Tatapanku menjelajah kafe dengan dekorasi rak buku yang menempel di dinding. Kafe ini terkesan diperuntukan untuk orang-orang yang hobi membaca. Apalagi dengan beberapa quotes yang menempel. Kebanyakan quotes itu menganggap manusia tak ada apa-apanya tanpa buku.
Siang ini aku ingin wisata kuliner, entah kenapa. Jadilah aku memilih kafe yang sempat menarik perhatianku saat berangkat ke kampus tadi. Sekalian aku memikirkan rumah makan untuk bisnisku setelah lulus nanti. Ya, sebelum terjun langsung aku harus memahami pangsa pasar dan makanan yang laku tahun ini, bukan?
“Selamat sore. Mau pesan apa?”
Aku berdiri di depan meja kasir sambil menatap papan menu di tembok. Aku membaca menu yang kebanyakan makanan ringan itu. Saat membaca menu kesukaanku bibirku tertarik ke atas. “Hot chocolate sama lava cake,” pesanku.
Petugas kasir menghitung pesananku. “Totalnya tiga puluh delapan ribu, Kak.”
Tangan kiriku merogoh dompet di dalam tas, lalu mengambil uang dua puluh ribuan dua lantas memberikannya ke kasir. Sambil menunggu uang kembalian, tatapanku kembali menjelajah seisi kafe. Terlihat beberapa pengunjung duduk dengan buku dan laptopnya.
“Ini kembaliannya, Kak. Duduk di meja berapa?”
Aku mendengar suara kasir yang menanyakan tempat duduk. Tanpa menoleh aku menjawab tempat duduk yang menurutku paling enak. “Di nomor sembilan.”
Setelah menjawab, aku mengambil uang kembalian, tersenyum ke kasir itu lantas pergi ke meja nomor sembilan. Aku berjalan pelan sambil mengamati meja yang di tempati pengunjung. Ada yang mengerjakan tugas, ada yang membaca novel sambil berbincang ringan dengan teman mereka.
Saat sampai di meja nomor sembilan aku langsung duduk dan mendongak. Aku membaca punggung buku, yang kebanyakan adalah sastra lama. Aku tak begitu suka sastra, kalau novel aku masih suka.
“Ini pesanannya, Kak.”
Pandanganku seketika teralihkan, aku mendongak menatap pelayan fafe membawa nampan berisi pesananku. Senyumku mengembang melihat cake yang membuatku tidak sabar untuk melahapnya.
“Silakan,” kata pelayan itu kemudian pergi.
“Terima kasih.”
Aku mengambil sendok kecil dan memotong lava cake itu. Isian yang berupa cokelat seketika melumer keluar. Buru-buru aku memotong bagian lain dan memakannya.
Rasa manis dari cokelat itu memanjakan lidahku. Sepertinya aku akan mengunjungi kafe ini lagi. Rasanya selangit, tapi harganya tak menguras kantong. Sepertinya aku harus memesan lagi untuk dimakan di rumah.
Usai menikmati lava cake aku meminum hot choccolate yang kelihatannya sangat enak itu. Ternyara rasanya tak begitu manis, masih ada rasa sedikit pahit dari cokelat. Aku meminum hot choccolate itu dengan pelan, menikmati setiap rasanya dengan perlahan. Cokelat mampu membuat mood-ku naik drastis.
Bres!!
Saat sedang menikmati cokelat panas aku mendengar tetesan air hujan. Seketika tatapanku tertuju ke jendela depan kafe, benar sedang turun hujan. Ah aku lupa tak membawa payung, semoga saja hujannya segera reda.
Krek!!
Aku tersentak mendengar pintu kafe dibuka dan terdengar beberapa pengunjung berdatangan. Sepertinya mereka memilih berteduh di kafe sambil menunggu hujan reda.
Saat sedang menatap pengunjung kafe yang berdatangan itu, tatapanku bertemu dengan lelaki yang beberapa hari yang lalu mengantarku pulang. Ya, Rafif. Tanganku terangkat, saat Rafif melambaikan tangan.
Arah pandangku mengikuti langkah Rafif. Lelaki itu berdiri di depan kasir sambil menggosok kedua tangannya. Rambut Rafif yang cukup lebat terlihat lepek dan ada anak rambut yang menempel di kening.
Lalu aku memutar tubuh, kembali menghadap hot choccolate-ku yang tinggal setengah. Aku minum minuman itu sambil memejamkan mata. Hawa dingin yang mulai terasa, membuatku sangat menikmati minuman hangat ini.
“Za, gue boleh duduk sini?”
Seketika mataku terbuka dan mendongak ke Rafif yang berdiri di sebelah meja. Aku mengangguk mengiyakan. Setelah Rafif duduk, aku kembali meminum hot choccolate-ku.
“Udah lama di sini?” Rafif mulai membuka suara.
Aku meletakkan secangkir hot choccolate itu dan menatap Rafif. “Lumayan. Sebelum hujan datang,” jawabku.
“Oh. Keliatan dari piring dengan sisa cokelat.” Rafif terkekeh sambil mengamati piring kecil yang penuh dengan sisa lava cake tadi. Aku lalu menatap Rafif sekali lagi. Sedikit bingung dengan lelaki ini yang terlihat kebasahan itu. “Kamu dari mana?”
Rafif mengusap rambutnya dengan tangan kiri. Dia juga menjauhkan anak rambut yang menempel di keningnya itu. “Mobil gue mogok di depan. Daripada gue nunggu di dalem mobil, mending gue lari ke sini,” jawabnya.
“Silakan.”
Obrolan kami terputus saat pelayan kafe mengantarkan pesanan Rafif. Aku melirik secangkir kopi hitam di depan Rafif. “Kamu suka kopi?”
Rafif menyeruput kopi hangat itu, lalu dia tersenyum. Ekspresinya sama sepertiku saat minum cokelat panas tadi.
“Suka banget. Gue suka kopi pahit,” jawabnya.
“Kenapa? Padahal pahit banget.”
“Bukannya kopi dasarnya pahit?” tanya Rafif sambil mengernyit. “Gue lebih suka menikmati rasa aslinya daripada sudah dicampur dengan gula atau creamer.”
Aku mengangguk mendengar penjelasan Rafif. Ini semua hanya soal selera, sama sepertiku yang suka dengan cokelat, sedangkan Rafif suka dengan kopi pahit.
“Oh ya lo nggak ada kuliah?”
Pikiranku soal selera buyar mendengar pertanyaan itu. Aku menggeleng lantas menjawab. “Udah pulang. Kalau kamu? Bukannya kakak tingkat udah mau wisuda, ya? Terus kenapa kemarin di kampus?” tanyaku beruntun.
Rafif terkekeh mendengar pertanyaan itu. “Emang kenapa kalau gue di kampus, Za? Gue belum wisuda, lagi nyelesaiin revisian,” jawabnya.
Aku mengangguk mengerti. Ah jika dulu tak ada musibah, mungkin aku seperti Rafif yang sebentar lagi wisuda. Setelah sadar aku buru-buru menggeleng menghilangkan pikiranku itu. Bagaimanapun, itu garis Tuhan dan aku tak boleh menyalahkan Nya.
“Gimana kuliah lo? Enak ya masih jadi maba. Belum banyak ngerasain pusingnya dikerjain dosen.”
Satu alisku tertarik ke atas. “Maksudnya?” tanyaku tidak mengerti.
“Hahaha!” Rafif terbahak, membuatku mengernyit. Sedikit aneh, karena aku tak tahu lelaki itu mentertawakan apa. “Lo polos banget, sih. Lo belum ngerasain dikerjain dosen waktu skripsi.”
“Emang dosen ngerjain gimana?”
“Lo beneran nggak tahu?”
Aku menggeleng polos, benar-benar tak tahu kalau dosen bisa mengerjai mahasiswa. Setahuku mahasiswa yang sering ngerjain dosen. Apalagi di kelasku, sering kali mahasiswa bersembunyi saat dosen sudah masuk kelas. Akibatnya dosen marah-marah karena kelas sepi.
“Gini, Za. Kalau udah skripsi lo bakal ngerti gimana rasanya proposal lo disetujui dosen pembimbing satu, tapi nggak disetujui dosen pembimbing dua. Lo pasti bingung kan nurut yang mana? Kalau kita nurut salah satu, eh ujung-ujungnya diganti juga. Revisi lagi revisi lagi,” cerita Rafif.
“Oh gitu. Aku kira ngerjain gimana. Bukannya itu tugas dosen, ya? Kan biar skripsi mahasiswanya bagus.”
Rafif menggeleng tampak tak setuju dengan ucapanku. “Lo bakal tahu kalau udah skripsi, Za.”
Aku mengangguk. “Oke mungkin saat ini aku belum ngerasain.”
Rafif kembali menyeruput kopinya. Tatapanku lalu tertuju ke kaca kafe dan melihat hujan masih turun deras. Aku mendesah, kalau begini aku tak bisa pulang cepat. Terlebih aku juga tak bisa melihat cahaya kemerahan lagi.
“Kenapa ngeliatin luar, Za? Lo buru-buru pulang?”
Tatapanku teralih ke Rafif. Aku tersenyum tipis lantas menggeleng. “Enggak kok, di luar masih hujan,” jawabku.
“Lo nggak mau hujan-hujanan? Dulu lo seneng banget hujan-hujanan sama Ahmar.”
Tubuhku seketika kaku mendengar Rafif menyebut nama Ahmar. Aku tak akan pernah lupa saat bahagia di bawah hujan. Namun, kini hujan hanya membuatku menangis. Menangisi sosok Ahmar yang tidak bisa menemaniku lagi.
“Lo inget Ahmar, ya? Sorry gue nggak ada maksud.”
“Nggak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum tipis. Bukan salah Rafif yang menyebut nama Ahmar. Tak ada yang salah. Aku sadar momenku dan Ahmar begitu banyak hingga orang lain ingat dengan momen itu.
***
Aku menggosok rambut basahku dengan handuk sambil berjalan keluar kamar mandi. Aku baru sampai rumah satu jam yang lalu bersama Kak Avram. Dia tadi menghubungiku dan menjemputku di kafe. Tadi Rafif sempat diajak Kak Avram untuk pulang bareng, tapi lelaki itu memilih di kafe sambil menunggu jemputan adiknya.
Mengobrol dengan Rafif membuatku mau tak mau ingat dengan Ahmar. Setiap obrolan kami, selalu menjurus ke masa SMA yang selalu diakhiri dengan permintaan maaf dari Rafif saat aku terlihat sedih.
Aku sama sekali tidak menyalahkan Rafif. Kami teman SMA dan wajar kalau kami mengobrol tentang kenangan saat SMA. Namun, yang tak aku sangka obrolanku dengan Rafif membuat pikiranku selalu memutar momenku bersama Ahmar.
Sejenak aku berhenti menggosok rambut. Aku sampirkan handukku di pundak, lalu kedua tanganku memegang tralis besi jendela kamar. Hujan masih turun dan enggan beranjak dari bumi.
Hujan datang, membuat hari ini tak ada senja. Tak ada langit kemerahan dan tak ada aktivitas mengenang Ahmar di taman. Namun, mengenang Ahmar bisa aku lakukan di mana saja, seperti sekarang ini. Bayangan saat aku dan Ahmar hujan-hujanan menyeruak dalam pikiranku.
Saat itu aku dan Ahmar berdiri di depan kelas. Kami menatap hujan yang masih saja turun. Aku maju selangkah lalu tanganku terulur menyentuh air hujan yang terasa di tanganku.
“Za, ngapain sih deket-deket situ? Basah semua, loh.”
Ucapan Ahmar membuatku menoleh. Aku terkikik melihat lelaki itu yang menatapku jengkel. “Mar, kayaknya hujan-hujanan seru.”
“Nggak, Za. Kalau kamu sakit gimana?”
Aku menggeleng tegas. Aku sering hujan-hujanan, ah lebih tepatnya kehujanan. Meski begitu aku tak sampai sakit, karena setelah kehujanan aku selalu mandi air hangat dan makan yang banyak. Biar tubuh tak gampang sakit, dan itu cukup ampuh. “Nggak bakal. Aku sering kok hujan-hujannya. Lagian besok kan minggu,” kataku.
Ahmar berjalan mendekati. Dia mengernyit, tampak tak mengerti dengan ucapanku. “Maksudnya?”
Aku menarik tangan Ahmar hingga kami berlari menjauh dari kelas. Hujan sekarang membasahi tubuh kami. Aku mendengar Ahmar menggerutu karena aku menarik tangannya. Aku menoleh ke belakang dengan tawa lepas dari bibirku. “Besok minggu, Mar. Kalau sakit kan bisa istirahat di rumah. Hahaha.”
Ahmar berlari hingga tubuhnya sejajar denganku. Aku menatap wajahnya yang basah karena air hujan. Lalu aku tersenyum melihat Ahmar tak lagi menggerutu.
“Kamu harus tanggung jawab kalau besok aku sakit.”
Seketika aku menghentikan aksi lariku karena perutku mulai terasa tertusuk-tusuk. Aku melepaskan gengaman tangan itu, lantas memeluk perut. “Istirahat dulu, capek,” kataku sambil menunduk.
Ahmar mengacak rambut basahku lantas dia menarikku ke dalam pelukan. “Payah, ngajak lari tapi nggak kuat. Kalau sakit gimana ini?”
Aku menegakkan tubuh lalu tersenyum simpul. “Kalau aku sakit kamu harus merawatku,” jawabku.
“Kalau aku juga sakit?”
Aku mencubit hidung Ahmar gemas. “Kita sakit bareng-bareng. Hahaha,” jawabku terbahak. Hujan tak lagi lebat, aku mendongak membuat air hujan turun mengenai wajahku. “Mar.”
“Apa?”
Aku menoleh, mendapati lelaki itu menatapku sambil sekali-sekali tangan kanannya mengusap wajah. Aku mendekat, lalu mencubit pipi Ahmar dengan gemas. “Kejar aku Mar!!” teriakku sambil berlari meninggalkannya.
“Hei!! Aku akan menangkapmu, Zahya!!!”
Samar-samar aku mendengar teriakan Ahmar. Aku menoleh dan melihat lelaki itu semakin dekat denganku. “Haha!! Mar!!” Aku berteriak saat tangan Ahmar menggapai tanganku.
Aku menepis tangan Ahmar dan aku berkilah menjauhinya. Namun, kecepatan lariku tidak ada apa-apanya dibanding Ahmar. Sekuat apapun aku berkelit, Ahmar dengan cepat menangkapku dan memelukku erat.
Aku balas pelukan Ahmar tak kalah eratnya. Sore ini, masih dengan seragam sekolah kami tertawa bahagia di bawah air hujan. Sepertinya aku harus mengingat momen ini dan bisa aku ulang suatu hari nanti.
“Hiks.”
Tanpa terasa air mata turun membasahi pipi saat ingat kenanganku bersama Ahmar. Itu bukan momen akhir kami di bawah hujan, tapi itu adalah momen awal. Setelahnya kami selalu hujan-hujanan, tak peduli dengan seragam yang masih di pakai untuk esok harinya. Tidak peduli setelah pulang aku mendapat omelan kakakku. Saat itu yang aku pedulikan membuat kenangan sebanyak mungkin bersama Ahmar.
“Ahmar.”
Perlahan aku beranjak dari depan jendela. Aku berjalan ke nakas, dan membuka laci terbawah. Aku mengambil selembar foto yang selalu aku simpan di sana. Aku menyentuh foto Ahmar dengan jari telunjukku. “Aku merindukanmu, Mar.”
Aku mendekap foto itu dengan erat. Benar kata orang, hujan, selalu datang bersama kenangan.