Bagian 7 - Pria Yang Cerewet

1921 Words
“Kapan kau kembali?” tanya Bitna begitu melihat pelanggan yang saat ini berdiri di depannya ternyata adalah Nam Yo Han. “Kemarin,” jawab Yo Han singkat. Lalu kenapa tak pulang ke apartemen? Itu adalah pertanyaan selanjutnya yang ingin Bitna tanyakan, tapi sayang dia terlalu gengsi untuk menanyakannya. “Sebentar lagi kau selesai bekerja kan? Kita bicara nanti setelah kau selesai, aku akan menunggumu di sana.” Yo Han menunjuk meja kosong di sudut ruangan, tempat yang sama saat dia dulu pertama kali menemui Bitna di Cafe itu. “Ah ya, tolong satu hot latte untukku.” Bitna menatap tak percaya punggung Yo Han yang mulai menjauh menuju meja di sudut ruangan. Pria yang baru saja bicara dengannya itu benar-benar Yo Han. Hingga Yo Han menjatuhkan pantatnya ke atas kursi, Bitna tak melepaskan pandangannya dari pria itu. Dia penasaran apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Yo Han hingga pria itu mendatanginya ke tempat kerja, padahal mereka bisa bicara nanti di rumah. Tiga puluh menit berlalu dan Bitna telah selesai bekerja. Setelah berganti pakaian Bitna segera keluar menemui Yo Han. Pria itu masih duduk manis di kursi di sudut ruangan sambil memainkan ponselnya. Sebelum menjatuhkan pantatnya di kursi Bitna sempat melirik cangkir yang sebelumnya berisi hot latte pesanan Yo Han, cangkir itu sudah kosong. “Bisa pesankan aku minuman lagi?” ucap Yo Han saat Bitna hendak duduk di kursi yang ada di hadapannya. “Apa?” “Kau tak lihat cangkirku kosong? Pesankan aku minuman lagi.” Di mata Bitna saat ini Yo Han sangat amat menyebalkan. Bukankan pria itu punya dua kaki? Harusnya dia bisa berjalan sendiri ke meja counter dan memesan minuman sendiri. Jika Bitna tak ingat bahwa Yo Han berjanji akan melunasi semua hutangnya dia pasti sudah memukul kepala Yo Han sekarang. Beberapa menit kemudian Bitna kembali dengan membawa dua cangkir hot latte. Satu untuknya dan satu lagi untuk Yo Han si pria menyebalkan. Mulai detik ini Bitna akan memanggilnya pria menyebalkan—tentu itu hanya di dalam pikiran Bitna. “Kau pasti ingin bertanya kenapa aku tak pulang ke apartemen kan,” ucap Yo Han seolah-olah bisa menebak isi pikiran Bitna. Bitna mendecih pelan. Sepertinya Yo Han memang terlahir memiliki bakat sebagai orang yang menyebalkan. “Kemarin aku menginap di rumah orang tuaku, sekalian mengatakan pada mereka bahwa aku sudah memiliki calon istri.” Kepala Bitna bagai dipukul dengan tongkat kayu setelah mendengar ucapan Yo Han. Calon istri? Bahkan mereka belum selesai membahas kontrak beberapa waktu lalu, tapi Yo Han seenak jidat berkata pada orang tuanya jika dia sudah punya calon istri. “Kenapa kau mengatakannya pada mereka?” protes Bitna. “Kenapa apanya? Kita kan memang berencana menikah, dan kau adalah calon istriku. Apanya yang salah?” “Tidak, tidak ada yang salah tapi—” Bitna mengepalkan tangannya karena kesal. “Harusnya kau bicara dulu padaku, kita bahkan belum selesai membicarakan kontrak itu.” Tok tok tok Yo Han mengetuk permukaan meja di depannya. “Hei nona Kim Bitna, kau bilang aku harus bicara padamu dulu, lalu bagaimana kau bisa bicara denganmu selama aku di Jepang? Kau bahkan tak memberitahuku nomor teleponmu.” “Itu benar, tapi sebelum kau ke sana kau bisa menemuiku dulu kan?” bantah Bitna. Biar bagaimanapun Yo Han harusnya bicara dulu dengannya sebelum menemui kedua orang tuanya dan membahas soal pernikahan. “Sudahlah, lagi pula sudah terlanjur mau bagaimana lagi. Sekarang berikan ponselmu.” “Untuk apa?” “Apa lagi? Tentu untuk memberikan nomor teleponku, tidak mungkin setiap kali aku ingin bicara denganmu aku harus pergi ke tempat kerjamu atau menunggumu di rumah? Kau pikir aku pengangguran? Aku ini sibuk, super sibuk.” Bitna mendengus pelan lalu menyerahkan ponselnya pada Yo Han. Yo Han meraih ponsel Bitna. Ditatapnya benda pipih berbentuk persegi panjang itu cukup lama. Seolah-olah ponsel Bitna adalah benda purba. “Sejak kapan kau memakai ponsel ini?” “Lima tahun lalu mungkin,” jawab Bitna asal lalu menyesap hot latte miliknya. Dia lupa entah sejak kapan dia memakai ponsel itu. “Dan kau masih memakainya?” tanya Yo Han tak percaya Bitna tak mengganti ponselnya selama lima tahun terakhir. “Kenapa? Itu masih berfungsi dengan baik.” Yo Han menggeleng tak percaya. Jika itu dia, ponsel itu mungkin sudah ada di tempat sampah. Bagaimana bisa dia tak mengganti ponselnya selama itu. “Ini tidak bisa dibiarkan, ayo ikut aku!” Yo Han bangkit dari kursi sambil membawa ponsel Bitna menuju pintu keluar. “Ke mana?” tanya Bitna bingung melihat Yo Han yang tiba-tiba pergi. “Mencari ponsel baru untukmu.” “Ha?” *** Yo Han dan Bitna baru saja keluar dari sebuah toko ponsel. Awalnya Bitna menolak untuk mengganti ponsel lamanya dengan ponsel keluaran terbaru. Menurut Bitna ponselnya baik-baik saja dan tidak perlu diganti, tapi Yo Han—si pria cerewet dan menyebalkan itu bersikeras bahwa Bitna harus mengganti ponselnya. Alhasil Bitna harus menurut pada Yo Han dan terpaksa mengganti ponselnya. “Ini, di dalamnya sudah ada nomorku dan nomor Seung Min,” ucap Yo Han sambil menyerahkan ponsel baru milik Bitna. Bitna meraih benda pipih persegi panjang berwarna ungu itu. “Seung Min? Seung Min siapa?” tanya Bitna yang tak ingat siapa itu Seung Min. Dalam ingatannya dia tak punya teman atau kenalan bernama Seung Min. “Sekretarisku, kau pernah bertemu dengannya beberapa kali,” jawab Yo Han. “Ah... Dia,” ucap Bitna setelah berhasil mengingat siapa itu Seung Min. Dia pria tinggi yang selalu mengikuti Yo Han. “Tapi kenapa harus ada nomornya juga?” “Jika aku sibuk dia yang akan membantumu.” “Oh....” “Oh ya, kau punya gaun atau semacamnya?” “Gaun?” “Akhir pekan ini kita akan menemui orang tuaku.” “Apa?” Lagi-lagi Yo Han berhasil membuat Bitna terkejut dengan ucapannya. Bertemu orang tua Yo Han? Dia belum siap untuk itu. Mereka bahkan belum selesai membicarakan kontrak beberapa waktu lalu. “Lebih cepat bertemu mereka lebih baik, aku tidak suka menunda-nunda sesuatu. Lagi pula kita juga harus segera mempersiapkan pernikahan, lalu kau juga harus mendaftar ke universitas, sudah kau pikirkan baik-baik tentang kontrak itu?” Bitna menggeleng. Dia belum sempat memikirkan kontrak karena sibuk bekerja. Setiap hari dia pergi pagi dan pulang malam. Jadi dia tak punya waktu dan tenaga yang tersisa untuk memikirkan kontrak. “Yak!!! Lalu apa saja yang kau lakukan selama 4 hari ini?” omel Yo Han saat tahu Bitna belum memikirkan tentang kontrak yang dia berikan. “Aku sibuk bekerja,” kilah Bitna. Benar dia memang sibuk bekerja. “Bukankah aku sudah pernah bilang kau harus berhenti bekerja?” “Iya tapi aku kan tidak bisa berhenti bekerja begitu saja, aku butuh waktu.” “Butuh waktu apa lagi? Berhenti ya tinggal berhenti saja, kau saja yang banyak alasan.” Melihat Yo Han mengomel padanya di tempat umum seperti ini sungguh menjengkelkan. Beberapa pejalan kaki bahkan menatap mereka aneh karena Yo Han mengomelinya cukup keras. Sungguh sekarang Bitna ingin menyumpal mulut pria itu dengan sesuatu agar berhenti bicara. “Iya-iya aku akan berhenti bekerja minggu depan, puas? Sekarang aku harus pergi,” ucap Bitna jengah dan beranjak pergi meninggalkan Yo Han. Belum selangkah Bitna beranjak dari sana Yo Han menarik tangannya dan menahannya. “Kau mau ke mana?” “Ke mana lagi? Tentu saja bekerja.” “Hari ini bolos saja, ayo ikut aku!” Yo Han menarik Bitna dan mengajaknya masuk ke dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan. “Hah? Bagaimana bisa aku membolos? Lagi pula kita mau ke mana lagi?” protes Bitna pada Yo Han yang saat ini duduk di balik kemudi. “Diam dan pakai sabuk pengamanmu! Kita ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa baju, tas dan sepatu.” “Untuk siapa?” “Untuk siapa lagi? Tentu untukmu.” “Tapi untuk apa? Aku tak butuh pakaian, tas atau sepatu baru.” “Kau akan menemui orang tuaku dengan pakaian seperti itu?” Bitna menatap pakaiannya hari ini. Dia memakai sweter berwarna coklat dan juga celana jeans. “Apa yang salah dengan pakaian ini?” gumam Bitna pelan. “Hei, kau pikir apa yang akan mereka pikirkan tentangmu jika pakaianmu seperti itu?” Bitna mendengus kesal lalu membuang muka ke arah jendela. “Mulai sekarang mulailah berpenampilan rapi dan selayaknya perempuan.” Bitna memutar bola matanya malas. Selayaknya perempuan? Apa selama ini Yo Han buta? Dia pikir selama ini Bitna bukan perempuan? “Sudah pikirkan akan masuk ke universitas mana dan mengambil jurusan apa?” tanya Yo Han. “Belum,” jawab Bitna singkat. “Cepat putuskan sebentar lagi akan ada penerimaan mahasiswa baru.” “Nde.” Bitna menatap kosong ke luar jendela. Dia masih belum memikirkan akan kuliah di mana dan mengambil jurusan apa. Setelah putus kuliah lima tahun lalu dia sama sekali tak memikirkan untuk kuliah lagi. Dia bahkan sudah lupa apa impiannya dulu. Namun, karena Yo Han menyuruhnya kuliah lagi, Bitna harus mulai memikirkan apa yang ingin dia lakukan di masa depan. *** Bitna berbaring di atas ranjang sambil menatap tumpukan tas belanja berisi pakaian, tas, sepatu dan lain sebagainya yang Yo Han belikan tadi. Sudah satu jam sejak mereka pulang ke rumah setelah berbelanja tadi, tapi kakinya masih terasa pegal. Sungguh mengelilingi pusat perbelanjaan tadi lebih melelahkan dari pekerjaan yang dilakukan Bitna. Apalagi melihat Yo Han yang begitu cerewet saat memilihkan barang-barang untuknya. Mata Bitna kemudian tertuju pada selembar kertas yang ada di atas nakas samping tempat tidur. Itu kontrak yang diberikan Yo Han beberapa waktu lalu. Bitna segera meraih kertas itu, ia juga mengambil sebuah bolpoin dari dalam laci. Setelahnya tangan Bitna tampak sibuk menuliskan sesuatu di atas kertas berisi kontrak itu. Setelah selesai menulis, Bitna membawa selembar kertas itu keluar kamar untuk di berikan pada Yo Han. Saat tak menemukan Yo Han di ruang tamu ataupun ruang makan, Bitna segera menuju ke kamar pria itu. Tok tok tok Beberapa saat setelah Bitna mengetuk pintu kamar Yo Han, pria itu menampakkan batang hidungnya dari balik pintu. “Ada apa?” tanya Yo Han heran karena Bitna mengetuk pintu kamarnya. Sebelumnya jangankan mengetuk pintu kamarnya, Bitna tak akan pernah bicara padanya kecuali Yo Han yang memulai pembicaraan. “Ayo kita bicarakan kontraknya,” kata Bitna sambil menunjukkan selembar kertas yang dia bawa. Yo Han kemudian mengikuti Bitna yang lebih dulu berjalan menuju ruang tamu. Mereka duduk berhadapan di sofa yang ada di ruang tamu. “Jadi bagaimana kau sudah memikirkannya? Ada yang ingin kau tambahkan ke dalam kontraknya?” Bitna mengangguk lalu menyerahkan selembar kertas yang dia bawa pada Yo Han. Yo Han meraih selembar kertas lalu membacanya dengan teliti. Beberapa saat kemudian Yo Han tertawa membaca apa yang ditulis Bitna di atas kertas itu. Batas skinship yang dilakukan oleh kedua belah pihak setelah menikah adalah berpegangan tangan dan berpelukan. Dan itu hanya dilakukan di depan keluarga serta rekan bisnis jika memang diperlukan. Sepertinya Bitna memang enggan bersentuhan dengannya. “Hanya ini?” “Nde,” kata Bitna yakin. “Baiklah, aku akan meminta Seung Min menyiapkan kontraknya besok.” “Soal hutang ayahku bagaimana?” “Kau bisa membuat daftar hutang-hutang ayahmu lalu serahkan padaku. Setelah kita menandatangani kontrak ini aku akan mengurus semua hutang-hutangnya.” Setelah mendengar ucapan Yo Han Bitna bisa sedikit bernapas lega. Karena itu artinya Yo Han benar-benar akan melunasi hutang-hutang mendiang ayahnya. Sekarang Bitna tak perlu lagi pusing memikirkan semua hutang itu. Sebentar lagi hutang-hutang itu akan lenyap dan dia bisa hidup tenang sebagai istri Yo Han nantinya—meskipun Bitna tidak terlalu yakin bahwa dia bisa hidup tenang bersama pria cerewet macam Yo Han.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD