Bagian 4 - Pilihan Yang Sulit, Terima atau Tidak?

2058 Words
Bitna keluar dari kamar tamu setelah berganti pakaian. Dilihatnya Yo Han tengah sibuk menyiapkan makanan di meja makan. Gadis itu menjadi sedikit terpukau melihat Yo Han menyajikan dua piring spageti yang baru matang ke atas meja. Pria itu memasak sendiri? Pertanyaan itu terlintas di kepala Bitna. “Sudah ganti baju? Duduklah aku sudah siapkan makanan,” ucap Yo Han saat menyadari kehadiran Bitna. Dengan ragu Bitna melangkah menghampiri Yo Han dan bergabung dengan pria itu di meja makan. Bitna menatap sepiring spageti di hadapannya. Dari penampilannya makanan itu tampak menggugah selera. “Makanlah,” perintah Yo Han. Bitna menatap ragu sepiring spageti di hadapannya. Makanan itu memang tampak menggugah selera, tapi Bitna takut jika Yo Han telah memasukkan sesuatu ke dalam makanan itu. Misalnya saja obat tidur atau semacamnya. Hey, siapa yang tak akan takut dan merasa curiga saat kau hanya berdua bersama pria asing yang baru kau kenal. Melihat bagaimana Bitna menatap ragu makanan itu membuat Yo Han sadar jika gadis itu takut kalau dia menaruh sesuatu di dalam makanan tersebut. “Aku tak menaruh apa pun di dalam sana,” ucap Yo Han kemudian. “Jadi berhenti berpikir yang aneh-aneh dan makanlah.” Bitna akhirnya dengan ragu-ragu menyuapkan spageti yang diambilnya dengan garpu ke dalam mulutnya. Dan di detik berikutnya mereka kemudian makan bersama dalam keheningan. Sesekali Bitna mencuri pandang ke arah Yo Han. Sebuah pertanyaan terbesit di kepalanya. Apakah Yo Han memang seorang gay? Di mata Bitna, Yo Han tampak seperti pria normal pada umumnya. “Selesai makan kau bisa langsung beristirahat, soal tawaranku kita bicarakan besok,” kata Yo Han memecah keheningan di antara keduanya. Bitna mengerutkan dahinya. “Tawaran?” “Soal menikah denganku.” “Ah...” Benar Yo Han memintanya menikah untuk menyembunyikan orientasi seksualnya. Bitna sempat lupa dengan tawaran Yo Han itu karena di usir dari rumahnya secara mendadak. “Dan lagi, password apartemen ini adalah 120488,” ucap Yo Han sesaat setelah menghabiskan makanannya dan beranjak pergi meninggalkan meja makan. Bitna menatap punggung Yo Han yang menghilang di balik pintu kamar. Dia memang tidak perlu bingung lagi akan tidur di mana, tapi sekarang dia dipusingkan dengan tawaran Yo Han. Tawaran itu memang sangat menggiurkan dan menguntungkan tentunya. Kapan lagi Bitna bisa terbebas dari hutang-hutang mendiang ayahnya. Ini adalah kesempatannya untuk hidup bebas, tapi menikah dengan Yo Han, pria yang tidak dia kenal juga terasa sangat menakutkan. Bitna takut jika ternyata Yo Han tidak sebaik yang terlihat dan punya niat terselubung. Bitna bangkit dari tempat duduknya lalu membawa dua piring kotor bekas spageti yang dia makan bersama Yo Han tadi ke arah dapur. Setidaknya Bitna harus mencuci piring tersebut sebagai ucapan terima kasih atas makanan yang Yo Han berikan. Selesai mencuci piring kotor Bitna bergegas kembali ke kamar tamu. Sampai di dalam kamar gadis itu segera membaringkan tubuhnya ke atas ranjang berukuran besar. “Nyamannya,” gumam Bitna sambil merasakan empuknya kasur tempat dia berbaring. Sudah lama sekali Bitna tak pernah merasakan betapa nyamannya berbaring di atas ranjang. Kehidupannya berubah 180 derajat setelah bisnis keluarganya mengalami kebangkrutan. Tidak ada lagi kehidupan mewah yang dia rasakan. Jangankan untuk berbaring di atas ranjang yang nyaman, untuk makan sehari-hari saja terasa sangat sulit untuknya. “Soal tawarannya aku pikirkan besok saja,” ucap Bitna yang kemudian memejamkan matanya. Tubuhnya terasa sangat lelah hingga tak bisa memikirkan apa pun. Dia hanya ingin tidur dengan nyaman dan nyenyak malam ini. Sudah lama sekali dia tidak tidur di tempat senyaman ini. Mungkin juga ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk tidur dengan nyaman dan layak. *** Pagi itu Yo Han yang sudah rapi mengenakan setelan jas berwarna biru tua duduk manis di sofa ruang tamu. Dia sedang menunggu Bitna bangun dan keluar dari kamarnya. “Sudah bangun? Duduklah kita bicara sebentar sebelum aku pergi ke kantor,” kata Yo Han begitu melihat Bitna keluar dari kamar. Masih mengenakan pakaian yang dia kenakan semalam Bitna berjalan menghampiri Yo Han yang duduk di sofa ruang tamu. Dalam hati gadis itu merasa gugup. Pasti Yo Han ingin membicarakan soal tawaran itu. “Kau bekerja jam berapa hari ini?” tanya Yo Han. “Jam 10 pagi,” jawab Bitna sambil menjatuhkan pantatnya di sofa dekat tempat Yo Han duduk. “Pulang jam?” “10 malam.” Yo Han menyilangkan kedua kakinya lalu menatap Bitna. “Kau punya waktu 12 jam untuk memikirkan apakah kau akan menerima tawaranku atau tidak. Untuk detail tawaran itu kita bicarakan saat kau pulang nanti. Intinya jika kau mau menikah denganku, aku akan melunasi semua hutang mendiang ayahmu.” Bitna terdiam. Dia sedang memikirkan tentang tawaran Yo Han. Dia hanya perlu menikah dengan Yo Han dan semua hutang ayahnya akan lunas. Dia tak perlu lagi bekerja keras untuk melunasi hutang mendiang ayahnya yang tak terhitung jumlahnya itu dan akan terbebas dari semua penderitaan. “Bitna-ssi.” “Kim Bitna.” “Kim Bitna.” “Nde?” Bitna menoleh kaget ke arah Yo Han. Pria itu memanggilnya cukup keras. “Kau dengar apa yang aku katakan tadi?” Bitna mengangguk. “Kalau begitu aku akan pergi sekarang, kita bertemu lagi nanti malam.” Yo Han berdiri dari tempat duduknya dan hendak pergi menuju pintu apartemennya. “Ah... Kau ingatkan apa passwordnya?” tanya Yo Han kembali berbalik menatap Bitna. “Ya,” sahut Bitna. “Bagus, kalau begitu aku pergi.” Setelah mengatakan itu Yo Han benar-benar pergi. Begitu terdengar bunyi pintu tertutup Bitna langsung menyandarkan punggungnya pada sofa. Duduk selama beberapa menit dengan Yo Han tadi benar-benar membuatnya gugup dan tegang. Bahkan dia tak pernah setakut ini saat menghadapi rentenir yang menagih hutang ayahnya. “Dua belas jam ya?” gumam Bitna mengingat kembali perkataan Yo Han tadi. Benar gadis itu hanya memiliki waktu dua belas jam untuk memikirkan tawaran Yo Han. Jika Bitna menolak tawaran itu kemungkinan besar dia akan di tendang keluar dari tempat ini. Namun, Bitna masih belum yakin apakah menerima tawaran Yo Han adalah keputusan yang tepat. Jika dia menerima tawaran untuk menikah dengan Yo Han, itu artinya sama saja dia menjual dirinya pada Yo Han. Tapi ini mungkin satu-satunya kesempatan bagi dirinya untuk terbebas dari belenggu hutang mendiang ayahnya. *** Bitna tengah sibuk mencuci piring dan gelas kotor di dapur Cafe tempatnya bekerja. Tubuhnya memang sibuk mencuci piring dan gelas kotor, tapi pikirannya sibuk dengan hal lain. Bitna masih memikirkan tawaran Yo Han. Sejujurnya dia masih ragu untuk menerima atau menolak tawaran pria itu. “Eonni.” “Ehh.” Bitna menoleh kaget ke sumber suara. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Bitna terlonjak kaget saat Minah memanggilnya. “Eonni, semalam kau tidur di mana?” tanya Minah dengan raut wajah yang khawatir. Gadis itu tahu Bitna tak punya teman untuk dimintai tolong, tentu dia khawatir dengan keadaan Bitna semalam. “Di....” Bitna menjeda kalimatnya selama beberapa detik. “Di tempat kenalanku,” lanjut Bitna kemudian. Benar anggap saja dia sebagai seorang kenalan, batin Bitna. “Kenalan?” “Ya, kenalanku.” “Syukurlah jika eonni menginap di tempat yang aman. Kau tahu kemarin aku sangat khawatir.” Bitna tersenyum mendengar ucapan Minah. Hanya Minah yang baik padanya di sini. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.” “Lalu malam ini eonni juga masih akan menginap di sana?” Bitna terdiam sejenak. Dia belum terpikirkan apakah dia akan menginap di tempat Yo Han lagi malam ini. Apartemen Yo Han memang tempat teraman dan nyaman, tapi sejujurnya Bitna merasa agak canggung jika lama-lama berada di sana. “Kalau tidak ada, eonni bisa menginap di tempatku. Bagaimana?” “Tidak usah, aku akan menginap di tempat kenalanku lagi malam ini,” tolak Bitna. Bitna sudah memutuskan untuk malam ini dia akan menginap lagi di tempat Yo Han. Jawaban untuk tawaran Yo Han akan dia pikirkan nanti saat jam istirahat. Jika dia memikirkannya sambil bekerja yang ada semua pekerjaannya akan berakhir dengan berantakan. Lagi pula sepertinya Bitna juga sudah tahu akan memberikan jawaban apa pada Yo Han nanti malam. *** Pukul 10.30 malam, Yo Han duduk di sofa ruang tamu apartemennya sambil menyilangkan kakinya. Dia sedang menunggu Bitna pulang. Dia khawatir Bitna tidak akan pulang ke tempatnya dan memilih kabur. Namun saat ia mengecek kamar tamu tadi Yo Han bernapas lega, karena barang-barang Bitna masih ada di sana. Tit tit tit Yo Han segera menoleh ke arah pintu apartemennya saat mendengar seseorang membuka pintu tersebut. Begitu melihat Bitna melangkah masuk melewati pintu itu, Yo Han kembali ke posisinya semula dengan ekspresi wajah datar. Padahal, sedetik yang lalu pria itu masih tampak gugup dan khawatir. “Kenapa baru pulang? Bukannya kau bilang pulang kerja jam 10.00?” tanya Yo Han begitu Bitna sampai di ruang tamu. “Oh... Jarak tempat kerjaku ke sini cukup jauh jadi tentu butuh waktu lama,” jawab Bitna. “Ohh... Kalau begitu cepat mandi lalu kita makan bersama, kau belum makan, kan?” Bitna menggeleng. Dia memang belum makan malam karena terlalu sibuk tadi. “Lalu kita bicara tentang tawaranku setelah makan malam.” “Nde,” sahut Bitna sambil berlalu menuju kamar tamu. Kenapa dia jadi cerewet sekali, batin Bitna. Selesai mandi Bitna berganti pakaian dengan setelan training berwarna biru muda lalu keluar kamarnya dan menuju ruang makan. Di sana Yo Han sudah duduk manis di balik meja makan. Di atas meja makan itu ada sudah ada beberapa makanan. Mulai dari sup, tumis daging, nasi dan kimchi. Bitna menatap makanan-makanan itu sambil memiringkan kepalanya. Kemarin dia memang melihat sendiri Yo Han membuatkannya spageti, tapi kali ini dia ragu jika Yo Han yang memasak semua makanan itu. “Bukan aku yang memasaknya,” ucap Yo Han yang sadar dengan tatapan Bitna. “Ohh...” “Semua makanan ini dari ibuku, aku hanya memanaskannya saja. Duduklah.” Bitna segera menarik kursi di seberang Yo Han. Melihat semua makanan di depannya membuat gadis itu lapar. Tentu Bitna sedang sangat lapar sekarang karena dia melewatkan jam makan siangnya tadi. “Makanlah.” Yo Han meletakkan sepotong daging dan kimchi di atas nasi milik Bitna. “Nde.” Bitna melirik Yo Han sekilas lalu menyuapkan sesendok nasi dengan daging dan kimchi ke dalam mulutnya. Enak, batin Bitna. Sudah lama sekali dia tidak makan makanan buatan rumah seperti ini. Terakhir kali Bitna makan makanan buatan rumah adalah lima tahun lalu sebelum bisnis ayahnya bangkrut dan ibunya menghilang. Sesaat Bitna kembali teringat ibunya yang pergi meninggalkannya dan sang ayah. Bitna penasaran bagaimana kehidupan ibunya sekarang. Apa ibunya hidup bahagia? Apa ibunya tahu jika ayahnya sudah meninggal? Apa ibunya juga ingat tentang dirinya? “Jadi apa sudah kau pikirkan?” tanya Yo Han yang membuat Bitna kembali sadar dari lamunannya. “Bisa kita bicarakan setelah makan, aku tak punya tenaga untuk bicara karena sangat lapar,” jawab Bitna yang kemudian memasukkan sesendok penuh nasi ke dalam mulutnya. Yo Han menatap Bitna tak percaya, sekarang gadis itu berani menjawab kata-katanya. Padahal, pagi tadi gadis itu masih terlihat seperti anak anjing yang ketakutan. “Baiklah kita bicarakan setelah makan malam.” Yo Han dan Bitna duduk berhadapan di sofa ruang tamu setelah selesai makan. Di hadapan mereka ada masing-masing secangkir teh hangat. Itu ide Yo Han, agar Bitna tak merasa gugup saat membicarakan masalah tawaran yang dia berikan. Sejak menjatuhkan pantatnya ke sofa, Bitna terus menyentuh buku-buku jarinya karena gugup. Dia tahu pembicaraan ini pasti akan terjadi, tapi tetap saja dia masih merasa gugup. Bitna takut akan membuat keputusan yang salah dan menyesalinya nanti. Hidupnya akan dipertaruhkan dalam beberapa menit ke depan— tidak-tidak mungkin saja pembicaraan ini akan memakan waktu lebih lama. “Jadi sudah kau pikirkan?” tanya Yo Han. Bitna mengangguk pelan sebagai jawaban. “Lalu apa keputusanmu? Kau tahu kesempatan ini hanya akan datang sekali. Kesempatan untuk hidup bebas dari hutang-hutang yang ditinggalkan mendiang ayahmu.” Tanpa Yo Han pertegas pun Bitna tahu jika ini adalah satu-satunya kesempatan untuk terbebas dari belenggu hutang mendiang ayahnya. “Jika aku menikah denganmu kau akan melunasi semua hutang ayahku?” tanya Bitna kembali memastikan tawaran Yo Han. “Ya.” “Kau juga akan menanggung semua kebutuhan hidupku selama kita menikah?” “Tentu, bukankah sudah kewajiban bagi suami untuk menanggung semua kebutuhan istrinya?” “Dan aku tidak perlu bekerja lagi kan?” Yo Han menyentuh batang hidungnya lalu tertawa pelan. “Tentu tidak. Untuk apa istri dari direktur KL Cosmetics bekerja? Jika itu terjadi kau pikir apa yang akan orang-orang katakan—“ “Baiklah aku setuju.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD