Bagian 18

2019 Words
Bitna dan Yo Han berjalan menyusuri lorong dengan rak-rak tinggi di sisi kanan dan kirinya. Sekali Bitna melirik Yo Han yang berjalan di sampingnya. Gadis itu ingat bagaimana Yo Han mengusap puncak kepalanya tadi. Dia juga ingat perasaan aneh yang tiba-tiba muncul pada dirinya saat Yo Han mengusap puncak kepalanya. Mengingat perlakuan Yo Han tadi membuat Bitna kembali berdebar-debar. Oh tidak Bitna sepertinya mulai gila karena tiba-tiba saja merasa gugup. Padahal tadi dia merasa baik-baik saja. Gadis itu lalu dengan cepat menyingkirkan bayangan saat Yo Han mengusap kepalanya, dia harus segera sadar sebelum teejatuh pada perasaan yang harusnya tak boleh ada. Tujuan pertama Bitna dan Yo Han adalah bagian sayur dan buah. Sampai di sana gadis itu segera memilih buah dan sayur yang akan dibelinya. “Kenapa lama sekali, bukankah kau hanya perlu mengambilnya lalu memasukkannya ke sini,” ucap Yo Han melihat Bitna memandangi buah-buahan di depannya cukup lama. “Aku sedang membandingkan mana yang harganya lebih murah.” Bitna mengambil dua macam buah jeruk lalu membandingkan harganya. “Untuk apa melakukannya? Ambil saja yang ada.” Yo Han merebut buah jeruk ditangan Bitna lalu memasukkannya ke dalam troli. “Ayo cari yang lain lagi.” Bitna menatap sebal punggung Yo Han yang sekarang berjalan mendahuluinya. Dia yakin pria itu pasti tidak pernah membandingkan harga dua barang yang ingin dibelinya dan tidak pernah memilih barang dengan harga termurah. Sempat merasa kesal akhirnya Bitna sadar, untuk apa dia membandingkan harga bahan makanan yang akan dibelinya. Lagi pula semua belanjaan hari ini Yo Han yang akan membayarnya, jadi dia tidak perlu khawatir. “Apa kalian pasangan pengantin baru?” tanya seorang wanita paruh baya saat Bitna dan Yo Han sampai di bagian daging. Bitna melirik Yo Han lalu menatap ke sekitar. Di sana hanya ada mereka dan wanita paruh baya itu. “Nde,” jawab Bitna lalu tersenyum canggung. “Berapa usia kalian? Belakangan ini banyak sekali pasangan yang menikah muda.” “Ah... Saya 25 tahun dan....” Bitna menjeda kalimatnya lalu melirik Yo Han. Jika dipikir-pikir dia tidak tahu berapa usia suaminya itu. Yang dia tahu Yo Han memang lebih tua darinya. “Saya 32 tahun,” sahut Yo Han. Bitna menatap Yo Han, dia tidak menyangka jika usia Yo Han sudah kepala 3. Bitna pikir mereka hanya terpaut 2 atau 3 tahun, karena Yo Han masih terlihat muda. “Kalian terlihat sangat serasi,” puji wanita paruh baya itu membuat Bitna sedikit salah tingkah. “Terima kasih atas pujiannya.” Bitna tidak menyangka orang lain akan menganggap dirinya dan Yo Han serasi. Menurutnya mereka sama sekali tidak terlihat seperti pasangan suami istri. Jadi mendengar orang lain memuji mereka sebagai pasangan yang serasi membuat Bitna terkejut. Selesai dengan bagian daging, Bitna dan Yo Han beralih ke bagian makanan ringan dan camilan. Dengan mata berbinar Bitna menatap rak-rak tinggi penuh camilan di sisi kanan kirinya. Lalu dengan bersemangat gadis itu memasukkan berbagai makanan ringan ke dalam troli. Mulai dari keripik kentang dengan berbagai macam rasa hingga biskuit dengan berbagai macam varian. Yo Han hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat betapa antusiasnya Bitna memasukkan berbagai macam makanan ringan ke dalam troli. “Apa kau ingin berubah menjadi hulk,” cibir Yo Han saat melihat troli di depannya hampir dipenuhi oleh makanan ringan. Bitna mengerutkan dahi memikirkan maksud perkataan Yo Han. Sedetiknya setelahnya gadis itu mendelik menatap Yo Han. Bagaimana mungkin Yo Han menyamakannya dengan hulk. Yo Han memang menyebalkan, Bitna harus menyadarkan dirinya tentang kenyataan betapa menyebalkannya pria itu. Jangan sampai dia merasa goyah hanya karena pria itu mengusap kepalanya. Jika dia sampai goyah hanya karena perlakuan sederhana itu maka Bitna adalah gadis lemah dan bodoh. Dia harus tetap pada pendiriannya untuk tak menyimpan perasaan apa pun pada Yo Han. “Karena sudah hampir pertengahan semester, aku membutuhkan ini agar kepalaku tidak berasap saat mengerjakan tugas,” kilah Bitna. Yo Han mendengus. Itu hanya alasan Bitna saja. Dia yakin Bitna hanya akan bermalas-malasan di atas kasur sambil makan makanan ringan itu. Sampai di bagian mie instan Bitna hendak memasukkan makanan penyelamat saat lapar di tengah malam itu ke dalam trolinya, tapi Yo Han menghentikannya. “Kau sudah mengambil banyak camilan dan sekarang ramyeon?” “Iya, memangnya kenapa?” “Tidak boleh,” tegas Yo Han. Bagaimana bisa Bitna sangat menyukai makanan yang mengandung banyak msg itu. “Kenapa? Kau tahu makan ramyeon di tengah malam itu rasanya enak,” protes Bitna. Yo Han tahu yang dimaksud Bitna, tapi demi kesehatan bersama dia tidak mengizinkan Bitna membeli mie instan, gadis itu sudah mengambil banyak camilan yang tentunya mengandung msg yang tak sedikit. “Kenapa? Aku tidak bisa hidup tanpa ramyeon, lagi pula aku tidak akan memakannya setiap hari.” “Tidal boleh,” tegas Yo Han lalu mendorong trolinya menjauh dari bagian mie instan. Melihat punggung Yo Han menjauh Bitna mulai panik. Dia tidak bisa hidup tanpa ramyeon, bagaimanapun dia harus membeli makanan favorit semua orang itu. “Yak... Aku mau ramyeon,” rengek Bitna dengan suara cukup keras, membuat Yo Han dan pengunjung lainnya menatap ke arahnya. “Belikan aku ramyeon.” Bitna kembali merengek kali ini dia juga mengentakkan kakinya mirip seperti anak kecil yang meminta mainan. Melihat tingkah Bitna, Yo Han bergegas menghampirinya istrinya dan memintanya berhenti. “Apa yang kau lakukan? Semua orang menatapmu.” “Belikan aku ramyeon ya,” bujuk Bitna dengan mata berkedip-kedip membuat Yo Han hampir muntah. Karena tak tahan dengan tingkah Bitna, akhirnya Yo Ha menyerah dan membiarkan gadis itu mengambil ramyeon dan memasukkannya ke dalam troli. “Yess!” seru Bitna. Meskipun merasa malu karena tingkahnya tadi, Bitna tidak peduli yang penting dia berhasil membeli ramyeon. Dia tidak bisa hidup tanpa ramyeon, makanan itu adalah penyelamatnya. *** Sampai di apartemen Yo Han meletakkan kantong berisi bahan makanan yang mereka beli tadi ke atas meja. Dia kemudian menatap sebal ke arah Bitna yang tampak kegirangan karena berhasil membeli ramyeon. “Apa kau sangat senang?” tanya Yo Han melihat Bitna begitu antusias mengeluarkan ramyeon-ramyeon yang di belinya dari dalam kantong belanja. “Tentu, aku dapat ramyeon dan juga membuatmu malu tadi.” Mendengar jawaban Bitna membuat Yo Han semakin kesal. Jadi gadis itu sengaja membuatnya malu tadi. “Hitung-hitung sebagai balasan karena kau sering mengerjaiku,” ucap Bitna kemudian. Yo Han menatap Bitna tak percaya. Ternyata gadis itu sangat pendendam. Kalau begitu dia bisa melakukan hal yang sama. “Kau hanya boleh makan ramyeon seminggu sekali.” Bitna mendelik menatap Yo Han. Makan ramyeon seminggu sekali? Bitna tentu tidak bisa melakukannya. “Seminggu tiga kali,” tawar Bitna. “Kalau begitu sebulan sekali.” “Yak! Bagaimana bisa seperti itu?” protes Bitna. Sebulan sekali? Apa Yo Han bercanda? “Seminggu dua kali,” Bitna kembali mencoba menawar. “Mau tidak mau kau hanya boleh makan ramyeon seminggu sekali,” ucap Yo Han lalu masuk ke dalam kamarnya. Bitna menatap sebal ke arah kamar Yo Han. Dia tidak peduli dengan ucapan Yo Han tadi. Lagi pula pria itu jarang di rumah dan tentu dia tidak akan tahu jumlah ramyeon yang dimakannya. Itu artinya Bitna masih bebas memakan makanan favoritnya itu. “Jangan kau pikir karena aku jarang di rumah kau bisa makan ramyeon sepuasnya? Aku akan minta Seung Min memasang CCTV di dapur,” ucap Yo Han dari dalam kamarnya. Bitna yang mendengarnya hanya bisa menghela napas. Yo Han benar-benar menyebalkan. Hanya karena ramyeon pria itu sampai akan memasang CCTV di dapur. Dasar gila. *** Bitna berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Salah satu tangannya tampak memegang buku tentang mata kuliahnya hari ini, sedangkan tangan yang lain memegang caramel frappucchino yang di belinya di Cafe depan universitas. Dia butuh minuman manis untuk sebelum kelasnya di mulai. Jika saat awal-awal masuk dulu dirinya sempat menjadi pusat perhatian karena jadi yang tertua dan dikira berasal dari keluarga kaya, sekarang semua sudah berjalan normal. Di pertengahan semester ini Bitna sudah tidak lagi menjadi pusat perhatian dan bisa kuliah dengan nyaman. Dia juga sudah memiliki beberapa teman dan mudah berbaur dengan mahasiswa lain. Yang paling dekat dengannya adalah Seung Woo, pemuda yang mirip anak anjing ketika tersenyum. Di jurusannya Seung Woo adalah yang paling baik pada Bitna. Pemuda itu sering sekali membabtu Bitna ketika dia kesulitan dengan tugas-tugasnya. Mungkin bagi Bitna Seung Woo adalah teman yang baik, tapi dia sendiri tidak tahu apa arti sikap baik pemuda itu. Sebenarnya Seung Woo sudah tertarik pada Bitna sejak pertama kali melihat gadis itu saat tes masuk universitas. Dan sepertinya rasa tertarik itu kini mulai berubah menjadi rasa suka karena sering bertemu gadis itu. Bitna memang cantik. Dulu sebelum menikah dengan Yo Han penampilan gadis itu masih biasa-biasa saja dan tidak pernah berdandan, namun walau begitu Bitna tidak bisa menyembunyikan kecantikannya di balik pakaian lusuhnya. Dan sekarang setelah menikah dengan Yo Han, penampilan Bitna sepenuhnya telah berubah. Gadis itu mulai terbiasa merias diri dan mengenakan pakaian-pakaian yang cantik. Dengan penampilannya sekarang, tidak ada orang yang tidak memujinya cantik—kecuali Yo Han. Sayang sekali Seung Woo belum tahu jika Bitna ternyata sudah menikah. Jika tahu mungkin Seung Woo akan sangat patah hati nantinya. “Noona,” panggil Seung Woo dari belakang. Bitna menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah pemuda itu. Setiap kali bertemu Bitna, pemuda itu selalu tersenyum lebar seperti seekor anak anjing yang bertemu dengan tuannya. “Oh... Seung Woo-ya.” “Baru datang?” tanya Seung Woo setelah sampai di depan Bitna. Bitna mengangguk lalu menyesap caramel frappucchino-nya. “Noona, apa kau sudah membaca pengumuman di group chat?” “Penguman?” Bitna mengeluarkan ponselnya dari saku blazer yang dia kenakan. Di belum sempat mengecek ponselnya sejak pagi tadi. Jadi dia tidak tahu ada pengumuman apa pun di grup chat jurusannya. “Para senior mengadakan acara makan-makan, lagi?” ucap Bitna setelah membaca pengumuman yang dimaksud Seung Woo. “Iya.” “Bukankah dalam sebulan ini yang keempat kalinya mereka mengadakan acara seperti in.” “Sepertinya begitu.” Bitna menggeleng tak percaya. Kenapa para senior itu suka sekali mengadakan acara makan bersama seperti ini. Bahkan terkadang dalam seminggu bisa dua kali. Apa mereka tak punya kegiatan lain atau mereka tidak punya tugas dari dosen untuk dikerjakan. “Apa kau akan ikut nanti?” tanya Seung Woo. “Entah lah, mungkin tidak,” jawab Bitna. Mengingat dia harus mencuci piring dan membuang sampah selama seminggu karena melanggar jam malam, Bitna lebih memilih bermain aman. Karena pasti Yo Han akan mengomel dan menghukumnya seperti dulu jika dia kembali melanggar jam malam. “Sayang sekali, kali ini menunya adalah daging panggang.” Mendengar daging panggang Bitna menoleh ke arah Seung Woo dengan mata berbinar. “Daging panggang?” “Ya, jadi bagaimana mau ikut?” Bitna mengangguk bersemangat. Beberapa hari ini gadis itu kehilangan selera makannya, mendengar jika mereka malam ini bisa makan daging panggang selera makan Bitna tiba-tiba saja kembali. Soal jam malam, Bitna hanya perlu pulang sebelum jam sepuluh malam. Dengan begitu dia akan terhindar dari omelan suaminya yang super menyebalkan itu. Selera makan Bitna hilang karena Yo Han. Beberapa hari terakhir pria itu memaksanya untuk makan sayur setiap hari. Alasannya untuk menjaga kesehatan mereka, dan itu membuat Bitna jengkel. Bukannya Bitna tak suka atau tak bisa makan sayur, hanya saja sayuran bukanlah makanan favoritnya. *** Bitna dan Seung Woo duduk bersama mahasiswa jurusan mereka di dalam sebuah restoran barbeque yang ada di dekat universitas. Tadi saat akan berangkat Bitna begitu bersemangat karena mengira mereka akan makan daging sapi panggang. Namun, ternyata daging sapi panggang itu harus tetap berada di dalam khayalan Bitna. Nyatanya mereka menyantap daging babi panggang malam ini. “Noona makanlah.” Seung Woo meletakkan beberapa potong daging yang sudah matang ke atas piring Bitna. Bitna menghela napas pelan menatap daging babi yang mendesis di atas panggangan, ia lalu menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya. Meskipun agak kecewa, tapi ini lebih baik. Setidaknya dia tidak perlu dipaksa makan sayur oleh Yo han malam ini. “Kau juga makan,” ucap Bitna sambil meletakkan sepotong daging ke atas piring Seung Woo. Dengan mata berbinar Seung Woo menyantap daging pemberian dari Bitna. Sepertinya Seung Woo memang sangat menyukai gadis itu bahkan perhatian kecil Bitna seperti tadi bisa membuatnya berdebar-debar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD