Bagian 19

1754 Words
Awalnya sempat kecewa karena mengira akan makan daging sapi panggang, sekarang Bitna sudah bisa menikmati acara itu. Bahkan gadis pendiam itu juga itu ikut mengobrol dengan mahasiswa lain. Sepertinya sejak kembali kuliah Bitna menjadi lebih terbuka dan tidak terlalu pendiam seperti dulu. Dulu jangankan mengobrol dengan orang lain, tersenyum saja jarang. Seperti rencananya, Bitna pulang sebelum jam 10 malam. Dia tidak mau Yo Han mengomel karena dia pulang terlambat. Gadis itu sedang dalam perjalanan menuju halte bus terdekat ditemani oleh Seung Woo. “Kau harusnya tidak perlu mengantarku ke halte bus, aku bisa pergi sendiri,” ucap Bitna merasa tak enak karena telah merepotkan Seung Woo. Sebenarnya Bitna sudah menolak, tapi Seung Woo bersikeras mengantarnya. “Tidak apa-apa, terlalu berbahaya jika seorang wanita berjalan sendirian di malam hari.” Bitna tersenyum mendengar ucapan Seung Woo. Pemuda itu memang teman yang baik dan perhatian. Pantas saja banyak yang menyukainya, selain tampan pemuda itu juga baik dan perhatian pada semua temannya. “Oh ya, kau terlihat akrab sekali dengan para senior tadi.” Bitna mengingat bagaimana Seung Woo berbicara dengan santai pada senior tadi. “Ah... Itu karena kami seumuran.” Bitna mengerutkan dahinya. “Seumuran? Kau dengan mereka?” “Iya, usiaku 22 tahun.” “Kau 22 tahun?” Bitna menatap Seung Woo tak percaya. Dia pikir pemuda itu berusia 20 tahun. “Iya.” “Aku pikir kau baru berusia 20 tahun.” Seung Woo terkekeh mendengar ucapan Bitna. Memang kata orang-orang wajahnya terlihat awet muda. Bahkan banyak yang mengira jika dia baru lulus SMA. “Kenapa baru kuliah sekarang?” tanya Bitna. Jika menurut usianya, Seung Woo harusnya sudah menjadi mahasiswa tahun ketiga sekarang. “Setelah lulus SMA aku langsung ikut wamil,” jawab Seung Woo. *Wamil : Wajib militer. Bitna mengangguk-angguk. Sekarang dia paham kenapa Seung Woo bisa memiliki badan yang bagus. “Pantas kau punya badan yang bagus.” “Terima kasih,” ucap Seung Woo agak tersipu malu karena Bitna menyebutnya memiliki badan yang bagus. “Sudah sampai,” ucap Bitna saat mereka sampai di halte bis terdekat. “Kau bisa pulang sekarang, sebentar lagi busnya akan datang.” Seung Woo menggeleng. Dia belum bisa pulang dengan tenang jika dia tidak melihat dan memastikan Bitna masuk ke dalam busnya. “Tidak apa-apa aku akan menemani noona sampai busnya datang.” “Kau baik sekali.” Seung Woo memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Pemuda itu terlihat bingung dengan apa yang ia akan katakan sekarang. Sebenarnya dia ingin mengajak Bitna pergi menonton film akhir pekan ini sebagai langkah awal untuk mendekati gadis itu. Tapi Seung Woo terlihat ragu untuk mengatakannya, dia takut Bitna akan menolak ajakannya. “Noona,” panggil Seung Woo setelah bergelut dengan pikirannya. Setidaknya dia harus mencoba. “Ya?” “Apa kau punya waktu akhir pekan ini?” “Akhir pekan?” “Ada film bagus yang sedang tayang di bioskop, kalau kau mau aku ingin mengajakmu menontonnya,” ajak Seung Woo. Untuk pertama kalinya pemuda itu merasa gugup mengajak seseorang pergi. Sebelumnya dia tidak pernah segugup ini, padahal ini hanya mengajak Bitna menonton film bukan menyatakan perasaannya pada gadis itu. “Maaf, sepertinya tidak bisa,” tolak Bitna. Meskipun punya waktu, dia tidak mungkin mengiyakan ajakan Seung Woo. Dia tahu Seung Woo teman yang baik, tapi apakah Yo Han juga akan berpikir yang sama. Pria itu pasti mengira dirinya punya hubungan khusus dengan Seung Woo jika tahu dia pergi menonton film bersama pemuda itu. Padahal mereka hanya sebatas teman, tidak lebih. “Begitu ya,” ucap Seung Woo kecewa. Padahal dia sudah sangat berharap Bitna akan setuju dengan ajakannya, tapi ternyata tidak. “Maaf ya.” “Tidak apa-apa, kita bisa pergi lain kali.” “Sepertinya juga tidak bisa lain kali.” “Kenapa?” “Itu—” Cit... Bus yang ditunggu Bitna akhirnya datang. Gadis itu segera masuk ke dalam bus, meninggalkan Seung Woo yang masih penasaran kenapa Bitna tak bisa pergi bersamanya lain kali. “Seung Woo-ya, aku pulang dulu. Terima kasih sudah mengantarku.” Bitna melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam Bus. Seung Woo balas melambaikan tangan sambil terus memperhatikan Bitna. Bahkan hingga bus yang ditumpangi Bitna menjauh, pandangan pemuda itu tidak berubah. Dia hanya menatap Bitna. Sepertinya gadis itu telah benar-benar menarik perhatiannya. *** Bitna melepas sepatunya setelah masuk ke dalam apartemen. Sekarang baru jam 9.45, itu artinya dia masih aman karena tidak melewati jam malam dan Yo Hak akan bisa mengomelinya. “Dari mana?” tanya Yo Han yang membuat Bitna hampir melompat karena kaget. “Siial,” umpat Bitna sambil menyentuh dadanya karena kaget. Ia melihat Yo Han sedang duduk manis di sofa ruang tamu, dengan setumpuk berkas dan laptop yang menyala di atas meja. Yo Han menatap Bitna. “Siial katamu?” “Kau mengagetkanku.” “Kau dari mana?” “Ada acara makan bersama tadi,” ujar Bitna lalu melengos menuju kamarnya. Dia ingin segera mandi dan ganti baju. Bajunya bau asap pemanggangan. “Kau minum-minum tadi?” tanya Yo Han. Biasanya para mahasiswa selalu minum alkohol setiap kali mereka ada acara makan bersama. “Tidak,” teriak Bitna dari kamar mandi. “Tidak mungkin,” ujar Yo Han tak percaya. Dia yakin Bitna pasti minum alkohol. “Aku tidak minum alkohol.” Bitna tidak berbohong. Dia memang tidak minum alkohol sama sekali tadi. Setiap kali seorang senior menyuruhnya minum, Seung Woo yang mengambil alih gelasnya. Pemuda itu sangat baik. Yo Han menyandarkan punggungnya ke sofa lalu kembali dengan kesibukannya sebelum Bitna datang. Pria itu lantas mengusap rambutnya kasar karena merasa pekerjaan tak kunjung selesai. “Kenapa banyak sekali,” keluh Yo Han sambil mengambil dokumen di atas meja. “Kapan aku bisa menyelesaikan semua ini?” Kriet... Yo Han melirik Bitna yang keluar dari kamarnya. Gadis itu sudah berganti pakaian dengan setelah piama berwarna merah muda. Bitna menatap malas ke arah Yo Han lalu menuju dapur dan mengabaikan pria itu. Bitna mengeluarkan sebungkus ramyeon dari dalam lemari penyimpanan. “Kau mau makan ramyeon?” tanya Yo Han yang tiba-tiba saja ada di dapur membuat Bitna terjungkit karena kaget. “Kenapa kau hobi sekali mengagetkan orang?” keluh Bitna. Apa Yo Han tidak bisa bersuara saat datang? “Aku baru makan sekali ini dalam seminggu, jadi jangan mengomel,” ucap Bitna sebelum Yo Han mulai mengomelinya karena makan ramyeon. Bitna kemudian memasukkan ramyeon tadi ke dalam panci berisi air yang sudah mendidih. “Siapa juga yang akan mengomelimu, kau pikir aku ini tukang mengomel.” “Benar, kau memang tukang mengomel.” Yo Han mendelik menatap Bitna. Gadis itu benar-benar berbeda dengan dulu. Dulu menatapnya saja tidak berani, sekarang Bitna berani mengatainya. Entah memang berubah atau sejak dulu Bitna memang seperti itu. Yo Han memegang perutnya saat aroma dari ramyeon buatan Bitna melewati hidungnya. Tiba-tiba saja dia kembali merasa lapar, padahal dia sudah makan malam tadi. “Apa kau juga menambahkan telur di sana?” tanya Yo Han sambil berusaha mengintip ke dalam panci. Bitna menaikkan sebelah sudut bibirnya. Dai tahu Yo Han pasti sekarang tergoda ramyeon buatannya. Rasanya pasti menyenangkan jika dia menggoda pria itu. “Tentu, aku juga menambahkan sosis sapi dalamnya,” jawab Bitna. Yo Han menelan ludah membayangkan betapa lezatnya ramyeon yang dimasak Bitna itu. “Apa boleh aku minta sedikit?” “Tentu.” “Benarkah?” Yo Han menatap Bitna dengan berbinar. “Tentu tidak boleh,” ucap Bitna lalu membawa semangkuk ramyeonnya ke meja makan. Yo Han menatap sebal ke arah Bitna. “Ramyeon itu dibeli dengan uangku.” “Kau sendiri yang bilang kan kalau milikmu juga milikku, jadi uangmu juga uangku dan itu artinya ramyeon ini juga dibeli dengan uangku.” Yo Han mendesah pelan. Dia tak percaya gadis itu bisa membalas kata-katanya. Ternyata Bitna jauh lebih menyebalkan dari yang dia bayangkan. Melihat wajah Yo Han yang sepertinya benar-benar ingin makan ramyeon, akhirnya Bitna mengizinkan pria itu makan bersamanya. Sedikit mengusili pria itu dan membuatnya kesal ternyata cukup menyenangkan. “Kau boleh makan.” Mendengar Bitna mengizinkannya ikut makan ramyeon Yo Han bergegas mengambil sumpit dan juga kimchi dari dalam kulkas untuk di makan bersama ramyeon. “Tumben sekali kau makan makanan yang mengandung banyak msg ini?” tanya Bitna setengah menyindir. Dia ingat bagaimana Yo Han melarangnya membeli ramyeon tempo hari dan selalu menyuruhnya untuk makan sayur. Pria itu sangat menjunjung tinggi hidup sehat. Yo Han mendecih. “Jangan bicara saat makan.” Bitna memutar bola matanya malas. Lebih baik dia makan dengan cepat agar tidak perlu berlama-lama dengan pria menyebalkan macam Yo Han. *** Bitna menyesap matcha latte yang di pesannya. Setelahnya ia kembali fokus pada laptop yang menyala di depannya. Di samping laptop itu ada beberapa buku yang dia bawa dari rumah. Sekarang hari minggu, Bitna sedang mengerjakan tugasnya di sebuah Cafe dekat apartemennya. Sebenarnya dia bisa mengerjakannya di apartemen tapi mengingat jika hari ini adalah hari minggu yang artinya Yo Han pasti berada di rumah seharian ini, Bitna memutuskan untuk mengerjakan tugasnya di Cafe. Melihat wajah pria itu membuatnya kesal. Bagaimana tidak kesal, Yo Han selalu saja mengomel tentang hal-hal sepele. Dan itu membuatnya jengkel. Tok... Tok... Tok... Bitna menoleh ke jendela kaca di sampingnya. Dilihatnya Seung Woo berdiri di luar sana sambil tersenyum lebar, seperti anak anjing yang bertemu tuannya. “Noona,” panggil Seung Woo sambil melambai tangannya. Bitna tersenyum melihat tingkah Seung Woo. Dia tidak menyangka akan bertemu Seung Woo di luar kampus. Pemuda berambut hitam itu segera masuk ke dalam Cafe untuk menghampiri Bitna. Sebelum menghampiri Bitna, Seung Woo terlebih dulu memesan minuman. Setelah memesan pemuda itu segera menghampiri Bitna yang duduk di samping jendela. “Noona, kau sendirian?” tanya Seung Woo lalu menjatuhkan pantatnya di kursi di depan Bitna. “Seperti yang kau lihat,” jawab Bitna lalu kembali fokus pada laptopnya. “Sedang mengerjakan tugas?” Seung Woo mencoba mengintip layar laptop milik Bitna. “Iya, tugas dari profesor Kim. Aku tidak bisa berkonsentrasi di rumah.” “Kenapa?” “Ada orang yang sangat menyebalkan.” Orang menyebalkan yang di maksud Bitna tidak lain adalah Yo Han. Membayangkan wajah pria itu saja sudah membuatnya kesal. Namun walaupun sering membuatnya kesal, tak bisa Bitna ungkiri bahwa Yo Han adalah penyelamat hidupnya. Berkat pria itu semua hutang mendiang ayahnya telah lunas dan dia bisa kembali kuliah. Baginya Yo Han adalah sosok ibu peri berwajah iblis. Meskipun menyebalkan pria itu sangat baik hati. Jika saja Bitna tidak bertemu dengan Yo Han, pasti saat ini dia masih harus banting tulang untuk membayar hutang-hutang ayahnya dan kembali kuliah seperti ini pasti hanya ada dalam mimpinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD