2-Teman Lama

1359 Words
Krek!! Aku meringis mendengar gesekan kaki kursi yang beradu dengan lantai itu. Tatapanku tertuju ke penjuru perpustakaan, takut mahasiswa lain terganggu dengan suara bising yang aku timbulkan barusan. “Huh.” Helaan napas keluar dari bibirku saat tidak mendapati mahasiswa yang menoleh ke arahku, mungkin karena mereka sibuk dengan bacaan mereka. Aku meletakkan buku perencanaan yang tadi aku ambil di rak lalu duduk dan mulai membuka buku itu. Sore ini aku ke perpustakaan untuk merangkum teori perencanaan, tugas dari dosenku. Oh, ya, aku kuliah di tempat Kak Scarla dan Kak Avram dulu. Aku bisa kuliah karena bantuan dari Kak Scarla, Kak Avram dan tentu saja Mama Verny. Karena bantuan mereka aku merasa harus lebih giat agar tidak mengecewakan mereka. Suatu saat nanti aku dan Kak Scarla ingin berbisnis kuliner. Kami ingin mendapat penghasilan sendiri, meski Kak Scarla telah dibiayai Kak Avram. Sejak Kak Scarla hamil, dia berhenti bekerja. Saat itulah Kak Scarla kursus memasak dan ternyata masakannya sangat enak. Membuat kami berinisiatif membuka rumah makan. Aku juga ingin hidup mandiri, dengan membiayai diriku sendiri. Sudah cukup aku merepotkan Mama Verny, Kak Avram dan tentu saja Kak Scarla. Kalian tahu kan perjuangan Kak Scarla menyembuhkanku? Aku banyak menyusahkannya, dan aku punya cita-cita untuk membahagiakan Kak Scarla, biarkan bahagiaku urusan belakangan. “Hai, lama ya kita nggak ketemu.” Fokusku terpecah mendengar sapaan yang sepertinya ditujukan untukku itu. Aku meletakkan bulpoin ke atas meja lantas mendongak menatap gadis yang mendekatiku itu. Tubuhku tersentak melihat gadis yang empat tahun ini tak pernah muncul itu. “Lo kaget ketemu gue?” Aku mengangguk, tak menutupi kekagetanku atas kedatangan Flo. Aku memajukan tubuh dan mengulurkan tangan. “Hai. Gimana kabarmu?” tanyaku. Flo menatap tanganku lalu mengalihkan pandang. Seketika aku menarik tanganku, sadar Flo tak mau menjabat tanganku. Siapalah aku yang dulu hanya siswa biasa sedangkan Flo siswa hits dan kaya. “Berani muncul juga lo setelah bunuh Ahmar.” Mataku membulat mendengar kalimat itu. Membunuh Ahmar? “Aku nggak bunuh dia, Flo,” protesku. “Tapi gara-gara lo, Ahmar pulang terus kecelakaan.” Seketika aku menunduk. Aku memang yang meminta Ahmar agar mengantarkan pulang hingga kecelakaan itu terjadi. Berarti aku pembunuh? Mataku berkaca-kaca terkadang aku juga menganggap diriku seperti itu. “Kenapa lo diem? Benerkan apa yang gue omongin? Kalau Ahmar nggak pacaran sama lo pasti Ahmar masih hidup,” bisik Flo tajam. Aku menghapus air mata yang tiba-tiba lolos dari sudut mataku. Tatapanku tertuju ke Flo, wajahnya terlihat memerah. “Maaf,” kataku. “Maaf lo nggak bikin Ahmar balik lagi.” Setelah mengucapkan itu Flo beranjak dan pergi begitu saja. Tatapanku tertuju ke arah kepergian Flo. Masih jelas dalam ingatan saat Flo mendekati Ahmar. Aku mengira Ahmar akan berpacaran dengan Flo. Nyatanya Ahmar memilihku, gadis biasa saja. Hal itu membuat Flo membenciku, hingga saat ini. “Huh!!” Aku menarik napas panjang dan kuembuskan dengan pelan. Aku tak marah karena Flo masih membenciku. Itu haknya dan aku tak bisa melarang. Setelah diriku sedikit tenang, aku kembali melanjutkan mencatat. Namun, belum satu kalimat aku mencatat, ucapan Flo terngiang di telingaku. Lo bunuh Ahmar. Lo bunuh Ahmar. Aku menggeleng, mencoba melupakan itu. Sebelumnya aku berhasil melupakan pikiran itu. Namun, sekarang perasaan bersalah itu muncul lagi setelah ucapan Flo. “Aku bukan pembunuh,” gumamku sambil menggeleng. “Aku bukan pembunuh.”   ***   Usai dari perpustakaan, aku tak langsung pulang. Aku menyendiri di belakang gedung kampus sambil terisak. Kalian tentu tahu apa yang membuatku menangis. Perasaan bersalah atas kematian Ahmar. Aku mendongak, melihat langit kelabu di sore hari. Sore ini tak ada lukisan indah Tuhan. Sore ini kelabu, seperti hatiku. Drtt!! Tiba-tiba ponsel di sakuku bergetar. Aku merogoh tas dan melihat nama Kak Scarla muncul. Aku menarik napas panjang, tak ingin Kak Scarla tahu kalau aku menangis, dari suara serakku. Ibu jariku lalu menggeser layar hijau lantas mengangkat panggilan itu. “Halo, Kak.” “Zahya kamu di mana? Kamu kenapa? Nangis?” Tuh kan, Kak Scarla dengan cepat menyadari suara serakku. Padahal aku telah mencoba tak terdengar seperti orang menangis. “Masih di perpustakaan, Kak. Zahya nggak apa-apa kok. Bentar lagi Zahya pulang. Udah dulu ya, Kak!” “Ya udah. Hati-hati, Sayang.” “Ya.” Setelah menjawab seperti itu aku memutuskan sambungan secara sepihak. “Maaf, Kak. Zahya bohong,” gumamku. Tatapanku kembali tertuju ke langit yang kelabu itu. Aku lalu mencari earphone di tasku, ingin mendengarkan musik seperti rutinitas biasanya. “Zahya!” Gerakanku terhenti saat ada yang memanggil namaku. Aku tersentak melihat seorang lelaki berkulit kecokelatan dan bertubuh tegap berdiri tak jauh dari tempatku. Seketika aku memperhatikan lelaki itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hingga aku sadar siapa lelaki di hadapanku itu. “Rafif?” tanyaku untuk memastikan. “Ya ini gue. Gue tahu dari Flo kalau lo kuliah di sini juga.” Aku tersenyum kecut mendengar nama Flo disebut, membuatku ingat dengan perkataannya tadi. Aku kembali menatap Rafif yang masih di posisinya. Rafif adalah sahabat Ahmar. Sejak Ahmar meninggal, aku tak tahu lagi bagaimana kabarnya. “Iya kuliah di sini. Jadi adik tingkatmu,” jawabku. Rafif mendekat ke arahku dan duduk di sebelahku. Dia menatapku dengan pandangan menyelidik. “Lo habis nangis?” Buru-buru aku membuang muka. Aku lupa habis menangis. Aku menghapus sisa air mata di pipi dan di sudut mataku, lantas menjawab pertanyaan itu. “Enggak kok.” “Nggak usah bohong Za,” jawab Rafif. “Oh ya, gimana kabar lo?” Tangannya terulur ke arahku. Aku mengernyit, lelaki ini bertanya kabar kepadaku? Tak seperti Flo dan temanku lainnya yang seolah tak mengenaliku. “Nggak mau jabat tangan gue?” Buru-buru aku menjabat tangan Rafif. “Mau kok. Kabarku baik, kamu?” tanyaku. Setelah itu aku menjauhkan tanganku darinya. “Masih aja ya nyebutnya aku kamu. Kabar gue baik. Oh ya gue denger lo dulu sempet lumpuh?” tanya Rafif sambil memelankan suaranya saat menyebut kata lumpuh. Aku mengangguk. “Ya. Aku sempat lumpuh.” “Sorry, Za gue nggak jenguk lo. Anak-anak gue tanyain alamat lo nggak ada yang mau ngasih.” Satu alisku tertarik ke atas. Lelaki itu meminta maaf? Sepertinya Rafif berbeda dengan temanku lainnya. Mereka seolah menjauh setelah aku tak lagi bersama Ahmar dan aku lumpuh. Tapi aku bersyukur, atas kejadian itu aku tahu mana teman yang tulus dan tidak. “Kamu nggak benci ke aku?” tanyaku menyuarakan isi kepalaku. Rafif menatapku aneh. “Benci? Ngapain benci lo?” Aku mengalihkan pandang, menatap langit yang perlahan menggelap. “Temen-temen Ahmar benci aku. Ada yang anggep aku pembunuh Ahmar.” “Hah? Kok bisa mereka berpikiran kayak gitu? Demi Tuhan Za gue nggak pernah mikir gitu. Ahmar pergi itu karena takdir, bukan karena lo.” Mendengar ucapan Rafif, seketika aku menoleh dengan mata berkaca-kaca.“Kenapa kamu nggak benci ke aku?” Rafif menggeleng tegas. “Nggak bisalah. Lo nggak salah, ngapain gue benci!” Aku diam, tak tahu harus menjawab bagaimana. Aku kembali menatap langit sambil berpikir. Mungkinkah hanya Rafif yang tulus berteman denganku? “Udah jangan bahas itu,” pinta Rafif. “Lo mau di sini sampai kapan?” “Kamu mau pergi? Kamu duluan aja, aku masih mau di sini,” jawabku sambil menoleh sekilas ke Rafif. “Udah malem, loh. Emang lo nggak denger apa kalau malem makhluk di sini suka nampakin diri?” Mataku melotot mendengar kalimat terakhirnya. Bulu kudukku tiba-tiba meremang. Aku buru-buru memakai tas dan berdiri. “Ya udah aku balik aja.” “Haha. Masih aja penakut kayak dulu. Balik sama gue yuk, gue anter.” “Nggak usah, Fif. Aku bisa pulang sendiri.” Rafif menggeleng. “Kalau Ahmar di surga tahu gue biarin ceweknya pulang sendiri, bisa dimarahin lewat mimpi gue.” Aku terkekeh mendengar ucapan Rafif. Bisa saja lelaki itu. Aku menoleh, sepertinya Rafif tulus berteman denganku. “Iya deh mau.” “Gitu dong. Nggak mau nunggu dulu?” “Nunggu apa?” tanyaku bingung. “Nunggu makhluk itu nampakin diri.” “Rafif!!” Rafif terbahak karena berhasil mengerjaiku. Sedangkan aku hanya tersenyum simpul. Semoga Rafif tulus berteman denganku. Aku lalu mendongak, menatap langit pekat tanpa bintang. Aku bertemu sahabatmu, Mar. Semoga Rafif tulus berteman denganku ya. Aku membatin sambil menatap langit, seolah sedang berkomunikasi dengan Ahmar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD