7-Jalan-Jalan

1639 Words
Aku berjalan sedikit cepat mengejar langkah Kak Gita. Gadis itu berjalan begitu cepat hingga aku kuwalahan menyamai langkahnya. Seketika aku menghentikan langkah saat kakiku tak bisa diajak bergerak cepat lagi. “Kak, Git!!” teriakku. Kak Gita menoleh. Dia tersentak melihatku yang menunduk memegangi lutut. Buru-buru Kak Gita mendekat dan membungkuk ke arahku. “Za, kenapa?” Aku menegakkan tubuh lantas menatap Kak Gita. Bibirku mengerucut pura-pura merajuk. “Kak Gita jalannya jangan cepet-cepet. Zahya nggak bisa ngimbangi,” jawabku. “Astaga! Gita bodoh!!” Kak Gita menepuk kening dan memaki dirinya sendiri. Aku terkekeh melihat tingkah lucunya. “Maafin gue ya, Za. Jalan lagi kuat? Perlu Kak Gita gendong?” “Emang Kak Gita bisa gendong aku?” Kak Gita meringis sambil menggaruk tengkuk. Kak Gita ini memang lucu, tak kuat menggendong tapi menawari untuk menggendong. Aku lalu menggandeng tangan Kak Gita lantas melanjutkan berkeliling mal. “Zahya bercanda kok, Kak. Yuk jalan lagi!” ajakku. Sore ini aku diajak Kak Gita jalan-jalan. Sebenarnya bersama Kak Scarla, tapi kakakku itu menunggu Kak Avram pulang kerja. Aku dan Kak Gita diminta untuk berangkat dulu daripada menunggu. “Kak Gita. Boneka itu lucu, ya?” tunjukku ke boneka lumba-lumba warna biru. Kak Gita menatap ke arah tunjukku lalu menggeleng. “Mananya yang lucu? Boneka ya gitu-gitu aja,” jawabnya. Aku kembali menarik tangan Kak Gita untuk melanjutkan berkeliling mal. Dia memang bgitu orangnya, tidak suka boneka. Sedikit aneh, mengingat sebagian besar perempuan menyukai boneka. “Za. Kalau Kak Gita pake sepatu boat itu cocok nggak?” Tatapanku tertuju ke arah tunjuknya. Aku melihat sepatu boat berwarna cokelat di etalase. Sepatu itu cukup tinggi, mungkin sampai lutut jika dipakai. “Bagus sih, Kak. Tapi apa nggak terlalu tomboi?” tanyaku. Kak Gita menatapku sambil mengernyit. “Tomboi? Enggaklah bagus sepatu kayak gitu,” jawabnya. Aku mengangkat bahu. Sebenarnya aku tak begitu suka dengan sepatu boat seperti itu. Aku lebih suka sepatu biasa atau flat shoes. Aku juga senang model heels, tapi aku masih takut mengenakan sepatu hak tinggi. “Kak Gita emang suka model sepatu kayak gitu? Bukannya diusia Kak Gita lebih suka pake stilletto? Kayak Kak Scarla,” tanyaku. Kak Gita tak kunjung menjawab. Dia menarikku menuju food court dan memilih duduk di sebelah stand bakso. Kak Gita menatapku dengan serius membuatku jadi bertanya-tanya. “Menurut lo, gue harus ubah penampilan nggak?” Aku balas menatap Kak Gita dengan saksama. Kak Gita cantik dengan kulit putih, wajah oval bersih tanpa jerawat. Kecantikan Kak Gita natural, terbukti dengan dia tak pernah memakai makeup. Setahuku sih seperti itu. Tatapanku lalu tertuju ke rambut Kak Gita, yang hitam berkilau. “Menurutku sih enggak, Kak. Kak Gita udah cantik kok. Emang kenapa?” tanyaku. “Gue pengen lebih cantik dong!” Ucapan dan raut Kak Gita sedikit berbeda. Matanya tak berbinar, malah cenderung sedih. Aku mengangkat bahu, tak ingin terlalu mencampuri urusan Kak Gita. “Oh, ya. Lo udah punya pacar belum, Za?” Aku tersenyum kecut mendengar pertanyaan itu. Pacar? Punya niatan mencari saja tidak. Aku lantas menggeleng menjawab. “Loh emang kenapa? Pasti banyak yang suka sama lo.” “Nggak tahu Kak di luar sana banyak yang suka Zahya atau enggak. Tapi Zahya cuma suka satu orang.” “Siapa-siapa?” tanya Kak Gita antusias. “Ahmar.” Raut Kak Gita berubah menjadi terkejut. Aku tahu mungkin dia tak akan percaya kalau aku masih cinta ke Ahmar. “Lo masih cinta sama Ahmar?” tanyanya pelan. Aku mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Banget, Kak. Dia nggak bakal terganti,” jawabku. “Za, tapi hidup masih terus berjalan. Jangan sampai cinta yang lo pendam menghambat kehidupan lo. Gue yakin di sana masih banyak kok cinta buat lo.” Ya! Aku tahu hidup masih terus berjalan. Aku sudah banyak mendapat nasihat dari Kak Avram, Kak Scarla dan  Mama Verny tentang hal itu. Namun, mereka tak tahu bagaimana jadi aku, kan? “Atau lo mau gue cariin pacar?” Aku menggeleng, menolak penawaran itu. “Nggak perlu, Kak! Zahya belum minat,” jawabku. Kak Gita mendesah kecewa. Tak lama sudut bibirnya tertarik ke atas. “Kalau suatu hari nanti lo butuh, gue siap kok bantu lo cari pacar.” Kak Gita masih berusaha membujuk ternyata. Aku mengangguk, yah untuk sedikit menenangkan Kak Gita. Lalu gadis itu tersenyum puas. Tak lama aku ingat jika Kak Gita juga belum memiliki pasangan. “Kak, Git. Kakak aja belum punya pacar masa mau cariin buat Zahya.” “Wah sialan lo ngejek gue! Banyak kali yang suka sama gue. Cuma gue lagi nggak mau pacaran. Maunya komitmen dan ngeliat kesungguhan mereka.” Aku terbahak mendengar Kak Gita yang memakiku. Aku pernah mendengar saat Kak Gita bercerita dengan Kak Scarla, kalau dia tengah berjuang bersama lelaki idamannya agar bisa bersatu. “Loh, Zahya!” Seketika Aku dan Kak Gita menoleh ke sumber suara. Aku melihat Rafif dan seorang gadis berseragam SMA berdiri di dekat meja yang aku tempati. “Hai, Fif,” sapaku. “Hai, lo siapanya Zahya?” Kak Gita berdiri dan menyalami Rafif. Sedangkan Rafif tampak kikuk di depan Kak Gita. “Dia teman kakakku, Fif,” jelasku ke Rafif. “Hai. Ternyata kakak ya yang namanya Kak Zahya.” Gadis berseragam SMA itu membuka suara. Dia menatapku dengan senyum lebarnya. Bibirnya terbuka hendak mengucapkan sesuatu tapi dibekap oleh telapak tangan Rafif. Lelaki itu berbisik dan gadis berseragam SMA itu mengangguk. Aku merasa ada yang disembunyikan dari Rafif. “Za, perut gue kok mules, ya? Gue ke toilet bentar deh,” kata Kak Gita lantas buru-buru berlari menjauh dari food court. “Aduh, Bang. Perut gue tiba-tiba juga mules. Gue ke toilet, ya.” Tatapanku tertuju ke gadis SMA itu yang berlari menjauh itu. Aku mengernyit, kok bisa mereka sakit perutnya barengan gitu? Seketika aku menatap Rafif yang masih berdiri di posisinya. “Mereka aneh ya. Kok bisa sakit perut barengan.” Aku mengangkat bahu. “Kalau orang sakit nggak bisa ditebak, Fif.” “Iya, sih,” jawabnya. “Gue boleh duduk sini?” Aku mengangguk antusias, daripada menunggu sendiri di sini mending menunggu bersama Rafif. “Boleh, Fif. Sini,” kataku. Rafif lalu duduk di sebelahku. Dia menatapku dengan senyumannya. Aku mengernyit, dan buru-buru memalingkan wajah. Ada apa dengan Rafif?   ***   Kak Scarla: Kakak nggak jadi ke mall. Mau makan berdua sama Kak Avram. Aku mendesah membaca pesan itu. Lantas aku jawab dengan cepat. Zahya: Percuma Zahya nunggu. Malah Kak Gita nggak balik-balik. Entah sudah berapa lama aku menunggu di food court bersama Rafif, yang jelas kami sudah menunggu lama. Aku saja sudah menghabiskan seporsi bakso, kentang goreng dan dua gelas es teh. “Fif. Kayaknya, Kak Gita nggak bakal balik ke sini,” kataku. Rafif menoleh ke arahku. Di sudut bibirnya terlihat ada noda mayones. Tanganku terulur ke tangan Rafif yang ada di atas meja. Jariku menarik jari telunjuknya lantas menggerakkan di sudut bibirnya. “Kalau makan kok belepotan ya,” ejekku. Rafif menarik tanganku dan menggenggamnya. Sedangkan satu tangannya menghapus sudut bibirnya hingga noda itu menghilang. “Makasih, ya,” jawabnya. Aku hendak berbalik arah, tapi tangganku seperti ada yang menahan. Aku melirik ke tanganku yang masih digenggam Rafif. Buru-buru aku menarik tanganku dan menyembunyikan ke balik tubuh. “Sorry, Za,” kata Rafif. “Nggak apa-apa,” jawabku tanpa menatapnya. Aduh Zahya! Kenapa sih sampai nggak sadar kalau tangan digenggam Rafif. Bikin malu saja. “Za, lo mau balik atau gimana?” Aku menoleh dan mendapati Rafif menatapku menunggu jawaban. Aku menarik napas lantas mengangguk. Lebih baik aku pulang. Ah, coba kalau dari tadi Kak Scarla menghubungiku pasti aku sekarang sudah di rumah dan melanjutkan me-resume. “Gue anter, yuk. Adik gue ngirim pesan katanya udah pulang duluan,” kata Rafif. Kami berdua sepertinya sedang diuji kesabarannya. Menunggu orang, tapi orang itu malah meninggalkan begitu saja. Aku lantas berdiri dan mengajak Rafif segera pulang. “Za, lo ikut ya ke reunian.” Itu lagi! Tadi saat menunggu kami membahas seputar aktivitas kami. Sebisa mungkin aku tidak mengangkat topik yang mengingatkan masa SMA dan reuni SMA. Eh saat hendak pulang Rafif malah membahasnya. “Aku kira, kamu nggak bakal bahas itu lo Fif,” kataku. Rafif yang berjalan di sebelahku menoleh. “Kenapa? Menghindari topik itu, ya?” “Iyalah. Baru kemarin loh Fif kamu ke rumah dan tanya masalah itu, sekarang udah tanya lagi.” “Gue cuma ngingetin, Za.” “Bukan ngingetin Fif. Tapi sedikit memaksa.” “Sorry, kalau lo nggak nyaman.” Aku terdiam tidak menjawab ucapan Rafif. Saat sampai di mobil aku membuka pintu penumpang lantas buru-buru masuk. Tak lama kemudian Rafif mulai melajukan mobilnya. Aku menatap ke depan dan tak memulai pembicaraan terlebih dahulu. “Za, sorry ya kalau gue terkesan maksa,” kata Rafif memecah keheningan yang tercipta. Aku memutar tubuh hingga menghadap Rafif lalu tersenyum tipis. “Nggak, apa-apa Fif.” Rafif menoleh sekilas, terdengar lega mendengar jawabanku. “Gue cuma pengen lo berbaur sama temen-temen. Gue juga pengen temen-temen deket lagi sama lo. Itu aja kok.” Aku salah telah berburuk sangka ke Rafif. Ternyata dia bukan memaksaku. Dia hanya ingin aku kembali dekat dengan teman-teman lainnya. “Za, kemarin gue telepon kok nggak lo angkat, sih?” Satu alisku tertarik ke atas. “Jam berapa ya?” tanyaku. “Jam sebelas malem.” “Aku udah tidur kali, Fif. Oh jangan-jangan nomor baru itu nomor kamu, ya?” tanyaku saat ingat dengan panggilan tak terjawab dari nomor baru yang aku lihat tadi pagi. “Iya. Simpen, ya. Kalau nanti malem gue telepon lo, lo nggak marah, kan?” “Hahaha!” Aku terbahak mendengar pertanyaannya. “Marah? Ya enggaklah Fif. Asal kamu tele ponnya jangan di atas jam sepuluh malem aja. Aku udah tidur.” “Oke siap,” jawab Rafif dengan senyum mengembang. Aku mengalihkan pandang ke arah jendela. Aku melihat awan kelabu. Hari ini sepertinya tak ada cahaya kemerahan lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD