James mengemudikan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota Los Angeles yang lumayan ramai, mengabaikan beberapa klaksonan dan u*****n dari pengendara lain, dia harus benar benar cepat untuk sampai di tempat yang ingin dia tuju sekarang.
James akan sangat sensitif jika menyangkut dengan Nama Vincentius, setelah tadi Carlos mengabarkan bahwa terjadi sesuatu dengan Vincentius tidak perlu pikir panjang james langsung bergegas pergi, carlos mengabarkan bahwa panti asuhan tempat sahabatnya berada sedang dalam masalah, ya Vincentius adalah sebuah nama panti asuhan tempat dimana sahabat kecilnya berada dan juga teman temannya.
James menghentikan laju mobilnya tepat di sebuah rumah sakit kecil di pinggiran kota Los angeles.
James keluar dari mobil mewahnya dan segera berlari masuk di ikuti oleh Carlos menyusuri setiap koridor rumah sakit yang tidak terlalu ramai dan luas
"di sini tuan." ucap Carlos membuat james menghentikan larinya dan segera menatap seseorang dari balik kaca jendela.
James menormalkan nafasnya sebelum mulai menarik hendle pintu.
Ceklek
Saat pintu terbuka seorang wanita dengan mata memerah langung menyambut kedatangan james, perlahan james mendekat menghampirnya
"James" isak wanita itu dengan suara lemahnya kemudian mengulurkan sebelah tangannya pada james.
"its okay, dia akan baik baik saja" ucap james lembut sambil menyambut uluran tangan si wanita dan menggenggamnya erat.
"jika aku tau semuanya akan terjadi aku tidak akan meninggalkan panti james" ucapnya lagi yang kembali terisak dan menitikan air mata,
"Aurell ini bukan salahmu"jawab james kemudian merangkul bahu wanita yang bernama Aurell itu dan mendekapnya erat.
Aurell semakin terisak di pelukan James.
Dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi panti saat orang orang memporak porandakannya.
Di saat panti asuhan vincentius sedang kacau, aurel tengah membagi bagikan bunga mawar di pusat kota, harusnya dia tidak pergi saat Angel merengek ingin ikut dengannya.
Angel adalah seorang anak berusia lima tahun yang mempunyai kelainan jantung dari lahir.harusnya Aurell membatalkan saja rencananya dan tetap berada di panti,
Lihat lah apa yang terjadi sekarang, saat dirinya tidak ada beberapa orang mengacau dan menghancurkan barang barang di panti,
Jika saja dirinya berada disana setidaknya orang orang tersebut tidak akan berani untuk mengacau fikir aurell
"jika saja aku tidak pergi kepusat kota" bisik Aurell dengan nada penuh penyesalan
"sstt bukan salahmu, tenanglah Angel akan baik baik saja" ucap james sambil melirik ke arah tempat tidur dimana gadis kecil tengah menutup mata dan beberapa selang terpasang di tangan dan hidungnya.
James tahu betul jika Aurell sangat menyayangi angel, Aurel memang menyayangi semua anak di panti tapi dengan keadaan angel, Aurell lebih memberikan perhatian lebih padanya.
"aku akan mengurus semuanya" lanjut james sambil mengusap bahu aurel agar sahabatnya itu tenang
"tidak perlu james, kau sudah berbuat banhak demi panti"ucap aurel sambil mendongakan wajahnya dan menatap ke arah james.
James menghembuskan nafas panjangnya, aurell selalu menolak bantuannya padahal bagi james ini masalah kecil yang bisa dia atasi.
"apa kau ingin mereka datang lagi dan membuat anak anak ketakutan.?" tanya james membuat aurel terdiam dan sesat menggelengkan kepalanya
"jadi untuk itu biarkan aku mengurusnya, trust me"ucap james
"aku hanya tidak ingin kau repot, aku tahu seberapa banyak tugas dan masalah yang kau punya dalam menjalankan bisnis kakekmu james"
"Aurell" ucap james memegang bahu aurell dan sedikit mencengkramnya seakan memintanya untuk percaya
"aku sudah memikul semua tugas itu sejak usiaku sembilan tahun aku mulai berhadapan dengan masalah dan semuanya sedari dulu jadi masalah panti bukanlah beban untukku"
"James__"
"Carlos" potong james, karena tidak ingin jika aurell kembali menolak bantuannya,
"cari tahu siapa yang sudah mengacau di vincentius dan segera bereskan" perintah james namun sebelum carlos menjawab Aurell lebih dulu bersuara
"mereka penagih hutang james" ucap Aurel membuat james dan carlos menatap kearahnya
"hutang" gumam james
"ya sebenarnya mereka meminta kami untuk segera mengosongkan panti"
"apa.?" sejak kapan semua ini terjadi.?"tanya james
"satu tahun yang lalu"
"selama itu tapi kau tidak pernah memberitahuku,?" tanya james sedikit marah karena aurell tidak menceritakan apapun padanya,
"james sudah aku katakan aku tidak ingin____"
"Aurell kau dan vincentius tidak pernah membuatku repot sekalipun, jadi tolong jangan sembunyikan apapun dariku" ucap james sedikit memohon sambil menggenggam kedua tangan aurel seakan ingin memberikannya keyakinan.
Mata hitam gelap milik aurel beradu dengan mata tajam biru tenang yang james miliki.aurel seakan ingin meyakinkan dirinya untuk bersandar pada sahabatnya itu.
Dan setelah dirinya benar benar yakin aurel menganggukan kepalanya dan itu membuat senyum james terukir di bibirnya,
"jadi bisa kau ceritakan semuanya" tanya james
"iya"
"lebih baik kita mencari udara segar di luar, aku takut perbincangan kita akan mengganggu angel" ucap james dan langsung di setujui oleh Aurell,
James mendorong kursi roda aurel dan mulai keluar ruangan,
"apa kau ingin berjalan jalan di taman.?" tanya james
"ya ide bagus" jawab aurell
Mereka akhirnya berjalan menuju taman rumah sakit, taman yang tidak terlalu luas seperti di rumah sakit besar, tapi sangat cantik dan hijau.
"apa kau ingat dulu saat kita menanam pohon di kebun belakang panti.?" tanya Aurell sambil mendongakan kepalanya menatap james yang sedang mendorong kursi rodanya
"Ya aku ingat"jawab james
"pohon itu sekarang menjadi pohon favorite angel dan beberapa anak di panti"
"oh ya syukurlah, aku kira pohon itu tidak akan bertahan lama"ucap james sambil membayangkan masa kecilnya dulu di panti.
Ya James kecil sempat tinggal di panti asuhan dalam waktu singkat.dulu setelah kematian kedua orang tuanya James kecil sangat terpuruk, dia bahkan tidak ingin berbaur dengan dunia luar dan itu membuat jonathan khawatir, suatu hari jonathan membujuk james untuk mencari udara segar meskipun dengan sedikit pemaksaan akhirnya james mau, jonathan membawa james kesalah satu panti tempat dimana dirinya rutin untuk berdonasi dan panti itu adalah Vincentius.
James mulai mengelilingi panti saat jonathan sedang berbincang dengan pemilik panfi, dia melihat beberapa anak tengah bermain namun dirinya enggan untuk berbaur, sampai langkahnya tiba di taman belakang panti, james melihat seorang gadis lumpuh tengah mencoba menanam pohon, james hanya melihatnya dari jauh bagai mana keterbatasan anak itu tapi dia tidak menyerah dan tetap menanam beberapa pohon meskipun kesulitan.
Perlahan james menghampiri anak perempuan itu dan diam diam memperhatikannya.
"kau perlu bantuan.?" entah ada angin apa yang membuat james kecil mau untuk menawarkan bantuan, anak perempuan itu segera menengok ke arah james yang tepat berdiri di sampingnya, dengan wajah yang di penuhi debu kotor dan keringat mengalir di pelipisnya anak perempuan itu tersenyum dan menganggukan kepala,
Dan itu membuat james langsung mengambil peralatan di samping kursi roda dan mulai menggali tanah untuk menanam pohon, beberapa pohon sudah mereka tanam dan tinggal pohon terakhir.
"ini adalah pohon terakhir, apa kau ingin menanamnya sendiri.?"setelah sekian lama mereka bekerja sama untuk menanam pohon baru di pohon terakhi si anak perempuan membuka suara membuat james mendongak dan menatap ke arahnya
"tidak, aku tidak bisa menanam pohon itu sendirian"jawab james
"aku akan memberi tahu bagaimana caranaya" ucap si anak perempuan membuat james mengangguk dan langsung mengikuti intruksinya dari awal sampai pohon kecil itu tertanam sempurna di atas tanah.
"mudah bukan.?" tanya nya
"ya tidak sesulit yang aku bayangkan"jawab james
"itu karena kau terlalu banyak berfikir, harusnya kau coba lebih dahulu, kadang yang kita fikirkan belum tentu benar bukan" jelas si anak perempuan membuat james terdiam sejenak merenungkan perkataannya setelahnya baru mengangguk.
"aku Aurell" ucap si anak perempuan sambil mengulurkan tanganya, sesaat james melihat tangan kecil yang kotor di depannya kemudian menyambutnya
"James" jawabnya membuat Aurell tersenyum kembali
"jadi, kau adalah.?" tanya Aurell
"aku datang bersama granpaku, dia sedang berbincang dengan pemilik____" james tidak bisa melanjutkan kata katanya karena satu alasan yang membuat lidahnya seakan berat untuk di gerakan, "panti asuhan" james tahu betul tempat seperti apa yang sekarang dia datangi ini, tempat anak anak yang kehilangan orang tua seperti dirinya bukan, apakah seharusnya dirinya juga berada di tempat seperti ini fikir james.
"ah pasti sedang berbincang dengan ibu asuh" ucap aurel menghentikan lamunan james.
"aku kira kau tersesat" ucap aurell
"tidak___"
"James" perkataan james terpotong saat jonathan memanggilnya, james hendak berbalik dan melangkahkan kakinya namun dia tahan dan kembali menatap Aurell yang Juga sedang menatap dirinya.
"Apa aku boleh bermain ke tempat ini lagi.?" tanya james membuat Aurell tersenyun
"tentu saja kau punya kewajiban bukan" jawab Aurell membuat james mengerutkan keningnya
"lihatlah kau punya satu pohon disini jadi kau harus merawatnya" ucap aurell pada pohon kecil yang james tanam, james pun tersenyum
" ya kau benar, jadi bisakah aku menitipkan pohonku sementara waktu padamu, tolong sirami dia" ucap james
"tentu saja"jawab Aurell
"kalau begitu aku harus pulang grandpa sudah menunggu" ucap james
"iya, hati hati james" jawab aurel sambil melambaikan tangannya pada james yang sudah mulai melangkahkan kakinya pergi james membalasnya dengan senyuman.
Setelah hari itu james meminta grandpanya untuk terus mengantarkannya ke panti, dan itu membuat jonathan sedikit lega karena akhirnya james mau untuk berbaur kembali dengan lingkungan dan di saat james meminta izinnya untuk tinggal sementara waktu di panti jonathan tidak perlu berfikir panjang lagi, dia langsung mengizinkan james untuk tinggl di Vincentius untuk beberpa saat. Sebelum dirinya benar benar menyerahkan aset walkers pada james kecil.
"aku ingin duduk di sana james" ucapan aurell membuat james kembali tersadar, james mendorong aurell ke tempat yang dia inginkan.
"jadi bisa kau ceritakan semuanya" ucap james saat mereka sudah duduk di salah satu kursi taman
Aurell tidak langsung menjawab dan terlihat mengambil nafas panjang seakan bersiap siap untuk melepaskan beban di pundaknya yang selama ini membuatnya sangat terganggu.
"setahun yang lalu pak gio menjual tanah panti pada salah satu makelar tanah"
"pak gio.?"tanya james
"iya dia mantan suami ibu asuh, awalnya dia datang dengan cara baik baik tapi itu tipu muslihatnya, diam diam dia mencuri semua surat surat berharg panti dan menjualnya, bahkan ibu asuh tidak mengetahui semua itu dan juga tidak curiga saat pak gio tiba tiba menghilang dari panti, kami semua menyadari saat satu bulan setelahnya beberapa orang mendatangi panti dan membawa surat tanah panti yang telah di jual pak gio"jelas Aurell, james bisa merasakan ada rasa marah dari setiap perkataannya dan juga rasa sedih, James sangat itu karena bagi Aurell panti adalah rumahnya, dan juga keluarganya, james tahu Aurell pasti sangat marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa apa untuk vincentius
"aurell kita sudah berteman sejak lama dan kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku dan menanggung nya sendiri" ucap james sambil memegang tangan aurell
"James mengertilah, ku pasti tahu diriku bukan"ucap aurell dan james menyadarinya, sahabat kecilnya itu tidak suka bergantung pada siapapun meskipun sahabat terdekatnya adalah seorang billioner terkaya sekalipun, aurell akan berusaha sendiri jika dirinya dirasa masih sanggup namun masalah ini, bagi james ini bukan masalah hal yang sepele, dirinya bukan tidak percaya pada Aurell tapi setelah kekacauan yang terjadi di panti james tidak bisa berdiam diri.
"ya aku tahu, tapi untuk masalah ini aku tidak akan tinggal diam, aku akan menyuruh Carlos membereskan semuanya"jelas james, aurel hendak membuka suara namun james kembali memotong.
"aku tidak akan menerima penolakan lagi, apa kau ingin apa yang terjadi pada angel terjadi pada anak anak yang lain.?" tanya james dan aurell tentu saja langsung menggelengkan kepalanya
"untuk itu biarkan aku membereskan semuanya" ucap james yang akhirnya membuat aurell mengangguk patuh.
Di lain tempat
"cia are you kidding" ucap Ametta seakan tidak setuju dengan apa yang managernya lakukan,
"aku serius metta, kau harus melakukannya"
"Untuk apa semua ini..?" tanya Ametta sambil mengangkat kedua tangannya yang membawa seikat balon warna warni dan tangan lainnya menenteng paperbag yang penuh dengan mainan
"tentu saja untuk menghibur mereka memangnya apa lagi.."jawab Alicia sambil mengambil beberapa barang barang dalam bagasi mobil kemudian menutupnya kembali, alicia berjalan mendekat ke arah Ametta yang masih diam memperhatikannya.
"Apa, ayo kita masuk ke dalam, sebentar lagi para wartawan akan datang dan meliput dirimu" ucap alicia membuat Ametta berdecak kesal
"Jadi kau melakukannya untuk pencitraan, oh god cia aku tidak memerlukan semua ini dan aku tidak akan menunjukan sikap palsu itu dihadapan semua wartawan" ucap Ametta yang hendak kembali berbalik kedalam mobil namun alicia menghentikannya dan memegang bahu ametta
"ini semua demi karir mu, sudah cukup semua kekacauan yang kau buat tempo hari jadi anggap saja ini untuk menebus semuanya, bagaimana.?"
"never"
"Aku akan berhenti jadi managermu" ancam alicia
"aku akan menikahkanmu dengan felix" jawab cepat Ametta
"ancamanmu kali ini tidak akan mempan, janjimu saja yang terakhir belum kau tepati jadi berhenti membual dan lakukan tugasmu Ametta Sanders" tegas Alicia membuat wajah Ametta merajuk, kadang Alicia memang harus bersikap tegas pada artisnya itu untuk sedikit mengaturnya dan terkadang hal itupun ampuh, lihatlah meskipun dengan wajah kesal Ametta berjalan dengan kedua tangan yang penuh dengan bingkisan dan balon masuk kedalam area rumah sakit.
"berapa lama aku harus menghibur mereka.?" tanya Ametta sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit
"dua jam" jawab alicia sambil melihat jam di pergelangan tangannya dan itu langsung menghentikan langkah ametta dan menatap tidak percaya pada managernya itu
"Are you crazy.? Untuk apa waktu selama itu, lagi pula aku tidak tahu bagaimna cara menghibur atau bermain dengan mereka"
"ya ya aku tahu satu jam oke"
"no, tiga puluh menit"
"itu tidak akan._____"
"atau tidak sama sekali cia"potong Ametta karena dirinya benar benar tidak terlalu menyukai anak anak, ametta terus berjala menuju ruangan di mana anak anak sudah menunggunya, namun langkahnya terhenti saat melihat seseorng yang sangat dia kenal, Ametta memicingkan matanya untuk memperjelas pandangannya
"siapa dia, sedang apa mereka.?"gumam Ametta mebuat Alicia juga menghentikan langkahnya dan mengikuti arah pandangan Ametta
"O ow" ucap Alicia