Bitna menatap selembar kertas yang dipegangnya dengan mata berbinar-binar. Itu adalah kertas bukti bahwa semua hutangnya telah lunas. Setelah menandatangani kontrak hubungan dengan Yo Han dua hari lalu, pria itu segera menepati janjinya untuk melunasi semua hutang Bitna. Rasanya seperti mimpi bagi Bitna mendapati semua hutangnya telah lunas.
“Matamu bisa-bisa melompat keluar jika terus menatapnya seperti itu,” cibir Yo Han mendapati Bitna yang tak melepaskan pandangannya dari kertas yang dipegang gadis itu.
Bitna melirik Yo Han sekilas lalu mendengus pelan. Yo Han mana tahu apa yang dia rasakan saat ini. Jangankan terlilit hutang sepertinya, Bitna yakin Yo Han pasti tak pernah kekurangan apa pun mengingat pria itu dari keluarga kaya.
“Sudahlah simpan saja bukti itu! Kepalaku pusing melihatmu menatapnya sambil melotot seperti itu.”
Mendengar ucapan Yo Han, sambil bersungut-sungut Bitna melipat bukti itu lalu menyimpannya ke dalam saku.
“Kau tak lupa janji kita besok kan?”
Bitna menoleh menatap Yo Han sambil berkedip beberapa kali. “Besok? Kita ada janji apa?”
Bitna sama sekali tak ingat memiliki janji dengan Yo Han besok.
“Kau lupa? Besok kita akan menemui orang tuaku.”
“Ah.... Jadi itu besok ya.”
Bitna sama sekali tak ingat jika besok adalah hari Sabtu dan itu artinya dia akan bertemu dengan orang tua Yo Han. Rasanya dia masih belum siap untuk bertemu mereka. Bagaimana jika nanti kedua orang tua Yo Han tak menyukainya? Lalu bagaimana jika mereka tak mengizinkan dirinya menikah dengan Yo Han? Apa itu artinya dia harus mengembalikan semua uang Yo Han dan harus kembali terlilit hutang? Bitna tak sanggup membayangkannya. Baru saja dia terbebas dari belenggu hutang tapi dia juga bisa saja kembali terjun ke dalam jurang kesengsaraan.
“Bitna.... Kim Bitna!” Yo Han menjentikkan jarinya di depan Bitna yang sedang tenggelam dalam pikirannya.
“Ya?”
“Kau melamun?”
“Ah.... Itu, menurutmu apa mereka akan menerimaku?”
“Memangnya ada alasan bagi mereka untuk tidak menerimamu?”
Bitna mengangguk. Ada banyak sekali alasan bagi orang tua Yo Han untuk tak menerimanya sebagai calon menantu mereka. Mulai dari latar belakang Bitna, keadaan ekonominya hingga statusnya sekarang.
“Tenanglah, mereka bahkan tak akan peduli tentang latar belakangmu. Aku bisa menjamin mereka akan sangat menyukaimu.”
Bitna menyipitkan matanya. Bagaimana Yo Han bisa sangat yakin jika kedua orang tuanya akan sangat menyukai Bitna? Mereka bahkan belum pernah bertemu.
“Sudahlah, berhenti berpikir yang aneh-aneh. Lebih baik sekarang kau istirahat, besok kita akan pergi ke rumah utama untuk menemui mereka,” kata Yo Han sebelum beranjak menuju kamarnya meninggalkan Bitna sendirian di ruang tamu.
Setelah Yo Han masuk ke dalam kamar, Bitna juga masuk ke dalam kamarnya. Setelah menutup pintu gadis itu bersandar pada pintu kamarnya untuk beberapa saat. Bitna menghela napas pelan. Meskipun Yo Han bilang untuk tidak khawatir tetap saja Bitna merasa sangat khawatir. Ia takut jika orang tua Yo Han ternyata tak menyukainya. Bitna hanya gadis miskin yang hidup terlilit hutang, siapa pun yang melihatnya menikah dengan Yo Han pasti berpikir bahwa dirinya hanya menginginkan harta pria itu. Orang tua Yo Han pun pasti akan berpikir seperti itu juga. Walaupun kenyataannya dia memang mau menikah dengan Yo Han karena pria itu berjanji akan melunasi semua hutangnya.
“Aish....”
Bitna mengusap poninya kasar. Kepalanya pusing memikirkan apa yang akan terjadi besok. Dari pada memikirkan hal yang belum terjadi dan membuatnya pusing, Bitna memilih pasrah dan tidak peduli. Apa pun yang terjadi besok dia tidak mau memikirkannya sekarang. Jika orang tua Yo Han akhirnya menolak Bitna, setidaknya Bitna sudah merasakan bagaimana rasanya terbebas dari belenggu hutang walaupun itu hanya untuk beberapa saat.
***
Hari Sabtu. Itu artinya malam ini Bitna akan bertemu kedua orang tua Yo Han. Bitna yang masih terbaring di atas tempat tidur itu terus-terusan menghela napas karena dia merasa belum siap bertemu dengan orang tua Yo Han malam ini.
Gadis itu kemudian melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 siang. Lagi-lagi Bitna menghela napas. Kenapa waktu berlalu cepat sekali hari ini. Rasanya dia baru saja bangun dan sarapan tadi tapi kenapa hari tiba-tiba sudah siang dan beranjak sore.
Ting tong...
Mendengar suara bel berbunyi, Bitna bergegas bangun dari tempat tidurnya untuk melihat siapa yang datang. Yo Han sudah berangkat entah ke mana sejak pagi tadi dan hanya ada dia sendirian di apartemen sekarang.
“Oh kau...,” ucap Bitna sesaat setelah membuka pintu apartemen Yo Han. Di balik pintu itu berdiri Seung Min, sekretaris Yo Han.
“Yo Han sajangnim memintaku untuk menjemput Anda.”
“Kau yang akan menjemputku? Tapi....” Bitna melirik ke dalam apartemen sebentar lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Aku belum bersiap-siap.”
Siang itu Bitna masih mengenakan setelan training berwarna abu-abu, bahkan dia juga belum mandi sejak pagi. Bitna berharap Seung Min tak mencium bauk busuk atau apa pun itu dari tubuhnya.
“Anda tidak perlu khawatir, Yo Han sajangnim memintaku untuk membawa Anda ke salon.”
“Salon?”
“Beliau bilang jika Anda berdandan sendiri, mungkin Anda akan menghancurkan acara makan malam nanti. Jadi lebih baik membawa Anda pada ahlinya.”
“Dasar pria cerewet itu...,” gumam Bitna pelan.
Meskipun pelan Seung Min bisa mendengar jelas gumaman Bitna. Pria tinggi berkulit putih itu setuju dengan ucapan Bitna. Yo Han memang pria yang cerewet. Penampilan dan kepribadiannya sangat berbanding terbalik.
“Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar aku akan bersiap-siap,” ucap Bitna lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya, sementara Seung Min menunggu di ruang tamu.
Beberapa menit kemudian Bitna sudah kembali dengan pakaian rapi, dan jangan lupakan dia sudah mandi tentunya dengan sangat bersih. Dia lalu mengajak Seung Min untuk berangkat. Jika mereka terlambat dia yakin Yo Han pasti akan mengomel panjang lebar nanti.
***
Sudah dua jam sejak Bitna berada di salon. Dia sudah menyelesaikan make up-nya sekarang dia hanya perlu menata rambutnya dan berganti pakaian. Seung Min tadi membawakannya sebuah gaun, sepasang sepatu dan beberapa aksesoris. Dia bilang Yo Han yang memilih semua itu. Yo Han khawatir jika Bitna yang memilih sendiri justru akan mengacaukan semuanya.
“Kau sudah selesai?” tanya Yo Han yang tiba-tiba muncul di belakang tempat duduk Bitna.
“Kapan kau datang? Lalu di mana Seung Min?” Bitna menoleh kaget ke arah Yo Han yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Aku baru saja datang, soal Seung Min aku menyuruhnya mengurus sesuatu.”
“Oh....”
“Kau masih lama?”
“Tinggal ganti pakaian saja.”
“Kau akan memakai gaun yang Seung Min bawa kan?”
“Ya.”
“Baguslah, aku sempat khawatir kau akan mengacaukan malam ini. Kau tahu kan malam ini sangat penting!”
Bitna menatap sebal ke arah Yo Han. Pria itu sangat menyebalkan. Apa dia pikir Bitna tak bisa mendandani dirinya sendiri?
“Cepat ganti pakaian, aku akan menunggumu di ruang tunggu.”
“Nde.”
Sambil mengerucutkan bibirnya Bitna berjalan menuju ruang ganti diikuti oleh seorang pegawai salon.
Setelah Bitna berganti pakaian dan menyelesaikan pembayaran di salon Yo Han bergegas mengajak Bitna menuju rumah orang tuanya. Kedua orang tua Yo Han sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon istrinya.
“Usahakan kau banyak tersenyum di depan mereka. Jawab saja semua pertanyaan dengan jujur, tentang siapa kau, dan apa pekerjaanmu. Lalu soal bagaimana kita bisa berkencan bilang saja kita bertemu di Cafe tempatmu bekerja lalu aku mulai tertarik padamu, mengerti?”
Yo Han berusaha menjelaskan apa yang harus Bitna katakan jika nanti kedua orang tuanya bertanya.
“Ya,” sahut Bitna tak bersemangat.
“Kau takut?” tanya Yo Han. Ia kemudian melirik Bitna sekilas lalu kembali fokus menyetir. Gadis itu terlihat gugup.
“Tentu saja, bagaimana jika mereka menolakku?”
“Tenang saja itu tidak akan terjadi. Pokoknya kita harus bersikap selayaknya pasangan kekasih agar mereka tidak curiga.”
“Kau yakin?”
“Seratus persen yakin,” kata Yo Han dengan pasti. Menurutnya tidak alasan bagi orang tuanya untuk menolak Bitna. Hanya dengan mengetahui siapa itu Bitna mereka pasti akan menyetujui pernikahan mereka. Dan tentu Bitna akan terkejut mengetahui siapa kedua orang tua Yo Han.
“Oh ya ada satu orang lagi yang ikut makan malam bersama kita nanti.”
“Siapa?” tanya Bitna. Bukankah Yo Han bilang mereka hanya akan makan malam bersama kedua orang tuanya.
“Kakak perempuanku, namanya Nam Yoo Rin.”
Kakak perempuan? Bitna tidak tahu jika selama ini Yo Han memiliki seorang kakak perempuan. Padahal mereka hampir sebulan tinggal bersama.
“Kau jangan terkejut saat mendengar apa pun ucapan Yoo Rin nanti, dia memang seperti itu. Ibarat kata dia tidak punya filter di mulutnya.”
Jika Yo Han tidak memberitahu tentang Yoo Rin sekarang mungkin nanti Bitna akan terkejut melihat bagaimana cara bicara kakaknya yang terlalu ceplas-ceplos.
***
Bitna membuka lebar-lebar matanya saat mobil yang ia naiki bersama Yo Han melewati sebuah gerbang nan megah. Bitna menatap takjub taman luas yang ada di balik gerbang itu. Mobil Yo Han kemudian berhenti tepat di depan sebuah rumah megah bergaya khas Eropa.
“Ayo turun,” ajak Yo Han setelah melepas sabuk pengamannya. Pria itu kemudian melangkah keluar dari dalam mobil.
“Tapi aku....”
“Cepat turun mereka tak akan menggigitmu,” ucap Yo Han sambil menarik paksa Bitna keluar dari mobilnya. Setelah itu Yo Han mengulurkan tangannya bermaksud untuk menggandeng Bitna—agar mereka tampak seperti pasangan kekasih sungguhan.
Melihat Bitna tak segera meraih tangannya membuat Yo Han gemas dan memutuskan untuk menggandeng paksa Bitna. Awalnya Bitna berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Yo Han karena merasa tak nyaman, tapi akhirnya Bitna pasrah dan menurut karena Yo Han melotot menatapnya.
Setelah melewati pintu utama Yo Han dan Bitna disambut oleh seorang pelayan wanita yang kemudian mengantar mereka menuju meja makan. Kedua orang tua Yo Han dan Yoo Rin sudah menunggu mereka di sana.
Begitu sampai di ruang makan mendadak kaki Bitna terasa lemas. Bagaimana dia tak merasa gugup saat melihat kedua orang tua Yo Han dan kakak perempuannya menatap Bitna dengan tajam. Seolah-olah mereka siap menerkamnya.
“Duduklah.” Yo Han menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Bitna duduk di sana. Pria itu kemudian ikut menjatuhkan pantatnya di kursi di samping Bitna.
Yo Han duduk berhadapan dengan sang Ibu dan Bitna duduk berhadapan dengan Yoo Rin, kakak perempuan Yo Han. Sementara ayahnya ada di ujung meja makan.
“Jadi kau yang namanya Bitna?” tanya Yoo Rin sambil menatap Bitna.
“Nde,” jawab Bitna berusaha menahan rasa gugupnya.
“Noona, berhenti menatapnya seperti itu. Kau bisa membuatnya kabur jika terus melotot seperti itu,” ucap Yo Han melihat Yoo Rin yang terus menatap ke arah Bitna sejak gadis itu masuk ke dalam ruang makan.
Plak
Satu pukulan mendarat manis di bahu Yoo Rin yang malam itu menggunakan gaun tanpa lengan.
“Eomma, kenapa memukulku?” protes Yoo Rin pada Cha Seung Ah, ibunya.
“Mau sampai kapan kau menatap tamu kita seperti itu? Kau bisa membuatnya kabur,” omel Seung Ah. Wanita paruh baya itu kemudian beralih menatap Bitna. “Bitna-ssi jangan hiraukan dia, Yoo Rin memang seperti itu. Makanlah dengan tenang, aku sudah memasak banyak makanan lezat untukmu.”
“Nde, kamsahamnida,” sahut Bitna sambil tersenyum canggung.
Melihat bagaimana ibu Yo Han memukul Yoo Rin dan caranya bicara pada Bitna membuat rasa takut gadis itu sedikit memudar. Sepertinya orang tua Yo Han tak seperti yang ada di bayangannya selama ini.
“Bitna-ssi, kau tak perlu merasa canggung. Kau bisa makan dengan tenang karena kami tak akan menerkammu,” gurau Nam Yong Bae, ayah Yo Han. Sejak melihat Bitna memasuki ruang makan pria paruh baya itu sadar jika Bitna merasa sangat gugup karena bertemu mereka.
Bitna merespons perkataan Yong Bae tadi dengan sebuah senyuman. Kali ini senyuman Bitna tak secanggung tadi. Dia sudah terlihat lebih santai menghadapi kedua orang tua Yo Han dan kakaknya. Melihat bagaimana sikap kedua orang tua Yo Han, sepertinya apa yang ditakutkan Bitna tak akan terjadi.