bc

Rujuk

book_age16+
63.0K
FOLLOW
338.9K
READ
contract marriage
arrogant
goodgirl
boss
drama
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Ini tentang seorang gadis bernama Moza Rella. Mungkin sebagian orang yang mendengar namanya, akan langsung ternganga karena teringat akan sebuah nama keju.

Moza hanya tertawa jika ada orang yang menanyakan namanya, begitu dia menjawab, dan mereka langsung membulatkan mata. Memang aneh terdengar di telinga. Tapi Moza bangga dengan nama itu. Sehingga, setiap berkenalan dengan seseorang, atau saat ada orang yang menanyakan siapa namanya, maka dengan percaya diri dia akan menyebutkan nama lengkapnya. Moza Rella.

Begitu pun saat beberapa tahun lalu, tepatnya saat seorang lelaki menyebutkan namanya di depan penghulu. Jelas sekali jika lelaki itu seolah enggan menyebutkan nama lengkapnya. Karena ia menyebutnya secara terputus, dengan jeda beberapa waktu. Kala itu, Moza hanya bisa menghela napas. Meski pada akhirnya kata sah pun terlontar dari beberapa mulut yang menghadiri acara pernikahannya.

Sakha Rahardian, lelaki yang hanya singgah sebentar dalam kehidupan seorang Moza Rella. Tak banyak menorehkan kenangan hingga setelah delapan tahun lamanya tak bersua, tepatnya semenjak perpisahan diantara mereka berdua, Moza pun telah melupakannya. Bahkan memori otaknya juga kesulitan sekalipun hanya mengenali wajah lelaki itu.

Pepatah mengatakan jika dunia tak selebar daun kelor memang nyata adanya. Dan sekarang Moza dan Sakha harus dipertemukan kembali dalam situasi yang berbeda.

"Kau telah banyak berubah, Moz!" ucap Sakha di suatu pertemuan tak disangka.

Wanita itu hanya tersenyum kecil. "Justru kau lah yang telah banyak berubah, Mas. Buktinya, aku saja tak mengenalimu tadi. Sayangnya, kenapa aku masih saja mengingat namamu," jawab Moza asal lalu ia terkekeh.

Dalam hati menyesali, sebuah nama yang tak pernah terhapus dari ingatan seorang Moza selama delapan tahun ini.

chap-preview
Free preview
BAB 1

“Saya terima nikah dan kawinnya Moza __ Rella, binti Brahmantio dengan mas kawin sebuah perhiasan emas seberat seratus gram dibayar tunai.”

“Sah”

“Sah”

“Sah”

Saling bersahut-sahutan para saksi pernikahan Sakha dengan Moza. Setelahnya kedua mempelai saling mengikrarkan diri dengan memasang cincin di jari manis masing-masing.

Prameswari, senyumnya mengembang melihat putra tunggalnya pada akhirnya berhasil menikahi seorang gadis yang bernama Moza Rella. Gadis belia yang masih berusia delapan belas tahun. Sementara Sakha Rahardian, saat ini sudah berusia dua puluh delapan tahun. Jarak usia keduanya yang menyentuh angka sepuluh tahun tak menyurutkan niat Prameswari untuk tetap meminang Moza sebagai istri putranya, Sakha Rahardian.

Bukan tanpa sebab jika tiga bulan lalu ia sendiri yang mendatangi keluarga Brahmantio, yang merupakan sahabat almarhum suaminya. Ya, dulu sebelum meningal suami Prameswari yang merupakan papa dari Sakha sempat berpesan kepadanya, bahwa suaminya itu bersama Tio, begitu biasa lelaki bernama Brahmantio disapa, telah sepakat akan menjodohkan anak-anak mereka. Sama-sama merupakan anak tunggal dalam keluarga. Dan karena eratnya hubungan kedua lelaki tersebut menghantarkan Prameswari harus menuruti permintaan terakhir mendiang suaminya.

Beruntung sekali, karena Tio sendiri pun masih ingat akan janji yang pernah ia sepakati dengan papanya Sakha. Hanya karena pada saat itu keluarga Sakha harus terpaksa pindah ke kota, jadilah diantara kedua keluarga lama tak bersua.

Terkejut tatkala Prameswari bercerita jika suaminya telah tiada dan meninggalkan sebuah janji yang harus ia tepati. Meminang putri satu-satunya Tio. Dengan percaya Tio pun memilih menyerahkan sang putri pada Prameswari. Akan tetapi, Prameswari harus bersabar hati karena putri tunggal Tio masih berstatus siswa di sebuah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Baru tiga bulan lagi akan lulus.

Tak mengapa. Prameswari sanggup menungunya. Dalam kurun waktu tiga bulan itu, juga tak henti Prameswari membujuk Sakha agar mau menurut dan menjalankan wasiat papanya. Sakha bisa apa jika almarhum papanya yang meminta. Hanya bisa menjawab ‘Ya’ atas semua yang mamanya minta.

Sekaranglah saatnya di mana Sakha dengan sebuah keterpaksaan harus menikahi seorang gadis belia yang baru lulus SLTA, tepatnya satu minggu yang lalu. Hanya sebuah acara ijab qabul sederhana, yang terpenting keduanya sah dan resmi menjadi sepasang suami istri. Sehingga kelak Tio akan merasa lega kala harus melepas kepergian putri satu-satunya untuk melanjukan study ke jenjang perguruan tinggi yang berada di kota.

***

Satu hari usai pernikahan keduanya. Sakha dengan berat hati harus membawa Moza ikut dengannya juga bersama sang mama untuk pulang ke kota. Bagaimana pun juga keduanya telah resmi menikah. Tio sempat mengutarakan jika ia sebenarnya enggan melepas putri tunggalnya untuk melanjutkan pendidikan di sebuah Universitas terkenal di ibukota yang menjadi keinginan Moza. Seolah doa Tio terkabulkan di mana saat ini sudah ada Shaka yang bisa Tio titipi putri kesayangannya.

“Sakha, Ayah titip Moza. Tolong jaga dia.“

“Baik, Ayah,” jawab Sakha meski dalam hati ia tak bisa berjanji bahwa bisa menjaga Moza dengan sebaik-baiknya.

Itu semua karena sebuah alasan yang mengatas namakan cinta. Sakha menikahi gadis bernama Moza karena desakan dan amanah dari almarhum papanya. Jika tidak, maka Sakha juga tak akan mau menikah dengan seorang perempuan tanpa adanya rasa saling cinta. Terlebih gadis yang ia nikahi semuda Moza. Sepuluh tahun selisih usia mereka membuat sakha merasa lebih pantas menajdi kakak daripada seorang suami untuk Moza. Akan tetapi sakha tak ada pilihan lain lagi. Protes pun tak bisa ia lakukan. Hanya bisa menurut meski di dalam hatinya ia ingin berteriak sekencangnya dan mengatakan ia tak cinta dengan Moza melainkan ia cinta dengan seorang wanita yang merupakan kekasih hatinya. Ya, Sakha memang sudah memiliki seorang kekasih yang saat ini sedang tinggal dan menetap di luar negeri. Karena sebuah impian di mana yang membuat Cheezy, begitu nama yang disandang oleh kekash hati Sakha, harus rela menjalani hubungan jarak jauh dengan Sakha. Menjadi seorang anak konglomerat menjadikan wanita itu harus siap mengemban bisnis keluarga dan sebelum perusahaan jatuh di tangannya, maka Cheezy harus memperdalam ilmunya dengan melanjutkan study ke luar negeri.

Sakha pun tak memberitahu kekasihnya jika sehari lalu dirinya telah resmi menikahi seorang wanita. Biarlah ini menjadi rahasianya saja. Karena suatu ketika Sakha yakin jika akan melepaskan Moza. Tak mungkin bisa menjalani rumah tangga yang tanpa landasan cinta. Bagi Sakha, yang penting ia telah menjalankan amanat almarhum papanya. Mengenai nantinya apakah dia bisa berumah tangga bersama Moza ataukah ia akan melepaskan gadis yang resmi menjadi istrinya itu, akan Sakha pikirkan lagi nanti.

Senggolan pelan di lengannya menyadarkan Sakha akan lamunan. Pintu bagasi masih terbuka karena tadi Sakha sedang memasukkan dua buah koper milik Moza ke dalam mobilnya.

“Sudah selesai belum?” tanya Prameswari pada putranya.

Sakha hanya mengangguk lalu menutup pintu bagasi mobil silver berjenis Toyota Fortuner.

Dapat Sakha lihat, Moza sedang memeluk erat mamanya seakan tidak mau lepas dan meninggalkan kedua orangtuanya. Pilihan tetap berada di tangan para orangtua karena kini Moza pun dengan terpaksa megikuti Sakha dan Prameswari untuk masuk ke dalam mobil.

Sebelum Sakha menjalanakan mobil meninggalkan kediaman Bramantio, Moza membuka kaca mobil melambaikan tangannya pada Ayah dan mamanya. Kesedihan tak sanggup Moza enyahkan.

Namun, gadis itu tak ada pilihan lain kecuali mengikuti dua orang asing yang sekarang bersamanya.

“Moza!” panggil lirih dengan nada lembut seorang wanita yang berusia diatas Mama Moza.

Moza menoleh ke samping mendapati wanita yang ia panggil dengan sebutan Tante Wari.

Moza memaksakan senyumnya kala Prameswari meraih tangannya dan menggengagnya erat.

“Sekarang, mama ini adalah mamamu juga. Jangan sedih lagi. Ada mama di sini.”

Moza hanya mengangguk, menurut saja dengan apa yang Prameswari sampaikan.

Moza sempat mengalihkan pandangan menatap seorang lelaki yang resmi menikahinya kemarin, lelaki bernama Sakha yang kini sedang duduk di bangku depan tepat di sebelah sopir pribadi mereka.

Moza tak berani mengeluarkan suara. Terlalu asing berada bersama mereka. Bahkan Moza juga tak bisa menebak apakah orang-orang yang sedang bersamanya ini adalah orang baik atau bukan. Karena yang Moza tahu mereka adalah teman Ayahnya. Dan kini dengan berat hati Moza harus mengikuti mereka demi sebuah cita-cita yaitu menempuh pendidikan sebagai seoarang mahasiswa.

Ya, Moza ingat. Ketika menjelang kelulusannya, ia pernah mengutarakan pada Ayah dan Mamanya mengenai keingin untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Sarjana. Mereka setuju asalkan dengan satu syarat.

Beralasan jika tak tega melepaskan Moza kuliah di luar kota, asalkan Moza mau menuruti Ayahnya maka Moza diijinkan kuliah di kota. Ayahanya akan menitipkan ia pada keluarga sahabatnya yang telah meniggal. Siapa sangka arti kata menitipkan yang Ayahnya utarakan adalah dengan cara menikahkan ia dengan lelaki bernama Sakha. Moza ingin sekali menolak tapi keinginan dan cita-citanya teralu sayang untuk ia lewatkan begitu saja. Tak mengapa jika ia harus  menikah sebagai syarat asalkan ia bisa mengeyam pendidikan yang lebih tinggi dan kelak ia bisa lulus dan menjadi seorang Sarjana Tehnik Sipil. Cita-cita untuk menjadi seorang arsitek tak akan pernah ia pupus begitu saja karena sejak ia kecil arsitek adalah impiannya. Aneh memang, seorang wanita tapi memiliki cita-cita setinggi itu dan hanya dapat dijangkau oleh kaum pria lebih tepatnya.

***

Perjalanan panjang yang mereka tempuh berakhir kala mobil tersebut berhenti di sebuah rumah yang berada di kawasan perumahan elit, berjarak beberapa kilo dari pusat kota. Rumah dua lantai yang berdiri menjulang membuat Moza berdecak kagum, akan tetapi semua sirna kala suara berat sarat akan intimidasi dari Sakha mengejutkannya.

“Kau tak perlu ikut turun. Tunggu saja di sini. Karena kita hanya akan menurunkan Mama.”

Prameswari mendelik menatap horor pada putranya. “Sakha! Jaga intonasi bicaramu. Moza adalah istrimu sekarang. Jangan membuatnya takut begitu padamu.” Mata Pameswari melotot dan Sakha hanya mengibaskan tangannya demi mendengar penuturan mamanya.

Moza, jangan ditanya apa yang sedang ia rasa sekarang. Mulai bisa menebak akan apa yang akan ia lalui ke depan. Lelaki minim ekspresi yang hanya akan menjadi momok dalam kesehariannya kelak. Ya, meski Moza masih belia akan tetapi ia bisa juga berpikiran dewasa. Moza pun akan sangat mudah membedakan mana orang yang baik kepadanya dengan orang yang munafik, di mana akn bersikap baik di depan, tapi bersikap buruk di belakang. Dan Sakha adalah orang itu. Wajah boleh tampan, tapi jika kelakuan minus sedemikian rupa, maka Moza tak akan bisa memilki cara untuk menyukai lelaki itu. Sial, sayang sekali karena pria itu adalah suaminya sekarang. Suami yang harus dia hormati keberadaannya dan entah sampai kapan Moza akan terperangkap dalam hubungan yang tidak ia inginkan bersama Sakha. Dalam hati Moza hanya berharap agar nantinya Sakha bisa memperlakukannya dengan baik.

***

“Turun!”

Bentakan disertai lengan yang digoyang kasar menyadarkan Moza dari tidur ayamnya. Ya, rupanya dalam perjalanan menuju rumah Sakha gadis itu tak sengaja tertidur dengan lelapnya. Mungkin karena efek kecapaian dan juga selama perjalanan dari rumahnya yang memakan waktu beberapa jam dihabiskan Moza dengan mengobrol bersama Tante Wari.

Gadis itu mengucek matanya. Tepat di hadapannya berdiri sebuah rumah minimalis hanya satu lantai tapi terlihat mewah dan sangat cantik. Berbeda sekali dengan rumah Tante Wari yang merupakan mamanya Sakha. Nampak besar karena memilik dua lantai.

“Hei! Aku bilang turun!” Lagi-lagi gadis itu terjengit kaget akan bentakan yang Sakha berikan. Lelaki yang berstatus suaminya, di luar dari perkiraan Moza, di mana lelaki itu sangat kasar dan arogant. Sungguh bukan kemauan Moza jika selama beberapa waktu ke depan ia akan menjalani harinya bersama pria super menyebalkan dan keterlaluan semacam Sakha Rahardian.

Memasuki rumah dengan menyeret koper miliknya sendiri karena Sakha sama sekali tak ada niat untuk membantunya. Moza menghela napas dan tak mau merepotkan siapa saja apalagi dengan meminta tolong pada lelaki itu untuk membantunya.

“Ini kamarmu. Kau bisa tinggal di sini dan menempati kamar ini. Tapi satu hal yang harus kau ingat. Jangan pernah mencampuri urusanku dan jangan pernah membuat keributan serta merepotkanku. Kau paham, kan, dengan apa yang aku maksudkan?”

Meski tidak seratus persen paham, rupanya Moza pun hanya mengganggukkan kepala. Tidak ingin melihat Sakha semakin murka kepadanya. Cukup sudah kejutan yang Moza dapatkan hari ini. Kejutan yang sangat luar biasa ia dapat dari lelaki yang kini berstatus suaminya. Ah, ralat. Rupanya Sakha tak akan pernah menganggap dirinya adalah seorang istri. Mungkin lebih tepatnya seseorang yang menumpang di rumah lelaki itu. Lebih tepat untuk menggambarkan keberadaan Moza di tempat ini.

“Masuk dan simpan barang-barangmu di dalam. Jika kau mencariku, kamarku ada di belakang.” Tunjuk Sakha pada kamar pribadinya yang hanya terpisah dengan sebuah ruang keluarga dengan kamar milik Moza. Setelahnya Sakha meninggalkan Moza, begitupun setelah kepergian Sakha bergegas Moza masuk ke dalam kamar miliknya. Menutup pintunya dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia sangat lelah. Mungkin memejamkan mata sebentar tak ada salahnya. Tadi ia memang sempat tertidur di dalam mobil Sakha meski hanya sebentar dan Moza ingin segera melanjutkan lagi tidurnya yang tadi terganggu karena bentakan Sakha.

Sementara itu di dalam kamarnya, Sakha tengah memukul meja yang berada di samping ranjangnya untuk melepaskan semua kekesalan yang sudah ia tahan sejak kamarin lebih tepatnya. Di hadapan mamanya ia bisa saja bersikap biasa saja dan menuruti apa mau sang mama. Namun, di dalam lubuk hati terdalam ia merasa sangat bersalah pada kekasih hatinya. Bagaimana mungkin ia tega menghianati kekasih yang telah lama menjalin hubungan dengannya. Sakha tak mau menyakiti hati siapa pun juga. Ini swmua ia lakukan demi almarhum papanya. Jika tidak karena alasan itu, ia pun tak akan pernah mau menurut pada apa yang mamanya inginkan. Menikahi gadis muda yang bahkan bisa ia katakan bocah ingusan karena usia gadis bernama Moza Rela itu masih sangat belia.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Penjara Hati Sang CEO

read
6.8M
bc

Jodoh Pilihan Eyang ( END )

read
143.9K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
212.7K
bc

Pernikahan Sementara

read
267.3K
bc

Dear Doctor, I LOVE YOU!

read
103.2K
bc

Will You Marry Me 21+ (Indonesia)

read
523.1K
bc

Imperfect Marriage

read
266.4K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play