6-Undangan Reuni

1344 Words
“Sekian pertemuan kita kali ini. Jangan lupa dengan tugas yang saya berikan.” Pak Yunus keluar saat jam mata kuliahnya telah berakhir. Semua mahasiswa tampak menggerutu karena tugas yang diberikan. Bagaimana tidak, Pak Yunus memberi tugas me-rasume tiga buku dan dikumpulkan minggu depan. Rencanaku langsung pulang sepertinya gagal. Aku harus mencari buku di perpustakaan agar tugas dari Pak Yunus cepat selesai. Aku menyampirkan tas ke lengan lantas beranjak dari tempat duduk setelah ruang kelas sepi. Aku terbiasa seperti ini, masuk kelas lebih dulu dan keluar paling akhir. Di kelas aku tak begitu dekat dengan teman-temanku. Padahal mereka tak tahu latar belakang hidupku. Apa aku yang cenderung aneh? Atau aku yang lebih banyak diam? Entahlah aku tak tahu penilaian mereka tentangku. Aku berjalan menuju perpustakaan pusat. Sengaja aku memilih perpustakaan pusat karena banyak referensi daripada perpustakaan jurusan. Setelah sampai perhatianku tertuju ke mahasiswa yang duduk di bangku sebelah gedung perpustakaan. Ada yang bersama teman, ada yang bersama pacar dan ada juga yang duduk sendiri. Sepertinya ada juga yang bernasib sama denganku. Beberapa menit kemudian, aku sampai di bagian perpustakaan. Aku segera mencari rak buku tentang pengelolaan keuangan. Ternyata buku yang aku cari cukup mudah dan banyak buku dari beberapa penulis yang membahas tentang pengelolaan keuangan. Aku mengambil dua buku berbahasa Indonesia dan satu berbahasa Inggris. Dosen-dosen akan memberikan nilai tambahan jika kita bisa me-resume buku terbitan luar. Sebenarnya aku tidak pintar berbahasa Inggris, tapi di rumah aku punya Kak Avram yang jago bahasa Inggris. Jadi aku minta ajari kakak ipar idaman itu. “Lo Zahya, kan?” Aku menoleh saat mendengar pertanyaan itu. Aku menatap gadis yang wajahnya tak asing lagi bagiku itu. Namun, aku lupa nama gadis itu. “Hai, iya aku Zahya,” jawabku. Gadis itu tersenyum manis, lantas mengulurkan tangannya kepadaku. “Lo pasti lupa sama gue. Gue Hana, yang sering satu angkot sama lo dulu.” Hana. Aku mengulang namanya dalam hati sambil mengingat. Kemudian gadis berkucir kuda dan seragam rapi muncul diingatanku. Jari telunjukku bergerak saat aku berhasil mengingat Hana. “Oh iya-iya. Rumahmu sebelum kampungku itu, kan?” tanyaku memastikan. “Iya, sebelum kampung lo. Dulunya anak IPA.” Sekarang, sepenuhnya aku ingat siapa Hana. Gadis yang sering satu angkot denganku saat berangkat sekolah. Kami tak begitu akrab, hanya saling menyapa saat di dalam angkutan. “Iya. Aku sekarang inget. Kamu kuliah di sini?” tanyaku. “Kita ngobrol sambil duduk yuk, nggak enak berdiri terus.” Aku mengangguk setuju dengan ajakannya. Aku mengambil tiga buku yang aku letakkan di pinggir rak, dan kudekap buku itu. Aku mengikuti langkah Hana yang berjalan menuju tempat duduk di tengah ruangan. “Gimana kabar lo?” tanya Hana setelah aku duduk di depannya. “Baik. Kamu gimana?” Hana terkekeh mendengar pertanyaanku. “Masih aja kayak dulu nyebut aku kamu.” Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal. Memang aneh kalau aku menggunakan aku-kamu? Sebenarnya aku tak nyaman dengan sebutan lo-gue. Berbeda dengan teman lainnya yang nyaman menyebut lo-gue. “Nggak nyaman aja, sih,” jawabku jujur. Hana menghentikan tawanya dan mengangguk paham. “Kabar gue baik. Oh ya lo ambil jurusan apa?” “Ambil manajemen. Kamu?” “Gue ambil biologi. Revisian lo udah selesai?” Aku tersenyum tipis mendengar pertanyaannya. Sepertinya Hana tak tahu kalau aku baru saja lumpuh. “Aku masih semester dua,” jawabku. Hana tampak kaget mendengar jawabanku. “Lo telat kuliahnya?” “Iya.” “Kenapa?” Raut wajahku berubah sendu. Mengingat kejadian itu membuka luka masa lalu yang belum mengering. “Aku habis kecelakaan dan lumpuh.” Hana menutup mulut dengan kedua tangan. Lalu dia menatapku intens. “Bener? Gue nggak denger kabar itu. Gue tahunya Ahmar yang kecelakaan.” Aku tersenyum kecut. Kabar kecelakaan Ahmar sepertinya menyebar ke penghuni sekolah. Sampai mereka tak tahu kalau aku juga kecelakaan, bersama Ahmar. “Aku kecelakaan sama Ahmar,” kataku. Hana menatapku tak percaya. Aku tersenyum tipis. “Jangan ngomongin itu ah, jadi inget pengalaman buruk,” pintaku agar obrolan kami beralih topik. “Sorry, ya. Gue beneran nggak tahu. Ah ini karena gue jarang sosialisasi sampai tetangga kampung kecelakaan aja gue nggak tahu.” kata Hana. “Bukan salah kamu.” Hana masih terlihat merasa bersalah. Aku tersenyum lebar agar gadis itu tak merasa bersalah lagi. “Oh ya minggu depan ada reuni SMA. Lo ikut, ya.” Aku tersentak mendengar perkataan Hana. Reuni SMA? Aku tak pernah tahu ada reuni SMA. Tentu saja aku tak tahu karena tak ada satupun yang memberi tahu. Yah kecuali Hana barusan. “Hari apa emang?” tanyaku. “Hari Sabtu. Lo ikut, kan?” Aku mengangkat bahu acuh tak acuh. Aku tak tahu ikut atau tidak, tapi sepertinya 95% aku tak ikut. Untuk apa aku ikut, toh di sana aku juga tidak dianggap. Aku seperti sosok tak kasat mata bagi mereka.   ***   Sekarang, aku sedang mencatat bagian-bagian penting dari buku yang ingin ku-resume. Sepulang dari kampus tadi, aku langsung membaca buku, dan mencatat bagian-bagian penting. “Za, dicari temenmu!!” Seketika gerakan menulisku terhenti. Tatapanku tertuju ke Kak Scarla yang berdiri di pintu sambil mengendong Kenzio. Lantas aku mengernyit mendengar ucapannya. “Teman? Siapa emang yang datang, Kak?” tanyaku bingung. “Rafif. Coba deh lihat, dia di teras depan,” jawab kak Scarla setelah itu keluar dari rumahku. Rafif? Untuk apa lelaki itu ke rumah? Aku buru-buru turun dari ranjang dan keluar menuju teras depan. Saat sampai di pintu depan, aku menghentikan langkah. Rafif sedang duduk sambil bermain ponsel. “Fif,” panggilku. Panggilanku membuat Rafif tersentak kaget. Dia terlihat buru-buru memasukkan ponselnya lalu berdiri. Aku berjalan mendekat lantas duduk di kursi sebelahnya. “Duduk, Fif,” pintaku. Rafif kembali duduk. Dia membuka tasnya lantas mengeluarkan sebuah undangan untukku. “Ada undangan reuni SMA.  Lo dateng, ya.” Aku diam. Tadi Hana yang membahas reuni SMA, sekarang Rafif datang mengantarkan undangan. Ah, kenapa sih harus ada reuni SMA? “Emang aku diundang, Fif?” tanyaku tak yakin. Rafif mengangguk antusias. “Iya. Semua alumni di undang kok.” Aku tak begitu yakin. Apa benar aku diundang? Sebelum-sebelumnya aku tak pernah mendapat undangan. Berpikir positif Zahya. Siapa tahu reuni baru diadakan tahun ini. “Makasih ya, Fif. Aku usahain dateng,” jawabku. “Kok usahain? Harus dateng. Ini panitia sengaja ngasih jauh-jauh hari biar banyak yang luangin waktunya buat reuni.” Aku menatap Rafif dengan senyuman tipis. Aku tak bisa menjelaskan kegundahan hatiku kepadanya. “Iya-iya,” jawabku sekenanya. “Lo bareng gue aja. Lo harus ikut. Nanti gue jemput.” Aku menggeleng tegas, kalau seperti itu tak bisa menghindar. Kenapa kesannya Rafif ingin sekali aku ikut di reuni SMA, sih? “Za, lo takut ketemu anak-anak?” Buru-buru aku membuang muka. Apa semudah itu menebak kegundahanku? Apa terlihat jelas di wajahku? Aku menarik napas panjang dan mencoba menghilangkan rasa gundah itu. “Enggak kok, Fif,” jawabku. “Nggak usah ditutup-tutupi, Za. Gue tahu apa yang ada di pikiran lo. Lo tenang aja, ada gue kok. Kalau mereka ngapa-ngapain lo ada gue yang siap jadi perisai.” Aku terkekeh mendengar ucapannya. “Apaan sih Fif. Pake sebut-sebut perisai.” “Haha.” Rafif ikutan tertawa. Dia menyodorkan undangan itu, dan aku terima. “Beneran ikut, ya. Gue jemput. Oh ya gue minta kontak lo, kan? Beberapa kali ketemu gue lupa minta kontak lo.” “Boleh, Fif.” Rafif merogoh ponsel di sakunya lantas memberikannya kepadaku. Aku menulis nomor di menu phone dan meyimpannya. Setelah itu aku mengembalikan ponsel itu ke Rafif. “Oke, deh. Lo harus ikut ya, Za. Gue nggak mau tahu pokoknya.” “Ih apaan sih maksa banget.” “Hahaha.” Aku dan Rafif terbahak. Entah sebenarnya kami mentertawakan apa. Melihat Rafif tertawa membuatku ikut tertawa juga. “Ya udah, gue mau nganter undangan lainnya. Lo harus ikut, Za.” Aku berdiri, tersenyum tipis ketika lelaki itu masih saja memintaku tetap ikut. “Hati-hati, Fif,” kataku saat sampai depan gerbang. Rafif melambaikan tangan, setelah itu melajukan mobilnya. Usai kepergiannya, aku menutup gerbang yang terbuka seperempat. Dari kejauhan aku melihat Panca berjalan dengan gitar di tangan. Mau ke mana lelaki itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD