Tok tok tok
Bitna mengerjapkan matanya. Suara ketukan pintu itu membawanya kembali alam nyata. Bitna kemudian meraih ponsel di atas nakas lalu menyalakannya. Matanya menyipit menatap jam yang tertera di layar ponsel. Ini baru jam 7 pagi dan dia baru tidur selama dua jam karena semalam mendapat giliran shift malam kemarin di minimarket. Siapa yang mengganggunya pagi-pagi sekali?
Bitna beringsut dari tempat tidur menuju ke pintu masuk rumahnya. Sambil mengucek matanya yang masih mengantuk Bitna membuka pintu kayu yang tampak usang. Seketika rasa kantuk gadis itu lenyap saat melihat sosok yang berdiri di balik pintu. Dua pria berbadan besar dengan pakaian serba hitam berdiri tepat di depan Bitna sambil menatapnya tajam seolah-olah mereka siap menerkamnya. Seketika rasa takut mulai menjalar di seluruh tubuh gadis itu.
“Siapa ya?” tanya Bitna gugup. Mereka bukan orang-orang jahatkan?
“Apa Anda nona Kim Bitna?” tanya salah seorang dari mereka.
Bitna mengangguk takut. Melihat dari penampilan kedua pria di depannya Bitna bisa menebak pasti ini berkaitan dengan hutang mendiang ayahnya. Bitna penasaran, sebenarnya berapa banyak hutang yang dimiliki mendiang ayahnya? Kenapa para rentenir tak pernah berhenti datang mencarinya?
Salah satu pria berbadan kekar tadi menyerahkan sebuah amplop berwarna putih pada Bitna. Bitna segera meraih amplop itu dengan tangan sedikit bergetar karena takut lalu membukanya.
“Itu adalah surat pemberitahuan, jika Anda harus keluar dari rumah ini karena mendiang Kim Chul Sik tidak bisa melunasi hutangnya hingga waktu jatuh tempo berakhir,” jelas pria itu.
Mata Bitna melebar membaca surat pemberitahuan itu. Rasanya bagai disambar petir di siang hari yang cerah. Dia tidak tahu jika ayahnya juga menjadikan rumah sederhana ini sebagai jaminan saat meminjam uang.
“Tunggu....” Bitna menyentuh kepalanya yang tiba-tiba berdenyut hebat. “Itu artinya kalian akan menyita rumah ini?”
“Benar, Anda kami beri waktu 24 jam untuk mengosongkan rumah ini. Besok Anda sudah harus pergi dari rumah ini.”
Setelah mengatakan hal itu kedua pria tadi meninggalkan Bitna yang masih tak percaya jika dia baru saja diusir dari rumahnya.
Bitna jatuh terduduk di depan pintu. Kakinya terasa lemas. Benarkah dia harus keluar dari rumahnya?
“Aku harus tinggal di mana sekarang?” lirih gadis itu.
Dia tak punya uang untuk menyewa sebuah tempat tinggal. Semua uang hasil kerjanya selama ini digunakan untuk mencicil hutang ayahnya dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Jika dia harus keluar dari rumahnya, Bitna tidak tahu harus pergi ke mana. Sanak saudaranya menjauhi Bitna sejak keluarganya bangkrut. Takdir sepertinya sangat kejam padanya. Ayahnya baru saja meninggal dan meninggalkan hutang yang tak sedikit lalu sekarang dia juga harus kehilangan rumahnya.
Siang harinya Bitna keluar dari rumahnya sambil menarik sebuah koper besar berwarna hitam. Siang itu Bitna sudah selesai berkemas. Tak banyak barang yang dia bawa karena dia memang tak memiliki barang berharga. Bitna menatap bangunan tua yang dulu menjadi tempat tinggalnya. Sekarang rumah itu bukan lagi miliknya.
“Terima kasih atas penderitaan yang ayah tinggalkan,” gumam Bitna menatap kosong rumah yang sekarang bukan lagi miliknya.
Gadis itu kemudian berjalan menjauh dari tempat itu sambil menyeret kopernya. Dia tidak tahu harus pergi ke mana, tapi lebih baik untuk segera meninggalkan rumah itu dulu. Jika dia tak segera pergi dari sana Bitna takut dua pria tadi akan kembali dan melukainya.
***
“Kim Bitna baru saja keluar dari rumahnya,” ucap Seung Min saat masuk ke dalam ruang kerja Yo Han.
Meskipun telah ditolak oleh Bitna sebelumnya, Yo Han tidak menyerah. Dia tetap menyuruh Seung Min untuk terus mengawasi gadis itu dan melaporkan semua kegiatan Bitna padanya.
“Kau tahu dia akan pergi ke mana?” tanya Yo Han.
“Hari ini Bitna tidak mungkin pergi bekerja, dia hanya berjalan menjauh dari rumahnya. Kemungkinan dia akan tidur jjimjilbang malam ini.”
*Jjimjilbang : Tempat sauna khas Korea.
“Jjimjilbang?”
“Nde.”
Benar, satu-satunya tempat yang akan didatangi Bitna hanya jjimjilbang. Gadis itu tak punya uang untuk menyewa rumah atau apartemen saat ini.
“Dia tak mungkin akan terus menginap di sana, terus awasi dia dan laporkan padaku.”
“Nde!”
Yo Han akan memanfaatkan situasi Bitna saat ini untuk mendapatkan hati gadis itu. Semakin Bitna terpuruk akan semakin mudah meyakinkan Bitna agar mau menerima tawarannya.
Kalian tahu bagaimana mendapatkan simpati dari seorang wanita? Meraih tangannya ketika dia sedang terpuruk. Ketika wanita sedang terpuruk hatinya akan menjadi lemah, dan kau bisa dengan mudah mendapatkan simpatinya.
Ada alasan kenapa Yo Han sangat ingin menikahi Binta. Usianya sudah 32 tahun, itu usia yang sangat matang untuk menikah. Namun, sayangnya Yo Han belum ingin menikah, tapi kedua orang tuanya terus mendesak agar Yo Han segera menikah. Mereka ingin segera memiliki cucu. Sialnya, jika saja Nam Yoo Rin kakak perempuan Yo Han itu mau menikah pasti kedua orang tuanya tak akan terus memaksanya untuk menikah. Yoo Rin bilang dia tidak akan pernah menikah, karena itu merepotkan. Pernyataan konyol kakak perempuannya itu membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan Yo Han. Karena ulah kakaknya orang tua mereka terobsesi untuk menjodohkan Yo Han, mereka tidak mau putra mereka berakhir seperti Yoo Rin yang tidak mau menikah.
Untuk menghindari perjodohan yang direncanakan orang tuanya Yo Han membutuhkan Bitna. Yo Han memang bisa mencari wanita lain untuk menikah dengannya, tapi orang tuanya tak akan mudah menyetujuinya. Tapi jika wanita itu Kim Bitna, orang tua Yo Han pasti akan menyetujuinya. Ada hubungan antara orang tuanya dan orang tua Bitna di masa lalu.
***
“Sajangnim,” panggil Seung Min pada Yo Han yang duduk di kursi belakang.
“Hem,” sahut Yo Han tanpa menatap Seung Min yang fokus menyetir di depannya.
“Kim Bitna....”
Mendengar nama Bitna, Yo Han refleks menatap Seung Min. Nama gadis itu dapat dengan mudah merebut atensi Yo Han.
“Ada apa dengannya?”
“Sepertinya dia tidak tidur di jjimjilbang malam ini.”
Yo Han mengerutkan dahinya. Jika tidak tidur di jjimjilbang lalu di mana Bitna akan tidur malam ini?
“Dia tidur di rumah temannya?”
Seung Min menggeleng. “Dia sepertinya tidak punya teman.”
Jika tidak tidur di jjimjilbang atau rumah temannya, itu berarti Kim Bitna tidur di jalanan?
“Dia tidur di jalanan?” tanya Yo Han tak percaya.
“Mungkin.”
“Apa dia benar-benar tak punya uang untuk pergi ke jjimjilbang?”
“Sepertinya begitu.”
Yo Han menghela napas. Dia tidak bisa membiarkan Bitna tidur di jalanan.
“Kau tahu di mana dia sekarang?”
“Orang suruhanku bilang dia baru saja selesai bekerja di restoran cepat saji di daerah Jang Chung Dong.”
“Kalau begitu cepat pergi ke sana, ah... saat sampai di sana pura-pura tak sengaja bertemu. Dia tidak boleh tahu jika kita sengaja mengikutinya.”
“Nde.”
Mobil Yo Han kemudian melaju cepat menuju daerah Jang Chung Dong. Dia harus segera menemukan Bitna. Gadis itu tidak boleh berakhir dengan tidur di jalanan malam ini karena pasti akan sangat berbahaya.
***
Bitna duduk termenung di bangku halte. Di sampingnya ada koper hitam yang sejak tadi dia bawa. Matanya menatap kosong jalanan beraspal di depannya. Bitna tidak tahu harus pergi ke mana. Sesekali gadis itu menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Sekarang sudah memasuki akhir musim gugur dan udara menjadi bertambah dingin.
“Tidak mungkin aku tidur di jalanan,” gumam Bitna.
Seketika gadis itu menyesal menolak tawaran Minah untuk menginap di tempatnya. Harusnya tadi dia setuju saja dengan ajakan Minah. Sekarang dia tidak tahu harus pergi ke mana.
Bitna mendongak saat melihat sesuatu mulai membasahi jalanan di depannya. Hujan turun malam itu. Wah, nasibnya sial sekali hari ini. Diusir dari rumahnya dan terpaksa tidur di jalanan, ditambah lagi turun hujan sekarang. Sepertinya dia memang bernasib sial.
Cit...
Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba berhenti di depan halte tempat Bitna berada. Seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam memakai payung keluar dari sana dan menghampiri Bitna.
“Kim Bitna,” panggil pria itu dengan suara beratnya. Di balik suara rintik hujan Bitna merasa mengenali suara ini.
Bitna mendongak menatap pria yang saat ini berdiri di hadapannya.
“Oh....”
Bitna mengerutkan dahinya. Itu Nam Yo Han.
“Apa yang kau lakukan di sini? Dan koper itu?”
Yo Han menunjuk koper di samping Bitna.
“Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Bitna. Melihat Yo Han tiba-tiba muncul di depannya membuatnya terkejut.
“Aku tak sengaja melihatmu saat lewat,” jawab Yo Han. Tentu itu bohong. Dia sengaja datang untuk menemui Bitna. Dalam hati Yo Han merasa lega karena berhasil menemukan gadis itu setelah beberapa kali mengelilingi daerah Jang Chun Dong.
“Kau pergi dari rumah?”
Bitna menghela napas. “Aku di usir.”
“Ha?”
Bitna memalingkan wajahnya. Dia malas membahas alasan kenapa bisa di usir dari rumah. Lagi pula Yo Han adalah orang asing, jadi dia tak perlu mengatakannya pada Yo Han.
“Lalu kau akan ke mana?”
“Tidur di jalanan mungkin,” jawab Bitna seadanya. Dia memang tidak punya pilihan lain selain tidur di jalanan.
“Apa kau mau jadi mangsa pria-pria m***m?” omel Yo Han mendengar entengnya Bitna bilang bahwa gadis itu akan tidur di jalanan.
Pria itu lantas mengambil koper milik Bitna.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Bitna.
“Membawamu pulang.”
“Apa???”
Mata Bitna berkedip tak percaya. Nam Yo Han ingin membawanya pulang?
“Tu- Tunggu.” Bitna menahan tangan pria yang saat ini mengambil alih koper miliknya.
“Aku pulang ke rumahmu?”
“Kau tak mau? Kau mau tidur di jalanan dan jadi mangsa pria-pria m***m?”
Bitna menggeleng. Siapa yang mau jadi mangsa pria-pria m***m yang sering berkeliaran di malam hari?
“Tapi....”
“Tenang aku tak akan berbuat macam-macam. Kau lupa, aku ini gay.”
Bitna terdiam. Benar Yo Han adalah gay. Dia tak mungkin berbuat macam-macam padanya.
“Jadi bagaimana? Mau ikut atau tetap di sini?”
Bitna menghela napas. Di satu sisi dia merasa takut jika harus ikut bersama Yo Han, di sisi lain dia juga tidak mau berakhir dengan tidur di jalanan malam ini.
“Kim Bitna-ssi?”
“Nde???”
“Ikut atau tidak?”
“Aku akan ikut.”
Mendengar jawaban Bitna, Yo Han segera membawa koper gadis itu dan memasukkannya dalam bagasi mobil. Sementara Bitna mengekor di belakangnya.
“Sana masuk ke mobil, kau tak lihat hujan turun semakin deras!” perintah Yo Han.
“Nde,” sahut Bitna lalu membuka pintu belakang. Gadis itu kemudian menganggukkan kepalanya saat melihat Seung Min duduk manis di balik kemudi.
“Kita ke apartemenku!” perintah Yo Han saat dirinya masuk ke dalam mobil memosisikan tubuhnya duduk di samping Bitna. Pria itu lantas memberikan handuk pada Bitna, pakaian gadis itu basah terkena air hujan saat hendak masuk ke dalam mobil tadi.
Bitna melirik Yo Han yang duduk di sampingnya. Jika pria itu tidak datang mungkin dia akan berakhir tidur di jalanan malam ini.
***
Mobil Yo Han berhenti di depan gedung apartemen yang tinggi. Seung Min keluar terlebih dahulu untuk mengambil koper milik Bitna di bagasi. Yo Han keluar setelahnya. Bitna masih terpaku di kursinya. Kakinya ragu melangkah keluar dari mobil itu. Benarkah dia akan menginap di rumah Yo Han? Pria asing yang tiba-tiba muncul dalam kehidupannya.
“Kau tak turun? Hujan sudah reda dan kita sudah sampai.”
Yo Han menatap Bitna yang masih diam di dalam mobil.
Yo Han melirik jari-jari Bitna yang bergerak gugup. Gadis itu masih takut rupanya.
“Tenang, aku tak akan berbuat macam-macam. Jika aku berbuat macam-macam kau bisa membunuhku.”
Bitna masih diam, dia hanya menatap ragu Yo Han berdiri di samping pintu mobil yang terbuka.
Melihat Bitna yang masih diam, Yo Han kemudian mengulurkan tangannya.
“Ayo, ini tempat teraman. Tak akan terjadi apa pun padamu, percayalah,” ucap Yo Han lembut.
Bitna menatap uluran tangan Yo Han selama beberapa detik, kemudian Bitna meraih tangan itu dan keluar dari mobil. Matanya terbuka lebar menatap gedung apartemen yang menjulang tinggi di depannya. Tepat saat itu Bitna sadar dia dan Yo Han ada di dunia yang berbeda.
“Ayo masuk, apartemenku ada di lantai 5,” ajak Yo Han.
Pria itu lalu menarik koper milik Bitna sedangkan gadis itu mengekor di belakangnya. Mereka kemudian masuk ke dalam gedung apartemen yang terletak di daerah Gangnam itu. Apartemen tempat Yo Han tinggal terdiri dari 15 lantai. Di setiap lantai terdapat dua unit apartemen. Bisa dibayangkan betapa luasnya setiap unit apartemen di sana. Selain itu gedung apartemen tempat Yo Han tinggal juga di lengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti Cafe di lantai pertama, bar yang menyatu dengan kolam renang di rooftop serta ada juga tempat gym yang dapat digunakan para penghuni apartemen untuk berolahraga.
Pintu lift terbuka saat sampai di lantai 5 tempat unit apartemen Yo Han berada. Bitna begitu terpukau saat masuk ke dalam apartemen pria itu. Itu apartemen yang luas dan tentu juga mewah. Dalam hati Bitna mencoba menebak berapa harga satu unit apartemen ini.
“Ini kamar tamu, kau bisa memakainya,” ucap Yo Han sambil membuka sebuah kamar.
Bitna sedikit mengintip ke dalam kamar itu. Ruangan yang didominasi warna putih itu tampak rapi dan bersih.
“Pakaianmu basah, cepat mandi dan ganti pakaian. Setelah itu kita makan malam bersama, kau belum makan kan?”
Bitna mengangguk. Dia memang belum makan sejak tadi.
Setelah mengatakan itu Yo Han pergi meninggalkan Bitna agar gadis itu bisa leluasa untuk menata barangnya dan membersihkan diri.
Bitna menatap punggung Yo Han yang menghilang saat masuk ke dalam sebuah ruangan.
“Aku tidak tahu, tapi sepertinya kau orang yang baik.”