yang dikatakannya, aku hanya tinggal meminta apa yang aku inginkan dan tidak, dan dia harus menyetujuinya batin ametta "Bagaimana jika aku ingin tetap hidup bebas menjalankan karier ku sebagai model setelah kita menikah.?" tanya Ametta "itu hakmu, aku tidak akan mengekang karier yang sudah kau jalani sebelum kita menikah" jawab james seakan tidak eduli dengan pekerjaan yang ametta jalani "apa itu salah satu isi perjanjian konyolmu.?" tanya james "ya dan masih banyak lagi" "kau bisa memberitahuku satu persatu nanti, dan sebaiknya kau segera putuskan menerima pernikahaan ini atau mundur, karena kau tahu kedua keluarga kita sudah memulai persiapan acaranya" Lalu untuk apa lagi kau membutuhkan jawabannya jika semua orang sudah memeprsiapkannya kesal ametta. Toh dia menolakpun kakekknya akan tetap menggusurnya kedepan altar. "Baiklah mr.Walker aku terima pernikahan ini" jawab Ametta dengan dagu terangkat seolah menantang james. Ah bukankah ini terlalu mudah untuknya, bahkan aku mengancamnya waktu itu, tidak akan menerima pernikahan ini sbelum dirinya berlutut dihadapanku, lalu apa ini dengan mudahnya aku menyetujui semuanya batin ametta menyadari kebodohan yang dia buat, setidaknya jual mahal sedikitlah ametta gadis batin ametta meronta namun perkataan sudah terlanjur keluar dari mulutnya Sudut bibir james terangkat dan perlahan menegakkan kembali tubuhnya dan berjalan perlahan mendekat kearah ametta, kini jarak mereka hanya satu langkah kaki saja, james menatap ametta dengan sorot mata tajammnya. "Kalau begitu aku sarankan kau lebih baik untuk cuti dari pekerjaanmu sementara dan mempersiapkan diri untuk menjadi mrs.walker" ucap James dengan suara rendah yang beratnya. Sesaat ametta merasa di ancam namun dia bisa langsung menguasai dirinya dan terkekeh membalas tatapan tajam james "aku tidak memerlukan semua itu james, tenang saja kau menikahi wanita yang tepat untuk mendampingimu" ucap Ametta kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan ruang kerja james begitu saja. James menatap punggung Ametta sampai hilang di balik pintu besar ruang kerjanya, Tidak lama setelah Ametta pergi Carlos datang dan langsung membungkuk hormat pada james sebelum memberikan beberapa berkas pada atasannya itu. James mengambilnya dan mulai membuka lembar demi lembar kertas putih di tangannya. "Jadi semuanya berjalan lancar,.?"tanya James "Seperti yang tuan inginkan, semuanya akan selesai dengan tepat waktu dan nama adam smith tidak akan pernah mengusik anda lagi"jawab Carlos membuat sudut bibir james terangkat "Ya seperti biasa, kau memang bisa di andalkan carlos" puji james karena memang seperti itu selama carlos bekerja dengannya dia selalu bekerja dengan baik dan selalu tahu apa yang harus dia kerjakan. "terimakasih tuan" jawab carlos "ah iya mr.Willington dan dua teman anda yang lainnya sejak pagi menayakan anda" lanjut Carlos membuat gerakan tangan james terhenti dan menatap kearahnya. "Apa mereka mengganggu pekerjaanmu.?"tanya james "tidak tuan, hanya saja_____" "abaikan saja ketiga bocah itu, dan jangan kau hiraukan" potong James. "tapi sepertinya ketiga teman anda akan_____" Brakkkkk Lagi lagi perkataan Carlos terpotong saat pintu besar ruang kerja James di buka paksa oleh seseorang yang ketiganya sekarang dengan acuh mengabaikan tatapan tajam james dan langsung duduk di sofa yang tersedia di ruang kerja james "ternyata mereka sudah datang tuan, Saya permisi" lanjut Carlos kemudian pergi tanpa menunggu persetujuan james. James menatap tajam ke arah tiga orang yang kini tengah menatapnya juga dan mengabaikan tatapan kesal yang mereka berikan. "so____"ucap james "hah aku tidak habis fikir dengan tingkah seorang pewaris Walkers yang terhormat ini" ucap seseorang dengan mata gelapnya menatap jengkel ke arah james dia adalah Jacob Holms. "Dan aku lebih tidak mengerti lagi" sambung lelaki lain yang kini berjalan ke arah meja di sudut ruangan yang terdapat beberapa surat kabar dan majalah yang semuanya menampilkan berita seorang Ametta sanders, lelaki bermata hijau terang bernah Edward willington itu mengambil salah satu dari tumpukan kertas itu dan mengangkatnya, memperlihatkan sampul majalah dengan wajah Ametta sebagai modelnya, Edward menatap james yang masih menampilkan wajah datarnya Always. "Dan disini hanya aku yang mengerti dirimu dude" kali ini suara renyah dan riang yang tedengar menyahut, dia Maxilliam schothols. Max berkata sambil menuangkan sebotol wine kedalam gelas dan mengedipkan sebelah matanya pada james, membuat kedua sahabat lainnya berdecak. "ya dan jika ada pengkhianat di antara kita kemungkinan besar adalah si b******n itu"kesal edward sambil menatap max "Hei memangnya apa yang salah dengan diriku" jawab max sambil mengangkat bahunya acuh dan melanjutkan minumannya. "jika kalian ingin berdebat kurasa kantorku bukan tempat yang tepat" ucap james mengakhiri perdebatan mereka. "Kau memang benar benar___ arghhh bagaimana bisa kau tidak memberitahu kami tentang pernikahan dirimu.?" tanya jacob frustasi seakan dirinya benar benar di abaikan dan tidak di anggap oleh sahabatnya itu. "untuk apa aku memberitahu kalian,.?"jawab acuh james membuat mereka ah tidak hanya jacob dan edward yang terlihat kesal sedangkan max masih menampilkan wajah acuhnya. James kembali duduk di kursi kebesarannya dan mengambil setumpuk dokumen yang harus dia tandatangani. "kau selalu ingin tahu urusan kami dan kau malah memyembunyikan hal sepenting ini"kesal edward "Ck kalian berlebihan, aku tidak sekepo yang kalian tuduhkan., lagipula tanpa aku memberitahukannya kalian juga akan tahu dengan sendirinya"jelas James "thats right, aku setuju, mereka berdua hanya terlalu posesif saja james" sambung Max dan langung mendapatkan lemparan bantal sofa oleh jacob "itu karena kami mencari tahunya" "itu yang aku maksud jac, aku tidak perlu repot repot menggembar gemborkannya ada kalia bukan"jawab james "setidaknya kau beritahu sebelum kami mencari tahu sialan" "sudahlah, kalian seperti anak kecil yang di tingglkan ke taman bermain saja, jangan di perpanjang toh kita sudah tahu semuanya" jelas max "ya aku setuju" jawab acuh james sambil terus menandatangani dokumennya Edward kembali berjalan kearah sofa dan langsung duduk dengan pasrah karena llelah jika harus berdebat dengan seorang james. "jadi bagai mana bisa kau dengan supermodel itu.?" tanya edward yang kini dengan acuhnya mengambil gelas wine yang hendak max teguk dan meminumnya hingga tandas. "ya semua itu berkat granpa tercintaku" "dan kau langsung setuju.?"tanya jacob tidak percaya, karena selama ini yang dia tahu seorang james tidak akan mau di atur oleh siapapun termasuk granpa nya sendiri kecuali sebuah ancaman sudah terlontar dari seorang Antoni walker dan itu sangat jarang,. "Ya," jawab james sambil menatap ke tiga temannya dan menghentikan kegiatannya, james bersandar di kursi kebesarannya dan mendongakan kepala menatap langit langit kantornya. "lagi pula tidak ada kerugian jika aku menikah dengannya" lanjut james "apa kau tahu tentang seorang Ametta sanders.?" tanya jacob sambil menyipitkan kedua matanya menatap kearah james dan james membalas tatapan jacob sambil tersenyum. "apa kau meremehkanku jac.?" tanya james kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri ketiga sahabatnya itu...duduk di satu sofa tunggal dan bergantian menatap ke arah mereka. "apa seorang Ametta sanders membuat kalian mengkhawatirkanku.?" lanjut james sambil tersenyum remeh "aku tidak, hanya mereka" jawab max "aku bukannya khawatir aku hanya takut kau masuk perangkapnya" "ya aku juga, kau tahu bukan selama ini banyak lelaki yang terbuai oleh kecantikannya tapi dia seolah memandang jijik kepada mereka dan menendangnya begitu saja, begitulah caranya menaklukan mangsanya, dia wanita bar bar yang kejam dude jangan sampai kau___" "aku bahkan sanggup membuat dia melepaskan kekasih sejatinya hanya untuk menikah denganku" potong james membuat mulut edward bungkam dan menatap ke arahnya dengan tatapan tanya "kau.?" "yes I'm, apa kau meragukan seorang Walkers" ucap james dengan bangga "aku baru tahu ametta mempunyai seorang kekasih selama ini" ucap max "bahkan aku mengetahui semua rahasi yang selama ini dia tutup tutupi dari publik bahkan keluarganya, jadi kalian tidak usah cemas" "hei bung kau jangan besar kepala, kau akan merasakan pesona memikat wanita itu jika kalian sudah menikah jadi berhati hatilah"peringat jacob "aku, tidak akan. Tapi dia yang harus waspada pada seorang Jes walker, di harus berhati hati setiap harinya agar tidak memasukan diriku ke hatinya" "ya ya aku percaya padamu, mereka berdua yang tidak percaya" ucap max yang kali ini benar benar mendapat pukulan di kepalanya. Jacob dan edward benar benar merasa kesal dengan sikap max. Saat mereka berdebat terdengar satu ketukan di balik pintu dan kemudian Carlos kembali masuk dan menghampiri james "tuan ada masalah dengan Vincentius" ucap Carlos membuat james langsung menegakkan badannya dan bergegas berjalan ke meja kerjanya dan menyambar jas beserta kunci mobilnya di ikuti Carlos dan ketiga sahabatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD