Bitna membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Hari ini sungguh melelahkan. Dia hampir saja berkelahi dengan seorang pria mabuk yang makan di restoran tempatnya bekerja. Jika saja bosnya tidak memisahkan mereka pasti Bitna sudah menghajar pria kurang ajar tadi.
Bitna menghela napas mengingat kejadian hari ini. Ini bukan pertama kalinya seorang pengunjung restoran bersikap kurang ajar padanya. Bitna merasa heran, kenapa mereka selalu memperlakukan para pegawai restoran dengan tidak sopan hanya dengan alasan pelanggan adalah raja. Itu alasan yang sangat tidak masuk akal menurut Bitna. Satu-satunya alasan kenapa mereka melakukan itu adalah pada dasarnya mereka memang tidak punya sopan santun.
Bitna beringsut dari tempat tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi. Dia belum sempat mandi sejak pulang tadi. Badannya bau asap pemanggangan, dia tidak bisa tidur dengan keadaan seperti ini meskipun merasa sangat lelah.
15 menit kemudian Bitna keluar dari kamar mandi mengenakan setelan training berwarna abu-abu. Rambutnya yang basah dibalut dengan handuk berwarna putih. Bitna menuju dapur lalu membuka salah satu lemari kabinet atas. Dia mengeluarkan sebungkus ramyeon lalu mengambil panci dan mengisinya dengan air untuk memasak ramyeon.
Bitna membawa semangkuk ramyeon yang sudah matang itu ke meja makan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Matanya fokus menatap kursi di ujung meja makan. Bitna menatapnya cukup lama. Dulu ayahnya selalu duduk di sana saat makan bersama.
Maafkan ayah, karena ayah kau jadi hidup menderita.
Bitna kembali teringat kata-kata yang sering ayahnya ucapkan saat masih hidup.
Bitna mendecih.
“Jika minta maaf kenapa tak berhenti meminjam uang pada rentenir.”
Ayahnya memang selalu meminta maaf atas keadaan yang mereka alami. Tapi walaupun meminta maaf, ayahnya tak pernah bisa berhenti berhutang untuk memulai usaha yang selalu berakhir dengan kegagalan. Dan karena itu Bitna membenci ayahnya.
Sial, Bitna kembali teringat mendiang ayahnya.
Bitna menyuapkan ramyeon yang diambilnya dengan sumpit ke dalam mulut. Karena teringat ayahnya entah kenapa ramyeon itu rasanya menjadi tidak enak. Padahal sebelum mandi dia ingin sekali makan ramyeon.
Aku bisa melunasi semua hutang ayahmu jika kau bersedia menikah denganku.
Bitna meletakkan sumpitnya. Perkataan Yo Han siang tadi terlintas di pikirannya.
“Bagaimana jika dia ternyata bukan seorang penipu?” gumam Bitna.
Perkataan Yo Han cukup mengganggu pikiran Bitna. Bagaimana jika Yo Han bukan seorang penipu? Bagaimana jika Yo Han sungguh serius dengan ucapannya?
Bitna dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ucapan Yo Han pasti tidak benar. Pria itu hanya seorang penipu. Mana ada orang yang mau melunasi hutang ayahnya yang tak sedikit.
***
“Apa yang dilakukan Kim Bitna hari ini?” tanya Yo Han saat Seung Min masuk ke dalam ruangannya.
“Hari ini dia bekerja di restoran cepat saji,” jawab Seung Min.
“Dan ini.” Seung Min meletakkan map berwarna cokelat ke atas meja Yo Han.
“Daftar hutang Kim Chul Sik pada para rentenir. Salah satunya akan jatuh tempo akhir bulan ini.”
Yo Han membuka map itu. Matanya membaca setiap angka di atas kertas tersebut. Ada satu kalimat yang menarik perhatiannya di sana.
“Di sini tertulis jika Kim Chul Sik tidak melunasi hutangnya rumahnya akan di sita, itu artinya....”
“Kim Bitna harus keluar dari rumahnya,” sambung Seung Min.
Yo Han menarik sebelah sudut bibirnya, pria itu menyeringai.
Di mata Seung Min, ekspresi Yo Han saat ini terlihat menyeramkan. Dia tidak tahu apa yang sedang di rencanakan oleh bosnya itu.
“Apa Anda sungguh ingin menikahi Kim Bitna?” tanya Seung Min berhati-hati. Selama ini dia pikir atasannya itu tidak tertarik untuk menikah seperti sang kakak, Nam Yoo Rin.
“Tentu, hanya Kim Bitna jawaban yang tepat untuk menyelesaikan masalahku,” jawab Yo Han.
“Bukankah lebih mudah mencari wanita lain?”
Yo Han menggeleng. Agar rencananya berjalan sempurna maka dia harus menikahi Kim Bitna, bagaimanapun caranya.
“Kapan wawancara itu akan di tayangkan?” tanya Yo Han.
“Mereka bilang akan di tayangkan di BBS News siang ini.”
“Bagus, jika dia melihat berita itu pasti dia akan sadar jika aku bukan penipu.”
Lagi-lagi Yo Han menyeringai membuat Seung Min bergidik ngeri. Atasannya itu sungguh tidak bisa di tebak. Tiba-tiba saja dia terobsesi pada Bitna, gadis yang bahkan tak Yo Han kenal.
***
“Satu cheese burger, kentang goreng, dan cola,” ucap seorang pengunjung restoran pada Bitna.
Bitna dengan cepat mencatat pesanan itu dan memproses pembayarannya.
“Silakan ditunggu, makanan Anda akan segera kami siapkan,” ucap Bitna dengan ramah.
Setelah pelanggan itu duduk di meja yang kosong Bitna berbalik sambil meregangkan badannya yang terasa pegal. Hari ini banyak sekali pengunjung yang datang ke restoran cepat saji tempatnya bekerja.
“Berikut akan kami tayangkan video wawancara bersama Direktur KL Cosmetics, Nam Yo Han.”
Mendengar nama Yo Han dan KL Cosmetics, Bitna refleks berbalik menatap televisi yang menempel di dinding. Matanya melebar melihat sosok yang ada di layar televisi. Itu adalah pria yang menemuinya beberapa hari yang lalu.
“KL Cosmetics sangat mencintai para pengguna produk kami, karena itu kami selalu memperhatikan mereka dengan meluncurkan produk-produk yang sesuai dengan mereka,” ujar Yo Han dalam wawancara yang tayang di BBS News itu.
Mata Bitna terpaku menatap pria itu. Ternyata Yo Han bukan seorang penipu. Dia memang direktur KL Cosmetics, perusahaan produk kecantikan terbesar negeri ini.
“Apa kata-katanya waktu itu juga sungguh-sungguh?” gumam Bitna.
“Sekarang sudah percaya jika aku bukan penipu.”
Bitna menatap kaget pria yang saat ini berdiri di depan meja counter. Pria itu kemudian melepas kacamata hitam yang bertengger manis di batang hidungnya.
Mata Bitna melebar melihat wajah di balik kacamata hitam itu. Dia Nam Yo Han, pria yang baru saja dilihatnya di layar kaca.
Sejak kapan dia di sana? Batin Bitna.
“Jadi, bagaimana? Mau menikah denganku?”
***
Yo Han, Bitna dan Seung Min duduk bersama di dalam sebuah Cafe. Jam kerja Bitna di restoran cepat saji sudah selesai, dan gadis itu di ‘seret' paksa oleh Yo Han untuk bicara.
Bitna menatap Yo Han dari ujung kepala hingga kaki. Dia tidak percaya jika Yo Han benar-benar direktur KL Cosmetics.
“Kau adalah direktur KL Cosmetics?” tanya Bitna tak percaya. Entah kenapa dia masih belum yakin jika pria yang duduk bersamanya saat ini adalah direktur dari sebuah perusahaan besar.
Yo Han mendecih. “Apa melihatku di layar kaca tadi tak cukup untuk meyakinkanmu jika aku ini direktur KL Cosmetics?”
“Sebenarnya aku benci tampil di televisi seperti tadi. Tapi, untuk meyakinkanmu aku rela melakukan wawancara itu.”
Mendengar ucapan atasannya, dalam hati Seung Min mendecih. Ucapan Yo Han sama sekali tak sesuai dengan kenyataan. Dia tahu Yo Han sangat menikmati proses wawancara itu.
“Jadi bagaimana dengan tawaranku waktu itu?” tanya Yo Han.
Bitna menatap Yo Han dan Seung Min bergantian. Ini terlalu mengejutkan untuknya. Direktur KL Cosmetics ingin menikahinya dan melunasi semua hutang mendiang ayahnya, kenapa? Mereka bahkan tak saling kenal.
“Jadi kau akan melunasi semua hutangku jika aku menikah denganmu?” tanya Bitna.
Yo Han mengangguk.
“Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa kau mau melunasi hutang-hutangku? Padahal kita tak saling kenal.”
Yo Han mengangguk-angguk. Dia paham Bitna pasti merasa curiga padanya. Jika menjadi Bitna, Yo Han pasti juga merasa curiga.
“Aku tahu kau merasa curiga padaku, tapi percayalah aku benar-benar serius dengan ucapanku. Kau tahu give and take?”
“Give and take?”
“Memberi dan menerima. Mirip dengan simbiosis mutualisme. Kau menikah denganku, dan aku melunasi hutangmu,” jelas Yo Han.
Simbiosis mutualisme? Itu jika kedua belah pihak diuntungkan. Menurut Bitna dalam kasus ini hanya satu pihak yang diuntungkan, yaitu dirinya. Sedangkan Yo Han, bukankah dia mengalami kerugian karena mengeluarkan uang yang banyak untuk melunasi hutangnya.
“Tawaranmu memang menguntungkanku, tapi apa yang akan kau dapatkan jika aku menikah denganmu?”
“Tentu aku mendapat seorang istri,” jawab Yo Han.
Bitna mendecih, dia tahu itu. Tapi bukan itu yang dia maksud.
“Jika kau masih ragu, Seung Min akan menjelaskannya padamu. Dia sekretarisku.”
Bitna melirik pria yang duduk di samping Yo Han. Dia terlihat lebih muda dibandingkan Yo Han.
Seung Min menyodorkan selembar kertas pada Bitna. Dalam kertas itu berisi apa yang akan Bitna dapatkan jika dia mau menikah dengan Yo Han.
“Jika Anda bersedia menikah dengan Yo Han Sajangnim, Anda akan mendapat fasilitas seperti mobil, rumah, kartu kredit tanpa limit dan....”
“Tunggu.” Bitna memotong perkataan Seung Min. “Yang ingin aku tahu kenapa dia ingin sekali aku menikah dengannya?”
Seung Min melirik atasannya. Yo Han kemudian memberi isyarat pada Seung Min.
“Sebenarnya ini hal yang sangat rahasia.” Seung melirik ke sekitar mereka sebelum melanjutkan perkataannya.
“Sebenarnya, Yo Han Sajangnim adalah seorang gay,” bisik Seung Min.
Bitna mengerutkan dahinya.
“Gay???” tanya Bitna tak percaya. Ia kemudian menatap Yo Han. Pria itu tampak santai minum ice americano yang dipesannya tadi.
Di mata Bitna, Yo Han tampak seperti pria normal.
“Beliau ingin menikahi Anda untuk menyembunyikan hal tersebut,” jelas Seung Min.
Bitna mendecih tak percaya. Benarkah Yo Han adalah seorang gay? Jika memang Yo Han gay, dia bisa mencari wanita lain untuk dinikahi. Kenapa pria itu bersikeras menikahinya?
“Jika orang lain tahu fakta bahwa aku seorang gay, kau tahu apa yang akan terjadi? Aku mungkin akan dicoret dari daftar pewaris. Jadi, Kim Bitna-ssi tolong kerja samamu dan menikahlah denganku. Kita sama-sama diuntungkan di sini.”
“Kenapa harus aku? Bukankah kau bisa mencari wanita lain?” tanya Bitna.
“Jika aku mencari wanita lain, orang tuaku belum tentu akan setuju. Tapi jika aku membawamu, aku bisa menjamin seratus persen mereka akan merestui kita,” jawab Bitna.
“Kenapa kau yakin sekali?”
“Akan aku katakan alasannya setelah kau setuju menikah denganku. Jadi, pikirkanlah baik-baik tawaranku.”
Bitna terdiam. Jika dia menikah dengan Yo Han semua hutang ayahnya akan lunas. Tapi jika dia melakukannya, itu sama artinya dengan Bitna menjual dirinya pada Yo Han. Bitna tidak mau melakukan hal-hal kotor seperti itu.
“Tidak. Aku tidak mau menikah denganmu,” tolak Bitna tegas.
“Jika aku melakukannya, itu sama saja aku menjual diriku padamu.”
“Tunggu-tunggu. Kau yakin menolak tawaranku?”
Bitna mengangguk pasti.
“TAPI KENAPA?” teriak Yo Han membuat Seung Min dan Bitna terkejut. Beberapa pengunjung Cafe juga menatap aneh ke arah mereka.
“Kenapa kau menolakku?” tanya Yo Han tak percaya. Bitna akan mendapatkan banyak fasilitas mewah setelah menikah dengannya, tapi kenapa gadis itu justru menolak tawarannya.
“Bukankah sudah aku bilang, aku tak mau menjual diriku padamu,” jawab Bitna.
“Menjual diri katamu? Ini sangat berbeda dengan itu.”
“Pokoknya aku tetap menolak tawaranmu. Lebih baik kau cari wanita lain.”
Bitna bangkit dari kursi lalu membungkukkan badannya.
Yo Han menatap Bitna yang lagi-lagi pergi begitu saja saat dia berusaha meyakinkan gadis itu.
“Bagaimana, mau cari wanita lain saja?” tanya Seung Min. Bitna sudah jelas menolak tawaran mereka. Akan lebih mudah jika Yo Han mencari wanita lain.
“Tidak!” tolak Yo Han.
“Bagaimanapun caranya aku harus menikah dengan Kim Bitna.”