“Rumahmu di sekitar sini?” tanya Bitna. Ia agak terkejut bertemu Seung Woo di sana.
“Tidak, aku baru saja mengujungi rumah hyung kenalanku. Rumahnya di dekat sini,” jawab Seung Woo. Pemuda itu kemudian menyesap ice americano miliknya. “Noona sendiri tinggal di dekat sini?”
Bitna mengangguk.
“Jadi gosipnya memang benar ya?”
Bitna mengerutkan dahinya menatap Seung Woo. “Gosip?”
“Gosip kalau noona berasal dari keluarga kaya.”
Bitna hampir saja tersedak setelah mendengar ucapan Seung Woo. Dia pikir mereka sudah tidak berpikir bahwa dirinya berasal dari keluarga kaya. Setelah hari pertama masuk kuliah waktu itu, esoknya Bitna selalu berangkat naik bus. Hanya kadang-kadang saat terburu-buru dia akan diantar Seung Min seperti saat setelah mengantarkan dokumen milik Yo Han yang tertinggal.
Wajar jika Seung Woo berpikir bahwa Bitna berasal dari keluarga gaya. Cafe tempat Bitna mengerjakan tugasnya ini terletak di daerah Gangnam. Gangnam adalah salah satu kawasan elit di Korea Selatan. Di sini banyak sekali berdiri apartemen-apartemen mewah.
“Apa semuanya berpikir seperti itu?” tanya Bitna.
Seung Woo mengangguk.
Bitna menghela napas pelan. Padahal dia sudah berusaha agar tidak terlihat seperti berasal dari keluarga kaya. Kenyataannya dia memang bukan berasal dari keluarga kaya. Semua yang dia dikenakan, pakaian hingga uang semuanya milik Yo Han, bukan miliknya.
“Kau merasa tak nyaman?” tanya Seung Woo seolah bisa membaca isi pikira Bitna.
“Yah begitulah,” jawab Bitna.
“Tenang saja gosip itu sudah lama berlalu, mereka juga sudah tidak membicarakannya lagi,” kata Seung Woo meyakinkan Bitna.
“Terima kasih,” ujar Bitna sambil tersenyum tipis.
Melihat Bitna tersenyum padanya membuat jantung Seung Woo berdebar hebat. Pemuda itu tiba-tiba saja merasa gugup. Di mata Seung Woo, Bitna terlihat sangat cantik hari ini. Padahal gadis itu hanya mengenakan celana jeans, kaos putih dan jacket berwarna merah muda. Benar-benar sederhana, Bitna juga tidak mengenakan riasan di wajahnya, rambutnya juga diikat asal-asalan. Mungkin karena sudah terjerat oleh pesona Bitna, bagaimanapun penampilan gadis itu, di mata Seung Woo akan tetap terlihat cantik.
Drrtt...
Bitna meraih ponselnya yang bergetar. Ada satu pesan masuk dari Yo Han.
Yo Han : Apa menyenangkan mengerjakan tugas di Cafe.
Bitna hendak membalas pesan itu, tapi ada satu lagi pesan masuk dari Yo Han.
Yo Han : Kau terlihat sangat senang mengobrol dengan pemuda tampan.
Bitna mengerutkan dahinya. Bagaimana Yo Han tahu jika dia sedang mengobrol dengan seorang pria? Bitna kemudian mengedarkan padangannya ke seluruh Cafe. Mungkinkah Yo Han ada di sana?
“Dia tidak ada di sini,” gumam Bitna saat tak menemukan sosok Yo Han di dalam Cafe itu.
“Mencari siapa?” tanya Seung Woo melihat Bitna seperti sedang mencari seseorang.
“Bukan siapa-siapa,” jawab Bitna. Gadis itu lalu mengetik balasan untuk Yo Han.
Bitna : Kau dia Cafe?
Yo Han : Menurutmu?
Bitna kembali mengedarkan pandangannya ke penjuru Cafe. Tapi tetap saja dia tidak menemukan Yo Han. Sebenarnya suaminya itu ada di mana? Kenapa Yo Han tahu jika dia sedang mengobrol dengan pria.
Drrttt...
Bitna menatap layar ponselnya, Yo Han mengiriminya pesan lagi.
Yo Han : Kau tak berniat pulang? Sepertinya kau sangat senang duduk di depan pria tampan.
Setelah membaca pesan Yo Han, Bitna bergegas mematikan laptopnya lalu memasukkannya ke dalam tote bag bersama buku-buku yang dibawanya tadi. Ia kemudian pamit pada Seung Woo. Bitna bergegas keluar dari Cafe meninggalkan Seung Woo yang kebingungan karena tiba-tiba saja Bitna pergi.
***
Bitna bergegas masuk ke dalam apartemen. Sampai di ruang tamu dia melihat gelas berisi ice americano, di gelas itu tertulis nama Cafe tempatnya mengerjakan tugas tadi. Jadi benar jika Yo Han tadi ada di Cafe itu. Tapi kenapa pria itu tak menghampirinya.
“Apa menyenangkan berduaan bersama pria tampan di Cafe?” tanya Yo Han setengah menyindir. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi.
“Tadi kau ke Cafe?” Tak peduli dengan sindiran Yo Han, Bitna justru balik bertanya pada suaminya itu.
“Siapa pemuda tadi?” tanya Yo Han. Dia penasaran karena Bitna terlihat akrab dengannya.
Sebelumnya Yo Han tak pernah terlihat akrab dengan laki-laki lain, kecuali Seung Min. Dia pernah memergoki Bitna dan Seung Min sedang membicarakan dirinya.
“Namanya Seung Woo, dia teman satu jurusanku,” jawab Bitna. Gadis itu kemudian mengeluarkan laptop dan buku-bukunya dari dalam tote bag lalu meletakkannya ke atas meja ruang tamu. Gara-gara Yo Han dia terpaksa pulang padahal tugasnya belum selesai.
“Kau punya hubungan dengannya? Ingat kontrak kita, tidak boleh—”
“Aku tahu. Kami hanya berteman tidak lebih,” potong Bitna.
“Kau yakin?”
“Seratus persen yakin,” tegas Bitna. Dia dan Seung Woo memang tidak memiliki hubungan apa-apa. Baginya Seung Woo hanya seorang teman, tidak lebih dari itu.
“Baguslah kalau begitu.” Yo Han ikut duduk di samping Bitna. Pria itu kemudian melirik layar laptop yang saat ini tengah ditatap Bitna dengan serius. “Tugasmu belum selesai?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Bitna mendelik menatap Yo Han. “Kau pikir gara-gara siapa tugasku belum selesai?”
Merasa tak berbuat salah Yo Han malah melengos lalu menyesap ice americano miliknya. “Kau pasti sibuk berhahaha-hihihi dengan siapa tadi? Seung Woo? Makanya tugasmu belum selesai.”
Bitna menghela napas pelan. Kepalanya berdenyut hingga ke ubun-ubun. Yo Han pasti terlahir dengan bakat membuat orang lain kesal. Bitna saat ini benar-benar merasa kesal dan ingin memukul suaminya. Tapi mengingat jika dia meladeni Yo Han maka tugasnya tidak kunjung selesai, Bitna memilih menahan amarahnya dan kembali fokus dengan tugasnya. Jika tugasnya sudah selesai dia akan membuat perhitungan dengan Yo Han, pasti.
***
Yo Han keluar dari kamar mandi. Dia baru saja selesai mandi. Dari kamar mandi Yo Han berjalan menuju ruang tamu, untuk melihat apakah Bitna sudah selesai mengerjakan tugasnya atau belum.
Sampai di ruang tamu, dilihatnya gadis itu sudah tertidur di atas sofa. Yo Han melirik jam dinding. Sekarang pukul 7 malam. Seharian ini Bitna hanya berkutat dengan laptopnya dan mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Gadis itu pasti kelelahan hingga tertidur di atas sofa.
Tak tega melihat Bitna tidur di atas sofa, Yo Han menghampiri istrinya itu. Dia akan memindahkan Bitna ke kamarnya agar gadis itu bisa tidur dengan nyaman.
“Berat sekali, apa yang kau makan,” kata Yo Han setelah berhasil menggendong tubuh Bitna. Padahal tubuh Bitna terlihat langsing tapi kenapa terasa sangat berat ketika dia menggendongnya.
Yo Han berjalan perlahan sambil menggendong Bitna. Dengan sebelah tangannya Yo Han berusaha membuka pintu kamar istrinya itu, setelah berhasil Yo Han mendorong pintu kayu itu dengan bahunya agar terbuka lebar dan dia bisa masuk ke dalam sambil menggendong Bitna.
Sampai di tepi ranjang Yo Han dengan hati-hati membaringkan Bitna. Pria itu bahkan juga memasangkan selimut untuk Bitna. Saat menyelimuti Bitna padangan mata pria itu tiba-tiba tertuju pada bibir mungil merah muda milik Bitna. Yo Han menatap bibir istrinya itu cukup lama. Bibir mungil merah muda itu tampak sangat menggoda untuk dia cicipi. Hampir saja mendekati bibir mungil itu Yo Han segera menampar pipinya pelan untuk menyadarkan dirinya. Hampir saja dia melakukan sebuah kesalahan.
“Apa yang kau lakukan? Sadarkan dirimu!” ucap Yo Han pada dirinya sendiri.
Pria itu kemudian bergegas keluar dari kamar Bitna. Sebelum hal yang mungkin bisa membuatnya dibunuh Bitna terjadi. Entah karena mulai masuk musim panas, Yo Han tiba-tiba saja merasa gerah, padahal pendingin ruangan di seluruh apartemennya menyala.
Setelah kesadarannya kembali Yo Han kemudian membereskan buku-buku dan laptop yang Bitna gunakan tadi. Yo han menata benda-benda tersebut dengan rapi di atas meja.
“Harusnya sebelum tidur dia membereskan semua ini dulu,” keluh Yo Han karena ia yang akhirnya harus membereskan barang-barang Bitna.
Drrrtt...
Yo Han melirik ponsel Bitna yang tergeletak di atas meja. Ada satu pesan masuk dari Seung Woo. Merasa penasaran Yo Han segera meraih ponsel Bitna. Untuk apa si Seung Woo itu mengirimi istrinya pesan malam-malam begini?
Seung Woo : Noona, sedang apa?
Yo Han menatap layar ponsel Bitna dan membaca notifikasi pesan yang tertera di layar. Dia kemudian berniat ingin membalas pesan dari Seung Woo tapi sayangnya ponsel Bitna dikunci dan dia tidak tahu apa kata sandi dari ponsel istrinya.
“Siial!” gumam Yo Han saat tak bisa membuka kunci ponsel Bitna.
Melihat seorang pria mengirimi pesan Bitna, membuat Yo Han sedikit merasa kesal. Memang dia tidak mempunyai perasaan apa-apa untuk gadis itu, tapi Bitna sekarang berstatus sebagai istrinya dan di dalam kontrak mereka tertulis jelas bahwa mereka dilarang menjalin hubungan dengan orang lain.
“Sepertinya pemuda itu menyukai Bitna,” tebak Yo Han.
Yo Han mengingat kembali bagaimana cara Seung Woo menatap Bitna di Cafe tadi. Pemuda itu terlihat sangat jelas jika menaruh hati pada Bitna. Entah Bitna bodoh atau tidak peka, gadis itu sepertinya tidak tahu jika Seung Woo menyukainya. Yo Han saja yang baru pertama kali melihatnya bisa langsung tahu jika Seung Woo menyukai Bitna.
“Sepertinya akan menyenangkan,” kata Yo Han setelah sebuah ide terlintas di kepalanya.
***
Bitna membuka matanya perlahan lalu merentangkan kedua tangannya. Ia menatap ke sekitar ruangan. Dia ada di kamarnya. Seingatnya kemarin dia tertidur di sofa, apa Yo Han yang memindahkannya ke kamar?
Bitna segera menyibak selimutnya dan keluar dari kamar. Di lihatnya Yo Han yang masih mengenakan kaos dan celana training sedang sibuk di dapur. Pria itu sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.
Bitna bisa mencium aroma lezat dari masakan Yo Han saat gadis itu berjalan mendekat ke dapur.
“Apa kau yang memindahkanku ke kamar?” tanya Bitna.
Yo Han menoleh sekilas lalu kembali fokus pada masakannya. Pria itu sedang memasak nasi goreng.
“Menurutmu siapa?”
“Tapi kau tidak melakukan apa—”
“Kau takut aku berbuat sesuatu?”
“Ya....” Bitna tadi malam tidur sangat nyenyak, dia bahkan tidak merasakan saat Yo Han memindahkannya ke kamar. Wajar saja jika dia curiga kalau Yo Han mungkin melakukan sesuatu padanya.
Yo Han melirik Bitna, lalu menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki.
“Dilihat bagaimanapun tidak ada yang bisa dilihat dari tubuhmu,” ucap Yo Han berbohong. Kemarin dia hampir saja tergoda oleh bibir mungil milik Bitna. Bahkan tadi saat ia menatap gadis itu tanpa sadar matanya tertuju pada bibir merah muda itu.
Bitna mencebik. “Dasar menyebalkan.”
Gadis itu kemudian membuka pintu kulkas di belakangnya lalu mengeluarkan sekotak jus jeruk. Dia kemudian menuangkan jus jeruk itu ke dalam dua buah gelas. Satu untuknya dan satu lagi untuk Yo Han. Setelahnya Bitna membawa dua gelas berisi jus jeruk itu ke atas meja makan.
Yo Han meletakkan dua piring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi ke atas meja. Ia dan Bitna kemudian duduk berhadapan di balik meja makan.
Bitna menelan ludahnya perlahan saat melihat penampilan nasi goreng buatan Yo Han. Nasi goreng terlihat sangat enak dan menggugah selera. Karena tak sabar, Bitna segera menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Masih panas,” kata Yo Han mencegah Bitna, tapi sayang sesendok nasi goreng itu telah masuk ke dalam mulut Bitna dan berakhir dengan Bitna mengipas-ngipas mulutnya karena lidahnya terbakar nasi goreng yang masih panas itu.
“Apa kau sangat kelaparan sampai tak mau meniup dulu nasi goreng itu sebelum memasukkan ke mulut?” cibir Yo Han lalu memberikan segelas jus jeruk untuk di minum Bitna. “Minum dulu.”
Bitna mengela napas lega setelah meneguk jus jeruk tadi. Tak mau mengulangi kebodohannya, Bitna meniup dulu nasi goreng yang di ambilnya dengan sendok sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
“Enak,” ucap Bitna setelah menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Sepertinya selain berbakat menjadi orang menyebalkan Yo Han juga berbakat memasak.
“Kau juga harus belajar memasak,” balas Yo Han setengah menyindir.
Bitna menatap sebal ke arah suaminya. Dia tahu masakannya tak seenak masakan Yo Han. Tapi setidaknya Bitna sudah berusaha menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan memasak makanan untuk Yo Han.
Yo Han menghentikan aktivitasnya lalu menatap Bitna.
“Kenapa menatapku begitu?” tanya Bitna. Yo Han terlihat sangat serius sekarang.
“Sepertinya kita harus bicara.”
Bitna mengerutkan dahinya. “Bicara?”