SATU - KEDATANGAN
Sudah dua bulan Chloe bersekolah di Sprinkle School.
Sprinkle School adalah sekolah elite yang bagus. Tapi, jika dibandingkan dengan academy, masih kalah bagus.
Karena sebuah academy tidak hanya menggunakan teknik biasa dalam pembelajarannya tapi juga teknik sihir.
Bahkan ada hal-hal yang lebih hebat dari sihir di beberapa academy ternama.
Ada yang bilang bahwa hewan-hewan yang dianggap hanya mitos, ternyata benar-benar ada dan bisa dilihat di beberapa academy ternama.
Tapi, kita lupakan sejenak hal itu. Kita kembali ke Chloe.
"Hai Crystal," sapa Chloe sambil berjalan masuk ke kelas.
Hari masih sangat pagi. Tidak terlalu banyak anak di kelas.
"Hai Chloe," balas Crystal dengan nada bersemangat.
Awalnya Chloe tidak merasakan sesuatu yang aneh karena memang setiap hari Crystal selalu bersemangat.
Tapi setelah duduk di kursi, Chloe kembali melihat ke arah Crystal dan menyadari bahwa hari ini Crystal lebih bersemangat dari biasanya.
Senyuman di wajah Crystal tak kunjung hilang, padahal Crystal sedang membaca buku pelajaran.
Biasanya Crystal tidak pernah tersenyum untuk waktu yang lama saat membaca buku pelajaran.
"Kamu kesambet ya?" tanya Chloe sambil tetap melihat ke Crystal.
"Ya nggak lah! Asal kamu tahu ya, tahun ini itu giliran sekolah kita yang dapet kunjungan?" jawab Crystal sambil menutup buku pelajarannya dan melihat ke arah Chloe.
"Kunjungan? Siapa? Awas aja kalau nggak bener," ancam Chloe dengan muka serius.
Biasanya Crystal memberikan informasi yang tidak terlalu penting atau bahkan kadang informasi yang salah.
Tapi Chloe tetap menghargai informasi yang diberikan sahabatnya itu, karena di antara informasi tidak berguna yang diketahui Crystal, ada beberapa informasi yang sangat berguna.
"Denger-denger tahun ini giliran sekolah kita yang dapat kunjungan dari Fairy Academy. Terus aku berencana masuk Fairy Academy. Pokoknya harus masuk. Kesempatan kan datangnya nggak dua kali. Oh iya, kamu juga harus masuk Fairy Academy biar samaan. Kan rasanya bangga kalau bisa masuk academy terbaik sepanjang sejarah," sambar Crystal tanpa henti.
Chloe hanya memperhatikan Crystal sebentar lalu Chloe mengambil buku novel yang dibawanya.
Chloe tidak tertarik masuk academy, karena dulu ia pernah dibully dan penyebab ia dibully berhubungan dengan academy.
Setelah Crystal selesai berbicara, Chloe langsung menyahut.
"Mulutmu nggak bisa ditahan ya? Kayak keran bocor terus," omel Chloe yang benar-benar tidak tertarik untuk masuk academy.
"Biarin! Mulutku juga. Jadi mau nggak?" tanya Crystal yang tidak mau mengalihkan tema pembicaraan sebelum Chloe mengiyakan pertanyaannya.
"Enggak," jawab Chloe dengan cepat.
"Pokoknya harus! Nggak boleh nolak," Crystal menolak mentah-mentah jawaban Chloe.
"Ih kok maksa banget sih!?" ucap Chloe dengan kesal. Lalu Chloe mulai membaca novel yang dibawanya agar Crystal berhenti mengajaknya berbicara.
"Biarin, pokoknya harus!" paksa Crystal sambil menutup buku yang dibaca Chloe.
"Iya iya," jawab Chloe pasrah.
Chloe malas berdebat dengan Crystal dan lebih memilih untuk mengiyakan Crystal.
Lagian belum tentu juga aku bakal dipilih nanti, ucap Chloe dalam hati.
"Hai guys," teriak Lyra dari pintu kelas dengan ceria.
"Hai Lyra," sapa Chloe dan Crystal yang agak kaget dengan teriakan Lyra yang sangat keras.
Memang masih pagi, tapi sudah ada beberapa anak di dalam kelas.
Beberapa anak lainnya yang mendengar teriakan Lyra juga kaget.
Sayangnya mereka sedang mengerjakan PR, jadi tidak sempat protes.
"Bisa ngak sih ngak usah bikin orang kaget? Biasa aja gitu ngak usah teriak, untung jantungku masih kuat," oceh Crystal sambil mengusap-usap dadanya.
"Bawel! Lagian lebay amat, padahal aku cuma teriak " ucap Lyra sambil menaruh tasnya.
"Eh jalan-jalan yuk! Bosen di kelas mulu, lagian kelas masih lama dimulainya," ajak Chloe sebelum Crystal memulai pembicaraan dengan topik yang sama.
"Boleh," jawab Lyra yang sudah menaruh tasnya.
"Mau jalan ke mana nih?" tanya Crystal yang sudah memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas.
"Ke kantin yuk! Haus nih sekalian duduk di taman dekat kantin," usul Lyra sambil berjalan ke luar kelas.
"Ya udah yuk langsung aja," Chloe mengikuti Lyra yang mulai berjalan ke luar kelas.
Setelah membeli minuman di kantin mereka pergi ke taman yang terletak di tengah-tengah sekolah.
Mereka segera menduduki salah satu bangku kosong yang ada di taman.
"Eh Lyra kamu udah tau belum tentang Fairy Academy yang mau ...," Crystal memulai topik yang sama.
"Iya iya aku udah tau." potong Lyra dengan cepat.
Chloe hanya bisa diam mendengar Crystal yang lagi-lagi membicarakan tentang Fairy Academy.
"Oh oke, ternyata yang kudet diantara kita cuma Chloe," ucap Crystal dengan iseng.
Crystal hanya ingin bercanda dengan bilang bahwa Chloe kurang update (kudet).
"Biarin ... Aku juga kan nggak tertarik sama Fairy Academy," ucap Chloe dengan santainya.
Setelah beberapa detik berlalu Chloe baru sadar bahwa ia keceplosan.
"Apa!? Barusan kamu bilang ngak tertarik!? Kamu bilang tadi bakalan masuk Fairy Academy sama aku," sambar Crystal dengan cepat.
Chloe hanya diam, tidak menjawab.
"Ayolah biar kita bisa tetap bertiga," Lyra juga ikut membujuk Chloe.
"Nggak mau!" ucap Chloe yang sudah lelah dengan bujukan dari Crystal maupun Lyra.
"Chloe! Ayolah!" bujuk Crystal dan Lyra lagi.
"Astaga kalian berdua sama-sama keras kepala," ucap Chloe kesal.
Beberapa saat kemudian bel masuk berbunyi.
Chloe tersenyum mendengar bunyi bel.
"Loh kok udah bunyi!? Seharusnya masih sepuluh menit lagi," ucap Crystal sambil melihat ke arah jam yang ada di taman.
"Ya terserah yang membunyikan kan, ya udah yuk ke kelas aja, mungkin itu pemberitahuan tentang Fairy Academy," ucap Lyra sok tau.
Crystal yang mendengar kata 'Fairy Academy' langsung tersenyum bahagia dan berdiri dari bangku taman.
"Ayo ke kelas," ucap Lyra dan Crystal sambil menarik tanganku ke kelas.
Setibanya di kelas, anak-anak kelas banyak yang membicarakan tentang bel yang dibunyikan lebih cepat.
Chloe, Crystal dan Lyra langsung duduk di bangku masing-masing.
Tepat setelah Chloe, Crystal dan Lyra duduk, wali kelas mereka masuk ke dalam kelas.
"Pagi anak-anak," sapa bu Via, wali kelas Chloe sambil berjalan masuk ke dalam kelas.
"Pagi Bu,"
"Pagi ini kalian semua masuk ke kelas lebih cepat karena kita kedatangan orang dari Fairy Academy untuk memberitahukan sesuatu, selengkapnya akan diberitau langsung oleh mereka," jelas bu Via sambil melihat ke arah pintu.
Setelah wali kelas Chloe selesai bicara, masuk dua orang memakai jas bertuliskan Fairy Academy di sebelah kanan jas.
Seorang wanita dengan karismanya dan seorang laki-laki yang memiliki badan yang proporsional dan terlihat sangat kuat.
"Pagi semua," sapa laki-laki yang berasal dari Fairy Academy itu sambil tersenyum.
Hanya beberapa anak yang menjawab, karena sebagian besar masih kaget melihat orang-orang dari Fairy Academy.
"Kami dari Fairy Academy akan memberitahukan kalian tentang seleksi beasiswa yang tahun ini diadakan di Sprinkle School," ucap perempuan yang berasal dari Fairy Academy.
"Sebelum itu perkenalkan nama saya Robert, saya murid tingkat tiga,"
"Perkenalkan nama saya Frinska, saya guru sihir memasak tingkat satu di Fairy Academy."
"Seperti yang kalian ketahui kami hanya menyeleksi anak kelas sepuluh di sekolah ternama dan hanya ada satu sekolah yang kami datangi tiap tahunnya.Tujuan kami ke sini untuk menyeleksi kalian dan memberikan beasiswa kepada anak yang lulus seleksi," Robert menjelaskan sambil memunculkan sebuah layar yang berisi gambar-gambar penjelasan sesuai dengan apa yang diucapkan Robert.
"Tahun ini kami memberikan lima sampai sepuluh beasiswa, kami mencari satu sampai dua anak untuk tiap jenis sihir. Jadi paling tidak kami akan meloloskan paling sedikit lima anak, dari jenis sihir yang berbeda-beda," Frinska lanjut menjelaskan dengan menggunakan sebuah layar juga.
"Jangan lupa syarat utamanya adalah persetujuan orang tua dan pengendalian dasar sihir. Ini formulirnya saya bagikan, di sana tertulis syarat lengkap untuk mengikuti seleksi."
Lalu Robert membagikan formulir yang dipegangnya dan setiap anak sibuk membolak-balik formulir tersebut memastikan untuk dapat mengikuti seleksi.
"Ly, kamu memenuhi syarat ngak? Aku memenuhi nihhh, tinggal minta tanda tangan ortu," ucap Crystal senang setelah beberapa kali membolak-balik formulir yang ada di tangannya.
"Memenuhi kok Crys," jawab Lyra yang juga sudah lebih dari lima kali membolak-balik kertas formulir hanya untuk memastikan bahwa dia benar-benar bisa mengikuti seleksi.
"Kalau kamu memenuhi syarat nggak Chloe?" Crystal mengalihkan pandangannya dari formulir dan melihat ke arah Chloe.
"Entahlah," jawab Chloe tidak bersemangat dan hanya meletakkan formulirnya di atas meja.
"Seriusan Chloe," protes Lyra yang akhirnya melihat ke arah Chloe karena sudah puas membolak-balik formulir yang ada di tangannya.
"Iya iya," jawab Chloe yang sedang malas berdebat.
"Jadi kita masuk bertiga ya," lanjut Crystal yang menyimpulkan tanpa memperdulikan Chloe.
"Iya," jawab Lyra.
Chloe hanya diam. Chloe berniat memberikan formulir Fairy Academy ke orang tuanya dan minta untuk menandai tidak setuju. Sebenarnya Chloe memenuhi semua syarat yang ada. Chloe bisa dasar sihir, karena sempat diajarkan oleh orang tuanya. Tapi sayangnya Chloe tidak terlalu tertarik mendalaminya.
"Ok semuanya, besok semua formulir dikumpulkan ya, seleksi akan dilakukan lusa," ucap Frinska di tengah-tengah keramaian kelas.
"Baik."
"Apakah ada yang mau bertanya?" tanya Robert.
"Tidak," jawab teman-teman sekelas Chloe dengan kompak.
***
Saat bel pulang berbunyi, Chloe segera pulang ke rumah. Lalu memberikan formulir tadi ke orangtuanya.
"Sore Ma, Pa," sapa Chloe kepada kedua orang tuanya sambil berjalan ke ruang tengah.
Mama dan Papa Chloe sering berada di ruang tengah.
Kadang mengobrol, kadang menonton TV, kadang hanya untuk duduk-duduk saja.
"Sore Chloe," sahut Mama Chloe yang sedang asik menonton TV.
"Ma, tadi ada orang dari Fairy Academy datang ke sekolahku," Chloe memulai pembicaraan.
"Terus?" tanya Mama dengan penasaran.
"Semua anak dikasih formulir, besok harus dikembalikan, di dalam formulirnya harus ditandai setuju atau tidak dan harus ditandatangani orang tua," jelas Chloe sambil memberikan formulir yang dipegangnya.
"Ok berarti Mama tinggal tandai setuju dan tanda tangan kan," ucap Mama Chloe dengan enteng.
"Tapi aku nggak mau masuk Fairy Academy Ma," ucap Chloe dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Mama bingung.
Gerakan tangan Mama yang akan menandai 'setuju' terhenti.
"Aku nggak mau mereka membullyku seperti dulu aku di bully oleh teman-temanku," ucap Chloe memberi alasan.
"Itu kan masa lalu," ucap Mama dengan nada bingung.
"Tapi aku tetap tidak mau," Chloe tetap keras kepala dan tidak mau masuk Fairy Academy.