5-Selamanya Cinta

1626 Words
Cahaya kemerahan yang mulai terlihat, membuatku tanpa sadar tersenyum. Setelah tiga, akhirnya aku bisa melihat cahaya kemerahan itu. Selama tiga hari, hujan selalu datang mengunjungi bumi, membuatku tak bisa melihat cahaya indah itu. Earphone-ku mulai hening, tanda playlist musikku telah terputar semua. Aku sengaja datang ke taman lebih siang, karena aku tidak sabar menanti cahaya kemerahan itu. Perlahan aku melepas earphone-ku dari telinga, aku gulung memutari ponsel lantas aku masukkan ke tas. Pandanganku kembali tertuju ke langgit yang mulai menggelap. Sore ini indah. Aku bisa mengenang Ahmar tanpa ada gangguan. Bisa dibilang, sore ini sedikit berbeda. Karena yang muncul di pikiranku adalah saat bahagiaku bersama Ahmar. Aku terkikik sendiri mengingat aksi konyol Ahmar yang selalu membuat perutku sakit karena kebanyakan tertawa. “Kok tumben nggak nangis?” Seketika senyumku pudar mendengar pertanyaan itu. Aku menoleh dan mendapati Panca duduk di sebelahku. Tatapanku lalu tertuju ke gitar di pangkuannya. “Emang kenapa kalau aku nangis?” Panca menoleh dengan senyum mengembang. Satu alisku terangkat, heran melihat senyum lebar lelaki ini. “Akhirnya lo bisa ngomong panjang,” jawabnya. Aku mendengus. Memang penting baginya aku berbicara panjang atau tidak? Tapi kalau dipikir-pikir memang benar, tumben aku berbicara panjang kepadanya. Biasanya aku cuek, ah entahlah mungkin karena suasana hatiku sedang bahagia. “Kamu cantik kalau senyum.” Ucapan Panca membuatku menoleh, lelaki itu sedang memeluk gitar di pangkuannya. Mataku lalu tertuju ke telinga Panca. Dia mengenakan tindik berbentuk lingkaran berwarna hitam. Sama seperti Ahmar yang selalu memakai tindik saat di luar sekolah. “Kenapa liatin gue kayak gitu? Gue ganteng, ya? Makasih.” Buru-buru aku membuang muka. Lelaki itu benar-benar percaya diri. Aku lalu bergeser, sedikit menjauh darinya. Aku kembali menatap langit yang mulai pekat menutupi cahaya kemerahan itu. Malam telah datang. “Hei. Lo orangnya emang cuek gini, ya? Gue ngajakin lo ngomong, kali.” Aku mengangkat bahu acuh tak acuh. Sebenarnya aku tidak begitu cuek dengan orang baru, malah aku terkesan wellcome. Berbeda sikapku ke Panca. Mungkin di awal pertemuan kami, dia begitu menyebalkan hingga membuatku bersikap seperti ini. “Tiga hari lo nggak ke sini. Tumben.” Aku tersenyum tipis. “Hujan,” jawabku singkat. “Emang kalau hujan nggak ke sini? Gue kira setiap sore lo duduk sini.” “Enggak.” Aku menatap Panca, lelaki berkulit sawo matang itu apa begini ke semua orang? Apa ya, aku kadang merasa Panca sok kenal sok dekat, bahasa bekennya SKSD. Jreng! Tak lama aku mendengar petikan gitar. Aku hafal intro lagu yang dimainkan Panca. Lagu dari D'Cinnamons Selamanya cinta. Panca kemudian mulai bernyanyi. Aku menunduk, ingat momen saat Ahmar bermain gitar di bawah pohon sepulang kami sekolah. Samar-samar aku mendengar Panca mulai melantunkan liriknya. Aku yang hafal dengan lagu itu ikut bernyanyi. Dikala hati resah Seribu ragu datang memaksaku Rinduku semakin menyerang Kalaulah kudapat membaca pikiranmu Dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh. Momen saat Ahmar bermain gitar dengan aku bersandar di bahunya menyeruak. Dadaku seketika sesak menahan rinduku ke Ahmar. Namun, aku tidak seperti lagu itu yang berharap bisa membaca pikiran. Jangankan membaca pikirannya, sosoknya saja sudah berbeda denganku. Aku mendengar Panca mulai melantunkan lirik lagu selanjutnya. Aku menghapus air mataku, karena rasa sesak yang mulai menghimpit itu. Biar awanpun gelisah Daun daun jatuh berguguran Namun cintamu kasih terbit laksana bintang Yang bersinar cerah menerangi jiwaku. “Hiks.” Aku mulai terisak sambil pandanganku tertuju ke langit bertabur bintang. Aku yakin cinta Ahmar salah satu bintang di langit itu. Terbit laksana bintang yang bersinar cerah menerangi jiwaku, sama seperti lirik lagu yang dinyanyikan Panca. “Ayo nyanyi bareng.” Aku menoleh, Panca mengangguk memintaku mulai bernyanyi saat dia mulai memetik senar gitar. Aku menarik napas panjang, lantas mulai bernyanyi. Andaikan kudapat mengungkapkan perasaanku Hingga membuat kau percaya Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku Selamanya selamanya Memori saat aku berpandangan dengan Ahmar bermunculan. Aku masih ingat setelah lirik lagu ini Ahmar mendekat dan membisikkan kata cinta. Lama-lama air mataku turun deras, membuat napasku sedikit tersendat. Aku menghapus air mataku dengan punggung tangan. Aku berbalik agar Panca tidak melihatku menangis. Tuhan jalinkanlah cinta Bersama selamanya. “Ahmar,” lirihku. Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Kenangan kami muncul bagai sebuah film dokumenter. Aku menepuk dadaku yang rasanya begitu sesak. Cinta ini masih sangat besar untuk Ahmar. Aku berharap Tuhan masih mempercayakan cinta ini di hatiku, sampai aku bisa bersama Ahmar. Selamanya. “Hei. Kenapa nangis?” Sebuah usapan lembut itu terasa di pipiku. Aku membuka mata dan melihat Panca berjongkok dan terus menghapus air mataku. Buru-buru aku menjauh dan menghapus air mataku sendiri. “Za, kenapa nangis?” Panca mendekat dan duduk di sebelahku. Aku menggeleng dengan kepala tertunduk. Setelah air mataku tak ada yang keluar, aku kembali menatap Panca. “Aku cuma inget sama seseorang.” “Karena lagu itu?” Aku mengangguk, membuat Panca langsung menggaruk tengkuknya. Lantas dia menatapku seperti merasa bersalah. “Sorry, gue nggak tahu.” Aku tersenyum ke Panca. “Bukan salah kamu kok. Kamu kan nggak tahu,” “Tapi tetep aja. Gue jadi merasa bersalah.” “Nggak apa-apa,” jawabku. Kembali, aku mendongak melihat langit bertabur bintang. Ah, sepertinya aku terlalu lama di taman. Aku menyampirkan tas ke pundak lantas aku berdiri. “Aku duluan ya,” pamitku. Ternyata Panca ikutan berdiri dan menatapku dengan senyum kecutnya. Sepertinya lelaki itu masih merasa bersalah. “Lo besok ke sini lagi, kan?” Aku mengangkat bahu, tak tahu besok kondisi cuacanya bagaimana. “Kalau cerah gue ke sini.” “Oke. Gue besok ke sini juga. Gue bakal nyanyi lagu yang bikin lo happy.” Sudut bibirku tertarik ke atas lalu aku mengangguk singkat. Setelah itu, aku berbalik dan meninggalkan taman. “Hati-hati, Za. Jangan nangis terus. Lo itu cantik kalau senyum!” Teriakan Panca membuatku menoleh. Dia melambaikan tangan lantas memberiku cium jauh. Aku geleng-geleng, lelaki itu kembali menjadi lelaki penggombal. Aku kembali menatap ke depan dan melangkah menjauh dari taman komplek. Sore ini rasa sedih dan bahagia aku rasakan dalam kurun waktu cepat. Sebelum kedatangan Panca, suasana hatiku sedang baik karena ingat momen bahagia. Namun, saat Panca menyanyi lagu Selamanya Cinta membuatku terisak. Aku sama sekali tidak menyalahkan Panca. Di sini tak ada yang salah, hanya kebetulan Panca menyanyi lagu kenanganku bersama Ahmar.   ***   Pagi ini, aku terbangun dengan mata bengkak. Ini semua terjadi karena aku terlalu banyak menangis. Semalam aku mimpi Ahmar, setelah beberapa minggu dia tak datang di mimpiku. Aku bermimpi saat kami bernyanyi di bawah pohon belakang sekolah. Kami bernyanyi lagu Selamanya Cinta. Sepertinya aku kembali bermimpi Ahmar karena bernyanyi bersama Panca kemarin sore. Kemarin sepulang dari taman, aku memang tak bisa melupakan kenanganku dengan Ahmar sedikitpun. Aku juga mengurung diri di kamar, menangis sambil mendengarkan lagu yang mengingatkanku dengan Ahmar. “Habis nangis, Za?” Pertanyaan itu menjadi salam pembuka saat aku bergabung ke ruang makan. Aku menatap Kak Scarla yang duduk di sebelah Kak Avram. Aku hanya tersenyum tipis. Tak mungkin kan aku menjawab tidak? Padahal mataku sudah menjadi bukti kuat. “Nanti kuliah sampai jam berapa?” tanya Kak Avram. Aku menatap kakak iparku itu sambil mengingat. Semalam aku tak melakukan persiapan kuliah untuk hari ini. “Kayaknya sampai jam tiga, Kak.” jawabku setelah jeda beberapa saat. “Nanti Kakak jemput, ya. Kakak pulang lebih cepet.” “Kok tumben, Kak?” Aku menatap Kak Scarla dan Kak Avram bergantian. Barulah aku baru sadar mata mereka berkantung. “Ada apa, Kak?” tanyaku tak sabaran. “Kenzio semalem demam. Nanti jam empat mau kakak bawa ke dokter.” “Kenapa nggak sekarang aja, Kak?” Aku ikutan panik mendapati keponakanku sakit. Kak Scarla menarik napas panjang lantas menggeleng. “Udah janjian sama dokter, tapi bisanya jam empat. Mau kakak bawa ke dokter lain, tapi tahu sendirikan Kenzio sempat ketinggian dosis waktu itu.” Benar, Kenzio pernah mengalami ketinggian dosis. Aku ingat jelas bagaimana paniknya seisi rumah karena Kenzio yang berkeringat, kulit dingin dan tubuhnya kejang-kejang. “Semoga Kenzio cepet sembuh. Nggak tega ngeliat Kenzio lemes,” kataku. “Apalagi aku sama Avram, Dek. Semalem nggak bisa tidur. Rasanya nggak tenang.” Aku melihat bagaimana kehawatiran pasangan muda itu. Kak Scarla lalu mulai berkaca-kaca lantas dia bangkit dari posisinya. “Aku mau nemenin Kenizo. Kamu nggak apa-apa kan makan sendirian?” tanyanya ke sang suami. “Nggak apa-apa. Cepet ke kamar deh, takut Kenzio udah bangun.” Setelah itu Kak Scarla meninggalkan ruang makan. Sekarang hanya aku dan Kak Avram yang ada di ruang makan. Aku tak tahu ke mana Mama Verny. Mungkin beliau belum bangun. “Za, kemarin di taman sama siapa?” Aku yang sedang mengambil nasi seketika menoleh. Kak Avram menyantap sarapannya sambil melirik ke arahku. “Kok kak Avram tahu?” tanyaku bingung. “Kakak lewat, terus ngeliat lo nyanyi sama cowok. Siapa Za? Pacar baru?” Buru-buru aku menggeleng. “Bukan, Kak. Namanya Panca. Katanya anak komplek sini. Kakak kenal?” Satu alis Kak Avram tertarik ke atas. Dia seperti mencoba mengingat Panca itu yang mana. Kemudian Kak Avram mengangguk pelan. “Yang anaknya pakai tindik, bukan? Kulitnya sawo matang?” “Kakak kenal? Beneran anak komplek sini, Kak?” “Kenal. Dia adik tingkat, tapi drop out.” “Oh, ya?” Kak Avram mengangguk. “Sekarang gue nggak tahu dia kuliah apa kerja. Gue juga jarang ketemu. Lo pacarnya, Za?” Aku menggeleng tegas. Masih saja Kak Avram menanyakan hal itu, padahal aku tadi sudah menjawab tidak. “Aku masih cinta Ahmar, Kak.” Ucapanku membuat Kak Avram sedikit melotot. Aku tersenyum tipis lantas menunduk. “Kamu berhak bahagia, Za. Kakak nggak minta lo lupain Ahmar. Cuma, kakak mau ingetin hidup lo masih berlanjut. Lo juga butuh lelaki yang bisa mencintai dan jagain lo, yang bisa bikin lo bahagia.” Ucapan Kak Avram ada benarnya. Namun, menjalani hidup tak semudah mengucapkan sebuah kalimat, kan? Apalagi cintaku masih untuk Ahmar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD